NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 Jalan Pulang yang Terlalu Panjang

Draf itu selesai pukul sebelas kurang seperempat.

Tidak ada dari mereka yang menyinggung apa yang terjadi saat lampu padam. Ophelia kembali dari pantry dengan wajah sudah tertata rapi, dan Navin, yang tahu betul bahwa ia sedang menahan sesuatu yang bisa meledak, menyibukkan diri dengan draf terakhir. Mereka bekerja dalam diam selama satu jam berikutnya. Navin membaca tiga kali kalimat yang sama dan tidak menangkap satu pun maknanya, karena telinganya masih memutar ulang bunyi napas seseorang di kegelapan. Mereka bekerja, dan setiap kali tangan mereka nyaris bersentuhan di atas keyboard, keduanya menariknya seperti tersengat.

"Selesai," ujar Ophelia akhirnya, menutup laptop. "Saya kirim ke divisi hukum besok pagi."

"Baik."

"Kalau begitu, saya pamit, Pak."

Ia berdiri, mengumpulkan tas, dan berjalan ke pintu. Navin melihat ke luar jendela. Hujan belum berhenti, malah lebih deras dari tadi. Di bawah sana, jalanan mengilap dan sepi, tanpa satu pun taksi.

"Kamu naik apa?"

"Taksi daring, Pak."

"Tidak ada yang akan datang."

Ophelia mengecek ponselnya. Wajahnya menegang. "Tidak ada kendaraan tersedia."

"Saya antar."

Kata itu keluar tanpa persiapan, dan begitu terucap, ia sadar tangannya sudah dingin.

"Tidak perlu, Pak. Saya bisa menunggu."

"Menunggu sampai kapan? Jam satu?"

"Saya..."

"Ophelia." Navin mengambil kunci mobil dari laci. "Sopir sudah pulang. Saya sendiri yang mengemudi. Kamu tidak perlu bicara kalau tidak mau."

Itu bukan tawaran. Tapi juga bukan perintah. Lia menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.

Mobil hitam itu melaju perlahan di jalan yang basah. Navin sudah lama tidak menyetir sendiri. Dulu ia menyetir tiap hari, sebelum kesibukan dan jabatan mengambil alih. Malam ini, kemudi terasa asing sekaligus menenangkan di tangannya. Wiper bergerak teratur di kaca, menyapu air yang langsung datang lagi, seperti seseorang yang berusaha menghapus sesuatu yang tak mau hilang. Lampu-lampu toko yang tutup memantul di genangan seperti perahu-perahu kecil. Di kursi penumpang, Ophelia duduk dengan tas di pangkuan, menatap keluar jendela.

Ia tidak bicara. Navin juga tidak. Keheningan itu tidak canggung. Justru sebaliknya, dan itu yang membuatnya takut.

Dalam keheningan itu, ia menyadari betapa banyak hal yang berputar di kepalanya. Hal-hal yang tidak boleh diucapkan, tidak boleh dipikirkan, tapi terus muncul seperti gelembung. Aku hampir menciumnya. Dia tidak menjauh. Dia memejamkan mata. Setiap kalimat membuat tangannya mencengkeram kemudi lebih erat.

"Belok kiri di lampu merah berikutnya," ujar Ophelia pelan, menyebut nama jalan di kawasan Buah Batu.

"Baik."

Sepuluh menit berlalu. Lampu-lampu jalan melintas dalam garis-garis panjang keemasan yang memantul di aspal basah. Navin melirik sekilas ke arah kursi penumpang.

Ophelia sudah bersandar ke jendela dengan mata setengah tertutup. Kepalanya sedikit miring, dan tas di pangkuannya merosot pelan ke sisi. Bulu matanya panjang, dan ada sisa lelah di bawah matanya. Bibirnya sedikit terbuka. Ia terlihat sangat muda dan sangat rapuh, seperti seseorang yang sepanjang hari memakai baju zirah dan baru sekarang melepasnya.

Dada Navin terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia memperlambat laju mobil. Tanpa sadar, kecepatannya turun dari empat puluh menjadi tiga puluh, lalu dua puluh lima. Seorang pengendara motor menyalip mereka sambil membunyikan klakson, tapi Navin tidak peduli.

