Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Mobil sedan mewah melaju membelah jalanan protokol kota yang mulai dipadati lampu-lampu malam.
Di dalam kabin yang senyap, Clara Wijaya terus meremas jemarinya sendiri karena rasa cemas yang teramat sangat.
Ia melirik ke arah Arka yang duduk di sampingnya dengan wajah sangat tenang tanpa beban.
"Arka... apa kamu yakin kita tidak salah langkah datang langsung ke markas utama mereka?" tanya Clara dengan suara bergetar cemas.
Arka menoleh pelan lalu tersenyum tipis menenangkan.
"Kenapa harus ragu, Nona? Rumah singgah musuh adalah tempat terbaik untuk memotong kepala ular dari sarangnya," jawab Arka santai.
Clara menelan ludahnya susah payah mendengar analogi dingin yang diucapkan oleh pemuda di depannya itu.
Tidak lama kemudian, mobil mewah tersebut melambat dan berhenti tepat di depan gedung pencakar langit berlantai lima puluh milik Grup Handojo.
Gedung megah itu menjulang tinggi dengan arsitektur modern berlapis kaca hitam yang memantulkan cahaya kota.
Pak Joko membuka pintu mobil dari luar dengan gerakan sigap.
Clara melangkah keluar terlebih dahulu dengan mengenakan gaun formal bisnis yang elegan namun menyembunyikan ketegangan di wajahnya.
Arka menyusul turun mengenakan pakaian kasual sederhananya dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Mari, Nona. Waktunya kita menagih beberapa hal," ujar Arka ramah.
Clara menarik napas panjang untuk mengumpulkan seluruh keberanian di dalam dadanya lalu mengangguk mantap.
Mereka berdua melangkah memasuki lobi utama Grup Handojo yang sangat luas dan berlapis marmer mengkilap.
Beberapa petugas keamanan berbadan tegap langsung menghentikan langkah mereka di dekat meja resepsionis.
"Maaf, nona Clara Wijaya. Anda tidak memiliki jadwal pertemuan khusus dengan pimpinan kami hari ini," cegat kepala keamanan dengan nada suara tegas.
Clara mengerutkan keningnya, hendak membuka suara untuk membalas teguran tersebut.
Namun Arka melangkah maju mendahului Clara dengan senyuman misterius di bibirnya.
"Kami tidak butuh jadwal," jawab Arka tenang.
"Katakan pada Tuan Handojo di lantai atas, utusan dari keluarga Wijaya datang untuk menyelamatkan nyawa putranya yang sedang sekarat."
Kepala keamanan itu mendengus sinis mendengar ucapan Arka yang dianggapnya sebagai omong kosong belaka.
"Anak muda, jangan berani membuat keributan di sini kalau tidak mau diseret keluar oleh satpam!" ancam kepala keamanan geram.
Arka sama sekali tidak gentar, ia justru tertawa kecil pelan.
"Silakan coba saja menyeret kami," tantang Arka dengan sorot mata setajam elang.
"Tapi kalau anak pimpinan kalian mati dalam waktu tiga puluh menit ke depan di lantai atas, kalian semua yang ada di sini akan kehilangan pekerjaan permanen."
Suara penuh keyakinan dan tekanan mutlak dari Arka membuat kepala keamanan itu tertegun ragu sejenak.
Sebelum perdebatan itu berlanjut, pintu lift khusus eksekutif terbuka berdenting nyaring di belakang mereka.
Seorang sekretaris pribadi Tuan Handojo keluar membawa berkas penting dan terkejut melihat kehadiran Clara dan Arka.
"Ada apa ini ribut-ribut di lobi?" tanya sekretaris itu dengan nada ketus.
"Neh, mereka memaksa masuk tanpa izin, Nona Maya," lapor kepala keamanan cepat.
Maya menatap Clara dan Arka dari atas sampai bawah dengan pandangan menghina.
"Oh, rupanya nona gagal dari keluarga Wijaya yang perusahaannya hampir bangkrut," ejek Maya tersenyum sinis.
"Mau memohon belas kasihan kepada Tuan Handojo? Sayang sekali, pintu lantai atas tertutup rapat untuk orang-orang kalah seperti kalian."
Clara mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah mendengar hinaan terbuka itu.
Arka justru tersenyum lebar, menatap Maya dengan tatapan menyelidik yang penuh arti.
"Nona Maya, atasanmu di lantai atas sedang batuk darah kecil sambil memegang dada kanannya bukan?" tanya Arka tiba-tiba.
Maya terperanjat kaget mendengar ucapan spesifik tersebut.
Bagaimana mungkin pemuda miskin itu bisa tahu kondisi kesehatan pribadi Tuan Handojo yang dirahasiakan rapat-rapat dari publik?
"Jaga mulutmu! Jangan sembarangan memfitnah Tuan Besar!" bantah Maya dengan suara sedikit bergetar menyembunyikan kepanikan.
"Aku tidak memfitnah," balas Arka melangkah mendekati Maya perlahan.
"Kalau kamu tidak segera mengizinkan kami naik ke ruang rapat lantai empat puluh, bukan cuma Tuan Handojo yang kolaps, tapi putranya Roy juga akan tewas dalam kejang-kejang."
Suara dingin dan mutlak itu membuat Maya kehilangan seluruh argumennya.
Insting profesional di kepala wanita itu memperingatkan bahwa pemuda di hadapannya bukanlah orang sembarangan.
"Bawa... bawa mereka naik ke atas," perintah Maya kepada kepala keamanan dengan suara ragu-ragu.
