NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:365
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Kunjungan Rahasia

"Ayu."

Bukan Selirku. Bukan Gusti Selir. Hanya namanya, diucapkan dengan suara yang serak dan rendah, seperti keluar dari dasar tenggorokan.

Lelaki berzirah itu berlutut di sampingnya. Zirahnya membentur lantai jati dengan bunyi logam yang berat. Tetesan air hujan jatuh dari rambutnya yang basah ke pipi Dyah Ayu, dingin, satu demi satu.

Lalu bau itu menembus bau hujan dan besi. Samar, tertinggal di kulit di balik zirah. Cendana tua.

Tangan berkapalan menyusup ke bawah tengkuknya dan mengangkat kepalanya dari lantai. Cahaya bulan dari celah atap jatuh ke wajah lelaki itu, memotongnya menjadi garis-garis pucat. Rahang yang terkunci. Alis basah. Mata hitam yang menatap darah di lantai, lalu ke bibir Dyah Ayu, lalu kembali ke darah.

Prabu Hayam Vira.

Tidak ada mahkota. Tidak ada pengawal di belakangnya. Hanya zirah kulit berlapis sisik perunggu, jenis yang dipakai prajurit biasa saat berpatroli, dengan lumpur yang masih melekat di pelindung kakinya.

"Siapa yang melakukan ini?"

Gigi Dyah Ayu bergemeletuk begitu keras sampai ia tidak bisa menjawab. Seluruh tubuhnya menggigil dalam gelombang-gelombang yang tidak bisa ia hentikan.

Hayam Vira menyentuh dahinya. Lalu lehernya. Telapak tangannya bergeser ke dada Dyah Ayu, tepat di atas tulang rusuk, merasakan napasnya yang pendek-pendek.

"Kulitmu kering," gumamnya. "Kau terbakar, tapi tidak berkeringat."

"K-kendi..." Dyah Ayu memaksa kata-kata keluar di sela gemeletuk giginya. "Pintu. Air garam. Arang."

Raja itu menoleh. Di dekat ambang pintu yang kini kosong tanpa daun, ada sebuah kendi tanah liat dan mangkuk berisi serbuk hitam. Ia menatap keduanya selama satu tarikan napas.

Lalu ia bergerak.

***

Hayam Vira tidak memanggil tabib. Tidak memanggil siapa pun.

Ia menuang serbuk arang ke dalam kendi air garam, mengaduknya dengan jari telunjuknya sendiri, lalu kembali berlutut. Ia menyelipkan lengannya di balik punggung Dyah Ayu dan menyandarkan tubuh gemetar itu ke dadanya. Sisik-sisik perunggu zirahnya dingin dan keras, menekan tulang belikat Dyah Ayu.

"Minum."

Air itu asin dan berpasir, rasanya seperti lumpur laut. Dyah Ayu tersedak. Separuhnya keluar lagi dari sudut bibirnya, mengalir hitam ke dagu dan lehernya.

Hayam Vira mencengkeram rahangnya. Tidak kasar, tetapi tidak memberinya pilihan. Ia memiringkan kepala Dyah Ayu ke belakang dan menuang lagi.

"Telan. Kau yang menyuruh meracik ini, jadi kau akan menghabiskannya."

Dyah Ayu menelan. Sekali. Dua kali. Air garam itu turun seperti batu kasar menggerus tenggorokannya yang sudah terbakar.

Lambungnya memberontak hampir seketika.

Hayam Vira memutar tubuhnya ke samping tepat waktu. Satu tangannya menahan dahi Dyah Ayu, tangan yang lain mengumpulkan rambutnya yang terurai dan menggenggamnya di tengkuk, menjauhkannya dari muntahan. Dyah Ayu muntah sampai seluruh tubuhnya mengejang. Hitam. Merah. Lalu hitam lagi.

"Lagi," ucap Hayam Vira, dan kembali menyodorkan kendi.

Ia memaksanya minum tiga kali. Tiga kali Dyah Ayu muntah, sampai yang keluar hanya air bening bercampur arang, dan perutnya terasa seperti dicabik dari dalam.

Ketika akhirnya ia berhenti, Dyah Ayu tersandar lemas di dada berzirah itu. Napasnya tersengal-sengal.

Lalu ia merasakannya. Basah dan dingin di pelipisnya. Di tengkuknya. Di sela dadanya.

Keringat.

"Bagus," gumam Hayam Vira, dan untuk pertama kalinya, bahunya yang menegang sedikit turun.

