NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Keesokan paginya, sinar matahari tipis menerobos masuk melalui celah gorden, menghangatkan ruangan yang tenang itu.

Perlahan, Laila membuka matanya. Rasa pening di kepalanya sudah jauh berkurang, namun sapuan kehangatan familiar di sampingnya membuat fokus matanya berangsur membaik.

Laila menggerakkan jemarinya dan merasakan sensasi janggal di punggung tangan kirinya.

Saat menunduk, ia melihat selang infus bening yang terpasang rapi di sana.

Seketika pandangannya beralih ke samping. Di sana, Musa sedang berbaring miring sambil menyangga kepalanya dengan satu tangan, menatapnya lurus dengan pendar mata yang teramat hangat dan penuh kasih sayang.

"Musa," bisik Laila pelan dengan suara parau khas bangun tidur.

"Kenapa tanganku dipasang selang infus?"

Musa mengulas senyum tipis yang menawan, lalu mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi Laila yang kini sudah kembali merona.

"Semalam kamu pingsan karena kelelahan, Sayang," jawab Musa lembut.

Ia mendekat, mendaratkan kecupan hangat di kening istrinya.

"Istirahatlah, Bidadariku."

Laila tersentak pelan teringat kewajibannya. Ia mencoba bergerak untuk duduk.

"Tapi, aku harus bekerja hari ini. Ada jadwal pemeriksaan pasien—"

"Sayang," potong Musa lembut namun tegas, menahan bahu Laila dengan pelan agar tetap berbaring nyaman.

"Aku sudah menghubungi Perawat Tika dan memberitahu kalau ka

mu mengambil cuti hari ini."

Laila membelalakkan matanya pelan, terkejut mendengar penuturan suaminya.

"Cuti? Tapi Musa, pasien-pasienku,"

"Semua sudah diatur dan ditangani oleh dokter pengganti untuk hari ini," potong Musa lembut, menyisipkan helai rambut Laila ke belakang telinganya.

"Kesehatanmu jauh lebih penting dari apa pun saat ini, Laila. Biarkan tubuhmu pulih dulu."

Melihat pendar kesungguhan dan rasa khawatir yang memancar jelas di mata Musa, pertahanan Laila melunak.

Ia menghela napas pasrah, lalu menyandarkan kepalanya kembali di atas dada bidang suaminya.

"Terima kasih, Musa. Dan, maaf selalu merepotkanmu," bisik Laila tulus.

Musa merengkuh tubuh istrinya makin erat, mengecup puncak kepala Laila dengan penuh rasa takzim.

"Kamu tidak pernah merepotkanku, Bidadariku. Justru aku yang berjanji akan menjagamu mulai detik ini."

Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar.

Yusuf masuk dengan membawa nampan berisi sarapan hangat dan obat-obatan dari Dokter Arga, lalu membungkuk hormat tanpa berani menatap langsung ke arah Laila—menunjukkan rasa hormat dan penyesalan mendalam atas kejadian kemarin malam.

Yusuf meletakkan nampan sarapan di atas meja samping ranjang dengan gerakan yang sangat berhati-hati.

Sebelum berbalik melangkah pergi, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai dengan raut penyesalan yang membakar dadanya.

"Umi, saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah membius Umi semalam," ucap Yusuf dengan suara pelan, bergetar, dan penuh rasa bersalah.

Laila menatap Yusuf dengan pendar mata yang teduh.

Senyum tipis nan tulus terulas di balik wajah cantiknya.

Tanpa ada sedikit pun rasa dendam, ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak apa-apa, Yusuf. Lagipula, bukankah kamu sendiri juga tidak tahu cerita sebenarnya?" balas Laila lembut, menyalurkan ketenangan yang seketika meruntuhkan rasa cemas di hati Yusuf.

Musa yang masih merengkuh bahu Laila mengulas senyum tipis, bangga akan kebaikan hati istrinya.

Ia menatap Yusuf yang kini menghela napas lega.

"Terima kasih atas kebaikan hati Umi." bisik Yusuf lega, membungkuk hormat sekali lagi.

"Saya permisi ke luar, Bos, Umi."

Setelah Yusuf melangkah keluar dan menutup pintu kamar, Musa mengambil mangkuk bubur hangat dari nampan, lalu menatap Laila dengan pendar mata yang sarat akan kasih sayang.

"Nah, sekarang waktunya kamu makan dan minum obat, Bidadariku," ucap Musa penuh kehangatan, siap menyuapi sang istri.

Musa mengambil sendok, meniup perlahan bubur hangat yang masih berasap tipis, lalu mengarahkannya ke depan bibir Laila.

"Ayo, buka mulutmu sedikit, Sayang," bisik Musa lembut.

Laila tersenyum tipis, menerima suapan demi suapan dari tangan suaminya dengan patuh.

Kehangatan sikap Musa benar-benar mengikis sisa-sisa trauma dan rasa takut yang sempat menghantuinya.

