Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Darah Dari Kurama (Arc 1 End)
"Jangan gerakkan jemarimu lebih jauh ke arah pisau itu, Rokusuke."
Suara Tenkai meluncur bagai arus air bawah tanah yang dingin, menghentikan gerakan tangan Rokusuke tepat dua jari dari gagang tanto kecil di pinggangnya.
Rokusuke berlutut di atas lumpur hitam kaki Gunung Kurama. Tubuhnya bergetar hebat. Pakaian kulit penyusupnya yang tadinya dirancang rapat dan rapi kini terkoyak di berbagai tempat, bernoda lendir Kappa, otaknya disesaki oleh bayangan paruh burung yang memecahkan tengkorak pasukannya, serta seragamnya yang basah oleh darah hangat kawan-kawannya sendiri. Napasnya terengah-engah, berbau amis dan asam akibat rasa panik yang memuncak.
Ia menengadah. Di bawah remang cahaya bulan sabit yang tertutup awan tipis, sosok biksu tua di depannya tampak bagaikan patung batu yang dipahat dari malam itu sendiri. Tenkai masih memutar biji-biji tasbih kayunya secara konstan.
Klek... klek... klek...
Suara pergeseran kayu keras itu berirama sempurna, bertolak belakang dengan detak jantung Rokusuke yang liar dan tidak beraturan.
"K-kau... siapa kau?" bisik Rokusuke, suaranya pecah dan Parau. Kaki kirinya yang terkilir membengkak di dalam sepatu kulitnya, menyebarkan rasa nyeri menusuk yang menjalar hingga ke pinggang. "Kau... kau bekerja untuk orang-orang Iga itu?"
Tenkai perlahan menurunkan jemarinya. Ia tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Sebaliknya, ia mengangkat kepala, menatap wajah Rokusuke yang tertutup noda darah dan debu tebal.
"Kau berbau kematian, Anak Muda," tutur Tenkai halus, hampir bernada iba. "Bukan kematian manis dari seorang prajurit yang gugur di medan perang terbukanya para daimyo, melainkan busuknya kematian dari niat jahat yang dibeli dengan kepingan emas."
Rokusuke meringis, berusaha menegakkan punggungnya walau rasa sakit menggerogoti tubuhnya. "Aku... aku mematuhi perintah! Perintah dari penguasa negeri ini! Tuan Kuroda Kanbei memintaku—"
"Kanbei tidak menguasai tanah ini," potong Tenkai. Kalimat itu diucapkan tanpa nada keras, namun kepastian di dalamnya sanggup membuat Rokusuke bungkam seketika. "Kanbei hanyalah seorang pria cacat yang mencoba mengukur kehendak Langit menggunakan papan catur dari kayu murah. Dia percaya bahwa dengan menghitung jumlah tombak, menakar pasokan beras, dan memetakan jalur sungai, dia bisa memprediksi masa depan Jepang."
Tenkai berdiri perlahan dari bangku kayu kedai tua yang terlantar itu. Jubah kesa abu-abunya terurai jatuh, mengibaskan debu kering yang menempel di kelim kainnya. Ia melangkah satu tapak mendekati Rokusuke. Kaki biksu tua itu melangkah di atas tanah lumpur basah, namun uniknya, tidak ada bunyi kecipak air sedikit pun yang dihasilkan oleh sol sandalnya.
"Tunjukkan padaku tanganmu, Rokusuke," perintah Tenkai.
Rokusuke menatap sang biksu dengan tatapan liar bercampur bingung. Namun ada daya tekan spiritual yang amat berat memancar dari sosok Tenkai—sebuah tekanan halus yang memaksa kehendak Rokusuke untuk tunduk tanpa sempat memproses alasan di balik tindakannya. Dengan gemetar, Rokusuke mengangkat tangan kanannya yang bersimbah darah.
Tenkai menatap telapak tangan penyusup itu. Di sana, di antara lipatan kulit yang terkoyak akibat merayap di tebing, terdapat noda hitam pekat yang mengering—darah Karasu Tengu yang tergores oleh pisaunya saat pertempuran meletus.
"Kau telah membawa darah dari puncak Kurama ke kaki gunung ini," kata Tenkai. Matanya memicing, menatap noda hitam itu dengan keprihatinan yang mendalam. "Dan kau berniat membawanya kembali ke Kyoto, lalu memamerkannya di hadapan Kuroda Kanbei sebagai bukti laporanmu?"
