Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Pagi harinya, suasana di gedung pencakar langit Adeline Group yang megah mendadak berubah chaos. Telepon di meja sekretariat dan ruang eksekutif berdering tanpa henti, memekakkan telinga.
Cateline melangkah masuk ke kantornya dengan gaun merah mewah dan kacamata hitam, berusaha mempertahankan keangkuhannya. Namun, tatapan cemas dan bisik-bisik ketakutan dari para karyawan yang ia lewati membuat perasaannya mulai tidak enak.
Baru saja ia mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya, pintu ruang kerja dihentakkan kasar. Asisten pribadinya menerobos masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu, wajahnya pucat pasi bagai mayat dengan tablet di genggamannya yang gemetar.
"Bu Cateline! Gawat, Bu! Sangat gawat!" seru sang asisten dengan suara panik terkontrol.
Cateline menggebrak meja mewahnya, matanya menyalang murka. "Kembalikan sopan santunmu! Ada apa denganmu pagi-pagi begini?!"
"Telepon dari para investor dan papan komisaris terus masuk tanpa henti, Bu!" cerca asisten itu sambil menyodorkan layar tablet ke depan wajah Cateline. "Saham Adeline Group anjlok parah hingga menyentuh batas penurunan terbawah pagi ini! Pihak bank dan mitra bisnis mengancam membatalkan seluruh kontrak kerja sama kita!"
Cateline membeku. Kacamata hitamnya ia tarik kasar. "Apa?! Bagaimana bisa saham turun sejauh itu cuma dalam satu malam?!"
"Video... Video rekaman CCTV mansion semalam, Bu!" bisik asistennya ketakutan. "Seseorang telah meretas sistem CCTV rumah Ibu dan mengunggah semua rekaman penganiayaan terhadap Tuan Sagara dan pertengkaran semalam ke media sosial! Berkasnya viral di X, TikTok, dan Instagram! Semua portal berita nasional menjadikan nama Ibu dan Adeline Group sebagai trending topic nomor satu dengan kecaman perlakuan tidak manusiawi!"
Cateline merebut tablet itu. Layarnya menampilkan video rekaman dengan resolusi tinggi yang memperlihatkan dirinya sedang melayangkan cambuk ke punggung Sagara di bawah guyuran malam, lengkap dengan pertengkaran panasnya bersama Hazel. Kolom komentar dipenuhi jutaan makian dari publik, desakan boikot, hingga tuntutan agar pihak kepolisian segera menangkap dirinya.
"KURANG AJAR! BRENGSEK!" teriak Cateline histeris. Ia melemparkan tablet mahal itu ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
Napasnya memburu, dadanya naik turun ditumpangi kemarahan yang meluap-luap. Otaknya berputar cepat. Hanya ada satu orang yang memiliki keberanian, kecerdasan meretas, dan motif untuk menghancurkannya seperti ini.
Dengan jemari gemetar akibat rasa murka yang membakar, Cateline menyambar ponsel pribadinya dan menekan tombol panggilan cepat.
Di ruang rawat rumah sakit yang tenang, Hazel sedang mengupas buah apel untuk Sagara yang masih berbaring lemah. Ponsel di atas meja melodi nyaring, menampilkan nama Cateline di layarnya.
Hazel tersenyum miring sebuah senyuman penuh kemenangan. Ia menekan tombol hijau dan menyalakan mode speaker.
"HAZELLA ADELINE! KAU WANITA IBLIS MURAHAN!" jerit Cateline melengking begitu panggilan terhubung, suaranya terdengar pecah dan histeris dari balik telepon. "KAU YANG MERETAS CCTV RUMAHKU DAN MENYEBARKAN VIDEO ITU, KAN?! KAU YANG MEMBUAT SAHAM PERUSAHAANKU ANJLOK, BANGSAT!"
Hazel memotong apelnya dengan santai, menyahut dengan suara yang teramat tenang dan bernada mengejek. "Selamat pagi juga untukmu, Kakakku yang terhormat. Suaramu terdengar sangat panik. Kenapa? Acara TV favoritmu sudah tayang?"
"JANGAN BERAKTING BODOH, HAZEL!" bentak Cateline, terdengar suara barang di kantornya dihempaskan. "Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?! Kau menghancurkan reputasiku! Kau merusak nama besar keluarga Adeline! Hapus video itu sekarang juga, atau aku pastikan kau mendekam di penjara atas tuduhan pencemaran nama baik!"