Lift khusus eksekutif membawa Arka dan Clara melesat cepat menuju lantai empat puluh dalam hitungan detik.
Setibanya di lantai paling atas, pintu lift terbuka langsung memperlihatkan ruang rapat megah berlapis dinding kaca transparan.
Di dalam ruangan tersebut, Tuan Handojo sedang duduk di kursi utama dikelilingi oleh belasan direktur perusahaan saingan.
Di sudut ruangan, Roy Handojo duduk di kursi roda dengan perban melilit di bagian rusuk dan wajah yang masih terlihat lebam.
Begitu pintu terbuka dan melihat sosok Arka serta Clara melangkah masuk, suasana ruang rapat seketika membeku.
Tuan Handojo berdiri dari kursi kebesarannya dengan wajah mengeras penuh amarah.
"Berani sekali kalian tikus-tikus kecil datang ke sarangku tanpa diundang!" bentak Tuan Handojo dengan suara menggelegar.
Clara sempat merasa ciut mendengarkan bentakan keras dari pengusaha kejam tersebut.
Namun Arka melangkah tenang merangkul pundak Clara sebentar, memberikan kekuatan mental yang luar biasa besar.
"Tuan Handojo, sambutan yang sangat hangat untuk tamu kehormatan," sapa Arka dengan senyuman sarkas.
Roy Handojo di sudut ruangan langsung melotot marah begitu mengenali wajah Arka.
"Ayah! Itu dia! Pria bajingan miskin yang sudah memukulku di restoran kemarin!" teriak Roy histeris sambil menunjuk Arka.
Tuan Handojo menyipitkan matanya tajam menatap Arka dari ujung kepala sampai kaki.
"Jadi kamu pria sialan yang berani merusak anakku dan menantang keluarga Handojo?" geram Tuan Handojo dingin.
"Keluarga Wijaya benar-benar sudah gila karena memelihara pengemis sepertimu."
Arka tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, ia justru berjalan santai mendekati meja rapat utama.
"Tuan Handojo, sebelum kamu membual terlalu panjang tentang kehancuran keluarga Wijaya, mari kita bicara soal kesehatan putramu dulu," kata Arka tenang.
"Kesehatan Roy?" ejek Tuan Handojo tertawa keras.
"Anakku baik-baik saja! Dan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, perusahaan kalian akan resmi dinyatakan bangkrut!"
Arka tersenyum tipis menggelengkan kepalanya perlahan.
[Sistem Mendeteksi Puncak Kegagalan Organ Dalam Target: Roy Handojo]
[Waktu Menuju Kolaps Total: Tiga Menit]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kesadaran kepala Arka.
"Benarkah dia baik-baik saja?" tanya Arka dengan nada suara mengejek.
"Coba lihat napasnya sekarang, apakah dadanya tidak terasa seperti dibakar api neraka?"
Semua direktur di dalam ruangan itu menoleh serempak ke arah Roy Handojo.
Roy yang tadinya berteriak-marah mendadak tertegun dengan napas yang mulai memburu hebat.
"Ugh... eh...?" rintih Roy memegang dadanya sendiri dengan tangan gemetar.
Rasa sakit yang luar biasa tajam tiba-tiba menghantam bagian rusuk dan perutnya secara bersamaan tanpa bisa ditahan.
"Agh... sakit... panas...!" jerit Roy histeris menjatuhkan dirinya dari kursi roda ke atas lantai rapat.
Bruuk!
Seluruh direktur langsung berdiri kaget melihat pewaris tunggal Grup Handojo itu kejang-kejang kesakitan.
Tuan Handojo terbelalak lebar melihat kondisi putranya yang memburuk secara drastis dalam hitungan detik.
"Roy! Anakku! Ada apa denganmu?!" panik Tuan Handojo berlari menghampiri anaknya.
Wajah Roy sudah berubah menjadi pucat pasi membiru dengan busa tipis keluar dari sudut bibirnya.
"Ayah... tolong... dadaku mau pecah...!" rintih Roy sekarat di lantai.
Tuan Handojo mendongakkan kepalanya menatap Arka dengan sorot mata penuh amarah dan kepanikan luar biasa.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada anakku, keparat?!" bentak Tuan Handojo murka.
Arka melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum dingin memandang rendah pria paruh baya di depannya itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Arka santai.
"Aku cuma memperingatkan, kalau pembuluh darah di sekitar livernya sudah pecah total akibat akumulasi racun dan amarah."
"Dan dalam waktu dua menit lagi, dia akan mati kalau tidak segera mendapatkan tindakan medis darurat dariku."
Mendengar ancaman kematian yang diucapkan secara blak-blakan itu, Tuan Handojo kehilangan seluruh kesombongannya.
Ia tahu betul bahwa keluarganya memiliki musuh di mana-mana, dan kondisi Roy memang sudah diobati seadanya setelah kejadian kemarin.
"Cepat... panggil dokter pribadi sekarang juga!" perintah Tuan Handojo histeris kepada para stafnya.
"Dokter pribadi kalian tidak akan sempat datang tepat waktu," sisa Arka dingin memotong.
"Di ruangan ini, hanya ada satu orang di dunia yang bisa menyelamatkan nyawa putramu."
Tuan Handojo menatap Arka dengan napas tersengal-sengal, harga diri dan kebenciannya berbenturan keras dengan nyawa anak satu-satunya.
Clara Wijaya berdiri di belakang Arka, menyaksikan bagaimana pria itu memegang kendali penuh atas hidup mati keluarga musuh besar mereka tanpa harus menyentuh sehelai rambut pun.