Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.
Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.
Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Anindya datang jam enam lima puluh seperti biasa, tapi ada yang berbeda dari cara ia melangkah.
Bahunya tegak. Wajahnya tenang. Ia menyapa Mbak Sari dengan senyum sopan, menaruh tas di loker tanpa tergesa, memakai apron, lalu langsung bekerja tanpa menunggu siapa pun menyuruh. Tidak ada yang salah dari semua itu. Hanya saja, Teh Lilis yang sudah dua minggu mengenalnya langsung tahu bahwa senyum itu adalah senyum yang dipakai orang ketika ia sedang menutup pintu rapat-rapat dari dalam.
"Nin, kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Teh."
"Beneran?"
"Beneran." Anindya tersenyum lagi. "Saya kerja dulu ya, Teh. Piringnya udah nunggu."
Teh Lilis ingin berkata sesuatu, tapi tatapan Mbak Sari dari meja potong menahannya. Ia mengangguk dan kembali mengaduk sambal, tapi dalam hati ia menyesal sudah ikut menyebarkan gosip itu. Ia tidak pernah menyangka kata-kata yang ia anggap seru-seruan bisa berubah menjadi sesuatu yang membuat seseorang berhenti berbicara dengan tulus.
Sepanjang pagi, Anindya bekerja dengan tangan telanjang. Ia tidak mengenakan sarung tangan kuning itu lagi. Benda itu kini terlipat rapi di dasar lokernya, di balik tas, seperti sesuatu yang sengaja disembunyikan dari dirinya sendiri. Air panas menyentuh kulitnya yang mulai kasar lagi, dan ia menahan perih itu dengan wajah datar. Itu lebih mudah daripada menahan hal-hal lain.
Ia tidak menangis lagi. Ia sudah menghabiskan seluruh tangisnya di lorong loker, dan kini yang tersisa hanya sesuatu yang lebih dingin dan lebih tenang, seperti permukaan danau setelah badai berhenti.
"Nin."
Dimas berdiri di sampingnya, dengan sesuatu di tangan yang ia sembunyikan di balik punggung. Wajahnya aneh, seperti anak kecil yang sedang menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang belum ditanyakan.
"Iya, Mas Dimas?"
"Ini."
Dimas menyodorkan sebuah kantong plastik. Di dalamnya ada sepasang sarung tangan karet berwarna biru, tebal, dengan bagian pergelangan yang panjang sampai nyaris menyentuh siku.
"Buat apa, Mas?"
"Buat kamu." Dimas menggaruk tengkuknya. "Aku liat tanganmu. Kemarin udah mulai merah lagi. Yang kuning kan udah nggak dipake, jadi..."
"Mas, saya nggak enak."
"Nggak usah nggak enak." Dimas mengangkat bahu, matanya menatap lantai. "Cuma sarung tangan doang. Murah kok. Lagian ini lebih tebal, lebih bagus buat air panas."
Anindya menatap kantong itu lama. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan: menolak dengan sopan, berterima kasih, lalu menyuruh Dimas menyimpannya untuk dirinya sendiri. Tapi ia juga tahu, di balik pintu dapur yang setengah terbuka, ada sepasang telinga yang sedang mendengarkan, dan sepasang mata yang menunggu apakah ia akan menerima atau tidak.
Dan di dalam dirinya, ada sesuatu yang kecil, keras kepala, dan sedikit sakit hati yang berbisik: *kenapa tidak?*
Ia melihat tangan Dimas yang sedikit gemetar memegang kantong itu. Tangan seseorang yang tidak pernah memberi apa pun pada siapa pun tanpa bercanda lebih dulu, dan kali ini tidak ada candaan sama sekali.
"Makasih, Mas Dimas," katanya akhirnya, menerima kantong itu. "Nanti saya ganti uangnya."
"Nggak usah."
"Saya ganti."
