NovelToon NovelToon
Labirin Ingatan "Antara, Aku Kamu Dan Masa Lalu"

Labirin Ingatan "Antara, Aku Kamu Dan Masa Lalu"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Bad Boy
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: YirumaNitya

Cherry adalah seorang gadis yang beruntung, ia memiliki keluarga yang hangat dan sangat menyayanginya, hidupnya seperti impian banyak gadis seusianya terlebih ia memiliki Kakak Laki laki yang selalu melindunginya Kevin, di sekolah berpacaran dengan pria paling populer sekaligus ketua OSIS Dion Prince, namun setelah kehadiran dua Pria bernama Bumi dan Langit hidupnya berubah, masa lalu yang selama ini ia cari kebenarannya perlahan mulai terungkap. Akankah Cherry berhasil mengetahui masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YirumaNitya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasar Loak

Malam itu Cherry bermimpi buruk, ia terbangun dengan keringat bercucuran, juga air mata yg sudah membasahi bantalnya, suhu tubuhnya meningkat, ia merasa sekujur tubuhnya lemas dan menggigil.

Dalam mimpinya tadi ia melihat api yang melahap sebuah bangunan yang samar samar dilihatnya seperti sebuah rumah mewah, api itu menyebar dengan cepat dan melahap seluruh bangunan itu, terdengar Isak tangis dan jeritan banyak orang dari dalam bangunan itu, pohon pohon di halaman ikut terbakar, petugas pemadam kebakaran terlihat sibuk memadamkan api dan mengevakuasi korban, namun bangunan itu mulai ambruk, sekeras apapun mereka berusaha, api itu semakin menggila, sialnya Cherry hanya bisa melihat pemandangan itu tanpa bisa melakukan apa apa, ia hanya berdiri mematung, karena tubuhnya kaku tak bisa bergerak, ia berusaha berteriak namun tak sedikitpun bisa mengeluarkan suara, hanya air mata yang mengalir dari kedua pipinya, segala yang terjadi di mimpi itu terasa sangat nyata, hawa panas dari api yg berkobar liar itupun terasa membakar kulitnya.

15 menit sudah berlalu sejak ia terbangun dari mimpinya, ia terus menangis terisak, Cherry menyembunyikan Isak tangisnya di balik selimut, ia peluk erat guling disampingnya sambil menutupi wajahnya, seakan tak ingin siapapun menemukannya dalam keadaan seperti itu.

"Mama, Kakak......" Ujarnya lirih

Kali itu melalui mimpinya ia mendapat kepingan ingatan, ternyata di masa lalu ia memiliki seorang Kakak Laki Laki dan juga Seorang Ibu yang dipanggil dengan Mama.

Entah berapa lama ia terus terisak dan menangis hingga akhirnya iapun lelah dan tertidur kembali membawa kesedihan yang belum sempat didamaikan.

****

Esoknya Cherry terbangun dengan kepala yang amat berat, pandangannya sedikit kabur, ia melangkah menuju cermin dan melihat wajah gadis yang begitu kusut dengan mata bengkak seperti doraemon, "ya ampun bengkak banget" gumamnya.

Karena kehausan ia memutuskan untuk pergi ke dapur, walaupun dengan terseok seok lemas, demi menuntaskan dahaganya.

Klek pintu kamar terbuka, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Kevin yang sedang tiduran di sofa lengkap dengan gawai di tangannya.

Menyadari kemunculan adiknya Kevin menoleh dan memperhatikannya.

"Kenapa lagi?" Tanya Kevin kaget melihat penampakan wajah Cherry di pagi hari itu.

Cherry menghentikan langkahnya tanpa berucap apa apa, namun mata bengkaknya tak bisa menyembunyikan hal yang ingin ditutupinya.

"Enggak apa apa kakak..." Jawabnya sambil menahan tangis.

"Bohong, cerita gak sama gue!"

Kevin yang sedari tadi duduk asik bersama gawainya langsung menghampiri Cherry, ia menarik lalu memeluk adiknya dalam dekapannya.

Jari jemarinya mengelus rambut hitam Cherry kemudian ia menepuk nepuk punggung adiknya itu Dengan lembut.

"Cherry kalau ada apa apa kan udah janji cerita sama kakak." Ujarnya lembut, getar suaranya terdengar penuh kecemasan.