***

Raja itu merobek ujung kain batiknya sendiri. Satu sentakan, dan sobekan kain sepanjang lengan itu terlepas. Ia mencelupkannya ke sisa air di kendi, memerasnya, lalu mengusapkannya ke wajah Dyah Ayu.

Dahi. Pipi. Sudut bibir yang bernoda hitam.

Tangannya berat dan kasar, buku-buku jarinya penuh bekas luka lama. Tetapi kain basah itu bergerak pelan di sepanjang leher Dyah Ayu, menyeka keringat dingin dan sisa muntahan, turun ke tulang selangka, berhenti di tepi kembennya yang basah kuyup.

Ia tidak melanjutkan lebih jauh. Ia mengulangi usapan itu di leher. Dua kali. Tiga kali. Lebih lambat dari yang diperlukan.

Lalu ia melepas sabuk zirahnya.

Bunyi gesper logam yang dilepas, satu per satu. Sisik-sisik perunggu itu ia lepaskan dan lemparkan ke sudut bilik, berdentang membentur dinding. Di baliknya, ia hanya mengenakan baju dalam dari kain tebal yang basah oleh keringat dan hujan.

Ia mengangkat Dyah Ayu dari lantai dan membawanya ke ranjang.

Kasur itu lembap dan berbau jamur. Hayam Vira menatapnya, rahangnya menegang. Ia membentangkan jubah luarnya sendiri di atas kasur sebelum membaringkan Dyah Ayu di atasnya. Lalu ia menarik selimut tipis berbau apak itu sampai ke bahu Dyah Ayu, dan duduk di tepi ranjang.

Untuk sesaat, bilik itu hanya diisi oleh suara napas mereka berdua. Dan dari kejauhan, gamelan pesta masih ditabuh dengan riang.

Hayam Vira menoleh ke arah suara itu. Rahangnya bergerak, seolah sedang mengunyah sesuatu yang keras.

Lalu ia berdiri. Berjalan ke meja kayu tempat rantang perunggu bercorak cempaka masih teronggok. Ia membuka tutup mangkuk sup. Mencium aromanya. Mengambil jarum perak yang tergeletak di sebelahnya, ujungnya masih kehitaman.

Ia mengamati jarum itu lama sekali.

Ibu jarinya menyusuri ukiran kecil di pangkal jarum. Sekuntum teratai. Delapan kelopak.

Napas Raja itu berhenti. Hanya satu tarikan. Lalu ia meletakkan jarum itu kembali ke meja, tepat di posisi semula, dan tidak bertanya apa-apa.

Tetapi tangan yang meletakkan jarum itu mengepal. Kepalan itu menghantam tiang kayu paviliun.

Sekali. Keras. Seluruh atap berderak, dan debu berjatuhan dari balok-balok di atas, bersama seekor tikus yang lari terbirit-birit di sepanjang kasau.

"Rukmi," ucap Hayam Vira pelan, tanpa berbalik. Darah merembes dari buku jarinya yang menempel di tiang. "Dan juru masak kepala. Aku akan menggantung mereka berdua di gerbang dapur sebelum subuh."

"Jangan."

Suara Dyah Ayu hanya serak. Tetapi ia mengucapkannya dengan jelas.

***

Hayam Vira berbalik.

Dyah Ayu berbaring miring, wajahnya masih pucat seperti lilin, rambutnya lepek oleh keringat dan menempel di pipi. Tetapi matanya terbuka, dan menatap lurus ke arahnya.

"Kalau Gusti menggantung mereka malam ini, semua orang tahu Gusti datang ke sini." Ia menarik napas, dan dadanya yang terbakar memprotes. "Permaisuri akan tahu racunnya gagal. Ia akan tahu Gusti melindungi hamba. Dan ia akan berhenti bermain di tempat terbuka."

"Kau hampir mati."

"Hamba tahu."

"Kau meminumnya." Hayam Vira melangkah mendekat. Suaranya tidak naik, tetapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat udara di bilik itu terasa lebih berat. "Kau melihat jarum itu menghitam, dan kau tetap meminumnya."

Dyah Ayu tidak menyangkal.

"Dua suap. Dari permukaan." Bibirnya yang pucat bergerak membentuk sesuatu yang hampir seperti senyum. "Hamba hanya salah menghitung berapa lama arangnya perlu bekerja."

