Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 20
Kabar bahwa Adelle adalah wanita yang diinginkan oleh Kaisar Kallistar menyebar luas. Mereka semua meyakini hal tersebuh hanya dalam kurun waktu satu pekan saja setelah Adelle berkoar-koar dari satu pesta teh ke pesta teh lainnya.
Semua bangsawan percaya karena tak ada penolakan dari sisi Istana. Diamnya pihak Istana dianggap membenarkan rumor Adelle sebagai calon permaisuri.
"Sebentar lagi kita akan punya ibu negara? Bukankah itu adalah hal yang baik?"
"Ya benar? Putrri Adelle juga tampak sempurna sebagai seorang wanita. Dia akan menjad permaisuri yang tegas dan juga cerdas. Sangat cocok dengan Baginda Kaisar."
"Aku sangat tidak sabar, betapa megahnya pernikahan yang akan digelarnya nanti."
Ucapan demi ucapan tentang Adelle yang akan jadi permaisuri benar-benar sangat merajalela. Semua membicarakannya dan juga merasa sangat tidak sabar dengan pernikahan.
Duke Ramos terlihat sangat senang. Dia tidak menyangka bahwa omong kosong yang putrinya ucapkan cukup membuat opini publik mengarah kr mereka.
Tak hanya Duke Ramos saja yang senang, Adelle pun sama. Karena kalangan bangsawan meyakini berita kedekatan Adelle dan Lucien, Adelle pun selalu mendapat tempat terbaik saat ia menghadiri salon. Dia bahkan diberi kursi kusus.
"Aku sama sekal tidak menyangka bahwa efeknya akan sebesar ini. Ya, aku hanya perlu melaukannya dengan baik. Toh Baginda juga diam saja. Apa mungkin dia benar-benar setuju dengan ide. Ah mungkin demikian."
Adelle menegakkan punggungnya. Dia mengangkat cangkir lalu meminum teh yang disajikan khusus untuknya.
Saat ini Adelle tengah menghadiri jamuan pesta teh milik seorang Countess. Di tempat itu semua orang menanyakan tentang kedekatannya dengan Baginda Kaisar.
Adelle sendiri tak banyak menjawab. Dia membuat para lady penasaran dengan setiap jawaban yang diberikan.
Wanita itu sungguh menimati perannya. Hingga sebuah ucapan membuatnya terusik.
"Andaikan Duke Carlos Winter ada, pasti cucunya yang akan jadi kandidat kuat. Semua orang tahu Duke Carlos adalah pahlawan perang. Julukan Pedang Es dari utara bukan hanya omong kosong belaka."
"Benar, tapi sayang sekal. Duke dan Duchees Winter tak lagi muncul di kegiatan sosial. Haah, aku yakin Baginda akan cocok dengan lady dari keluarga Winter."
Tangan Adelle yang ada di bawah meja langsung mengepal dengan erat. Rahangnya juga mengeras. Ingin sekali dia mendatangi para lady itu, akan tetapi ia harus menjaga citranya sebagai nona yang tenang, lembut, dan juga baik hati.
"Sialan, mereka beraninya ... ."
Dalam hati Adelle mengumpat. Ia yang sudah tak tahan menahan kemarahan, berpamitan pulang lebih dulu. Tentu saja dengan reputasinya, dia dengan mudah datang dan pergi dari sebuah jamuan pesta teh.
Di dalam kereta kudanya, Adelle berkali-kali memukul kursi. Dan saat sampai di rumah, Adelle langsung mencari ayahnya.
Blak!
Dia membuka pintu ruang kerja Duke Ramos dengan sangat kuat hingga suara pintu berdebam keras.
"Adelle, apa yang kamu lakukan? Sangat tidak sopan," ucap Duke Ramos lantang.
"Ayah, siapa Duke Winter itu?"
Degh!
Mata Duke Ramos langsung terbuka dengan lebar. Dia terdiam sejenak, lalu setelahnya meminta semua orang yang ada di ruang kerjanya untuk keluar.
Duke Ramos memastikan tak ada lagi orang di dalam sana kecuali ia dan anaknya.
"Kenapa kamu menyebut nama itu?" tanya Duke Ramos kepada putrinya.
"Tadi, saat aku datang ke pesta teh seorang Countess, aku mendengar nama Duke Winter. Katanya, cucuk perempuannya jauh lebih pantas jadi Permaisuri ketimbang aku. Jadi siapa sebenarnya Duke Winter itu. Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya," papar Adelle.