"I-itu bukti bahwa tempat itu bukan kuil biasa!" jerit Rokusuke, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya sebagai pemimpin Suppa. "Ada monster di atas sana! Ada iblis yang dilatih oleh klan Iga! Tuan Kanbei harus tahu! Pasukan Toyotomi harus meratakan gunung ini sebelum—"
BUM!
Bukan ledakan dinamit atau lemparan bom asap, melainkan sebuah sentakan energi yang membentur dada Rokusuke secara mendadak.
Tenkai tidak mengayunkan tinju maupun senjatanya. Ia hanya menghentakkan ujung bawah tongkat kayunya yang berdiri di samping bangku ke atas tanah datar. Getaran gaib meluncur menembus lumpur, menyengat saraf Rokusuke hingga pria itu terlempar terlentang di atas tanah basah, terengah-engah mencari udara yang mendadak hilang dari paru-parunya.
"Buka matamu dan dengarkan baik-baik, Tikus Tanah!" suara Tenkai bergema, membentak bukan dengan kemarahan manusia, melainkan dengan keagungan benteng batu yang bergetar akibat gempa bumi.
Rokusuke tergeletak menatap langit malam, matanya membelalak ketakutan saat melihat bayangan Tenkai mendadak tampak raksasa, menutupi seluruh cakrawala di atasnya.
"Apa yang kau lihat di atas sana bukanlah monster yang dipelihara oleh klan Iga," lanjut Tenkai, suaranya menggelegar halus di dalam kepala Rokusuke. "Apa yang kau rasakan di Celah Ohara adalah Murka Alam Kurama itu sendiri! Gunung itu adalah tanah suci yang telah berdiri ribuan tahun sebelum klan Toyotomi ada, sebelum klan Oda membakar rumah-rumah dewa, dan sebelum progenitor klanmu belajar merayap di dalam gelap!"
Tenkai melangkah mendekati Rokusuke yang terkapar tak berdaya. Ia merendahkan tubuhnya, bersandar pada tongkatnya, dan menatap tepat ke dalam pupil mata Rokusuke yang bergoyang liar.
"Kurama adalah tempat di mana batas antara dunia manusia dan dunia roh menipis bagaikan sehelai kain sutra kusam," bisik Tenkai, kini suaranya kembali melunak namun terasa sangat dekat di telinga Rokusuke. "Puncak gunung itu tidak boleh dijamah oleh darah, keserakahan, dan dosa dari masa lalu. Darah klan Oda yang mengalir di sana... bukan milik Hideyoshi untuk dihapuskan, dan bukan milik Kanbei untuk dihitung sebagai angka potensi ancaman."
"K-Oda..." rintih Rokusuke, tenggorokannya terasa seperti terbakar. "Jadi... rumor itu benar? Pewaris... pewaris Nobunaga..."
"Nama itu tidak boleh keluar dari bibirmu yang ternoda," sela Tenkai cepat, jarinya mengetuk dahi Rokusuke dengan cangkang biji tasbihnya. TAK!
Rokusuke memekik saat rasa dingin yang luar biasa menjalar dari dahinya, menusuk langsung ke pusat kesadarannya. Ingatan-ingatan tentang wajah Mumei—meskipun ia belum pernah melihatnya secara langsung—serta detail peta rute yang diberikan Kanbei mendadak menjadi buram dan membingungkan di dalam kepalanya, seolah tenggelam dalam kabut tebal yang tak tertembus.
"Kau akan kembali ke Kyoto malam ini, Rokusuke," perintah Tenkai.
Rokusuke menelan ludah yang terasa pahit bagaikan empedu. "Kembali... ke Kyoto?"
"Ya. Kau akan berjalan menyusuri jalan raya selatan, memasuki gerbang Jurakudai, dan melangkah ke hadapan Kuroda Kanbei." Tenkai berdiri tegak kembali, menatap ke arah jalan setapak yang membentang menuju ibu kota. "Kau akan berlutut di atas tatami bersih tempat Kanbei menyusun peta perangnya. Dan kau akan menyampaikan pesan dariku darimu."
"P-pesan apa...?" tanya Rokusuke gemetar, tangannya memegang dadanya yang masih terasa sesak.
