NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL08. Detak yang Berbeda

Sepanjang perjalanan pulang, Qiera hanya diam. Hujan yang sejak sore mengguyur memang mulai mereda. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang melintas, sementara tetesan air sesekali jatuh dari ujung payung yang tergeletak di sampingnya.

Namun, tak satu pun dari pemandangan itu benar-benar menarik perhatian Qiera. Pikirannya justru terjebak pada kejadian beberapa jam lalu, tepat ketika kakinya terpeleset di koridor kampus dan Ravi menangkapnya.

Atau lebih tepatnya, pada sesuatu yang terjadi setelah itu.

Ciuman.

Ciuman singkat yang bahkan tak sempat ia pahami sebelum semuanya berakhir.

Qiera merapatkan bibirnya, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ke jendela mobil. Ya Tuhan, bagaimana mungkin ia bisa mencium dosennya secara tidak sengaja meskipun dia juga suaminya?

Di kursi pengemudi, Ravi meliriknya sekilas. Sejak mereka meninggalkan kampus, perempuan itu bahkan belum mengeluarkan satu kata pun. Gadis itu malah sibuk menatap jendela dan sesekali memainkan ujung lengan bajunya.

“Lily.”

Qiera tersentak. “Iya?”

“Sejak tadi diam saja. Masih memikirkan kejadian di kampus?”

“Enggak!”

Jawabannya terlalu cepat, terlalu keras, dan sama sekali tidak meyakinkan.

Ravi mengangkat sebelah alis. “Saya belum mengatakan kejadian yang mana.”

Wajah Qiera langsung memanas. Ia menoleh dengan ekspresi tersinggung, meskipun telinganya sudah merah lebih dulu. “Mas sengaja, ya?”

“Sengaja apa?”

“Bilang gitu!”

“Saya hanya bertanya.” Ravi kembali menatap jalanan, menyembunyikan senyum tipis yang nyaris muncul di sudut bibirnya. “Kalau memang tidak memikirkan apa-apa, seharusnya kamu bisa menjawab dengan tenang.”

Qiera mendengus, lalu menyilangkan tangan di depan dada. “Aku capek, Mas. Dari pagi rapat BEM, mengurus laporan, menghadiri pertemuan fakultas, terus kehujanan. Wajar kalau aku diam.”

“Benar.” Nada suara Ravi berubah lebih lembut. “Kalau begitu, istirahatlah. Kita sudah hampir sampai.”

Kali ini Qiera tidak membalas. Ia kembali memandang jendela. Sayangnya, ketenangan itu hanya bertahan sampai mereka tiba di apartemen.

Begitu pintu tertutup, Qiera mendadak tidak tahu harus melakukan apa. Ia berdiri di dekat rak sepatu, memperhatikan Ravi yang meletakkan kunci mobil dan merapikan barang-barangnya seperti biasa. Apartemen itu terasa sama seperti kemarin, dengan sofa abu-abu, meja kecil di ruang tengah, dan lampu berwarna hangat yang menerangi ruangan. Namun, malam ini semuanya terasa berbeda.

Mungkin karena ia sekarang sadar betul bahwa pria yang berdiri beberapa langkah darinya adalah orang yang tadi ia cium bibirnya.

Tidak sengaja, tentu saja. Tapi tetap saja, kesadaran itu membuatnya ingin menyembunyikan wajah di balik bantal sofa.

“Kenapa masih berdiri di situ?” tanya Ravi.

“Aku mau mandi.”

“Silakan. Saya juga mau memeriksa beberapa berkas sebentar.”

Qiera mengangguk terlalu bersemangat, kemudian bergegas menuju kamar. Ia mengambil pakaian ganti dari lemari, memasuki kamar mandi, lalu menutup pintunya rapat-rapat. Setelah meletakkan pakaian di tempat yang aman, ia menyalakan shower dan membiarkan air hangat membasahi tubuhnya yang lelah.

Beberapa menit kemudian, Qiera selesai mandi. Ia mematikan shower, mengambil pakaian ganti, lalu meraih gantungan handuk.

Kosong.

Seketika Qiera terdiam.

Ia memeriksa gantungan di belakang pintu. Tidak ada. Rak kecil di samping wastafel? Kosong juga. Ia bahkan membuka lemari kecil di kamar mandi, meskipun tahu betul handuk bersih tidak pernah disimpan di sana.

“Jangan bilang...” gumamnya, menatap langit-langit dengan putus asa.

Ia tidak membawa handuk.