Pria yang semula begitu dingin dan ia takuti akan murka, kini justru memanjakannya dengan begitu tulus.

Setelah beberapa suapan dan Laila menghabiskan obatnya, Musa meletakkan mangkuk ke meja.

Ia kemudian mengambil posisi duduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan Laila yang tidak terpasang infus.

Aura wajah Musa perlahan berubah. Ketenangan hangat seorang suami bertransformasi kembali menjadi ketegasan penuh wibawa dari seorang penguasa.

"Laila," panggil Musa dengan suara rendah namun dalam.

"Organisasi dengan tato kalajengking itu, aku tidak akan pernah membiarkan mereka lolos setelah apa yang mereka lakukan padamu."

Laila menatap suaminya dengan raut cemas. "Musa, mereka sangat berbahaya dan tidak berbelas kasih. Aku tidak ingin kamu dalam bahaya karena membalaskannya untukku.

Musa mengulas senyum miring yang dingin, membungkuk sedikit untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Laila.

Pendar matanya berkilat penuh dominasi dan tekad yang tak tergoyahkan.

"Kamu lupa siapa suamimu, Bidadariku?" bisik Musa tepat di depan bibir Laila.

"Mereka mungkin berbahaya bagi orang biasa, tapi bagiku, mereka hanyalah mangsa yang tinggal menunggu waktu untuk dimusnahkan."

Saat Musa masih menggenggam erat tangan Laila, ponsel Laila yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring. Nama "Abah Kyai Adi" tertera di layarnya.

Laila menggerakkan tangannya hendak meraih benda itu, namun Musa lebih dulu mengulurkan tangan tegapnya dan mengambil ponsel sang istri. Musa menggeser tombol hijau, lalu menempelkannya ke telinga.

"Assalamu'alaikum, Laila." suara Kyai Adi terdengar cemas di seberang telepon.

"Laila, kamu di mana, Nak? Bisa pulang ke rumah sebentar? Wajah dan kulit Musdalifah melepuh parah akibat insiden kemarin, dan dia terus menangis."

"Wa'alaikumussalam, Abah Adi. Ini Musa," potong Musa dingin namun tetap menjaga kesantunan pada sang mertua.

Suara di seberang sana seketika terhenti sejenak.

"Musa? Mana Laila?"

"Maaf Abah Adi, istriku juga perlu istirahat karena sakit," ucap Musa tegas dan tak terbantahkan.

Deg!

Jantung Kyai Adi seolah berhenti berdetak mendengarnya. Nada bicaranya seketika berubah dipenuhi kepanikan seorang ayah.

"Laila sakit?" tanya Kyai Adi bergetar.

"Iya, Abah Adi," jawab Musa singkat.

"Kalian di mana sekarang? Abah ke pondok sekarang untuk melihat Laila!" seru Kyai Adi bergegas.

"Tidak usah, Abah," cegah Musa cepat dengan pendar mata yang kian menajam.

"Istriku berada di tempat yang sangat aman bersama saya. Abah Adi urus saja Musdalifah yang suka memutarbalikkan fakta."

Kyai Adi terdiam seribu bahasa di seberang telepon. Sindiran menohok dari menantunya itu menghantam kesadarannya hingga tak mampu menyela sedikit pun.

"Musdalifah itu kakak Laila, Abah. Seharusnya Abah berlaku adil. Apalagi Umi Mina yang selalu membela Musdalifah," tegas Musa lagi, menyuarakan rasa ketidakadilan yang selama ini menggores hati istrinya.

Helaan napas berat dan penuh beban terdengar jelas dari ujung saluran.

Kyai Adi terisak pelan sebelum akhirnya keberaniannya terkumpul untuk mengungkapkan sebuah kebenaran yang terpendam belasan tahun.

"Maafkan Abah, Musa." bisik Kyai Adi dengan suara parau bergetar.

"Ada satu rahasia yang harus kamu tahu, Umi Mina bukan ibu kandung Laila. Ibu kandung Laila sudah meninggal dunia sejak Laila masih kecil."

Deg!

Musa membeku sejenak. Informasi itu menghantam benaknya bagai petir di siang bolong, namun pria berpengalaman itu dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya.

Musa perlahan menoleh, menatap Laila yang sedang berbaring sembari memandangnya penuh tanya.

Musa mengulas senyum manis nan hangat ke arah istrinya, mengusap lembut jemari Laila agar wanita itu tetap merasa tenang dan tak menyadari pembicaraan berat yang sedang berlangsung.

Ia sama sekali tidak mau istrinya syok atau terguncang jiwanya jika tahu ibu kandung yang selama ini dirindukannya ternyata sudah tiada.

Pantas saja perlakuan Umi Mina selalu pilih kasih dan semena-mena pada Laila, ternyata dia hanya ibu tiri, batin Musa dengan pendar mata yang mendadak mendingin.