Tenkai memutar tubuhnya membelakangi Rokusuke, menatap ke arah puncak Gunung Kurama yang tinggi menjulang di balik kepekatan malam. Kabut keperakan tampak mengalir turun dari puncak, menyelimuti lereng-lereng hijau bagaikan selimut pelindung yang tak bertepi.
"Katakan pada Kuroda Kanbei," tutur Tenkai, setiap katanya terukir dengan bobot yang tak tertahankan, "bahwa Alam Kurama telah terbangun dari tidurnya. Jika ia mencoba mengirimkan satu orang lagi, satu bom racun lagi, atau satu bilah pedang lagi ke celah gunung ini... maka murka yang melahap pasukannya di Ohara malam ini hanyalah percikan api kecil dari neraka yang akan membakar seluruh takhta Toyotomi."
Rokusuke mendengarkan dengan napas tertahan.
"Katakan padanya," sambung Tenkai lagi, "bahwa dosa-dosa dari pembakaran Kuil Enryaku-ji dan darah yang tumpah di Honno-ji belum sepenuhnya dibayar oleh tanah ini. Jangan sampai kesombongannya dalam mengejar kepastian duniawi membuat dirinya menantang kekuatan yang tidak bisa ia taklukkan dengan strategi militer. Tanah Kurama adalah ambang batas. Sekali langkahnya melewati garis itu, bukan hanya klan Hojo di Odawara yang akan runtuh... melainkan seluruh mimpi Hideyoshi tentang Jepang yang terpadu akan musnah menjadi abu sebelum musim dingin berlalu."
Tenkai berbalik sedikit, melirik Rokusuke dari sudut matanya. "Apakah kau sanggup mengingat kalimat itu, Rokusuke? Atau kau butuh aku mengukirnya di atas daging dadamu?"
"Aku... aku mengingatnya! Aku akan menyampaikannya! Aku bersumpah akan menyampaikannya!" jerit Rokusuke panik, merayap mundur di atas lumpur dengan bantuan kedua tangannya yang terluka.
"Bagus," jawab Tenkai dingin. "Sekarang pergilah. Darah kawan-kawanmu di tangannya sudah mulai mengering. Jika kau tidak sampai di Jurakudai sebelum matahari terbit, racun yang ditinggalkan oleh cakar Karasu Tengu di dalam darahmu akan melumpuhkan paru-parumu selamanya."
Rokusuke tidak menunggu peringatan itu diulangi.
Dengan memaksakan pergelangan kakinya yang terkilir, ia bangkit berdiri sambil melengkingkan jeritan kesakitan. Pria yang tadinya merupakan salah satu pembunuh bayaran paling ditakuti di wilayah Kansai itu kini berlari pincang, tersandung-sandung di atas batu jalanan, menyusuri rute menuju Kyoto bagaikan seekor anjing liar yang terkoyak oleh lebah. Sosoknya perlahan menghilang ditelan oleh kegelapan malam, meninggalkan jejak-jejak darah dan lumpur di sepanjang jalan setapak.
Setelah suara langkah kaki Rokusuke yang terpincang-pincang benar-benar lenyap di kejauhan, suasana di kaki Gunung Kurama kembali menjadi hening secara mematikan.
Angin malam yang dingin berembus pelan, membawa aroma asap kayu cedar dan embun pagi yang mulai membeku di atas daun-daun pakis. Kedai teh tua yang terlantar itu kembali berdiri sunyi di bawah naungan pohon-pohon raksasa.
Dari balik bayangan pohon ginkgo besar di samping kedai, sesosok tubuh melangkah keluar tanpa suara.
Itu adalah Hattori Hanzo.
Sang pemimpin ninja Iga itu berdiri dengan jubah perjalanannya yang lembap oleh embun malam. Tangan kanannya bertumpu pada gagang pedang ninja-to yang terikat diagonal di punggungnya. Wajahnya yang tegas dan dipenuhi garis lelah menatap lurus ke arah Tenkai. Hanzo telah berdiri di sana sejak pertempuran di Celah Ohara berakhir—menyaksikan bagaimana para yokai melumat pasukan Suppa, serta bagaimana biksu tua ini memotong jalan Rokusuke di kaki gunung.
"Kau membiarkannya hidup," kata Hanzo, suaranya rendah dan dalam, bagaikan gumpalan tanah tebal.
