Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Bertemu Musuh di Jalan
Chongyue menghela napas pelan sebelum melangkah keluar dari toko.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan toko obat, dia mendengar keributan dari arah depan.
"Pukul dia sampai mati!"
"Hajar monster itu!"
Suara-suara kasar bercampur dengan teriakan orang-orang yang berkerumun.
Chongyue menoleh kesana.
Di tengahnya, seorang anak kecil sedang meringkuk di tanah. Beberapa tongkat kayu terus menghantam tubuh mungilnya tanpa ampun.
Hati Chongyue terasa sesak.
Pemandangan itu membangkitkan ingatan lama yang telah terkubur jauh di dalam benaknya.
Anak-anak yang pernah dia selamatkan di pusat penyelamatan pada kehidupan sebelumnya kembali muncul di hadapannya. Dia masih mengingat wajah-wajah ketakutan mereka, juga jeritan pilu mereka ketika menyaksikan orang tua mereka tewas di tangan para vampir.
Tatapan Chongyue perlahan menjadi dingin. Dia berjalan mendekati kerumunan dengan langkah tenang.
"Terakhir kali kau mencuri rotiku, aku masih berbaik hati membiarkanmu pergi. Tapi kali ini, aku tidak akan mengampunimu lagi!” Seorang pedagang bertubuh kekar menunjuk anak itu sambil memaki.
"Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana makhluk cacat sepertimu bisa hidup di ibu kota ini. Bukan manusia, bukan juga hantu!"
Setelah melontarkan makian, dia kembali mengangkat tongkat kayunya tinggi-tinggi.
Anak kecil itu hanya bisa meringkuk semakin erat sambil memeluk kepalanya.
"Hentikan."
Tepat sebelum tongkat itu menghantam tubuhnya, tangan Chongyue bergerak secepat kilat menangkap tongkat itu dan merampasnya dari tangan sang pedagang.
Semua orang di sekitar langsung menoleh.
Namun, ketika melihat wajah Chongyue, mereka serentak terpaku.
Astaga...
Sejak kapan ada gadis secantik ini di ibu kota?
Chongyue tidak memperdulikan tatapan mereka. Dia melemparkan tongkat itu ke tanah, lalu berjongkok di hadapan anak kecil yang masih meringkuk.
"Berapa banyak roti yang sudah dia makan?" tanyanya tenang. "Aku akan menggantinya."
"Satu koin emas!"
Begitu melihat pakaian Chongyue yang sederhana, pedagang itu langsung menaikkan harga setinggi mungkin.
"Satu koin emas?"
Orang-orang di sekitar langsung memprotes.
"Satu koin emas cukup untuk membeli roti selama berbulan-bulan! Kau jelas sedang memeras gadis itu!"
"Benar! Harga paling mahal hanya satu koin perak!"
"Diam kalian!" Wajah pedagang itu memerah karena kesal. "Apa kalian tahu berapa banyak roti yang sudah dihabiskan monster pengemis ini? Satu koin emas saja masih terlalu murah!"
"Kau benar-benar yakin satu koin emas masih terlalu murah?"
Sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakang kerumunan.
Chongyue sedikit mengernyit. Suara itu terdengar begitu familiar.
Dia lalu menoleh.
Di belakang kerumunan berdiri Xuan Qing, ditemani beberapa pengawal pribadinya.
Chongyue menghela napas dalam hati.
Dunia ini benar-benar sempit. Baru pagi tadi mereka bertarung habis-habisan di Kediaman Jenderal. Kini, pada hari yang sama, mereka kembali bertemu.
"T-Tuan Muda Xuan..."
Wajah pedagang roti itu langsung pucat.
Dia buru-buru menunduk, kemudian menyelinap pergi di tengah keramaian tanpa berani berbicara lagi.
Semua orang di ibu kota mengetahui siapa Xuan Qing.
Dia terkenal sebagai pria yang gemar berganti-ganti wanita dan selalu tertarik pada wanita cantik.