Dari balik pintu, terdengar suara televisi yang samar dari ruang tengah. Ravi masih berada di apartemen. Satu-satunya orang yang bisa dimintai tolong adalah suaminya sendiri, pria yang baru beberapa jam lalu membuatnya kehilangan kemampuan untuk berpikir normal hanya karena sebuah kecelakaan kecil.

Qiera memejamkan mata. Kenapa dari sekian banyak hari dalam hidupnya, ia harus melakukan kebodohan ini sekarang?

“Mas?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

“Mas Ravi?”

Terdengar langkah kaki mendekat. “Ya?”

Qiera menggigit bibir, berusaha menyusun kalimat yang tidak terdengar memalukan. “Aku... mau minta tolong.”

“Ada apa?”

“Bisa ambilkan handuk?”

Hening sejenak.

“Handuk?”

“Iya.”

“Lily, kamu sedang mandi, tetapi baru ingat handuk setelah selesai?”

Qiera menutup mata rapat-rapat. “Mas, tolong jangan memperjelas keadaan!”

Dari luar, Ravi terdengar menghela napas yang diikuti tawa kecil. “Baik. Saya ambilkan.”

“Jangan masuk!”

“Saya bahkan belum membuka pintunya.”

“Pokoknya jangan!”

“Baik, baik.” Suara Ravi terdengar semakin geli. “Saya letakkan di depan pintu. Ambil setelah saya menjauh.”

Qiera menunggu dengan jantung berdebar tak jelas. Beberapa detik kemudian, suara Ravi kembali terdengar.

“Sudah,” kata Ravi. “Saya mundur.”

Qiera membuka pintu hanya selebar celah yang diperlukan untuk meraih handuk. Namun, tepat ketika ia hendak menariknya, suara Ravi kembali terdengar.

“Lily?”

“Apa lagi?”

“Besok, kalau kamu lupa membawa baju ganti, kamu bisa minta tolong ke saya.”

“Mas Ravi!”

Tawa kecil Ravi terdengar dari ruang tengah sebelum langkahnya menjauh.

Qiera buru-buru menutup pintu, menyandarkan punggungnya ke sana, lalu menutupi wajah dengan handuk. Ia ingin marah, tetapi rasanya terlalu malu untuk memikirkan balasan yang tepat.

Menyebalkan. Benar-benar menyebalkan.

...🌃🌃🌃...

Pukul sepuluh malam, apartemen yang semula dipenuhi suara televisi mendadak menjadi sunyi setelah ponsel Ravi berdering.

Ravi yang sedang membaca berkas di meja ruang tengah segera mengangkat panggilan itu. Begitu mendengar suara di seberang, ekspresinya berubah. Punggungnya menegak, sementara tangannya yang semula memegang pena perlahan mengepal.

“Lalu bagaimana kondisi Kakek?” tanyanya, kali ini tanpa nada santai sedikit pun.

Qiera yang baru keluar dari kamar langsung berhenti. Ia memperhatikan suaminya dari kejauhan, menangkap perubahan pada wajah Ravi yang jarang sekali ia lihat.

“Iya, saya segera ke sana,” jawab Ravi setelah mendengarkan penjelasan lebih lanjut. “Tolong kabari saya kalau ada perkembangan.”

Panggilan berakhir. Ravi berdiri, mengambil kunci mobil dan jaketnya.

“Mas, ada apa?”

“Kakek masuk ICU. Dokter meminta keluarga datang ke rumah sakit.” Ia meraih ponselnya lagi, memastikan pesan dari ayahnya, lalu menoleh kepada Qiera. “Saya harus berangkat sekarang.”

Tanpa berpikir panjang, Qiera segera mengambil tasnya. “Aku ikut.”

Ravi mengernyit. “Tidak perlu. Kamu istirahat saja.”

“Mas, Kakek juga keluargaku sekarang.”

“Kamu sudah kelelahan sejak pagi. Saya tidak mau kamu memaksakan diri.”

“Aku memang capek, tetapi aku masih bisa ikut.” Qiera menatapnya. “Aku juga cucunya, Mas. Kalau keluarga sedang menghadapi keadaan seperti ini, masa aku cuma duduk di apartemen seolah ngga ada apa-apa?”

Ravi terdiam.

Ia tahu Qiera bukan tipe orang yang mudah meninggalkan tanggung jawab begitu saja. Sejak mengenalnya, perempuan itu selalu berusaha menyelesaikan apa yang telah ia mulai, bahkan ketika tubuhnya jelas-jelas meminta istirahat. Malam ini pun sama. Ada rasa khawatir di mata Qiera, bukan sekadar keinginan untuk ikut campur.