Tenkai tidak terkejut oleh kemunculan Hanzo. Ia memutar biji tasbihnya kembali, melangkah pelan menuju bangku kayu tempat ia duduk sebelumnya.
"Satu ekor burung yang terluka dan ketakutan akan membawa berita tentang badai jauh lebih cepat daripada embusan angin itu sendiri, Hanzo," sahut Tenkai santai. "Jika aku membunuhnya di sini, Kanbei hanya akan menganggap unit Suppa-nya lenyap akibat jebakan klan Iga. Dia akan mengirimkan unit yang lebih besar, dengan taktik yang lebih bersih."
"Dan sekarang?" tanya Hanzo, melangkah mendekat namun tetap menjaga jarak tiga tapak dari sang biksu. "Kau pikir Kanbei akan takut hanya karena dongeng tentang yokai dan peringatan dari seorang biksu tua?"
Tenkai terkekeh halus—sebuah ketawa singkat yang menyimpan kepahitan tak bertepi.
"Kanbei tidak takut pada dongeng, Hanzo. Pria itu terlalu rasional untuk percaya pada monster," terang Tenkai, matanya menatap lurus ke arah jalan raya Kyoto yang gelap. "Namun Kanbei sangat takut pada hal-hal yang tidak bisa ia perhitungkan. Ketika Rokusuke kembali dengan tubuh yang terkoyak oleh racun gaib dan ingatan yang diacak-acak, Kanbei akan sadar bahwa ada kekuatan di Kurama yang berada di luar jangkauan jaringan intelijen Toyotomi."
Hanzo berdiam diri sejenak, meresapi setiap kata-kata Tenkai. Sebagai seorang master intrik yang bertarung di balik bayangan klan Tokugawa, ia tahu betul karakter Kuroda Kanbei. Pria genius itu memang cenderung menarik diri jika menemui variabel mistis atau tak terduga yang berisiko mengacaukan prioritas utamanya—dan saat ini, prioritas utama Kanbei adalah mengamankan logistik perang Odawara.
"Taktik yang cemerlang," aku Hanzo pelan. "Kau meminjam nama murka alam untuk membangun tembok gaib di sekeliling Kurama."
"Bukan sekadar taktik, Hanzo," potong Tenkai, tatapannya mendadak berubah sangat tajam saat menatap mata sang pemimpin Iga. "Apa yang terjadi di Celah Ohara tadi malam adalah kenyataan. Alam Kurama memang murka. Segel Sojobo yang tertanam di dalam tubuh Mumei bukan sekadar tangkapan sihir untuk menyembunyikan identitasnya. Segel itu berdenyut seirama dengan detak jantung gunung ini."
Hanzo menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Semakin Mumei tumbuh dewasa, semakin kuat denyut energi di dalam dirinya," jelas Tenkai dengan nada bicara yang amat serius. "Jika kau dan Ogen hanya mengajarinya cara membunuh seperti seorang kunoichi Iga, kau hanya sedang membangun sebuah wadah yang retak. Suatu hari nanti, energi Sojobo akan merobek jiwanya dari dalam jika ia tidak diajari cara mengendalikannya secara spiritual."
Hanzo menggepalkan tangannya di gagang pedang. Peringatan Tenkai menghantam bagian tergelap dari kekhawatiran yang selama ini dipendamnya bersama Ogen dan Tanba. Mereka adalah prajurit, pembunuh, dan ahli intrik; mereka tahu cara melatih anak kecil untuk melangkah tanpa suara atau menebas leher musuh di tengah kegelapan. Namun mereka tidak tahu apa-apa tentang cara menjinakkan kekuatan spiritual purba seperti segel Tengu.
"Siapa kau sebenarnya, Tenkai?" tanya Hanzo, suaranya dipenuhi desakan urgensi yang tak tertahan. "Kau tahu tentang klan Oda, kau tahu cara kerja pikiran Kanbei, dan kau memahami segel Sojobo lebih baik daripada para pendeta di Kuil Kurama-dera sendiri. Mengapa kau mempertaruhkan dirimu untuk melindungi Mumei?"
Tenkai memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menghela napas panjang, sebuah hembusan halus yang membawa aroma abu dupa tua dari dalam jubahnya.
