NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ajakan Lunch

Zidan pulang.

"Daddy di mana, Bi." tanya Zidan kepada salah satu pelayan.

"Di kamar, Den. Seharian ini Bapak nggak keluar. Den Kenzie juga." jawab pelayan itu sopan.

Zidan mengangguk lalu dengan cepat menuju kamar sang ayah. Dia mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tak ada jawaban. Akhirnya, dia mencoba memutar kenop pintu yang ternyata tidak dikunci.

Begitu pintu terbuka, pemandangan yang jarang terjadi langsung menyambutnya. Arkan dan Kenzie terlelap dengan tenang di tempat tidur. Napas mereka terdengar teratur, menunjukkan betapa nyenyaknya mereka tidur.

Zidan menghela napas lega. Setelah kejadian semalam, melihat ayahnya bisa beristirahat dengan baik membuatnya sedikit tenang. Begitu pula dengan Kenzie, yang pasti merasa aman berada di sisi sang ayah.

Tanpa pikir panjang, Zidan menaiki tempat tidur, berbaring di sebelah Kenzie, lalu dengan lembut memeluk adiknya. Ia ingin menikmati momen langka ini.

"Loh, kok ada Abang." gumam Kenzie begitu terbangun dan melihat Zidan tidur di sebelahnya.

Dia menoleh ke sisi lain, mencari sosok Arkan, tetapi tidak menemukannya. Seketika, wajahnya berubah panik, dan tanpa sadar, ia mulai menangis.

Tangisannya cukup keras hingga membangunkan Zidan. Dengan mata masih setengah mengantuk, Zidan bangun dan menoleh ke arah adiknya yang terisak.

"Kenapa????" tanyanya sambil mengusap matanya.

"Daddy nggak ada..." isak Kenzie, matanya sibuk mencari sang ayah.

Zidan mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Tenang, Kenzie. Mungkin Daddy di kamar mandi atau ke bawah ambil minum."

Kenzie menggeleng dengan air mata masih menggenang di pelupuk matanya. "Nggak ada, Bang... Kenzie takut..."

Zidan menghela napas panjang, lalu bangkit dari tempat tidur. "Ya udah, kita cari Daddy!"

Kenzie langsung mengangguk dan turun dari tempat tidur, menggenggam tangan Zidan erat-erat.

Mereka keluar kamar, berjalan menyusuri koridor rumah.

"Bibi lihat Daddy nggak." tanya Zidan saat berpapasan dengan salah satu pelayan.

"Di ruang kerjanya, Den." jawab pelayan itu sopan.

Zidan mengangguk tipis, lalu melanjutkan langkahnya dengan Kenzie yang kini berada dalam gendongannya.

Sesampainya di depan ruang kerja Arkan, Zidan mengetuk pintu beberapa kali. "Daddy!" panggilnya, sedikit khawatir.

Ada sahutan dari dalam. Tanpa ragu, Zidan langsung membuka pintu dan masuk, mendapati Arkan duduk di belakang mejanya, tengah berbicara serius di telepon.

Kenzie langsung turun dari gendongan Zidan dan berlari kecil ke arah sang ayah. Dengan satu tangan, Arkan menyambutnya, mengangkat bocah kecil itu ke pangkuannya. Kenzie pun menyender nyaman di dada Arkan, merasa aman di sana.

Zidan hanya bisa menggeleng pelan, lalu berbalik keluar setelah memastikan adiknya baik-baik saja bersama sang ayah.

Sementara itu, Kenzie menunggu dengan sabar sampai Arkan selesai berbicara di telepon. Namun, rasa nyaman dan hangat di pelukan sang ayah membuatnya kembali terlelap tanpa sadar.

...****************...

"Dari mana aja kamu, Rania." tanya Tristan begitu melihat adiknya baru pulang padahal sudah larut malam.

"Dari mainlah." jawab Rania santai, melepas sepatu tanpa merasa bersalah. "Yang lain mana?"

"Mbak Nadia lagi pergi sama Galang, Mas Aryo sama Mbak Maya nonton TV." jawab Tristan singkat.

Rania mengangguk paham, lalu berniat berjalan melewati abangnya. Namun, tiba-tiba Tristan menahan lengannya, membuat Rania menoleh dengan dahi mengernyit.

"Dari mana sebenarnya? Jujur sama Mas. Kamu punya pacar?" selidik Tristan dengan nada serius.

"Enggak." Rania langsung menggeleng tegas. "Udah dibilang nggak ada, ngeyel banget sih."

Tristan menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan genggamannya. Ia mengangguk pelan.

"Besok pagi, Mas Aryo sama Mbak Maya balik ke Jogja. Mbak Nadia juga. Mas tinggal sekitar sebulan di Surabaya buat urus bisnis keluarga, setelah itu balik ke Jakarta." Tristan menunjuk Rania dengan tatapan waspada. "Dan kamu... bakal Mas awasi."

