Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEBAKAN JIWA
Angin malam di puncak Gunung Langit Merah mendadak berhenti. Keheningan yang sangat berat mencengkeram seluruh aula emas, seolah-olah sang waktu dipaksa berhenti oleh tekanan energi dari dua sosok di tengah ruangan.
Tetua Agung Duan Feng berdiri melayang di atas takhta gioknya. Jubah naga emas yang dikenakannya berkibar perlahan, memancarkan aura raksasa yang memenuhi seluruh langit-langit bangunan. Sebagai penguasa tertinggi di ranah Soul Formation tingkat puncak, keberadaannya bagaikan gunung raksasa yang tak tergoyahkan.
Namun, di hadapannya, Ryu Jin melangkah tanpa rasa takut sedikit pun. Empat pola ukiran mata merah pada sarung pedangnya berkedip lambat, memancarkan hawa kematian yang membekukan lantai emas di bawah kaki.
"Kau berpikir kau melangkah kemari karena kehendakmu sendiri, Ryu Jin?" suara Duan Feng bergema keras, memancarkan gelombang tekanan jiwa yang membuat puluhan murid di belakangnya memuntahkan darah kental.
Ryu Jin tidak menjawab. Ia menghentikan langkahnya, menatap Duan Feng dengan mata merah yang tenang namun mematikan.
Duan Feng tertawa sinis, senyuman penuh tipu daya terukir di wajah tuanya. "Kau salah besar! Pembantaian di tempat tinggalmu dulu... seluruh pengorbanan ratusan jiwa itu... semuanya hanyalah umpan yang kususun dengan rapi!"
Mata Ryu Jin sedikit menyempit.
"Aku sudah tahu siapa dirimu sejak awal!" seru Duan Feng dengan mata berbinar penuh keserakahan. "Aku tidak memburu harta atau tanah milik warga pemukimanmu. Aku sengaja memancingmu keluar, membiarkanmu membantai para tetuaku, agar kau membawa senjata di punggungmu itu langsung ke hadapanku!"
Duan Feng menancapkan tongkat kebesarannya ke lantai marmer.
DUAARR!
Seketika itu juga, lantai aula terbelah! Ratusan rantai emas yang terukir Mantra Pengikat Surgawi mencuat dari bawah tanah, melilit kaki, tangan, dan tubuh Ryu Jin dengan kecepatan yang tak masuk akal.
Ryu Jin mencoba menggerakkan lengan kanannya untuk menarik senjata, namun rantai-rantai emas itu memancarkan gelombang cahaya murni yang langsung mengunci persendian serta jalur energinya!
"Mati!" teriak Duan Feng seraya mengarahkan tangan ke arah ribuan murid inti yang berdiri di belakang aula.
Tanpa belas kasihan sedikit pun, Duan Feng mengaktifkan Formasi Penjaring Jiwa. Sebelum para murid sempat berteriak, jiwa dan seluruh cairan tubuh mereka ditarik secara paksa! Ribuan murid sekte itu roboh menjadi mayat kering dalam satu detik. Darah dan jiwa mereka mengalir masuk ke dalam rantai-rantai emas yang melilit tubuh Ryu Jin, memperkuat segel hingga seratus kali lipat!
KLIK!
Gagang pedang di punggung Ryu Jin terkunci rapat. Untuk pertama kalinya sejak ia melangkah keluar dari penjaranya, pusaka tersebut tidak dapat ditarik sama sekali!
"Hahaha! Berhasil!" Duan Feng tertawa histeris saat melihat Ryu Jin sepenuhnya tak berdaya. "Ini adalah Penjara Surga! Formasi yang kubuat khusus dari darah ribuan muridku sendiri untuk memutus hubungan antara jiwa dan senjatamu!"
Duan Feng melesat turun dari takhtanya, mendarat tepat di hadapan Ryu Jin. Tangan tuanya yang dialiri energi ranah Soul Formation menancap langsung ke dada Ryu Jin, mencoba mencabut dan merobek jiwanya secara paksa!
"Jiwa dan senjata terlarang ini... kini menjadi milikku!" seru Duan Feng dengan wajah penuh kegilaan.
Ryu Jin terbatuk, darah hitam menetes dari sudut bibir saat jiwanya mulai terdorong keluar dari raga. Tubuhnya gemetar hebat, dan cahaya merah di matanya tampak meredup perlahan.
Duan Feng dengan kesombongan penuh memegang gagang pedang di punggung Ryu Jin, siap mencabutnya untuk dijadikannya hak milik.
Namun, di saat jiwanya berada di ambang kehancuran dan Duan Feng menggenggam gagang senjata tersebut... bibir Ryu Jin yang berdarah mendadak mengukir sebuah senyuman.
Bukan senyuman kekalahan, melainkan senyuman dingin seorang pemburu yang melihat mangsanya melangkah masuk ke dalam rahang jebakan.
"Kau... kenapa kau tersenyum?" pekik Duan Feng, mendadak merasakan firasat buruk yang sangat hebat.
"Kau pikir..." suara Ryu Jin bergaung pelan, langsung berbisik di dalam benak Duan Feng. "...kau yang memancingku kemari?"
GZZZZZZ!
Seketika itu juga, empat mata merah di sarung pedang Ryu Jin menyala dengan cahaya yang seratus kali lebih pekat!
