Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pembukaan polindes
Setelah memastikan ibunya sampai di rumah dengan aman untuk menemani sang ayah, Revan kembali ke Polindes dengan motor trail-nya. Di dalam kamar, Nisa dan Nara sudah terlelap karena kelelahan, bersandar satu sama lain dalam damai.
Revan merebahkan tubuhnya di salah satu ranjang ruang inap. Namun, kelopak matanya enggan terpejam. Insting prajurit elitnya berteriak nyaring, membakar kewaspadaan di dalam dadanya.
Tak betah berdiam diri, Revan bangkit dan berjalan keluar menuju pos ronda di ujung jalan Polindes. Di sana, tiga orang pemuda desa sedang berkumpul menghalau dinginnya malam.
"Eh, Bang Revan! Sini, Bang, gabung," sapa Ujang ramah sambil menggeser duduknya di atas balai-balai bambu.
Revan tersenyum tipis, merapat ke dalam lingkaran. Ia meraih sebuah gitar tua yang bersandar di sudut pos ronda, memetik senarnya perlahan sambil menyanyikan alunan lagu santai untuk mencairkan suasana agar kehadirannya tak memicu kecurigaan.
Di sela-sela petikan gitarnya, Revan mulai memancing obrolan dengan nada biasa. "Sepi juga ya kalau malam di sini. Tapi di bukit belakang Polindes itu pernah ada orang lewat tidak ?"
Seorang pemuda ronda menyulut rokoknya lalu mengangguk pelan. "Ada, Bang. Beberapa hari lalu ada orang-orang asing yang tinggal di gubuk rakitan dekat lereng bukit itu. Katanya sih kelompok pemburu."
Petikan gitar Revan terhenti sejenak, namun ia langsung menyambungnya kembali dengan ritme yang tetap stabil. "Pemburu? Pemburu dari mana?"
"Nggak tau pasti, Bang. Tapi salah satu dari mereka ada yang terluka ,Soalnya mereka sempat minta obat-obatan ke desa tetangga," timpal Ujang.
Darah Revan berdesir hebat. Dugaan intelijennya tepat seratus persen. Kelompok pemberontak yang sempat kocar-kacir di Bukit Sangkar kini bersarang di dekat tempat Nara bertugas. Pimpinan mereka yang terluka dipastikan akan membutuhkan penanganan medis segera.
Revan kembali memetik gitar, menyanyikan lagu dengan suara bass-nya yang tenang untuk menutupi gejolak amarah dan kecemasan yang membakar dadanya. Matanya melirik ke arah jendela kamar Polindes yang remang-remang. Dalam hati, sang komandan elit tak akan membiarkan bahaya sekecil apa pun menyentuh Bidan Nara.
Sinar matahari pagi menerobos celah-celah daun jati, membawa kehangatan di pelataran Polindes. Setelah pamit pada Nara, Revan dan Nisa kembali sebentar ke rumah untuk berbenah.
Begitu pintu kamar sepi, Nara bergegas mandi dan bersiap. Hari ini adalah hari perdananya bertugas sekaligus peresmian bangunan Polindes baru. Nara mengenakan seragam putih bidannya yang bersih dan rapi. Penampilannya yang anggun, dipadu dengan aura wajah yang cantik nan berwibawa, seketika mengubah suasana Polindes yang tadinya kaku menjadi begitu sejuk.
Tak lama kemudian, beberapa warga desa mulai berdatangan memenuhi halaman. Decak kagum dan bisik-bisik halus terdengar di antara ibu-ibu dan para pemuda desa yang melihat sosok sang bidan baru dari dekat.
Sebelum acara peresmian dimulai, Bu Sumi dan Nisa berjalan mendekat sambil membawa rantang susun di tangannya.
"Gak usah repot-repot, Ibu... Nara sudah sarapan kok tadi," tegur Nara lembut sambil tersenyum tak enak hati.
"Paling cuma makan roti, kan?" sahut Bu Sumi dengan senyum hangat khas seorang ibu. "Nanti makan nasi ya, Nak. Biar tenaganya penuh seharian."
"Makasih banyak ya, Bu..." balas Nara tulus, menyambut rantang itu dengan binar mata tersentuh.
Tak berapa lama, Pak Kades memotong pita sederhana di depan pintu, menandai resminya Polindes Desa Bejowangi beroperasi. Tepuk tangan riuh dari warga pun membahana.
