NovelToon NovelToon
Rumah Impian Yang Retak

Rumah Impian Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.

Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Ponsel di genggaman Rian bergetar untuk yang kesekian kalinya, namun suara nada sambung yang terdengar di telinganya tetap sama: monoton dan tak berbalas.

​"Jawab, Nad... Tolong jawab..." bisik Rian dengan suara gemetar.

​Namun, pada panggilannya yang ke-20, suara operator wanita yang dingin justru menyapa earphone-nya, mengabarkan bahwa nomor tujuan sudah tidak aktif lagi. Nadia benar-benar telah mematikan ponselnya, memutus akses Rian ke dalam dunianya secara total.

​Rian menjatuhkan tubuhnya ke tepi tempat tidur kamar utama yang kini terasa amat lengang. Ia menatap tangannya yang memerah, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa penyesalan yang teramat sangat menghantam dadanya hingga ia kesulitan bernapas. Kenapa ia bisa sekasar itu? Kenapa ia mengayunkan sabuk itu kepada wanita yang pernah berjanji akan dilindunginya?

​Jawabannya menusuk nuraninya sendiri: ego dan rasa bersalah. Rian mengamuk bukan hanya karena terbakar cemburu melihat foto Nadia bersama pria lain, melainkan karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia sendiri sedang menyimpan dosa besar. Ia telah berbohong, berselingkuh, dan membagi hatinya untuk Maya. Ketika ada celah kecil yang membuat Nadia terlihat "salah", Rian meluapkan seluruh emosi dan rasa bersalahnya menjadi bentakan dan sabetan kasar demi menutupi kepalsuannya sendiri.

​Kesempatan kedua yang diberikan Nadia di Bali—kesempatan yang begitu mahal—telah ia hancurkan sendiri sampai tak berbekas.

​Dari ambang pintu, Bu Ratna masuk membawa segelas air putih, menatap anaknya yang nampak hancur dengan raut wajah prihatin.

​"Sudahlah, Rian. Jangan seperti orang kesetanan begitu," ujar Bu Ratna seraya meletakkan gelas di nakas. "Istrimu itu cuma merajuk. Paling besok pagi kalau emosinya sudah reda, dia juga bakal pergi ke tempat kerjanya. Kamu susul saja dia besok di galerinya."

​Kata-kata ibunya justru membuat Rian membelalakkan mata. Sebuah kenyataan pahit menghantam kesadarannya seketika.

​"Ke... ke tempat kerjanya?" tawa sumbang dan parau keluar dari bibir Rian. Ia menatap ibunya dengan tatapan kosong. "Ibu tahu di mana galeri Nadia? Karena Aku... Aku tidak tahu dimana Nadia bekerja, Bu."

​"Loh? Kok bisa tidak tahu? Kamu kan suaminya! Jangan-jangan selama ini Nadia berbohong tentang pekerjaannya dan cuma mencari alasan untuk keluar rumah." Bu Ratna terperanjat namun dia segera menemukan celah untuk memojokkan Nadia.

​"Tidak, selama ini amu sudah mengabaikan dia, Bu!" jerit Rian frustrasi, mencengkeram rambutnya kuat-kuat. "Nadia tidak pernah mau kalau di antar, dan aku...aku tidak pernah benar-benar peduli untuk mencari tahu alamat dia bekerja! Aku cuma tahu dia kerja di galeri seni, tapi aku tidak pernah tanya detail lokasinya dimana. Disini banyak galeri seni, masak aku harus mencarinya di galeri satu persatu!"

​Kepanikan Rian kian membuncah. Ia menyambar ponselnya lagi, mencari nama Amira di daftar kontak. Namun, hasilnya nihil. Rian baru menyadari betapa buruknya ia sebagai seorang suami, ia bahkan tidak menyimpan satu pun nomor telepon teman-teman dekat Nadia. Selama bertahun-tahun, Rian terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, pekerjaannya, dan belakangan ini, dengan Maya. Sebegitu abainya ia terhadap wanita yang mendampinginya.

​Rian mondar-mandir di dalam kamar seperti orang gila, menelpon beberapa rekan kantornya untuk menanyakan apakah ada yang tahu relasi seniman Nadia, namun tak satu pun memberi jawaban yang ia harapkan. Malam itu, Rian tidak bisa memejamkan mata sedetik pun. Rasa frustrasi dan ketakutan akan kehilangan Nadia benar-benar menggerogoti jiwanya.

​Keesokan harinya, matahari pagi menyinari galeri seni milik Nadia dengan hangat.

​Di lantai atas, Nadia masih berbaring di tempat tidur. Tubuhnya terasa pegal dan memar-memar di kulitnya masih menunjukkan warna kemerahan yang perih jika tersentuh. Nadia memilih untuk beristirahat penuh hari ini demi memulihkan kondisi fisik dan mentalnya.

​Pukul sepuluh pagi, Amira mengetuk pintu kamar atas lalu masuk bersama seorang pria berjas rapi yang membawa tas dokumen tebal. Pria itu adalah Pak Hendra, pengacara senior yang ditunjuk Amira untuk menangani kasus Nadia.

​"Selamat pagi, Mbak Nadia," sapa Pak Hendra ramah dengan profesional.

