Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALGOJO HANS MENEMUKAN NAYA
Alea hanya menuruti setiap perintah dan kemauan Hans. Yang terpenting baginya saat ini hanyalah putrinya dan keselamatannya sendiri. Alea seperti burung dalam sangkar emas. Ia tidak diperbolehkan keluar rumah tanpa seizin Hans. Pernikahan itu dipertahankan Hans bukan karena cinta, melainkan hanya untuk popularitas semata.
Tuan Ajimo hilang tanpa jejak. Media telah berhasil dibungkam oleh Hans. Tidak ada satu pun yang berani menanyakan di mana keberadaan Tuan Ajimo. Semua orang percaya begitu saja bahwa Tuan Ajimo telah pensiun dan pindah ke luar negeri. Semua rencana Hans berjalan lancar tanpa hambatan.
*(KEJADIAN 25 TAHUN YANG LALU) - KILAS BALIK BAB 17*
Hans masih menunggu kabar dari orang-orang suruhannya. Ia duduk dengan amarah yang masih membara dan belum padam.
Suasana malam yang dingin perlahan memudar. Hawa hangat matahari pagi mulai menyelimuti kota, termasuk kedai sashimi kecil milik Dany.
Aku beranjak membersihkan diri dan keluar dari pintu kamar. _Kreekk..._ Suara pintu kamar kayu itu terbuka perlahan.
Aku melihat Dany yang sedang membersihkan kedainya, bersiap untuk berjualan. Dany menengok ke arahku seraya mengelap meja.
"Hei... sudah bangun?" sapanya.
Aku hanya mengangguk, lalu duduk memperhatikan Dany yang sibuk. Tiba-tiba perutku berbunyi nyaring, _kruuuk..._
Dany langsung menoleh ke arahku dan berdiri tegak. "Naya, kamu lapar? Biar kubuatkan sarapan untukmu." Tanpa menunggu jawabanku, Dany melangkah menuju dapur. Aku tetap pada posisiku, duduk diam. Tidak lama kemudian, Dany kembali membawakanku sandwich dan segelas air putih. Ia meletakkannya di atas meja dan duduk di depanku.
"Ini, makanlah. Sarapan spesial yang kubuat khusus untukmu," goda Dany.
Aku mengambil sandwich buatan Dany dan memasukkannya ke dalam mulutku. _Ya Tuhan, kenapa ini jauh lebih enak dari buatan Puri? Ternyata dia sangat pandai memasak,_ gumamku dalam hati.
"Bagaimana? Enak tidak? Kau sudah lama sekali tidak memakan masakanku, Naya," tanya Dany dengan tatapan penuh harap.
Aku tersenyum tipis. "Semua itu hanya masa lalu, Dany. Aku bukan orang yang sama lagi." Aku berharap Dany memahami maksud perkataanku.
"Dany, aku tidak bisa hanya diam saja duduk di sini atau di dalam kamar. Aku ingin membantumu, setidaknya untuk membalas kebaikanmu yang sudah mau menyembunyikan ayahku di kedaimu," ujarku sungguh-sungguh kepada Dany.
Dany tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, Naya, jika itu maumu. Tapi kau ganti dulu pakaianmu, itu sudah tampak sangat kotor. Biar kuambilkan pakaian gantimu." Mungkin sementara ini aku harus memakai bajunya dulu, walaupun sedikit kebesaran, setidaknya aku bisa mengganti pakaianku. Tidak lama kemudian, Dany datang membawa sebuah baju di tangannya.
Dany menyerahkan baju itu kepadaku. "Ini, Naya. Bajumu masih kusimpan. Pakailah ini."
Aku terkejut bukan main. Pakaianku? "Apa ini... pakaianku? Kenapa bisa ada di sini, Dany?"
Dany tersenyum melihat ekspresiku. "Apa kau benar-benar lupa dengan semua tentang kita, Naya?" ujar Dany menggoda.
"Dany, aku ganti pakaian dulu," ujarku seraya pergi ke kamar dan berpikir keras apa maksud dari perkataan Dany tadi.
_Apakah pemilik tubuh ini, Naya, sudah pernah tidur dengannya? Bagaimana bisa Dany menyimpan pakaian Naya?_ gumamku, Selir Linyue yang berada di dalam tubuh Naya.
Aku mulai memakai pakaian yang diberi Dany dan kembali keluar. Kulihat sudah ada beberapa pelanggan yang datang. Dany sedang sibuk di dapur, dengan keterampilannya, tangannya menyulap bahan makanan biasa menjadi hidangan yang lezat.
"Naya, sini!" Dany memanggil sambil melambaikan tangan.
Aku datang menghampiri Dany. "Ya, kenapa, Dany?" ujarku.
"Tolong antarkan ini ke meja ujung, ya," perintah Dany. Aku mengambil nampan makanan yang diberikan Dany kepadaku.
Semakin siang, suasana kedai semakin ramai. Puri dan Alex belum juga datang menemuiku atau menghubungiku. Waktu terus berlalu. Suasana kedai yang semakin ramai cukup membuatku lelah. Dany yang melihatku sedikit kelelahan datang menghampiriku sambil membawakan minuman kemasan.
"Minum ini dulu, Naya. Kau pasti lelah. Maaf, aku tidak bermaksud merepotkanmu. Karyawanku tadi menghubungiku, dia tidak bisa masuk kerja hari ini," ujar Dany dengan perasaan tidak enak.
"Tidak apa-apa, Dany. Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Kamu sudah membantu menyelamatkan ayahku dan memberiku tempat tinggal di sini."
Senja mulai tiba. Aku dan Dany kembali dengan tugas kami masing-masing. Datang seorang pria dengan dua orang pengawalnya. Aku mengantarkan makanan pesanan pria itu ke mejanya. Wajahnya sangat tidak asing bagiku. Ya, dia adalah Vanka Wijaya, CEO ternama produk kecantikan.
Aku meletakkan makanan miliknya. Vanka memperhatikanku dengan saksama. "Kau Naya, kan? Kau yang kutolong waktu hujan itu, dan kau yang menuduh anjingku," ujar Vanka sambil mengarahkan telunjuk tangannya kepadaku.
"Aku sudah berterima kasih kepadamu dan meminta maaf soal masalah itu. Kenapa masih kau bahas?" jawabku ketus.
Vanka tersenyum dan menarik tanganku untuk duduk. "Aku mencari-cari cara untuk bisa menghubungimu. Kenapa kau sangat sulit untuk dicari?" bisiknya tepat di telingaku.
"Ada kepentingan apa kau mencariku?" Aku langsung bangun dari kursi, menjauh darinya.
Tiba-tiba, terdengar suara mobil yang parkir dengan sangat kasar, hingga suara gesekan ban terdengar sampai ke dalam kedai. Dany yang sedang sibuk di dapurnya langsung menghentikan aktivitasnya. Aku dan Vanka pun terkejut.
Tidak lama kemudian, datang segerombolan orang dengan membawa senjata tajam. Mereka masuk dengan wajah penuh amarah, menatap ke seluruh penjuru kedai.
Dany segera keluar dari dapur, berdiri di depanku untuk melindungiku. Vanka pun ikut berdiri, menatap tajam ke arah gerombolan itu.
*Bersambung...