Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15: Semakin memusuhi
Hari demi hari berganti, memintal waktu menjadi lembaran rutinitas baru di rumah megah bernuansa modern itu.
Suasana pagi yang dingin di kawasan perumahan elite Jakarta tak pernah benar-benar berubah. Matahari tetap terbit membiaskan sinar keemasan, bunga-bunga bougenville di pekarangan tetap bermekaran, dan aroma kopi hitam kesukaan Yoga selalu mengepul hangat dari meja makan.
Secara kasatmata, mahligai rumah tangga yang dibangun Ayu dan Yoga berjalan sebagaimana mestinya. Di kamar utama, hubungan suami istri di antara mereka terasa makin manis, harmonis, dan dipenuhi rasa saling menghormati.
Yoga adalah sosok suami yang sangat bertanggung jawab, penuh perhatian, dan tidak ragu menunjukkan rasa cintanya pada Ayu. Setiap kali berada di ruang privat mereka, kehangatan yang tercipta seolah sanggup menghapus seluruh kepenatan hidup.
Namun, di luar ambang pintu kamar utama, di lorong-lorong rumah, di area ruang tengah, dan di meja makan, pemandangan yang jauh berbeda membentang secara kasat mata.
Penolakan secara terang-terangan dari Kenzo dan Lea tidak pernah mereda. Malah, seiring berjalannya waktu, benteng penolakan dari kedua remaja itu kian kokoh, makin dingin, dan secara halus menyudutkan Ayu ke sudut yang amat menyakitkan.
Meskipun hatinya sering kali teriris oleh lirikan sinis Lea atau kalimat-kalimat irit nan menohok dari Kenzo, sebisa mungkin Ayu menutupi hal itu dari Yoga.
Setiap kali Yoga ada di rumah, Ayu selalu memamerkan senyuman paling teduh, memastikan seluruh kebutuhan suaminya terpenuhi, dan bersikap seolah-olah semua dinamika di rumah itu berjalan baik-baik saja.
Ayu tidak ingin menjadi beban pikiran bagi Yoga yang sudah memikul tanggung jawab besar di perusahaan kontraktornya.
Yoga sendiri sebenarnya tahu dan menyadari adanya gesekan yang tak kunjung padam itu. Ia melihat bagaimana Lea kerap melengos saat Ayu menyapa, atau bagaimana Kenzo selalu enggan menyantap makanan jika Ayu duduk terlalu dekat di meja makan.
Namun, Yoga tidak mengetahui semuanya secara utuh. Ia tidak tahu betapa tajamnya kata-kata yang dilontarkan kedua anak remajanya saat ia sedang berada di luar rumah.
Pagi itu, jam dinding menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Udara dapur masih terasa cukup dingin, namun Ayu sudah sibuk bergelut dengan spatula dan wajan.
Hari ini ia membuatkan nasi uduk hangat lengkap dengan semur daging, orek tempe, dan sambal goreng, menu favorit keluarga.
"Bi Minah, tolong bantu tuangkan susu hangat untuk Moana ya," ujar Ayu lembut sembari merapikan piring-piring saji di meja konter dapur.
"Baik, Bu Ayu," sahut Bibi Minah sigap. Wanita paruh ruh baya itu menatap Ayu dengan raut yang penuh simpati. "Bu Ayu... Ibu benar-benar tidak lelah? Dari kemarin malam Bu Ayu sibuk ngurusin baju Pak Yoga, pagi-pagi Subuh sudah di dapur lagi."
Ayu tersenyum manis, seraya membetulkan letak jilbab bergo abu-abunya. "Sama sekali tidak lelah, Bi. Ini kan sudah tugas saya sebagai istri dan ibu di rumah ini. Kalau masakan saya dihabiskan, rasa lelahnya hilang sendiri."
Tak lama kemudian, Moana turun dengan pakaian yang sudah rapi, dan berlari kecil menghampiri Ayu lalu memeluk pinggangnya erat-erat.
"Ibuuu! Selamat pagi!" sapa Moana ceria.
"Selamat pagi, Putri Cantik Ibu," balas Ayu, lalu berlutut sejenak untuk mengecup kedua pipi Moana yang menggemaskan. "Sudah siap sarapan?"