Hazel terkekeh pelan sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Cateline merinding.
"Pencemaran nama baik?" tanya Hazel dengan intonasi menusuk. "Cateline sayang... aku hanya membagikan rekaman kebenaran tanpa filter. Yang mencemarkan namamu adalah perbuatan iblismu sendiri. Kau yang mencambuk Sagara, kau dan ibumu yang menghina almarhumah ibuku, dan kau sendiri yang merekam jejak kejahatanmu lewat kamera yang kau pasang!"
"KAU BITCH! KAU CUMA ANAK HARAM DENGAN DARAH KOTOR!" teriak Cateline makin hilang kendali. "Kau pikir kau bisa menjatuhkanku dengan cara murah seperti ini?! Aku bisa membeli hukum!"
"Coba saja kalau kau bisa," pangkas Hazel tegas, suaranya berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. "Dengar baik-baik, Cateline. Ini baru permulaan. Kemewahan yang kau dapat dari cara kotor ibumu... mulai hari ini akan runtuh satu per satu. Nikmati kepanikanmu, karena setelah ini, bukan cuma sahammu yang hancur... tapi kehidupanmu."
TUT.
Hazel memutus panggilan secara sepihak tanpa memberi kesempatan bagi Cateline untuk membalas. Ia meletakkan ponselnya kembali, melirik Sagara yang menatapnya dengan binar haru, lalu menyunggingkan senyum manis seolah tidak terjadi apa-apa.
Siang harinya, atmosfer di dalam ruang kerja eksekutif Cateline terasa begitu gelap dan mencekam. Pintu ruangan dihentakkan keras. Helena masuk dengan langkah terburu-buru, gaun mewahnya tampak kusut dan riasan wajahnya tidak semenyengat biasanya. Wajah wanita paruh baya itu memerah padam, dipenuhi kepanikan sekaligus amarah yang siap meledak.
"Cateline!" seru Helena setengah berbisik, langsung memutar kunci pintu ruangan agar tidak ada karyawan yang bisa mendengar perbincangan mereka.
Cateline yang sedang terduduk lesu di balik meja kerjanya mendongak, matanya yang sembap dan merah menatap ibunya. "Mama... wartawan di bawah makin liar. Pihak kepolisian bahkan baru saja mengirimkan surat panggilan pemeriksaan awal soal video itu! Kita harus bagaimana, Ma?"
Helena melangkah cepat, menggebrak meja kerja Cateline dengan kedua telapak tangannya. Matanya membelalak lebar, memancarkan pendar kejam dan licik yang amat pekat.
"Dengar Mama baik-baik, Cateline," bisik Helena dengan suara rendah yang sarat akan racun. "Semua kekacauan ini terjadi gara-gara si bodoh Sagara itu dan anak haram bangsat tersebut! Pria cupu itu sudah jadi ancaman besar untuk kita. Kalau dia sampai sadar penuh atau dibawa ke jalur hukum oleh Hazel, dia bisa membeberkan semua rahasia dan penyiksaan kita selama dua tahun ini!"
Cateline mengepalkan tangannya di atas meja. "Lalu kita harus bagaimana, Ma? Media sudah terlanjur memegang rekaman video itu!"
Helena menyunggingkan senyum miring yang teramat dingin dan licik. Ia memajukan wajahnya mendekati telinga Cateline.
"Habisi saja Sagara," bisik Helena tanpa keraguan sedikit pun. "Kita lenyapkan dia selamanya. Setelah dia mati, kita balikkan semua narasi ini ke publik. Kita buat surat medis palsu yang menyatakan bahwa Sagara mengidap gangguan jiwa berat dan sering menyakiti dirinya sendiri. Kita buat pengakuan ke media bahwa video CCTV itu diedit dan dipotong-potong secara jahat oleh Hazel untuk memeras keluarga Adeline!"
Cateline terpaku sejenak, mencerna rencana kejam ibunya.
"Kita katakan bahwa Hazel sengaja meracuni pikiran Sagara dan memanipulasinya demi merebut harta," lanjut Helena makin bersemangat. "Dengan hilangnya Sagara, tidak ada lagi saksi kunci! Publik akan bingung, dan dengan sisa uang yang kita miliki, kita bayar media untuk membersihkan namamu. Bagaimana?"
Satu detik... dua detik... perlahan-lahan, sudut bibir Cateline yang dipoles lipstik merah bertolak ke atas. Rasa panik di wajah cantiknya menguap seketika, berganti dengan senyuman culas dan kejam yang amat mengerikan.