Rania mendesah pelan, merengut kesal. "Kan aku udah bukan anak kecil lagi. Masa masih harus diawasi sih?" protesnya.

Tristan menyilangkan tangan di dada, menatap Rania dengan ekspresi tegas. "Iya, kamu kan paling kecil di antara kami. Mas cuma nggak mau kamu terjerumus ke hal yang aneh-aneh."

Rania mendecak kesal. "Mas pikir aku bakal macam-macam gitu? Aku tahu batas, Mas."

"Bagus kalau gitu." Tristan mengangguk. "Tapi tetap aja, Mas bakal tetap awasi pergaulan kamu."

Rania memutar mata, memilih tidak memperpanjang debat. "Ya udah, aku ke kamar dulu. Ngantuk."

Tanpa menunggu tanggapan, ia langsung melangkah menuju kamarnya. Tristan hanya bisa menghela napas melihat tingkah adiknya.

Sesampainya di kamar, Rania menjatuhkan diri di kasur, menatap langit-langit sambil menghela napas panjang. Tiba-tiba saja bayangan Arkan terlintas di benaknya.

"Huh...mending gue tidur aja."

Baru saja ia hendak memejamkan mata, ponselnya bergetar di atas nakas. Ia meraihnya dan melihat satu pesan masuk dari nomor yang sudah dikenalnya.

Arkan: Udah sampai rumah?

Rania menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya mengetik balasan.

Rania: Udah.

Tak butuh waktu lama, balasan dari Arkan masuk.

Arkan: Baik, langsung Istirahat.

Rania tersenyum kecil tanpa sadar. Ia menggelengkan kepala, lalu meletakkan ponsel di samping bantal dan memejamkan mata.

Sekitar sepuluh menit setelah memejamkan mata, Rania tiba-tiba terbangun. Kesadarannya perlahan kembali, dan saat itu juga ia tersentak menyadari sesuatu.

"Astaga, gue belum mandi!" gumamnya sambil langsung bangkit dari tempat tidur.

Dengan langkah cepat, ia mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Rasa kantuknya seketika lenyap, tergantikan oleh kesadaran bahwa tubuhnya masih terasa lengket setelah seharian beraktivitas.

Setelah mandi ya Rania tidur lagi.

...****************...

Pagi itu, Rania mengantarkan kakak-kakaknya ke bandara sendirian karena Galang harus sekolah. Semua kakaknya berangkat pagi dengan tujuan penerbangan yang berbeda.

"Ra, jangan macam-macam. Kabarin Mas kalau ada sesuatu." pesan Aryo sebelum memasuki gate.

Rania mengangguk. "Iya, Mas."

"Mbak pulang dulu, Ra. Jaga diri baik-baik." ujar Maya sambil tersenyum.

"Sampaikan salam buat keponakanku dan keluarga di Jogja, ya, Mbak." balas Rania.

Maya mengangguk, lalu bersama Aryo masuk ke gate sambil melambaikan tangan.

Setelahnya, Tristan dan Nadia pun berpamitan.

Rania menatap satu per satu kakaknya pergi dengan mata berkaca-kaca. Rumah akan kembali sepi. Hanya tinggal dia dan Galang.

Aryo memilih pindah ke Jogja setelah menikah dengan Maya. Nadia pun sama ia pindah ke Seoul setelah menikah, meski sayangnya suaminya meninggal tak lama setelah pernikahan mereka. Kini, Nadia melanjutkan usaha restoran peninggalan mendiang suaminya. Sementara itu, Tristan sibuk membangun bisnis baru di Surabaya dan sudah beberapa tahun menetap di sana.

Sedangkan Galang, yang awalnya hanya pulang kampung bersama Nadia, malah jatuh cinta pada Indonesia dan memilih tinggal bersama Rania di Jakarta.

Kehadiran Galang adalah salah satu hal yang paling Rania syukuri. Jika tidak ada keponakannya itu, mungkin ia benar-benar akan merasa sendirian di kota ini.

Saat baru saja masuk ke dalam mobil, ponsel Rania bergetar, menandakan ada pesan masuk.

Dari: Arkan.

"Hari ini sibuk?"

Rania menatap layar ponselnya sejenak, lalu menghela napas pelan. Duda anak dua itu lagi.

"Enggak. Kenapa? Mau ngajak lunch, kah?" balas Rania asal, tanpa berpikir panjang.

Dia tak menyangka, hanya asal mengetik, tapi Arkan justru membalas dengan cepat.

"Iya. Jemput kamu jam 12. Jangan nolak."

Rania yang awalnya santai, kini malah mendelik ke layar ponselnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Kenapa juga dia harus deg-degan?

1
NN
lanjut thor, seru cerita
NN
lanjut tbor
Sri Supriatin
Ha tambah seruuuu, lannut thor 😍😍😍😍
Sri Supriatin
Lanjuuut thor tks upnya 😍😍😍
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!