Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Pagi itu udara di ruang kerja terasa lebih berat dari biasanya. Aku duduk di meja kerjaku, menatap layar komputer tanpa benar-benar melihat isinya. Di kejauhan, di meja Shella, terlihat Pak Arif sedang berdiri, menunduk berbicara dengan nada yang lembut dan penuh perhatian. Di tangannya ada sebuah amplop berwarna cokelat tua, bermotif timbul dengan logo perusahaan yang elegan.
"Shella, ini undangan peluncuran produk baru perusahaan kita. Besok malam di hotel bintang lima di pusat kota. Saya harap kamu bisa datang. Saya sudah memastikan kursi kita berdampingan," kata Arif dengan senyum yang tenang dan meyakinkan.
"Akan ada makan malam, hiburan, dan banyak kenalan dari industri lain. Bagus untuk karirmu juga."lanjut Arif menjelaskan
Shella menerima amplop itu dengan sopan, ujung jarinya menyentuh kertas yang tebal dan halus. "Terima kasih, Pak Arif. Saya pertimbangkan dulu ya."
"Jangan terlalu lama dipertimbangkan. Tempatnya terbatas. Dan saya jamin, kamu akan menikmatinya," jawab Arif, lalu melirik sekilas ke arahku. Seolah sengaja membiarkan Aku mendengarnya. "Kalau kamu butuh diantar, saya bisa jemput pukul tujuh malam. Mobil saya cukup nyaman untuk dua orang."
"Terima kasih, Pak. Nanti saya kabari," jawab Shella, menunduk sedikit untuk menutupi keraguannya.
Arif tersenyum sekali lagi, lalu berjalan pergi. Langkahnya tegap, sepatunya menghentak lantai dengan bunyi yang teratur dan percaya diri.
Shella menatap amplop di tangannya sebentar, lalu berjalan mendekat ke mejaku.
Langkahnya pelan, seolah berat untuk sampai kesini.
"Maxy, Pak Arif ngajak aku ke acara perusahaan besok malam," katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah bunyi ketikan keyboard di sekeliling kami.
"Aku bingung. Kalau nolak, takut urusan kerja jadi nggak enak. Takut dibilang sombong atau nggak tahu diuntung. Tapi kalau terima..."
Dia berhenti sejenak, menunduk melihat amplop di tangannya yang terlihat begitu mewah, begitu jauh dari keseharian mereka.
Aku menatapnya lembut, tidak buru-buru memberi jawaban. Aku melihat keraguan di mata Shella, ketakutan untuk menyakiti perasaan orang lain, dan kebingungan memilih antara kewajiban dan kenyamanan.
"Kamu berhak ambil keputusan yang bikin kamu nyaman, Shella."
"Nggak ada yang bisa maksa kamu ke mana pun kamu nggak mau pergi" kataku tenang dengan suara rendah tapi jelas.
"Dan kalau kamu nggak mau pergi, kamu tetap bisa sopan. Sopan bukan berarti harus menuruti semua ajakan."
Shella mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke mataku seolah sedang mencari kekuatan di sana. "Aku tahu. Cuma... aku bingung caranya nolak tanpa bikin suasana jadi canggung di kantor besok. Kita kan ketemu tiap hari."
"Katakan dengan jujur dan sopan. Bilang kamu sudah ada urusan keluarga yang nggak bisa ditinggal. Kalau dia orang dewasa, dia pasti ngerti," jawabku tegas. "Kalau kamu mau, kita bisa makan siang di tempat biasa. Biar kamu sempat mikir dulu, tenang dulu."
Mata Shella sedikit berbinar, seolah ada cahaya kecil yang kembali menyala. "Boleh juga. Aku kasih tahu Pak Arif kalau aku ada urusan keluarga. Nanti kita makan bareng ya, di kedai dekat kantor itu. Yang nasi goreng terasi enak itu lho."
"Oke. Aku tunggu di depan kantor jam satu ya," jawabku sambil tersenyum tipis.
Shella kembali ke mejanya, tapi sesekali menoleh ke arah diriku, seolah masih memikirkan sesuatu yang belum terucap. Amplop itu tergeletak di sudut mejanya, belum dibuka, seolah menjadi pengingat terus-menerus akan dunia yang terasa jauh dari jangkauan kami.
Saat Shella sibuk menyusun berkas sampai keringat menetes di pelipis, Aku menyodorkan sebotol air mineral dingin tanpa banyak bicara — dia sudah dinginkan sebentar di kulkas kantor.
"Minum dulu, nanti pusing kalau dehidrasi," kataku pelan, lalu kembali ke meja kerja.