“Lily,” ujar Ravi lebih pelan, “saya hanya khawatir kamu terlalu lelah.”

“Aku tahu.” Qiera melunakkan suaranya. “Tapi aku juga khawatir sama Kakek.”

Kalimat itu membuat Ravi terdiam sedikit lebih lama. Ia akhirnya mengangguk.

“Baik. Kamu ikut, tetapi kalau mengantuk atau merasa tidak enak badan, langsung bilang kepada saya. Jangan memaksakan diri.”

Qiera mengangguk cepat. “Janji.”

“Dan ambil jaket. Udara malam dingin.”

“Iya, Mas.”

Kali ini, panggilan itu keluar tanpa disertai protes ataupun rasa malu.

Ravi sempat memandangnya sesaat sebelum berbalik menuju pintu. Entah mengapa, mendengar Qiera menyebutnya demikian di tengah situasi yang mencemaskan justru membuat dadanya terasa sedikit lebih tenang.

.

Rumah sakit terasa berbeda dari biasanya pada malam hari. Lorong-lorongnya diterangi lampu putih yang terang, tetapi suasananya tetap dingin dan lengang. Sesekali terdengar langkah perawat, bunyi roda ranjang, atau panggilan dari ruang perawatan yang memecah kesunyian.

Kakek Ravi telah dipindahkan ke ICU setelah kondisinya memburuk. Dokter menjelaskan bahwa kondisi beliau memerlukan pemantauan intensif, sehingga keluarga diminta menunggu sampai perkembangan berikutnya dapat dipastikan.

Ravi berdiri di depan ruang ICU bersama kedua orang tuanya. Wajahnya tenang, tetapi Qiera bisa melihat ketegangan yang disembunyikan pria itu dari caranya berulang kali memeriksa jam dan menatap pintu ruang perawatan.

Ia tidak banyak bertanya. Sesekali Qiera menawarkan air mineral, memastikan Ravi sudah duduk, atau mengingatkannya agar tidak terus berdiri. Ravi menerima semuanya dengan anggukan singkat, seolah belum memiliki cukup ruang dalam pikirannya untuk memikirkan hal lain.

Waktu berjalan lambat.

Qiera yang sejak pagi nyaris tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat mulai kesulitan menahan kantuk. Ia berusaha tetap terjaga karena tidak ingin terlihat seperti orang yang datang hanya untuk duduk dan tidur. Namun, semakin malam, kelopak matanya terasa semakin berat.

Ketika Ravi menyadari Qiera duduk dengan kepala tertunduk, ia menyentuh pelan bahu istrinya.

“Lily, kalau mengantuk, tidurlah sebentar.”

Qiera segera mengangkat kepala. “Aku tidak mengantuk.”

Ravi memandangnya. “Kamu baru saja hampir tertidur sambil duduk.”

“Aku cuma sedang memikirkan sesuatu.”

“Dengan mata tertutup?”

Qiera terdiam, lalu mengerucutkan bibir. “Mas jangan mengganggu konsentrasiku.”

Ravi hampir tersenyum. “Baik. Silakan lanjutkan konsentrasinya.”

Ia kembali menghadap ke arah ruang ICU, membiarkan Qiera bersandar pada kursi. Tidak lama kemudian, kepala perempuan itu mulai terangguk-angguk. Setiap kali hampir tertidur, ia berusaha menegakkan tubuh, tetapi beberapa menit berikutnya ia kembali menyerah pada rasa kantuk.

Ravi memperhatikannya dari sudut mata.

Perempuan itu sudah berusaha keras sejak pagi. Ia mengurus masalah mahasiswa di kampus, menghadiri pertemuan yang tidak mudah, lalu bersikeras ikut ke rumah sakit meski Ravi sudah berkali-kali memintanya beristirahat. Kini, setelah berjam-jam menunggu tanpa kepastian, tubuhnya akhirnya mengambil keputusan sendiri.

Ravi tidak tega membangunkannya lagi.

...🌌...

Pukul tiga dini hari, dokter akhirnya menemui mereka. Kondisi kakek telah stabil untuk sementara, meskipun beliau masih membutuhkan pemantauan ketat dan belum bisa dinyatakan pulih sepenuhnya.

Ravi mengembuskan napas panjang yang sejak tadi terasa tertahan di dadanya.

“Terima kasih, Dokter. Kalau ada perubahan, mohon segera kabari kami.”