Ada rute lebih cepat. Ia tahu itu, karena sudah menghafal peta sejak Ophelia menyebut alamatnya. Tapi ia mengambil belokan yang salah, sengaja, menuju jalan yang lebih panjang, melewati taman kecil yang basah dan deretan pohon tua yang meneteskan sisa hujan di atas kap mobil.

Lima menit lagi, bisiknya pada dirinya sendiri. Hanya lima menit.

Ia menghitung ulang perbandingan itu dalam kepala: menit yang ia curi, hutang yang harus ia bayar kelak. Ia tahu itu konyol. Ia tahu ini egois. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ingin sebuah perjalanan tidak berakhir.

Ophelia bergerak sedikit dalam tidurnya dan bergumam, sesuatu yang tidak jelas. Navin menahan napas. Kemudian ia mendengar kata itu, samar, nyaris tak terdengar.

"...Bas..."

Genggamannya pada kemudi mengencang.

Tentu saja. Tentu saja dalam tidurnya ia mengucapkan nama itu. Nama seseorang yang tahu bagaimana membuatnya tertawa. Sesuatu yang dingin menusuk perut Navin, dan ia menelan ludah untuk menenangkannya.

Tapi kemudian Ophelia bergumam lagi, lebih jelas.

"...ayam gorengnya... jangan kepedesan..."

Navin berkedip. Sesaat kemudian, ia nyaris tertawa keras di tengah keheningan mobil. Bastian dan ayam goreng. Ia baru sadar, samar-samar, bahwa ada sesuatu yang tidak ia mengerti dari semua ini. Tapi ia terlalu lelah dan terlalu takut untuk mengajukan pertanyaannya.

Sepuluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah kecil bercat putih dengan pagar besi rendah dan lampu teras yang temaram. Ia mematikan mesin. Hujan sudah reda menjadi gerimis lembut.

"Ophelia."

Ia tidak bangun.

"Ophelia." Lebih pelan. Ia hampir menyentuh bahunya, tapi tangannya berhenti di udara.

Perempuan itu membuka mata perlahan, mengerjap, dengan wajah orang yang belum tahu ia berada di mana, lalu tiba-tiba tegak. "Astaga. Saya tertidur?"

"Sedikit."

"Berapa lama?"

"Tidak lama."

Ia mengusap wajahnya dengan malu. "Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud..."

"Tidak apa-apa."

Sunyi. Lampu teras di depan rumah menyorotkan cahaya kuning di kaca depan. Navin menggenggam kemudi dengan kedua tangan, menatap lurus ke depan, karena ia tahu jika ia menoleh, ia tidak akan bisa menahan diri.

"Terima kasih atas tumpangannya," ujar Ophelia pelan. "Dan supnya."

"Sama-sama."

"Pak..." Ia berhenti, jemarinya memegang gagang pintu. "Tentang tadi. Waktu lampu..."

"Tidak ada apa-apa."

"Oh."

"Generator," ujar Navin, dan mendengar dirinya sendiri, ia meringis dalam hati. Ia ingin menendang dirinya sendiri.

"Ya. Generator." Ophelia mengangguk cepat, tanpa menatapnya. "Baik, Pak. Selamat malam."

"Selamat malam."

Ia turun dari mobil dan berlari kecil melewati gerimis menuju pagar. Ia membuka gerbang, berjalan ke teras, merogoh kunci di tas. Sebelum masuk, ia menoleh. Hanya sebentar. Hanya sedetik. Tapi Navin melihatnya, dan jantungnya berhenti.

Pintu menutup. Lampu ruang tamu menyala di balik tirai tipis. Tak lama kemudian, lampu di lantai atas juga menyala.

Navin duduk di dalam mobil yang sunyi dan menatap jendela yang bercahaya itu. Ia tidak menyalakan mesin. Ia tidak mengecek ponsel. Ia hanya menatap, seperti orang yang menonton bintang dari jarak yang tidak akan pernah bisa ia tempuh.

Setengah jam kemudian, lampu di lantai atas padam.

Barulah ia menyalakan mobil, dan baru ketika ia sudah setengah jalan menuju hotel, ia sadar sesuatu yang membuat tangannya gemetar di atas kemudi.

Ia telah menghafal jalan menuju rumah itu. Setiap belokan, setiap lampu merah, setiap tikungan. Dan ia tahu, tanpa perlu bertanya pada siapa pun, bahwa ia akan mengingatnya seumur hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!