"Huaaaa hiks hiks hiks........" Akhirnya tangis Cherry pecah ia memang tak pandai menutupi perasaannya di depan Kevin.

"Kalau mau nangis, nangis aja jangan pernah di Pendem." Ia masih menenangkan adik kesayangannya sambil terus menepuk nepuk punggung adiknya.

Cherry mengangguk sambil masih lanjut meluapkan emosi dan kesedihannya.

Tak lama kemudian setelah sesak di dadanya mulai menghilang Cherry menghapus air matanya, wajahnya mungkin jelek sekali saat ini. Ia gantian memeluk Kakaknya.

"Kakak makasih, sekarang udah baikan kok."

Kevin menarik nafas lega lalu ia memapah adiknya untuk duduk

"Tunggu disini, gue ambilin coklat panas dulu."

Cherry mengangguk, tak lama kemudian Kevin kembali dengan secangkir coklat panas untuk Cherry.

Ia menyajikan coklat itu seraya menyuruh adiknya untuk meminumnya. Cherry dengan patuh meminum coklat itu perlahan lahan.

"Enak?" Tanyanya

"Lumayan." Jawab Cherry pelan.

"Udah bisa cerita?" Tanyanya lagi.

Cherry terdiam, sebenarnya ia belum mau menceritakan mimpi buruknya itu pada kakaknya. Terlebih ia tak mau jikalau kakaknya menjadi khawatir, juga jika nanti kabar ini sampai kepada orangtua mereka, beberapa bulan ini Cherry sudah lepas dari obat obatan yang diberikan psikiater, ia tak mau jikalau harus menjalani banyak terapi lagi kedepannya.

Seakan mengerti Kevin berkata "Yaudah, nanti kalau udah siap cerita Dateng ke gue, gue gak mau lihat muka adik gue yang jelek nambah jelek karena nangis terus." Ejeknya.

Cherry cemberut lalu menatap sinis ke kakaknya itu membuat Kevin tertawa terbahak bahak.

"Jelek banget adik gue hahahahaaaa" Ejeknya lagi sambil masih tertawa.

"Kakak iihhhhh nyebelin" Cherry melempar bantal sofa ke arah kakaknya.

Dengan sigap Kevin menangkis pukulan bantal itu.

"Yaudah mandi sana, dandan yang cantik, mending kita pergi healing, gimana?" Ajak Kevin.

"Healing apaan, paling aku disuruh liat kakak main basket lagi, biasanya juga gitu." Gerutu Cherry.

Kevin terkekeh "Kan emang main bakset tuh healing versi gue."

"Ya beda lah, ajak ke taman rekreasi kek, ke gunung, atau shopping gitu, Baru namanya healing." Cerocos Cherry.

Kevin tersenyum tipis kemudian berkata "Ok gas kita shopping!"

Seketika Cherry melonjak "Asiiiiik beneran?" Tanyanya memastikan.

"Iya bawel, sana mandi dandan yang cantik, tapi jangan pake baju yang sexi sexi paham."

Cherry mengangguk kemudian bergegas mandi dan bersiap-siap.

Suasana hatinya berubah menghangat, selama masih ada Kakaknya di dunia ini, ia akan selalu punya kesempatan untuk bahagia lagi.

***

"Kakak ini konsepnya apa sih, kok kita ke pasar loak gini....." Protes Cherry pada Kakaknya yg iseng itu.

Kevin mulai tertawa puas, ia memang sangat menyukai momen momen saat bisa mengerjai adiknya yg polos itu.

"Katanya mau Shopping, ini udah di ajak malah protes, gak bersyukur lu"

"Tapikan enggak gini juga, Cherry gak ada tujuan mau beli apa disini kakak." Gerutu Cherry gemas.

Kevin masih cengengesan, siapa yang bakal menyangka cowok cool seperti Kevin menyimpan sisi jahil level dewa, yang selalu saja bisa membuat Cherry kaget dan kesal akan gebrakannya setiap hari.

"Ish ish....." Katanya memakai logat Malaysia "Never judge a book by its cover" katanya sambil menarik lengan Cherry. "Hayuk"

Sambil bersungut sungut Cherry mengikuti kakaknya itu dengan terpaksa, khayalannya buyar, tadinya dia berfikir akan di ajak nge mall dan belanja sepuasnya, faktanya ia malah diajak ke pasar loak.