"Ya ampun, keras kepala." Dimas tertawa pendek, dan untuk pertama kalinya sejak Sabtu malam itu, tawanya terdengar seperti dulu. "Terserah kamu, deh."
---
Tidak ada yang tahu persis kapan Reyhan sampai di ambang pintu dapur.
Biasanya orang bisa merasakan kehadirannya dari perubahan udara, tapi hari itu ia datang tanpa suara, seperti bayangan yang tiba-tiba melintas di tembok. Ia berdiri di sana dengan kemeja biru tua dan map di tangan, pandangannya terpaku pada bak cuci.
Pada sepasang sarung tangan biru yang kini membalut tangan Anindya.
Di seberang ruangan, Dimas, yang masih berdiri tidak jauh dari Anindya, baru menyadari tatapan itu. Ia menegakkan punggung, tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya sendiri.
"Mas Reyhan," sapanya, sedikit terlalu cepat.
Reyhan tidak menjawab. Matanya bergerak dari sarung tangan biru itu ke wajah Dimas, lalu ke wajah Anindya, lalu kembali ke sarung tangan itu. Wajahnya datar, setenang permukaan air di dasar sumur. Tapi di ujung map yang ia pegang, jarinya mencengkeram sampul kertas itu sedikit terlalu kuat, cukup untuk membuat kertasnya melengkung.
"Siapa yang beliin?" tanyanya akhirnya. Suaranya datar.
"Saya, Mas," jawab Dimas. "Sarung tangan yang kuning kan udah nggak dipake. Daripada tangannya merah lagi."
"Oh."
Hanya itu.
Reyhan melangkah masuk, melewati meja bumbu, melewati bak cuci, tanpa menoleh ke arah siapa pun. Tapi saat ia berjalan melewati lorong menuju ruang kerja, tangannya bergerak otomatis ke kusen pintu dan mengetuknya dua kali. Lalu dua kali lagi. Lalu satu kali.
Satu kali lagi dari biasanya.
Bayu, yang sedang mengisi stoples gula di rak minuman, melihat itu semua dan menunduk dalam-dalam ke arah stoplesnya.
Di ruang kerja, Reyhan berdiri di depan jendela kecil. Ia menatap halaman belakang yang kosong, dan ada sesuatu di dadanya yang tidak ia kenali. Bukan marah, bukan cemburu, atau mungkin keduanya, tapi sesuatu yang lebih sepi dan lebih berat: rasa kehilangan atas sesuatu yang bahkan tidak pernah ia miliki. Kemarin, ia sendiri yang menyuruh seseorang melepas sarung tangan kuning itu. Hari ini, ia hanya melihat seseorang lain memberi pengganti.
Dan ia sadar bahwa ia tidak berhak merasa kehilangan.
---
Siang itu, jam makan staf datang tanpa suasana yang biasa.
Biasanya mereka makan bergantian di bangku plastik belakang dapur, dengan nasi hangat dan sayur asem, dengan ledekan Dimas dan tawa Rafi yang terlalu keras. Hari ini, semua orang makan dengan mata tertuju ke piring masing-masing, seolah menu di depan mereka menyimpan teka-teki yang sangat rumit.
"Sambalnya enak, Mbak," kata Yoga, mencoba memecah keheningan.
"Biasa aja," jawab Mbak Sari.
"Eh, iya, Mbak, tapi..."
"Makan, Ga."
"Iya, Mbak."
Rafi menyenggol Yoga dengan siku. Teh Lilis menatap nasinya tanpa menyuapkannya. Jaka mengunyah dengan wajah orang yang sudah terlalu tua untuk drama semacam ini. Hanya Dimas yang masih sesekali melirik Anindya, dengan ekspresi yang campur aduk antara puas dan gelisah, seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu tapi belum yakin itu hadiah atau jebakan.
Anindya makan pelan-pelan. Ia tidak ingin menatap siapa pun. Tapi di sudut matanya, ia bisa melihat pintu ruang kerja yang tertutup di ujung koridor, dan ia tidak bisa menghentikan pikirannya sendiri.