"Aku adalah bayangan dari sebuah kesalahan besar, Hanzo," bisik Tenkai dengan suara yang dipenuhi nostalgia pahit. "Dahulu, aku percaya bahwa satu-satunya cara untuk menyatukan tanah ini adalah dengan membakar seluruh struktur tua dan mendirikan aturan di atas pilar ketakutan. Aku membantu membangun jalan itu... sampai aku melihat jalan itu sendiri berujung pada lautan api di Honno-ji."
Tenkai membuka matanya kembali, dan untuk pertama kalinya, Hanzo melihat sebuah kilatan penyesalan yang teramat dalam di balik mata sang biksu tua.
"Anak perempuan di puncak gunung itu..." sambung Tenkai, "adalah kesempatan terakhir bagi tanah ini untuk menemukan keseimbangannya. Bukan sebagai ratu yang menuntut takhta Oda kembali, bukan sebagai alat perang klan Tokugawa... melainkan sebagai penjaga jeda di antara zaman yang haus darah."
Tenkai menatap Hanzo dengan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Aku di sini bukan untuk menyelamatkan klan Iga atau klan Oda. Aku di sini untuk memastikan bahwa ketika saatnya tiba, anak itu siap memilih jalannya sendiri—tanpa dikendalikan oleh dendam masa lalu atau ambisi orang-orang seperti Hideyoshi dan Kanbei."
Hanzo menatap biksu tua itu selama beberapa saat yang terasa sangat lama. Di dalam kegelapan malam kaki Gunung Kurama, dua pria dari dunia yang berbeda—seorang pembunuh bayaran dari klan Iga dan seorang biksu misterius yang memikul beban sejarah—saling mengunci tatapan dalam sebuah ikatan kesepahaman yang tak tertulis.
Akhirnya, Hanzo melepaskan pegangannya dari gagang pedang. Ia menundukkan kepalanya sedikit, memberikan penghormatan tertinggi dari seorang shinobi veteran kepada sosok di depannya.
"Celah Ohara telah ditutup malam ini," kata Hanzo pelan. "Pasukan Iga di bawah komando Tanba akan memperketat pertahanan di batas vegetasi. Namun mengenai pelatihan spiritual Mumei..."
"Biarkan dia mendatangi pelataran timur saat kabut pagi turun," sela Tenkai, seolah sudah mengetahui apa yang akan diucapkan Hanzo. "Aku tidak akan mengajarinya cara menghunus pedang. Aku hanya akan mengajarinya cara mendengarkan bisikan angin gunung—sehingga saat kekuatan Sojobo meletus di dalam dadanya, ia tidak menjadi monster seperti yang ditakutkan oleh Kuroda Kanbei."
"Terima kasih, Biksu Tenkai," ucap Hanzo lurus.
Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Hattori Hanzo memutar tubuhnya dan melompat ke atas dahan pohon cedar di samping kedai. Sosoknya menyatu dengan kegelapan malam dalam sekejap mata, berpacu kembali menuju puncak barat untuk membawa kabar tentang berakhirnya ancaman pasukan Suppa serta awal dari babak baru pelatihan Mumei.
Tinggallah Tenkai seorang diri di kaki gunung yang sunyi.
Matahari subuh masih beberapa jam lagi dari ufuk timur, namun di balik garis pegunungan Kanto yang jauh di sana, awan-awan hitam peperangan Odawara mulai terkumpul semakin rapat. Takdir Jepang sedang diseret menuju sebuah pembantaian raksasa yang akan mengubah peta kekuasaan selamanya.
Tenkai mengangkat sapu bambunya dari dinding kedai, menyandarkannya di bahunya yang ringkih, lalu melangkah perlahan mendaki jalan setapak yang tertutup kabut tebal menuju pelataran kuil tua di sisi timur Kurama.
"Lakukan bagianmu di Odawara, Kanbei..." bisik Tenkai pada hembusan angin subuh yang beku. "Ukirlah sejarahmu dengan darah dan emas... sementara di sini, di bawah naungan bayangan Gunung Kurama, kami akan menempa jiwa yang kelak akan menghakimi seluruh mahakaryamu."
Derak sapu lidi kembali terdengar berirama di kejauhan, menyapu debu-debu malam yang telah berlalu, menyambut fajar baru yang dingin di atas tanah suci Kurama.