Pasar itu ramai pengunjung, disana sini Cherry melihat orang orang sibuk berlalu lalang dan keluar masuk aneka toko, ternyata di dalam suasananya sangat menarik, bukan usang, ini nuansa klasik dan antik seperti sedang pergi menjelajah waktu.

Bahkan ia merasa seperti sedang berada di Diagon Alley tempat Harry Potter biasa berbelanja keperluan saat akan masuk sekolah.

Barang barang yg di panjang di toko toko pasar ini selain antik, sepertinya memiliki nilai sejarah bagi yang dulu memilikinya, barangnya pun ternyata masih dalam kondisi baik bahkan banyak yang terlihat dalam kondisi baru. Selain buku terdapat juga toko lampu klasik, barang barang rumah tangga antik, toko pakaian dewasa dan anak anak, juga banyak toko lainnya.

"Gimana vibesnya keren kan?"

Cherry mengangguk senang, "Amazing" jawabnya singkat.

Kevin berjalan memandu Cherry sampai ke sebuah toko yang berada di pojok paling ujung dari pasar itu, Cherry dengan patuh mengikutinya.

Mereka masuk ke sebuah toko buku tua, disana terpanjang banyak buku yang di susun rapi di rak buku, ada pula buku yang di susun di sebuah meja terbuka hingga covernya bisa terlihat dan di baca dengan jelas.

Buku buku itu sepertinya berasal dari tahun 2010 kebawah, karena sejauh mata Cherry memindai, tak ada satupun buku yang lebih muda dari Tahun 2010.

"Wow ini kan Novel karya Andara W" Teriak Cherry kegirangan melihat novel lawas yang beberapa waktu ini Viral di media sosial karena di angkat menjadi cerita Film yang kini sedang tayang di seluruh bioskop.

"Mana" sahut Kevin dari tempat buku buku sejarah. Ia menoleh kearah Cherry penasaran.

Cherry menunjuk novel yang ia maksud, lalu berusaha mengambilnya dengan susah payah, Novel itu berada cukup jauh dari jangkauannya karena disimpan di susunan rak buku bagian atas.

Ketika sedang berjinjit untuk mengambil buku itu tiba tiba sebuah tangan milik seseorang mengambilkan buku itu untuknya. Cherry menoleh menatap pemilik tangan itu.

Dengan buku di tangannya Pria jangkung itu berkata "Cari ini?"

Jantung Cherry tiba tiba berdegup kencang ia salah tingkah. Dan mundur beberapa langkah ke belakang. Cherry mengangguk pelan.

"Kalau mau ambil sesuatu yang sulit dijangkau, mending minta tolong oranglain, daripada nanti celaka." Ujar pria berlesung pipi itu lagi.

"Ma makasih ya Langit" Ucap Cherry terbata. Ia mengambil buku di tangan Langit, setelah itu bergegas kabur menjauhi Langit mendekat ke Kevin.

Sialnya Langit malah ikut berjalan mendekati Kevin.

"Eh Lang, kebetulan banget ketemu disini" Ujar Kevin sambil berjabat tangan dengan Adik sahabatnya itu.

Langit terlihat bingung, ia menggaruk kepalanya kemudian berkata

"Bukannya elo sama Kakak gue emang janjian ya bang?"

Kevin melotot seperti memberikan kode aneh pada Langit, kode yang tak dimengerti Cherry.

Langit terbatuk melihat ekspresi Kevin, ia seperti tersadar akan sesuatu, kemudian ia mengangguk seperti menyetujui sesuatu pada Kevin.

Cherry memalingkan wajahnya tak mau menjadi alasan kecanggungan Kakanya dengan Langit.

"Nyembunyiin apaan sih mereka itu" batin Cherry penasaran, tapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja.

Tak lama kemudian Bumi masuk ke Toko itu dengan membawa banyak tas belanjaan di tangannya.

Pandangan mereka dengan kompak tertuju pada Bumi, Bumi terlihat repot dengan barang barang di tangannya.

"Woy bantuin" Seru Bumi.

Dengan Sigap Langit menghampiri Kakaknya dan membantu membawa setengah belanjaan yang dibawa oleh Bumi. Mereka ijin pamit sebentar untuk menaruh belanjaan.