Senjata di punggung Ryu Jin tidak menolak saat disentuh oleh Duan Feng. Sebaliknya, pusaka itu justru melepaskan ribuan duri hitam halus yang menancap masuk ke dalam telapak tangan, pembuluh darah, dan jalur energi milik Duan Feng!
"A-Apa ini?! Lepas! LEPAS!" jerit Duan Feng histeris. Ia mencoba menarik tangannya kembali, namun jarinya telah menyatu dengan gagang senjata tersebut.
Pedang itu tidak pernah bisa dikuasai oleh siapa pun. Senjata tersebut adalah benalu kelam yang kelaparan! Ketika Duan Feng yang berada di ranah Soul Formation menyentuhnya, pusaka itu menyerap seluruh energi murni milik sang tetua dengan daya hisap yang sangat dahsyat!
"Kau menginginkan kekuatanku, bukan?" bisik Ryu Jin dingin saat jiwanya yang tadinya terdorong keluar mendadak melesat kembali masuk ke dalam tubuh dengan kekuatan berlipat ganda. "Kalau begitu, makanlah sampai kau hancur."
DUAARR!
Rantai-rantai emas Penjara Surga yang melilit tubuh Ryu Jin seketika meledak hancur menjadi debu!
Energi ranah Soul Formation milik Duan Feng ditarik secara paksa masuk ke dalam tubuh Ryu Jin, membakar seluruh jalur energinya hingga mencapai tingkat kekuatan baru yang tak terukur.
"TIDAK! KULTIVASIKU! KULTIVASIKU DISERAP!" teriak Duan Feng dengan suara melengking penuh penderitaan. Tubuh tuanya mulai membengkak hebat, pembuluh darahnya kehitaman dan menonjol keluar dari kulit saat pedang Ryu Jin memuntahkan kembali racun kematian ke dalam jiwanya.
Ryu Jin memegang gagang pedangnya dengan tangan kanan sendiri, tepat di atas tangan Duan Feng yang menempel kaku.
Mata merah Ryu Jin berkilat mematikan.
"Terima kasih atas sajian jiwamu," kata Ryu Jin datar.
Ryu Jin menghentakkan kaki dan menarik pedangnya keluar dari sarung... enam sentimeter.
KLIK-CRAAAAAAK!
Suara dentang itu begitu dahsyat hingga meretakkan ruang dan waktu di dalam aula emas tersebut!
Sebuah gelombang tebasan hitam tak kasat mata meledak dari celah enam sentimeter tersebut. Tebasan itu tidak hanya memotong tubuh Duan Feng, tetapi juga membelah Puncak Gunung Langit Merah menjadi dua bagian raksasa!
DUAARR! BLAAM!
Dinding-dinding benteng raksasa, takhta batu giok, dan separuh dari bukit batu puncak gunung seketika runtuh dan terlempar ke dalam jurang!
"AAARGHHH!"
Tubuh Duan Feng terbelah menjadi dua bagian secara mendatar. Namun, ia tidak mati seketika. Senjata Ryu Jin menarik jiwa ranah Soul Formation milik Duan Feng keluar secara perlahan, mengunyahnya hidup-hidup di depan mata Duan Feng sendiri sebelum menjebloskan jiwanya ke dalam sarung pedang untuk disiksa selamanya.
GZZZZZZ!
Di sarung pedang Ryu Jin, sebuah ukiran baru mendadak terbentuk dan terbuka lebar—Mata Ke-Lima!
Cahaya merah yang dipancarkan oleh lima mata di sarung pedang itu begitu terang hingga mewarnai seluruh awan malam di atas gunung menjadi merah darah.
Duan Feng yang hanya tersisa separuh badan di atas tanah, menatap Ryu Jin dengan sisa-sisa kesadaran yang dipenuhi ketakutan abadi.
"Kau... kau bukan hanya sekadar iblis..." rintih Duan Feng dengan suara patah-patah. "Di dalam ingatan jiwaku... aku tahu... Sekte Besar dari Benua Luar... mereka yang menyuruh kami... mereka akan... memburumu..."
Ryu Jin melangkah mendekati sisa tubuh Duan Feng. Ia menginjak kepala sang penguasa tertinggi benua itu dengan ujung sepatunya.
"Biarkan mereka datang," jawab Ryu Jin dingin. "Makin banyak dari kalian yang datang, makin cepat pedangku kenyang."
CRES!
Ryu Jin menekan kakinya, menghancurkan sisa kepala Duan Feng hingga tak berbekas.
Pertarungan di puncak gunung telah berakhir. Tiga Sekte Besar yang menguasai benua ini selama ratusan tahun kini telah rata dengan tanah. Tidak ada lagi pimpinan, tidak ada lagi tetua, dan tidak ada lagi murid yang tersisa. Yang ada hanyalah sebuah puncak gunung yang terbelah dua dan lautan bangkai berzirah.
Ryu Jin menyarungkan kembali pedangnya rapat-rapat.
Ia berdiri di tepi tebing puncak gunung yang telah terbelah, menatap menembus badai salju ke arah lautan luas di ujung cakrawala—arah menuju Benua Luar tempat para penguasa sejati bersembunyi.
Ryu Jin membetulkan ikatan jubah kelabunya yang tertutup serbuk darah. Dengan langkah yang tetap tenang, dingin, dan tanpa perasaan, sang Pendekar dari Desa Sunyi mulai berjalan turun dari gunung yang hancur, siap membawa takdir kematian menuju benua berikutnya.