​Nadia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dengan senyum tipis. "Selamat pagi, Pak Hendra. Maaf saya menerima Bapak dalam kondisi seperti ini."

​Pak Hendra mengangguk memaklumi, lalu mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya. "Mbak Amira sudah menceritakan semuanya dan menyerahkan bukti-bukti awal, termasuk surat visum resmi dari Rumah Sakit Medika serta foto-foto luka Mbak Nadia semalam."

​"Bagaimana posisi hukum saya, Pak?" tanya Nadia langsung pada intinya.

​"Sangat kuat, Mbak Nadia," tegas Pak Hendra. "Bukti visum KDRT ini adalah bukti materiil yang tidak bisa diganggu gugat. Ditambah dengan bukti rekaman perselingkuhan suami Mbak di mal dan Puncak, gugatan perceraian ini akan diproses dengan sangat cepat di Pengadilan Agama. Suami Mbak tidak akan punya celah untuk membantah atau menunda keputusan hakim."

​Pak Hendra menyodorkan beberapa lembar dokumen draf gugatan. "Mbak Nadia tinggal menandatangani berkas ini. Hari ini juga tim saya akan mendaftarkan gugatan ke pengadilan, dan besok atau lusa, surat panggilan resmi beserta salinan gugatan akan langsung dikirimkan ke alamat rumah suami Mbak."

​Nadia menerima pulpen yang disodorkan Pak Hendra. Tanpa ada sedikit pun keraguan atau getaran di jemarinya, ia menandatangani lembaran-lembaran kertas tersebut satu per satu.

​"Terima kasih banyak, Pak Hendra. Tolong pastikan prosesnya berjalan secepat mungkin, saya tidak mau berurusan lagi dengan mereka.p" ujar Nadia mantap.

​"Tugas saya, Mbak. Sekarang Mbak fokus saja memulihkan kesehatan," balas Pak Hendra pamit.

​Setelah Pak Hendra dan Amira turun ke lantai bawah untuk menjaga area pameran galeri, Nadia merebahkan kembali tubuhnya. Rasa lega melingkupi dadanya. Segala persiapan hukum sudah selesai.

​Sementara itu di sudut lain Jakarta, Rian seperti kehilangan arah. Pria itu sudah mengitari beberapa kawasan di Jakarta Selatan sejak pagi, mendatangi beberapa galeri seni secara acak yang ia temukan di peta digital, namun tak satu pun yang merupakan galeri tempat istrinya bekerja.

​Dengan mata sembap, wajah pucat, dan pakaian yang tak serapi biasanya, Rian terus mengemudikan mobilnya dengan kalang kabut. Ia mendatangi rumah orang tua Nadia yang sudah lama kosong, mencari ke sana-sini, namun bayangan Nadia tak kunjung ditemukan.

"Nadia, dimana kamu. Kenapa kamu menghilang begitu saja. Maafkan aku... beri aku kesempatan sekali lagi. " gumamnya dengan mata masih fokus mengemudi.

​Setiap kali melewati lampu merah, Rian menatap ponselnya yang bisu, berharap ada keajaiban berupa pesan masuk dari istrinya. Namun yang didapatnya hanyalah kekosongan, sebuah balasan setimpal atas bertahun-tahun pengabaian dan pengkhianatan yang telah ia semai sendiri.

1
Susi Yanti
semoga sarah mendapatkan balasan yg setimpal dgn kelakuannya menyiksa nadia melalui tangan rian
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
ditambah dong ka up nya
Ariany Sudjana
betul sekali, dasar pelacur murahan kamu Sarah, sudah pengangguran, eh pelacur murahan juga, sama seperti Maya
Ariany Sudjana
hahaha Rian Rian kamu bodoh, mau saja disetir sama Mak Lampir dan juga pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Heni Setiyaningsih
ternyata suami dan mertua bersekongkol mengincar hartanya Nadia ciih menjijikan
Heni Setiyaningsih
gk sabar pengen lihat pembalasan Nadia
falea sezi
🤣🤣 trik laki. yg uda ketauan selingkuh ya begitu
Eys Resa: yah, begitulah🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
datang lagi hama...hilang maya datanglah sarah...mungkinkah ini yg akan memicu perginya nadia??ditunggu..
Mefiani: siiip lah...👍
total 2 replies
Mefiani
mungkinkah perubahan itu bisa selamanya ato sesaat??ditunggu kelanjutane
Eys Resa: siap bos
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
kurang Thor besok update nya double ya 😄💪
Eys Resa: hehehe, kalo sempet ya kak. othor lagi ngerjain 4 novel soalnya😁🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
pergi sono nadia dan kembalilah kekehidupanmu sebelum kamu menikah...raihlah kebebadanmu..💪
Eys Resa: hooh kk
total 3 replies
falea sezi
mertua kayak lampir lanjut thor laki bego gini di cerai aja🤣
Eys Resa: 🙈🙈🙈🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending q kirim bunga dehh🤭
Eys Resa: makasih kak. semoga ya, lagi mikir alurnya kak, semoga nanti suka😁
total 1 replies
Mefiani
akhirnya buat cerita baru lagi kak resa sayank..q dah meluncur nich..😘💪
Eys Resa: makasih kak Mefi, yang pertama nih. bentar lagi juga ngisi di sebelah kak. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!