Saat Shella terlihat gelisah menunggu kabar dari klien, mondar-mandir di dekat meja resepsionis, Aku berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.
"Biasanya kalau belum ada kabar, berarti belum ada masalah. Kalau ada masalah, pasti langsung ditelepon," kataku tenang.
"Duduk dulu aja, nanti pusing kalau dipikirkan terus."lanjutku.
Saat Shella lupa bawa pulpen dan harus tanya ke sana kemari, Aku sudah meletakkan satu set alat tulis lengkap di sudut mejanya sebelum Shella sempat bertanya. Tidak ada pesan, tidak ada catatan, cuma diletakkan di tempat yang mudah dilihat.
Shella melihatnya, menoleh ke arahku, dan Aku cuma mengangguk pelan sambil tersenyum sedikit — tanpa perlu kata-kata.
Menjelang jam makan siang, Shella berjalan ke arah mejaku, tas sudah tersampir di bahu. Matanya terlihat lebih tenang dari tadi pagi.
"Aku udah bilang ke Pak Arif," katanya pelan. "Dia kelihatan kecewa, tapi ngerti. Bilang lain kali aja. Aku lega banget, jujur."
"Syukurlah kalau begitu," jawabku sambil berdiri dan meraih tas di kursi. "Kamu nggak perlu merasa bersalah buat hal yang nggak kamu mau."
Kami berjalan keluar kantor bersama, menyeberang jalan menuju kedai kecil itu. Langit di atas mereka terang, angin sore berhembus lembut membawa aroma makanan dari warung di seberang jalan. Di sepanjang jalan, kami berbicara tentang hal-hal sederhana — tentang cuaca yang makin panas, tentang makanan favorit, tentang rencana akhir pekan yang masih belum pasti.
Shella menceritakan bahwa dia sebenarnya tidak suka acara formal, merasa canggung berpakaian rapi dan berbicara dengan orang yang tidak dikenal. "Aku lebih suka begini," katanya sambil menunjuk pakaian mereka yang sederhana. "Biasa, santai, nggak perlu pura-pura jadi orang lain."
Aku menahan senyum, hatiku terasa hangat sekaligus sesak. "Setiap orang punya kenyamanan masing-masing. Nggak semua orang harus suka keramaian dan kemewahan."
Di kedai itu, kami duduk di meja pojok yang agak teduh. Saat makanan datang, Shella makan dengan lahap, wajahnya terasa lebih rileks dibanding saat di kantor.
Dia bercerita tentang masa kecilnya, tentang kebiasaan makan nasi goreng di dapur bersama ibunya sambil menonton televisi, tentang mimpi ingin punya rumah kecil dengan halaman tempat menanam bunga.
"Kamu tahu, Maxy... kadang aku takut kalau aku terlalu sering ke acara mewah, aku bakal lupa gimana rasanya hidup sederhana kayak gini," katanya pelan sambil menyuap nasi goreng.
"Aku takut aku jadi orang yang nggak bisa lagi nikmatin hal kecil. Padahal hal kecil itulah yang bikin hidup terasa hidup."lanjutnya sembari tersenyum manis.
Aku mendengarkan dengan saksama, tidak memotong, tidak memberi nasihat yang berlebihan.
"Hal-hal kecil itu yang paling susah dilupakan, Shella."
"Karena di situlah letak keasliannya. Kemewahan bisa dibeli, tapi keaslian nggak bisa."ucapku pelan.
Shella menatapnya lama, seolah baru benar-benar menyadari kedalaman pemikiran di balik sikap pendiamnya. "Kamu sering banget bikin aku mikir, Maxy. Bukan dengan kata-kata yang rumit, tapi dengan hal-hal sederhana yang kamu bilang."
Mereka selesai makan saat jarum jam menunjukkan pukul dua siang. Sebelum kembali ke kantor, Aku mampir sebentar ke toko bunga kecil di pinggir jalan — bukan mawar impor yang mahal, tapi bunga matahari yang segar, sederhana.
Aku ingat Shella pernah bilang kalau dia suka bunga matahari karena selalu menghadap ke arah cahaya. Dia tidak kasih sekarang, cuma simpan dulu di tas, nanti kalau sempat sebelum pulang kerja.
DING!
PEMBERITAHUAN SISTEM
Hubungan dengan Maxy: 26% (+2%)
Hubungan dengan Roxy: 25% (Stagnan)
Sumber: Perhatian konsisten tanpa kata-kata berlebihan, kehadiran yang menenangkan, memberi ruang dan dukungan tanpa menuntut balasan. Kenaikan murni dari tindakan, bukan janji manis.