Cherry menatap kantong kantong belanjaan itu entah apa yang mereka beli sebanyak itu di pasar loak fikirnya. Ia pandangi kedua kakak beradik itu dari belakang, bibit unggul semua batinnya, pasti orangtua mereka bukan orang sembarangan.

"Kak itu dia belanja apaan sih, banyak banget?" Tanya Cherry kepo.

"Katanya sih kemarin dia mau beli kado buat Kakek mereka yang sebentar lagi ulangtahun."

Cherry keheranan "Beli kado kok di pasar loak gini kak, mereka kayaknya bukan tipe yang kekurangan duit deh?"

Kevin terkekeh "Emang kamu fikir barang barang disini murah de?"

Cherry menggeleng "Entahlah kan aku baru pertama kali kesini." Ujarnya.

"Kan kakak udah bilang don't judge a book by its cover, sebenernya ini bukan pasar loak biasa, ini tuh kerajaan barang antik yang sebenarnya cuma orang orang kaya aja yg sanggup pergi kesini."

Cherry membuka mulutnya kaget, matanya terbelalak "Hah, yang bener kakak, terus emang kakak punya duit buat beliin aku barang disini" Katanya polos.

Kevin menjitak Cherry "Lo fikir gue se bokek apaan sih de, sekelas pewaris keluarga Nugraha kayak gue ini, masih sanggup lah beliin semua yang lo mau disini"

"Hehehee" Cherry tertawa pelan kemudian menggembungkan pipinya. Ia benar benar tidak menyangka bahwa pasar ini bukan pasar biasa.

Kevin tersenyum, dicubitnya pipi adik manjanya itu pelan "Dasar cewek oon, ini nih alesannya gue gak pernah bisa nge lepasin lo pergi pergian, atau berkeliaran tanpa gue, yang ada lo di bohongin orang nanti"

"Segini pinternya dibilang oon, dasar Kakak gak ada akhlak" Kata Cherry bersungut sungut.

"Ya lagian bertahun tahun tinggal di Kota ini, masa gak tau kalau ada pasar antik, apa namanya kalau gak oon" Kata Kevin sambil sedikit meledek.

"Huh nyebelin, aku bilangin Ibu ah, masa anak ceweknya di katain oon" ancam Cherry.

"Sori sori, tapi next lo harus nambah wawasan, jangan di kamar terus atau ngegosip sama si Riana, ikutlah Kakak nge bolang."

"Huh daripada ikut Kakak mending aku nonton Netflix di rumah, males banget nge bolang sana sini, touring pake motor panas panasan, nanti Cherry jadi gak laku."

Kevin terkekeh "Ya elah, kalaupun gak laku nanti juga ujung ujungnya di jodohin Ayah sama anak koleganya." Ceplos Kevin.

"Ih kakaknya apaan sih, primitif banget fikirannya, jangan ngomong sembarangan, omongan tuh doa tau." Cherry jadi kesal.

"Hahaaaa, iya sori." Kata Kevin sambil mengacak rambut adiknya.

Akhirnya Cherry dan Kevin membeli beberapa buku yang mereka sukai kemudian memutuskan untuk beranjak ke toko yang menjual baju baju vintage.

Tak berselang lama Langit dan Bumi kembali menghampiri mereka lalu ikut sibuk melihat lihat pakaian.

"Mau cobain baju ini gak?" Ujar Bumi sambil menyodorkan sebuah dress vintage ke Cherry.

Cherry terkesiap kaget, ia melihat Dress yang dibawa oleh Bumi, dress motif floral itu terlihat sangat cantik, warnanya pink bercampur peach dan coklat muda, dengan motif bunga edelweiss terlihat sederhana namun tetap elegan.

Cherry tertegun, dan terdiam, kemudian pandangan matanya mencari Kevin ke segala arah.

"Cobain aja, menurut Kakak juga bagus" Suara Kevin terdengar dari arah belakang Cherry.

Cherry menarik nafas lega, mendengar jawaban Kevin. Ia lalu tersenyum canggung pada Bumi.

"Okey aku cobain ya kak" Ujarnya malu malu.

Bumi terkekeh melihat ekspresi Cherry seakan mengerti keadaannya, ia berkata ke arah Kevin

"Gila segalak apa ini makhluk sampe bikin adiknya nge freeze di Deket cowok lain."