Semua menoleh lagi kepada Chongyue. Mereka memandangnya dengan rasa kasihan.
Dengan kecantikannya yang luar biasanya, tidak mungkin Xuan Qing akan membiarkannya pergi begitu saja.
Sungguh disayangkan bunga secantik dia harus jatuh ke tangan pria seperti Xuan Qing.
Sementara itu, Xuan Qing sendiri tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Chongyue.
Namun, setelah melihat pakaian sederhana yang dikenakan gadis itu, dia segera menyimpulkan bahwa Chongyue hanyalah putri rakyat biasa.
Senyum ramah kemudian muncul di wajahnya.
"Nona Muda," sapanya dengan suara lembut, "apa kau baik-baik saja? Apa kejadian tadi membuatmu terkejut?"
"Pria munafik!" Chongyue mencibir dalam hati.
Sayangnya, untuk saat ini dia tidak berniat menimbulkan keributan di tengah jalan. Kalau tidak, dia tidak keberatan bertarung dengannya lagi.
"Terima kasih atas perhatianmu, Tuan Muda. Aku baik-baik saja." Dia membalas dengan sopan.
Setelah itu, dia sedikit membungkuk ke arah anak kecil tadi dan berbisik pelan, "Aku memiliki permusuhan dengan pria ini. Kalau kau masih bisa berjalan, ikutlah denganku. Kita pergi dari sini."
Anak itu mengangguk pelan.
Setelah berdiri, dia tetap menundukkan kepala, seolah sengaja menyembunyikan wajahnya.
Chongyue merasa sedikit heran, tetapi tidak bertanya.
"Tuan Muda, kalau begitu kami permisi."
Dia menggandeng tangan anak kecil itu dan mulai melangkah pergi.
Namun, baru beberapa langkah, Xuan Qing sudah bergerak menghadang jalannya.
Dengan senyum yang menurutnya sangat menawan, dia berkata, "Aku ingin mengundangmu menikmati secangkir teh bersamaku, Nona Muda. Apa kau bersedia meluangkan waktu?"
Menatap wajah menyebalkan di hadapannya, Chongyue harus mengerahkan seluruh kendalinya agar tidak meninju wajah Xuan Qing.
"Maaf, aku tidak punya waktu. Aku masih memiliki urusan penting di rumah." Jawabnya dengan datar.
Xuan Qing tentu bukan orang bodoh.
Dari nada bicara Chongyue, dia langsung memahami bahwa gadis itu sedang menolaknya.
Senyum di wajahnya perlahan memudar. Sorot matanya berubah dingin.
"Nona Muda," katanya dengan nada memaksa, "suka atau tidak, hari ini kau harus minum teh bersamaku."
Maksudnya sudah sangat jelas.
Jika Chongyue tetap menolak, dia tidak akan segan menggunakan cara yang lebih kasar.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menghela napas. Mereka merasa kasihan kepada gadis secantik Chongyue.
Jika benar jatuh ke tangan Xuan Qing, kehidupan gadis itu mungkin akan berubah menjadi mimpi buruk.
"Apakah Tuan Muda Kedua Kediaman Jenderal memang selalu memaksa orang lain seperti ini?"
Chongyue menyunggingkan senyum tipis yang dipenuhi sindiran, kemudian dia tiba-tiba teringat pada isi surat peninggalan ibunya.
Seandainya dulu ibunya tidak bersusah payah menyembunyikan wajah aslinya dengan ramuan penyamaran, pria bejat seperti Xuan Qing mungkin sudah lama mengincarnya.
Xuan Qing tertawa kecil. Nada suaranya terdengar semakin percaya diri, "Jadi, Nona Muda sudah mengetahui siapa aku? Kalau begitu, ikutlah denganku."
"Oh, tentu saja aku mengenalmu." Senyum Chongyue semakin lebar. "Aku hanya tidak menyangka Jenderal Xuan memiliki putra yang begitu tidak tahu malu."