Sore berjalan lambat. Jam dinding berdetak pelan, seolah menunda pergantian waktu. Pukul enam sore tepat, cahaya di depannya berkedip pelan.
DING!
FASE BERGANTI
18.00 — Mode malam aktif.
Identitas: ROXY.
Akses dana sistem: AKTIF.
Maxy lenyap, berganti jadi Roxy. Aku sudah di rumah, berdiri di depan cermin, memastikan tidak ada yang salah. Penampilan rapi, tenang, percaya diri — sangat berbeda dari Maxy yang tadi pagi. Ponselnya bergetar — pesan masuk ke nomor Roxy, dari Shella.
"Roxy, maaf ganggu malam-malam. Boleh aku cerita sebentar? Aku lagi bingung banget soal undangan acara kantor. Rasanya berat banget nolak, tapi aku nggak mau pergi juga."
Aku segera membalas:
"Boleh. Cerita saja, Aku dengar. Tidak perlu buru-buru."
Shella menelepon. Suaranya terdengar lelah, seolah beban tadi siang belum hilang. Dia bercerita tentang Arif, tentang undangan, tentang perasaan bersalah kalau menolak, dan takut disalahpahami.
Aku mendengarkan, tidak memotong, tidak menilai, cuma sesekali memberi tanggapan yang menenangkan.
"Kamu berhak jujur sama perasaanmu, Shella. Itu bukan kejahatan," kataku pelan di akhir percakapan.
"Dan kamu tidak perlu meminta maaf untuk apa yang kamu rasakan. Kalau kamu butuh teman cerita kapan saja, saya ada di sini."lanjutku.
"Terima kasih, Roxy. Kamu selalu bikin aku ngerasa dimengerti," jawab Shella pelan di seberang telepon. "Sampai ketemu kalau ada waktu ya. Dan... selamat malam."
DING!
PEMBERITAHUAN SISTEM
Hubungan dengan Roxy: 26% (+1%)
Hubungan dengan Maxy: 26% (Stagnan)
Sumber: Ruang aman untuk bercerita, didengarkan tanpa dihakimi. Keseimbangan terjaga, tidak ada yang melesat jauh ke depan.
Telepon selesai. Aku baru meletakkan ponsel, saat itu juga telepon berdering lagi — nomor tidak dikenal. Dia mengangkat dengan ragu.
"Halo?"
Suara di seberang sana terdengar tenang tapi tajam, nada bicara yang terbiasa memberi perintah. "Selamat malam, Roxy. Saya Arif. Saya dengar kamu dekat dengan Shella. Saya pikir kita perlu kenalan. Bukan lewat Shella, tapi langsung."
Roxy menegakkan badan, duduk lebih tegak di kursi. "Maaf, maksud Bapak?"
"Kita ketemu. Malam ini saja, kalau kamu luang. Atau kapan pun kamu bisa. Saya cuma mau kita bicara soal niat masing-masing terhadap Shella. Sebelum salah paham makin jauh," kata Arif, nada suaranya tenang tapi tidak memberi ruang untuk mengelak.
"Bukan bermaksud mengintimidasi, cuma sebagai sesama pria yang punya perhatian sama orang yang sama, sebaiknya kita saling tahu niat masing-masing. Biar tidak ada yang tersakiti nantinya."lanjut Arif dengan nada tegas.
"Hening" Aku terdiam sejenak, menimbang. Menolak bisa bikin Arif makin curiga dan mendesak. Menerima berarti berhadapan langsung dengan pesaing yang paling tahu cara main di dunia luar.
"Baiklah. Di mana dan jam berapa?" tanyaku akhirnya.
"Di kafe tenang di pusat kota. Saya kirim alamatnya lewat pesan. Sekitar jam delapan malam, kalau cocok," jawab Arif.
"Oke. Saya datang."
"Bagus. Sampai ketemu," Arif menutup telepon.
Aku meletakkan ponsel di meja. Malam ini Aku harus bertemu Arif sebagai Roxy — sesuai aturan, di waktu yang benar. Tapi pertemuan ini berisiko. Arif teliti, tajam, dan dia pasti akan mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab tanpa membongkar semuanya.
Aku menatap ke luar jendela, ke arah lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Besok pagi jam enam dia kembali jadi Maxy, dan akan menghadapi Shella seperti biasa. Tapi malam ini, di antara dua identitas itu.
Aku harus berhadapan langsung dengan pesaing yang paling tahu caranya main di dunia nyata.
Dan Aku, harus melakukannya dengan jujur sebaik mungkin, tanpa membongkar rahasia yang belum waktunya. Tanpa bisa bilang pada siapa pun. Tanpa bisa minta bantuan siapa pun.