Hayam Vira duduk kembali di tepi ranjang. Ia membungkuk, satu tangan bertumpu di samping kepala Dyah Ayu, menekan kasur hingga tubuh mereka sedikit miring ke arahnya.

"Kenapa?"

Dyah Ayu menatap mata hitam yang begitu dekat itu. Demamnya membuat segala sesuatu sedikit berbayang di tepinya. Tetapi wajah Raja itu terlihat jelas.

"Aku butuh musuhmu merasa menang," bisiknya. Serak, terputus-putus. "Sebelum kupatahkan leher mereka."

Keheningan.

Lalu Hayam Vira terkekeh.

Bunyinya rendah dan gelap, keluar dari dalam dadanya. Bukan tawa senang. Bunyi seorang lelaki yang baru menyadari bahwa ia telah membawa seekor harimau betina ke dalam rumahnya, dan bahwa harimau itu kini tidur di ranjangnya.

"Ayahmu bertahan sebelas hari melawan pasukanku," gumamnya. "Sekarang aku tahu dari mana sebelas hari itu berasal."

Tangannya yang berdarah terangkat. Ibu jarinya menyentuh bibir bawah Dyah Ayu, yang pucat, dingin, dan pecah-pecah oleh demam. Mengusapnya dari sudut ke sudut. Pelan. Meninggalkan jejak hangat yang samar.

Ia menunduk.

Wajahnya turun sampai napasnya menyentuh bibir Dyah Ayu. Napas itu hangat, berbau hujan dan sedikit besi. Sejengkal. Kurang dari sejengkal. Dyah Ayu bisa merasakan bulu matanya hampir bersentuhan dengan rahang lelaki itu.

Dyah Ayu tidak memalingkan wajah. Ia tidak menutup mata. Ia hanya menatap balik, dengan dagu yang sedikit terangkat, seolah menantangnya untuk menyelesaikan jarak yang tersisa.

Hayam Vira menahan napas.

Dyah Ayu melihat otot di rahangnya bergerak. Melihat tenggorokannya naik-turun. Melihat tangan yang bertumpu di samping kepalanya mencengkeram jubah di bawahnya, mengepal sampai urat-urat di punggung tangan itu menonjol.

Tetapi ia tidak menunduk lebih jauh.

"Kau berbau muntahan dan arang," bisiknya, nyaris menyentuh bibir Dyah Ayu dengan setiap kata.

"Dan Gusti berbau lumpur kandang kuda."

Sudut bibirnya bergerak. Lalu ia menarik dirinya menjauh, perlahan, seperti sedang mencabut pedang dari dalam daging.

***

Raja itu berdiri dan mengambil zirahnya dari sudut bilik.

Ia mengenakannya kembali dalam kegelapan, gesper demi gesper, tanpa suara yang tidak perlu. Ketika selesai, ia kembali ke tepi ranjang. Mata Dyah Ayu sudah setengah terpejam, berat oleh demam dan kelelahan.

Ia merasakan bantalnya sedikit terangkat. Sesuatu yang dingin dan keras diselipkan di bawahnya.

Hayam Vira membungkuk sekali lagi. Bibirnya hanya menyentuh tepi rambut Dyah Ayu, tepat di atas telinga.

"Sembuhlah besok," bisiknya. Dingin. Datar. Seperti seorang panglima yang memberi perintah sebelum fajar. "Aku sudah menyiapkan panggung untuk pertunjukanmu."

Langkahnya menjauh. Melewati ambang pintu yang tidak lagi berdaun. Menghilang ke dalam alang-alang, ke dalam gelap, tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Gamelan di kejauhan masih berbunyi.

Dengan sisa tenaga, Dyah Ayu menyelipkan tangan ke bawah bantal. Jemarinya menemukan gagang yang licin dan berukir. Ia menariknya keluar sedikit, cukup untuk membiarkan cahaya bulan menyentuhnya.

Sebilah belati kecil, tidak lebih panjang dari telapak tangannya. Gagangnya emas, berukir naga yang melingkar dengan mata dari batu merah delima. Bilahnya bersih dan baru diasah.

Dan di sepanjang bilah itu, terukir tulisan kecil dalam aksara Kawi.

Dyah Ayu mengenali tulisan itu. Ia membacanya dari lontar silsilah di perpustakaan Empu Wiradarma, di bawah nama seorang perempuan yang wafat dua puluh tahun lalu karena demam yang membuatnya mengira ia bisa terbang.

Kusumawardhani.

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!