Duke Ramos mengepalkan tangannya erat. Matanya membara, ada sebuah kebencian di sana.
"Ayah," panggil Adelle yang melihat ayahnya terdiam cukup lama.
"Ah ya. Duke Winter ya. Duduklah. Ayah akan ceritakan siapa dia. Dia adalah salah satu Duke juga di Kallistar. Tapi dia selalu berselisih dengan ayah ku, yakni kakek mu yang merupakan Duke Mortain terdahulu. Mereka selalu bersebarangan. Saat perang besar pecah, kakek mu dan dia sama-sama ke medan perang. Di sana kakek mu terbunuh, sedangkan dia pulang dan dianggap sebaga pahlawan."
Duke Ramos bercerita dengan tangan terkepal. Dia sangat marah saat mengingat hal tersebut. Kebencian pun tertanam dalam dirinya.
Adelle mengerti cerita itu. Karena pernah diceritakan juga dulu, tapi dia lupa. Dan sosok Duke Winter, juga belum pernah dilihatnya sebelumya.
"Lantas, apa benar dia punya cucu perempuan?" Adelle takut jika benar ada, maka posisinya pasti akan goyah. Lucu sebenarnya, posisi yang ia klaim itu hanya pemikirannya sendiri padahal. Namun Adelle sudah sangat resah.
"Hahah tidak, tidak mungkin dia punya cucu. Dia hanya satu punya anak perempuan dan itu pun sudah mati. Jadi janganlah kamu risau wahai putrimu. Kamu adalah satu-satunya putri Duke. taka ada yang melebihi dirimu. Semua wanita akan tunduk di bahwamu karena kedudukan mu jauh lebih tinggi dari siapapun di Kallistar ini."
Adelle mengangguk, perasaannya begitu sangat lega. Apa yang dikatakan oleh ayahnya, menjadikan dirinya tenang lebih dari apapun.
Akan tetapi tiba-tiba Adelle merasa sedikit gelisah.
"Ayah, apa benar anak Duke Winter sudah mati? Bukan sebuah kebohongan kan?" Adelle ingin mendengar jawabannya lagi..
"Benar putriku. Carreliya Winter sudah mati. Mayatnya ditemukan di tengah jalan dengan kondisi yang mengenaskan. Konon katanya dia meninggalkan rumah untuk menikah, tapi wanita itu hilang. Beberapa tahun kemudian, Carreliya ditemukan sudah tak bernyawa. Jadi sangat tidak mungkin Duke Winter memiliki cucu."
Adelle mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Senyuman juga langsung menghiasi bibirnya.
"Yaaj syukurlah. Akhirnya memang hanya aku yang pantas menjadi Permaisuri. Hanya aku yang pantas mendampingi Baginda. Lagi pula, siapa juga yang bisa mengalahkan kecerdasan seorang Adelle Mortain, wanita dengan lulusan terbaik di akademi."
"Nah percaya dirilah putriku, kamu tak bisa dikalahkan oleh siapapun di Kallistar ini. Kamu paling cantik dan hebat diantara semua wanita muda yang ada di kekaisaran."
Ayah dan anak yang sama-sama memiliki ambisi untuk berada di posisi tertinggi. Keduanya merasa yakin bahwa mereka akan mendapatkan posisi tersebut.
Diamnya pihak istana bagi mereka adalah sebuah tanda sebuah persetujuan. Tanpa mereka ketahui bahwa hal itu disengaja.
Erson yang ada di ruang kerja Lucien berkali-kali mendapat pertanyaan dari kepala pelayan tengang berita yang disebar oleh keluarga Duke Mortain, dan Erson hanya diam tak memberkan jawaban apapun.
"Count Erson, kenapa Anda tidak melakukan klarifikasi?" tanya Countess Elia yang merupakan kepala pelayan di istana milik Lucien.
"Countess tenang saja ya. Biarkan mereka menikmati hiburan itu sendiri. Baginda berkata demikian. Anda tidak perlu risau akan hal itu. Percaya saja dengan Baginda, Countess. Bukankah Anda sangat mengenal Baginda?" jawab Erson.
Countess Elia menghela nafasnya panjang. Ya benar, dia hanya perlu memercayai sang kaisar yang sudah dikenalnya sejak kecil.
"Ya Anda benar, Count Erson. Saya percaya dengan Baginda."
TBC