Kevin menyeringai, kemudian tertawa "Hahaha menurut lo kakak gimana de?" tanyanya iseng.

Cherry yang merasa ada pendukung berucap agak keras "Galak banget singa aja sungkem sama dia" ledek Cherry.

Bumi tertawa terbahak bahak, disudut lain, Langit pun ikut tertawa kecil.

Kevin yang merasa tersindir mencubit pelan pipi adiknya dengan gemas "Adik gue ini oon, mana bisa gue lepasin" Sanggah Kevin "Lagian tak galak maka tak sayang" ujarnya balas meledek.

Cherry hanya cemberut mendengar ocehan Kevin.

"Mau di cobain enggak nih, kalau enggak kita keluar aja cari makan" ujar Kevin tak sabar.

Cherry menerima dress yang sedari tadi di pegang Bumi, ia mencobanya di kamar pas yang tersedia di toko itu. Setelah selesai mengenakan dress itu ia keluar untuk menunjukan penampilannya.

Kevin dan Bumi menatap takjub ke arah Perempuan Cantik yang baru saja keluar dari kamar pas itu, Cherry terlihat sangat anggun menganakan dress itu, dress itu seakan menyatu dengan tubuhnya dan seakan memang dibuat khusus untuknya, aura Cherry yang biasa Childish seketika menghilang, ia terlihat sangat menawan.

Kedua Pria itu saling berpandangan sambil tersenyum penuh arti, Kevin membulatkan jari jempol dan telunjuknya memberi kode OK pada Cherry.

Disisi lain Langit yang berdiri agak jauh pun puas sekali melihat pemandangan itu, jantungnya berdegup kencang, melihat Cherry dengan anggunnya melangkah keluar dari kamar pas itu.

Langit terus memandangi Cherry tanpa berkedip. Tak lama kemudian Ia menampar pipinya sendiri berusaha menyadarkan dirinya yang mulai berfikiran liar tak terkendali.

"Gimana bagus enggak?" Cherry memutar badannya menunjukan dress itu dari segala sisi.

"Cantik" Puji Bumi.

"Perfect" Sahut Kevin tak kalah memuji.

"Menurut lo gimana Lang? Cantik gak?" Tanya Bumi kearah Langit, sebenarnya sejak tadi reaksi Langit lah yang paling ditunggunya.

Langit terdiam sejenak, ia kemudian tersenyum dan mengangguk tanda setuju.

Tak terasa waktu berlalu cepat, tanpa sadar mereka malah melewatkan waktu makan siang.

Perut Cherry mulai berbunyi nyaring, ia merasa lapar dan haus, begitupun dengan ketiga lelaki muda itu, merekapun tak kalah laparnya. Akhirnya semua sepakat untuk makan di restoran Jepang.

Selepas makan mereka lanjut mengobrol santai di sebuah Cafe pinggiran kota untuk ngopi Dan ngeteh bersama.

Kevin dan Bumi tampak asik sendiri dengan obrolan mereka, apalagi tak lama setelah itu mereka bertemu Edwin teman satu circle Kevin di sekolah.

Karena ada cowok lain yang datang Kevin mengusir Cherry untuk duduk menjauh, Cherry sudah biasa dengan hal itu, namun yang ia heran kenapa ia tak posesif pada Bumi dan Langit.

Apa karena dua lelaki itu baik, atau karena ada hal lain yang disembunyikannya, dalam hati Cherry merasa heran dan curiga pada Kakaknya.

Karena bosan seperti biasa Cherry asik membuka aplikasi streaming Drama Korea dihpnya, ia membuka salah satu drama bertema Saeguk, kemudian asik menonton, hingga tanpa sadar Langit sudah duduk di hadapannya.

Pria itu memandangi Cherry dengan seksama, gadis itu berambut hitam panjang agak ikal di bagian bawah, bola matanya coklat tua memancarkan cahaya yang begitu mempesona, gadis itupun memiliki kelopak mata ganda yang indah dan berbulu mata panjang, meskipun tidak terlalu lentik bulu mata itu teduh dan menyejukkan, serta kedua alis melengkung lembut tidak terlalu tebal membingkai wajah imutnya, selain itu ia memiliki hidung yang lurus simetris tidak terlalu tinggi tidak lebar, bibirnya merah merona alami seperti mawar yang baru saja mekar.