*Dia lihat. Dia pasti lihat.*
Lalu pikiran lain datang, yang jauh lebih menyebalkan karena ia tidak punya jawaban.
*Kenapa aku peduli dia lihat atau nggak?*
Ia menunduk, dan sambil mengunyah nasi yang tiba-tiba terasa hambar, ia teringat satu hal: sudah lama sekali ia tidak peduli apa yang dipikirkan seseorang tentang dirinya. Bertahun-tahun ia belajar untuk tidak peduli, karena kepedulian hanya membuka celah untuk dilukai. Dan dalam beberapa minggu saja, seorang laki-laki yang bahkan tidak pernah tersenyum padanya telah membongkar semua pertahanan itu.
---
Sore, saat jam empat tinggal sepuluh menit lagi, Anindya melepas sarung tangan biru itu dan menggantungnya di dekat bak cuci. Ia meregangkan jari-jarinya yang pegal, menatap tangannya sendiri, lalu tanpa sadar membuka loker dan menatap sepasang sarung tangan kuning di dasarnya.
Benda itu tampak kecil dan kusam di antara tumpukan tasnya. Ia tidak tahu kenapa matanya terasa panas.
"Itu bagus, kok, sarung tangan Dimas."
Anindya hampir melompat. Mbak Sari berdiri di belakangnya dengan tangan terlipat, wajahnya tidak terbaca seperti biasa.
"Eh, Mbak."
"Tebal. Tahan panas." Mbak Sari mengangguk ke arah sarung tangan biru. "Lebih cocok buat kerja di sini."
"Iya, Mbak."
"Tapi yang kuning itu juga bagus." Mbak Sari menatap ke dalam loker. "Jangan dibuang."
"Nggak dibuang, Mbak. Cuma..."
"Iya, saya tahu." Mbak Sari menghela napas pendek. Lalu, dengan nada yang lebih pelan dari yang pernah Anindya dengar darinya, ia menambahkan, "Nin, kadang orang yang paling susah ngomong itu justru orang yang paling banyak mikirin. Tapi itu bukan alasan buat nyakitin orang."
Anindya menatapnya. "Mbak tahu siapa yang ngasih sarung tangan kuning itu?"
Mbak Sari tidak menjawab. Ia hanya menatap Anindya satu detik lebih lama dari yang nyaman, lalu berbalik dan kembali ke dapur. Tapi di ambang pintu, bahunya turun sedikit, seperti seseorang yang menahan sesuatu yang sama beratnya dengan yang ditahan Anindya.
Anindya menutup lokernya perlahan. Jam di dinding menunjukkan pukul empat kurang lima. Ia meraih tasnya, mengangguk pada siapa pun yang menoleh, dan melangkah keluar tanpa menoleh ke arah ruang kerja.
Karena itu ia tidak melihat pintu yang terbuka sedikit, dan sepasang mata di baliknya yang mengikuti punggungnya sampai hilang di belokan gang.
Di dalam ruang kerja, Reyhan berdiri diam di depan jendela kecil, kedua tangan di saku, rahang mengeras. Di atas mejanya ada sebuah map terbuka, lembar-lembarnya tidak ia baca. Dan di bawah meja, di sudut yang tidak terlihat dari mana pun, sebuah gumpalan kertas kecil masih tergeletak di tempat ia jatuh seminggu lalu.
Ia menunduk, melihatnya. Dua kata miring di balik lipatan kusutnya, yang hanya terlihat jika seseorang tahu persis di mana mencarinya.
Ia tidak memungutnya. Ia juga tidak menyuruh siapa pun membersihkannya. Hanya berdiri di sana, menatap benda sekecil itu seolah isinya adalah satu-satunya hal jujur yang pernah ia tulis, dan satu-satunya yang tidak berani ia baca ulang.
Bersambung ke Bab 10...