"Sudah! Moana mau makan nasi uduk buatan Ibu yang banyak!"
Yoga turun dari lantai dua beberapa saat kemudian, tampil gagah dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Wajahnya yang segar memancarkan kebahagiaan begitu melihat keakraban Ayu dan Moana.
Ia mendekati meja makan, mencium kening Ayu dengan penuh kehangatan, sebuah rutinitas manis yang tak pernah absen sejak malam itu.
"Pagi, Sayang... Pagi, Moana," sapa Yoga seraya mengambil posisi di kursi utama.
"Pagi, Mas. Ini kopi hitamnya sudah saya siapkan," tutur Ayu telaten, sambil menyendokkan nasi uduk hangat dan semur daging ke piring Yoga.
"Terima kasih ya, Ayu. Kamu selalu tahu caranya membuat pagi aku jadi sempurna," puji Yoga sambil menatap istrinya dengan pendar cinta yang membuncah.
Namun, kehangatan itu seketika terusik saat langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah tangga yang berasal dari Lea dan Kenzo yang turun bersamaan.
"Kenzo, Lea, ayo sarapan dulu. Ibu buatkan semur daging kesukaan kalian," panggil Ayu dengan nada suara seramah mungkin, sapaan setiap harinya walau selalu di abaikan.
Lea menghentikan langkahnya tepat di dekat meja makan. Ia menatap piring-piring berisi makanan lezat itu dengan raut wajah yang masam.
"Gak usah, Lea udah beli roti di minimarket kemarin," sahut Lea cepat tanpa memandang wajah Ayu. Ia menarik kursi di paling ujung, yang agak jauh dari keberadaan Ayu dan Yoga.
"Lea, hargai masakan Ibu kamu," tegur Yoga seraya menatap anak perempuannya dengan alis bertaut. "Ibu sudah bangun dari Subuh untuk menyiapkan ini."
"Lea gak pernah minta dibuatkan, Pa!" balas Lea dengan nada ketus yang sengaja ia pelankan, namun tetap terdengar sangat menanjak di telinga. "Lagipula Lea lebih suka sarapan roti daripada nasi berat begini."
Ayu yang menyadari ketegangan akan kembali meledak segera memotong pembicaraan dengan cepat, dan menyentuh lengan Yoga dengan lembut. "Mas, tidak apa-apa... Kalau Lea mau makan roti dulu, jangan dipaksa. Nanti perutnya malah sakit di sekolah."
Lea terkekeh sinis, sangat pelan hingga hanya terdengar oleh Kenzo yang duduk di sebelahnya. Kenzo sendiri hanya mengambil sepotong tempe goreng dengan garpu, mengunyahnya cepat tanpa suara, lalu mendorong piringnya yang masih bersih.
"Pa, aku tunggu di mobil," ujar Kenzo datar seraya berdiri dari kursinya, dan mencangklong tas sekolahnya tanpa pamit atau mencium tangan ayahnya.
"Kenzo! Makanan kamu baru dimakan sedikit!" panggil Yoga tegas.
Namun Kenzo tidak menoleh. Ia hanya terus berjalan melintasi ruang tamu menuju garasi, kemudian Lea mengekor di belakang kakaknya, dan sengaja menyenggol pelan kursi yang diduduki Ayu saat melintas, sebuah tindakan kecil namun sarat akan rasa benci yang terselubung.
Yoga menghembuskan napasnya dan memijat keningnya yang berdenyut. "Ayu... maafkan anak-anak ya. Aku benar-benar bingung harus dengan cara apa lagi menasihati mereka."
Ayu mengulas senyum terbaiknya, dan menggenggam tangan Yoga yang terasa hangat di atas meja. "Mas jangan pikirkan. Mereka masih remaja, prosesnya memang butuh waktu. Yang penting Mas fokus saja sama pekerjaan di kantor, ya? Jangan sampai pikiran Mas terbagi-bagi."
Yoga menatap istrinya dengan rasa haru yang teramat dalam. Ia tidak tahu bahwa setiap kali dirinya melangkahkan kaki keluar dari rumah untuk pergi bekerja, beban yang harus dipikul Ayu justru bertambah berlipat ganda.
Bersambung...