Langit terus menatap Cherry tanpa berkedip, ia mulai masuk ke dalam dimensi yang tak di mengerti nya, menatap Cherry membuatnya bersemangat, membuatnya tersipu, membuatnya memiliki fikiran fikiran aneh dalam benaknya, baru kali ini ia antusias terhadap perempuan, biasanya ia hanya antusias dengan musik dan binatang peliharaan.

"Langit....." Panggil Cherry sambil menggoyangkan telapak tangannya di depan wajahnya.

Langit tersentak kaget, ia memalingkan wajahnya ke kiri, sambil mengatur detak jantungnya yang tak beraturan, tampaknya ia sudah dipergoki.

Mukanya memerah menahan malu ia tersenyum canggung, kemudian menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

"Loe kenapa Lang, muka loe merah banget, loe demam?" Tanya Cherry dengan polosnya.

Tampaknya sedari tadi Cherry tak sadar kalau sudah dipandangi Langit dalam waktu yang lama. Langit menarik nafas lega.

"Emmm iya nih kayaknya gue kena Flu." Ujarnya menutupi rasa malunya karena tersipu.

Cherry melongo lalu berkata "Terus kenapa masih disini, kalau sakit cepet pulang kali istirahat, apa mau gue anterin berobat? Yuk" Ajaknya raut wajahnya khawatir.

Mendengar kata kata itu, Langit merasa senang, sudah lama sejak tak ada yang benar benar memperhatikan dan peduli dengan keadaannya, meskipun dia berbohong tapi mendapati Cherry terlihat khawatir jujur saja ia sangat bahagia.

"Gak usah" Tolak langit halus.

Sedetik kemudian telapak tangan mungil Cherry mendarat di dahinya, DEG jantung Langit seakan berhenti berdetak untuk sesaat, kemudian gadis itu dengan seenaknya memegang kedua pipi langit, ia terdiam sesaat seperti memastikan sesuatu.

"Suhu Loe cukup normal kok, apa tangan gue yang gak peka ya Lang?" Katanya polos.

Langit menahan tawanya lalu berkata "Kayanya dimasa depan Cherry Nugraha gak cocok jadi dokter.

Cherry melingkarkan tangannya di perut "Lagian siapa yang punya cita cita jadi dokter, gue ini calon presiden." Celotehnya penuh percaya diri.

Mendengar itu Langit tak kuasa menahan tawanya, tawa yg sedari tadi ditahannya pecah, refleks ia mencubit pipi Cherry gemas.

Cherry melongo kaget, jantungnya berdetak cepat tak beraturan, matanya tak bisa berkedip, iapun sesaat tak bisa bernafas normal karena salah tingkah ia melepaskan tangan Langit dari pipinya.

"Iiiihhhh sakit tau Langit" Ucapnya sambil pura pura marah.

"Sori sori gue kelepasan, soalnya loe lucu mirip Cantika" katanya sambil mengatupkan kedua tangan.

"Cantika, siapa sih" Gumam Cherry di dalam hati, entah mengapa dia merasa sedikit kesal, "Kenapa gue kesel emangnya apa urusannya sama gue, apa gue cemburu, ih enggak mungkin, kayaknya gue lagi capek jadi mulai kurang waras" batinnya lagi keheranan akan fikirannya sendiri.

Cherry menekuk mukanya, berniat pergi keluar Cafe seperti biasa ia butuh udara segar, ia meninggalkan Langit yang duduk dihadapannya tanpa menuntaskan rasa penasarannya.

Namun Langit dengan sigap ikut berjalan mengikutinya, ia tetap disampingnya menemani gadis itu mengobrol ngalor ngidul sambil berjalan, hingga akhirnya berpisah untuk pulang ke rumah masing masing.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Semangat terus Kak nulisnya... 💪💪💪
Yurmanitya Fadilah: Thanks kak supportnya 😍
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Lagi dicomblangin ceritanya... 🤭
Yurmanitya Fadilah: Hahaha iya kak 😃🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduuuh... Setahun 12 kali diselingkuhin?
Itu tiap satu bulan, gonta-ganti terus dong?!

Ya Salaam... 🗿🗿🗿
Yurmanitya Fadilah: Iya kaka privilege orang ganteng 😃🫢
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!