Setelah dokter pergi, ayah dan ibunya mendekat. Wajah mereka sama-sama terlihat letih, tetapi sedikit kelegaan mulai menggantikan kecemasan yang sejak tadi menyelimuti.

“Papa dan Mama pulang saja dulu,” kata Ravi. “Istirahat. Nanti kalau ada perkembangan, Ravi kabari.”

Ibunya memandang putranya dengan ragu. “Kamu sendiri bagaimana? Kamu juga belum tidur.”

“Ravi bisa menjaga Kakek di sini. Kalian sudah menunggu sejak tadi.”

Setelah beberapa kali memastikan Ravi benar-benar sanggup tinggal, kedua orang tuanya akhirnya setuju untuk pulang.

Sementara itu Qiera telah tertidur pulas, kepalanya miring ke samping dan kedua tangannya terlipat. Tasnya masih tergantung di bahu, sementara jaket yang tadi dipakainya mulai melorot.

Ravi menunduk, mengambil tas dari bahunya dengan hati-hati. Ia membetulkan jaket Qiera agar perempuan itu tidak kedinginan.

“Katanya tidak mengantuk,” gumamnya pelan.

Ravi menatap sofa kecil di dalam kamar rawat kakeknya biasanya. Ia tidak tega membiarkan Qiera tidur dengan posisi yang tidak nyaman di kursi rumah sakit. Setelah memastikan keadaan kakeknya tetap terpantau oleh petugas, ia membungkuk dan mengangkat Qiera dengan hati-hati.

Perempuan itu bergerak sedikit dalam tidurnya, lalu tanpa sadar menyandarkan kepala di bahu Ravi.

“Mas...” gumamnya lirih, nyaris tidak terdengar.

Langkah Ravi terhenti sesaat.

Namun, Qiera tidak benar-benar terbangun. Ia hanya menggumam sekali lagi sebelum kembali tenggelam dalam tidurnya.

Ravi membawa istrinya menuju sofa di sudut kamar, lalu membaringkannya perlahan. Ia mengambil bantal tambahan dan meletakkannya di bawah kepala Qiera, kemudian menarik selimut tipis sampai menutupi tubuhnya. Setelah memastikan posisi perempuan itu nyaman, ia duduk di kursi yang berada tepat di samping sofa.

Untuk beberapa saat, Ravi hanya diam.

Di bawah cahaya lampu kamar yang redup, wajah Qiera tampak jauh lebih tenang daripada ketika ia terjaga. Tidak ada kerutan kesal di dahinya, tidak ada bibir yang mengerucut setiap kali ia merasa digoda, juga tidak ada tatapan berani yang biasanya ia gunakan untuk membantah perkataan Ravi.

Yang ada hanya wajah gadis muda yang kelelahan setelah menjalani hari panjang, tetapi tetap memilih berada di samping keluarganya.

Ravi mengamati wajah itu, tanpa sadar ia tersenyum tipis. Lalu, ingatannya kembali pada kejadian di koridor kampus.

Hujan. Lantai licin. Qiera yang kehilangan keseimbangan. Tangannya yang refleks menangkap tubuh perempuan itu. Dan kecupan singkat yang terjadi begitu saja.

Ravi mengalihkan pandangan sejenak, seolah berharap dengan begitu ia bisa mengusir ingatan yang sejak tadi muncul di saat-saat tak terduga. Namun, semakin ia berusaha tidak memikirkannya, semakin jelas pula ia mengingat keterkejutan di wajah Qiera setelah kejadian itu.

Ia mengembuskan napas pelan. “Benar-benar merepotkan, Lily,” bisiknya, meskipun nada suaranya sama sekali tidak terdengar kesal.

Tangannya terangkat tanpa banyak pertimbangan. Dengan gerakan hati-hati, ia menyingkirkan sehelai rambut yang jatuh di dekat wajah Qiera, lalu membelai pipinya sebentar. Sentuhan itu begitu ringan hingga Qiera tidak terusik dari tidurnya.

Ravi terdiam, menyadari sendiri apa yang baru saja dilakukannya. Ia seharusnya menarik tangan, kembali duduk, dan membiarkan malam berlalu sebagaimana mestinya. Namun, ketika menatap wajah istrinya yang tertidur pulas, ada kelembutan yang sulit ia jelaskan bahkan kepada dirinya sendiri.

Akhirnya, Ravi menunduk sedikit. Sebuah kecupan hangat ia berikan di ubun-ubun Qiera. Singkat. Lembut. Nyaris seperti rahasia yang hanya boleh diketahui malam itu.

“Tidurlah yang nyenyak,” bisiknya.

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!