"Terima kasih atas informasinya, Abah Adi," ucap Musa dengan intonasi rendah namun menusuk.

"Sekarang Abah fokus saja mengurus mereka di sana. Biar Laila menjadi tanggung jawab penuh saya.

Tanpa menunggu balasan dari Kyai Adi, Musa langsung mematikan sambungan telepon dan meletakkan ponsel itu kembali ke meja.

Laila menatap suaminya penasaran.

"Musa, Ada apa? Apa yang dikatakan Abah?"

"Tidak ada apa-apa, Sayang. Abah titip salam dan semoga kamu lekas sembuh. Ayo, sekarang istirahat lagi."

Musa mengusap lembut puncak kepala Laila, lalu membetulkan letak selimut hingga menutupi dada istrinya.

Sorot matanya memancarkan ketenangan yang hangat, meski di dalam benaknya, bayangan percakapan dengan Kyai Adam beberapa saat lalu masih menyisakan sedikit kejanggalan.

Ia sengaja menahan semuanya, tak ingin menambah beban pikiran Laila yang kondisinya belum sepenuhnya pulih.

Laila mengangguk pelan. Kelopak matanya yang terasa berat perlahan mengatup kembali, mengandalkan usapan jemari Musa sebagai penyalur rasa aman.

Napasnya teratur, perlahan membawa tubuhnya yang letih hanyut kembali ke dalam lelap.

Musa terus duduk di tepi ranjang hingga helaan napas Laila terdengar stabil.

Setelah memastikan sang istri benar-benar tertidur, Musa bergeming sebentar, menatap wajah pucat itu dengan keheningan yang menyelimuti kamar.

Perlahan, ia menarik tangannya, berdiri tanpa menimbulkan suara sedikit pun, lalu berjalan melangkah keluar kamar.

Di luar ruangan, suasana rumah terasa begitu sepi. Musa menyusuri koridor menuju ruang depan, mencari keberadaan sosok yang baru saja memanggilnya—berharap menemukan jawaban atas nada cemas yang sempat tertangkap oleh pendengarannya tadi.

1
Rahmawati Amma
akhirnya tamat juga bagus ceritanya ngak terlalu panjang babnya saya suka karna saya suka ceritanya kuberi gift nonton iklan 10× traktir kopi 🍵 plus kasih vote maaf thor cuma itu yg bisa saya beri😖😢🙏
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Muft Smoker
cerita ny bagus kak ,, aq suka ma ceritanya 😁🤗
Muft Smoker
akhirnya semua udh bertemu dengan kebahagiaan masing2 ,,

makasih buat cerita ny yx kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,, semangat buat cerita terbaru ny
total 2 replies
Yani Agustin
thor, katanya dua2nya keturunan kyai tapi koq ga ada shalat2 nya, trus ga ada ritual ahalat sunat dulu sebelum MP, trs kelakuan bu nyainya tdk mencerminkan bu nyai seh thor 🙏
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
alhmdulillah versi mini dr kalian telah lahir dg sehat dan selamat ,,
Muft Smoker
waah bayi ny aj janjian mau keluarnya ,, 🤭 ,, semoga ibu dan bayi ny sehat2 ,, baik Laila atau pun Musdalifah ,,,
Rahmawati Amma
kok sepi pembaca ya padahal novelnya lumayan bagus 🤔
Rahmawati Amma
bagus ceritanya
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🙏
total 1 replies
Rahmawati Amma
ya berhubung nonton iklan sisa 7kali ya aku cuma bisa ngasi segitu plus traktir kopi 🍵 😅
Rahmawati Amma
ini aneh laila lah katanya bisa bela diri lah ini kenapa lembek 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
weh thor kok nama doang yg di sebut ngak sopan itu panggil abang ke atau mas lah ini nama doang tampa embel2 😔
my name is pho: terima kasih kak. tapi nanti ada di bab ke sekian ada panggilan mas
total 1 replies
Rahmawati Amma
lah bukannya laila bercadar di sampul novelnya 🤔😅
Yati Susilawati: mungkin nnt klu sdh nikah😌
total 1 replies
Muft Smoker
akhirnya semua udh berdamai dg masa lalu ,, begitu juga dg Zafar ,, semoga stelah masa hukuman km telah selesai segera pertanggung jawabkan perbuatan mu terhadap Musdalifah ,,
Muft Smoker
alhmdulillah smua udh baik2 aj ,,
semoga ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
semoga Musdalifah bnr2 berubah ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
sri hastuti
semoga selanjutnya bahagia semua thor, semua rukun ,🙏
sri hastuti
bagus, musa tegas sbg pria tau batasannya, jd gak semua wanita brani goda, siippp Musa, 👍👍
sri hastuti
semoga sdh tdk ada gangguan lagi, atau pelakor,atau kejahatan ,biar mereka berdua bahagia thor 🙏
Muft Smoker
putri angkat???
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁gpp kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!