Begitu kalimat itu terucap, suasana di sekitar langsung berubah sunyi.
Semua orang membelalakkan mata.
Mereka tidak menyangka gadis itu berani menghina Xuan Qing secara terang-terangan di depan begitu banyak orang.
"Kurang ajar! Pengawal! Tangkap wanita ini dan bawa dia pulang!" Wajah Xuan Qing memerah karena marah.
"Baik, Tuan Muda!"
Beberapa pengawal di belakangnya langsung bergerak serempak dan menerjang ke arah Chongyue.
Chongyue segera mendorong anak kecil itu ke belakang tubuhnya.
Pada saat yang sama, sebuah kereta kuda mewah melaju perlahan.
Pria yang duduk di dalamnya tampaknya terusik oleh keributan di luar. Dia mengangkat tirai jendela dan melirik ke arah kerumunan.
"Han Xiao, hentikan keretanya."
"Baik, Yang Mulia."
Pria bernama Han Xiao segera menarik tali kekang hingga kereta berhenti.
Sementara itu, Chongyue sudah menghadapi para pengawal yang menyerangnya.
Salah satu pengawal mengayunkan tinju ke arahnya.
Chongyue memiringkan tubuhnya untuk menghindari serangan, lalu memutar pergelangan tangannya dan menghantam bagian perut pria itu.
BUK
Pengawal itu terlempar beberapa langkah.
Namun, sebelum pengawal lain sempat menyerangnya dari sisi berbeda, sebuah suara dingin terdengar dari belakang kerumunan.
"Xuan Qing."
Mendengar suara itu, langkah mereka langsung terhenti.
Pria yang turun dari kereta berjalan mendekati kerumunan dengan tenang. Dia menatap Xuan Qing dan bertanya, "Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
Chongyue yang baru saja menghantam seorang pengawal hingga terlempar beberapa langkah ikut menoleh. Tatapannya langsung membeku.
Pria itu...
Bukankah dia Putra Mahkota yang ditemuinya pagi tadi?
Hari ini benar-benar hari yang buruk. Baru saja berurusan dengan Xuan Qing, kini dia harus kembali bertemu dengan Putra Mahkota.
"Yang Mulia!"
Xuan Qing terkejut dan buru-buru berlutut. "Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota."
Melihat Putra Mahkota muncul, semua orang di sana juga segera berlutut.
Mereka tidak menyangka akan bertemu langsung dengan pewaris takhta Kerajaan Dong di jalanan seperti ini.
Beberapa gadis muda bahkan diam-diam mencuri pandang ke arah wajah tampan Putra Mahkota.
Melihat tingkah mereka, sudut bibir Chongyue sedikit berkedut.
Apakah mereka benar-benar mengira pria itu akan melirik mereka?
"Bangunlah." Suara Putra Mahkota terdengar datar.
Setelah itu, pandangannya beralih kepada Chongyue yang masih berdiri tegak di tengah jalan.
Alisnya sedikit berkerut.
Sejak kapan ada gadis secantik ini di ibu kota?
Aneh...
Bagaimana mungkin aku belum pernah mendengar tentangnya?
Tatapannya terus melekat pada wajah Chongyue. Tanpa sadar, bayangan Xuan Chongyue muncul di benaknya.
Dibandingkan dengan gadis di hadapannya, Xuan Chongyue tampak begitu biasa. Wajahnya tidak istimewa, tubuhnya kurus dan pucat, bahkan tidak bisa berkultivasi.
Semakin dia membandingkan keduanya, semakin buruk suasana hatinya.
Seandainya Xuan Chongyue memiliki wajah secantik gadis ini...
Mungkin dia masih bersedia mempertahankan pertunangannya itu.
Sayangnya, dia hanyalah seorang gadis yang tidak bisa berkultivasi. Penampilannya juga biasa saja, sementara kepribadiannya membosankan.