Sementara itu, di pos ronda yang tak jauh dari lokasi, Revan berdiri bersandar di tiang kayu bersama beberapa pemuda desa. Pandangan mata perwira elit itu terkunci lurus pada Nara yang sedang menyapa warga dengan senyum manisnya.
Di sebelahnya, para pemuda ronda mulai riuh berbisik-bisik genit.
"Gila... cantik banget bidannya, Van!" celetuk salah satu pemuda sambil melihati Nara tanpa kerdip.
"Iya, euy... Ini mah kalau cuma pilek sedikit pun pasti aku bela-belain berobat tiap hari!" timpal pemuda lainnya tertawa.
"Jangankan berobat, disuruh megangin tas medisnya seharian pun aku mah mau banget!" sahut Ujang menimpali sambil terkekeh.
Mendengar godaan para pemuda desa itu, rahang Revan seketika mengeras kaku. Ia merapikan posisi berdirinya, melipat kedua tangan di dada dengan tatapan mata elang yang mendadak amat dingin. Senyum tipis yang sarat akan rasa kepemilikan mengukir bibirnya, membuat para pemuda di sebelahnya perlahan menelan ludah—merasakan aura intimidasi yang mendadak pekat dari sang komandan.
"Eh, santai, Bang Revan... Kita cuma bercanda!" celetuk salah satu pemuda cepat-cepat sambil mundur dua langkah, salah tingkah melihat tatapan dingin sang komandan elit yang menusuk tajam.
Di pelataran Polindes, Nara berdiri anggun di hadapan warga. Dengan senyum manis dan suara jernihnya yang menenangkan, ia berseru hangat, "Ibu-ibu, Bapak-bapak, mulai saat ini kalau ada keluhan sakit atau butuh pemeriksaan, langsung datang ke Polindes ya! Saya siap melayani sepenuh hati."
Sorak-sorai dan tepuk tangan meriah dari warga menyambut ucapan sang bidan desa baru.
Aktivitas hari pertama itu berjalan amat padat. Sejak pagi, warga berbondong-bondong mengantre—mulai dari lansia yang ingin cek tensi, ibu hamil, hingga anak-anak. Nara begitu sibuk merawat dan mendengarkan keluhan pasien satu per satu dengan penuh ketelitian, hingga ia sama sekali tak menyadari bahwa jarum jam sudah bergeser jauh. Bahkan bekal nasi dalam rantang dari Bu Sumi masih tersentuh sedikit pun di atas meja.
Tiba-tiba, sebuah bayangan tegap berdiri memayungi meja periksa Nara. Revan melangkah maju, menatap piring dan rantang yang masih tertutup rapi.
"Sudah jam sepuluh, Nara," tekan Revan dengan nada berat dan tegas. "Makan dulu. Nanti kalau kamu yang sakit, satu kampung ini yang repot."
Nara mendongak, terkejut dipotong begitu saja di depan pasiennya. Bibirnya mengatup rapat, lalu ia melempar pandangan sinis yang menatap tajam ke arah Revan. "Apaan sih, Bang Revan?" bisiknya menahan kekesalan atas kelakuan protektif pria itu yang dinilainya terlalu mencolok.
Namun, seorang nenek yang sedang diperiksa Nara justru terkekeh pelan dan membela Revan. "Benar itu kata Nak Revan, Bu Bidan. Makan dulu... Kami sabar menunggu ."
Wajah Nara seketika melemah mendengar celetukan sang pasien. Tak mau memperpanjang perdebatan di depan warga yang mulai tersenyum-senyum goda, Nara akhirnya mengalah.
Ia berbalik menatap perawat laki-laki di sampingnya. "Mas, kamu lanjut periksa tensi sama berat badan warga dulu ya. Saya makan dulu sebentar," seru Nara profesional, lalu bangkit berdiri membawa rantangnya ke area belakang Polindes, mengekor di balik langkah Revan yang tersenyum tipis penuh kemenangan.
Nara pergi dengan wajah penuh kesal ...belum sempat Nara bicara ..
Revan sudah ... menyuruh nya duduk dan makan....
Tak lama Devan melihat seorang laki laki turun dari bukit belakang...
Matanya melihat seketika gerakan yang lincah...bukan seperti orang biasa ....