"Benar..." gumam Cateline dengan tawa kecil yang dingin. "Mama benar sekali! Itu rencana yang sempurna! Kalau Sagara mati, bukti hidup mereka hilang. Biar anak haram itu membusuk di penjara atas tuduhan fitnah dan pembunuhan!"
Kedua wanita iblis itu saling melempar pandangan penuh kepuasan, mulai menyusun skema berdarah untuk menghabisi nyawa Sagara tanpa menyadari ancaman besar yang sesungguhnya sedang mengintai mereka.
Sementara itu, di kamar rawat VIP rumah sakit yang tenang dan beraroma antiseptik, suasana terasa begitu hangat dan kontras.
Sinar matahari siang menerobos masuk melalui celah gorden putih, menerangi sosok Hazel yang sedang telaten merawat Sagara. Dengan gerakan jemari yang amat lembut, Hazel mengusap dahi Sagara menggunakan handuk kecil yang dibasahi air hangat, lalu membantu pria itu meminum obat pereda nyeri.
Sagara berbaring menyamping di atas kasur empuk rumah sakit, membiarkan punggungnya yang terbalut perban tebal tidak tertindih. Manik mata cokelatnya yang polos dan jernih menatap Hazel tanpa berkedip sedikit pun—memperhatikan setiap detail wajah cantik gadis 19 tahun itu yang tampak fokus merawatnya.
"Selesai," ujar Hazel pelan sambil meletakkan mangkuk air di atas meja samping kasur. "Bagaimana? Punggungmu masih terasa sangat nyeri, Kak?"
Sagara menggeleng pelan. Ia menyunggingkan senyum tipis yang amat tulus, meskipun bibirnya masih tampak sedikit pucat.
"Sudah tidak begitu sakit, Hazel. Terima kasih banyak..." bisik Sagara lirih. Pria itu diam sejenak, mempererat genggaman tangannya pada selimut rumah sakit sebelum akhirnya memberanikan diri menyuarakan pertanyaan yang mengganjal di dadanya.
"Hazel..." panggil Sagara pelan.
Hazel mendongak dari aktivitasnya merapikan obat. "Ya?"
"Kenapa... kenapa kamu mau membelaku sejauh ini?" tanya Sagara dengan nada suara yang penuh rasa heran dan ketidakpercayaan. "Aku... aku cuma pria cupu yang tidak punya ingatan, tidak punya harta, dan cuma dianggab pelayan di rumah itu. Demi membelaku, kamu bertengkar dengan keluargamu, menampar Nyonya Helena, bahkan menyebarkan video itu hingga membuat situasi jadi sangat berbahaya buat kamu..."
Sagara menatap Hazel lurus-lurus, mencoba mencari jawaban di dalam iris mata cokelat jernih milik adik tirinya itu. "Kenapa kamu mau melakukan semua ini untuk orang seperti aku, Hazel?"
Mendengar pertanyaan polos itu, Hazel mendadak terdiam kaku. Jemarinya yang sedang memegang botol obat membeku di udara.
Secara refleks, Hazel hendak menjawab dengan alasan logisnya yang biasa bahwa ia hanya benci melihat ketidakadilan, atau bahwa ia hanya ingin membalas dendam pada Cateline dan Helena. Namun, kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokannya.
Di dalam hatinya sendiri, Hazel mendadak merasa heran. Kenapa? Kenapa ia begitu marah dan terluka saat melihat Sagara dicambuk? Kenapa hatinya serasa diiris-iris saat mendengar pria ini merintih kesakitan? Mengapa gadis yang biasanya dingin, sinis, dan tak peduli pada siapa pun ini mendadak bersiap mempertaruhkan segalanya hanya demi melindungi pria polos bernama Sagara?
Atmosfer kamar rawat itu mendadak hening untuk beberapa saat. Hazel menundukkan kepalanya sedikit, berusaha menyembunyikan getaran asing di dadanya dan semburat kemerahan tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya.
"Aku..." Hazel memotong ucapannya sendiri, lalu menghembuskan napas pelan sebelum menatap Sagara kembali dengan pendar mata yang melunak namun tetap tegas. "Aku cuma tidak suka melihat orang baik disiksa oleh orang-orang iblis seperti mereka. Dan kamu... kamu pantas untuk dilindungi, Kak. Itu saja."
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...