Setelah ditinggalkan oleh istrinya dan kehilangan putri kecilnya Bai Xinxin yang berusia enam tahun, hidup Bai Ruchen berubah sepenuhnya. Di tengah kesepian dan rasa bersalah, sebuah cahaya muncul — Sistem Pria Merana, sistem misterius yang memberinya kekuatan luar biasa setiap kali ia melakukan login harian.Namun, alih-alih menggunakan kekuatan itu untuk dirinya sendiri, Bai Ruchen mengirimkan setiap hasil login kepada Xinxin, yang sedang berkelana di dunia untuk mencari ibunya. Tanpa disadari, setiap hadiah yang diterima sang putri membuatnya tumbuh menjadi sosok kuat yang dikenal seluruh benua.Sementara dunia mulai mengguncang oleh nama “Dewa Tersembunyi”, Bai Ruchen hanya tersenyum — karena bagi dirinya, semua kekuatan itu hanyalah cara untuk melindungi putrinya dari jauh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Racun Raja Yama Jahat, Harapan Nyaris Padam
Kereta berhenti di mulut lembah. Su Wanqing menggandeng tangan Bai Xinxin dan melangkah masuk. Mu Qingyu mengikuti dari dekat, tangannya siaga di gagang pedang. Di belakang mereka, beberapa ahli Tingkat Bumi menggotong Lei Zhentian yang sekarat di atas tandu.
Di tengah lembah hanya ada satu pondok kayu kecil yang dikelilingi tanaman obat langka. Aroma herbalnya sekilas menenangkan, tetapi dinding tebing di sekelilingnya penuh kalajengking, kelabang, dan ular berbisa. Bulu kuduk mereka berdiri.
Su Wanqing berhenti di depan pintu dan menangkupkan tangan. "Junior membawa Guru, Lei Zhentian, untuk menemui Tabib Suci Qiu!"
Pintu pondok terbuka sendiri tanpa tertiup angin.
"Heh heh. Gadis kecil dulu kini jadi Permaisuri yang mengguncang dunia, sedangkan aku masih terkurung di lembah ini. Masuklah!"
Su Wanqing masuk tanpa ragu, tetap menggandeng Xinxin. Di dalam, seorang pemuda berpakaian mewah duduk di kursi roda sambil menulis. Usianya tampak dua puluhan, dengan tanda merah tua di antara alisnya. Kakinya lunglai seperti lumpuh. Dialah Qiu Xuanfeng, tabib terhebat zaman ini.
"Senior masih awet muda seperti biasa," ujar Su Wanqing sambil memberi hormat.
Ia tahu betul, Qiu Xuanfeng adalah salah satu dari sedikit ahli Tingkat Surga, dan usianya sudah lebih dari tiga ratus tahun.
"Permaisuri terlalu memuji. Orang tua ini sudah hampir mati," jawab Qiu Xuanfeng. Pandangannya jatuh pada Xinxin dan ia sedikit terkejut. "Anak ini... jodohnya denganmu kuat sekali."
"Aku bertemu dengannya di jalan, jadi kubawa serta."
Saat mereka berbincang, Xinxin berjalan pelan ke samping kursi roda. Ia mengulurkan tangan kecilnya, menyentuh kaki Qiu Xuanfeng, lalu cepat-cepat menariknya kembali karena takut menyakiti.
Wajah Su Wanqing dan Mu Qingyu langsung tegang. Qiu Xuanfeng berwatak lembut, tetapi paling benci kakinya disebut, apalagi disentuh. Su Wanqing sudah hendak menarik Xinxin mundur.
"Apakah ini sakit?" tanya Xinxin, matanya penuh cemas.
"Sudah lama tidak sakit. Kaki ini memang begini sejak lahir."
Tatapan polos itu membuat Qiu Xuanfeng termenung sejenak. Ia tidak marah. Ia malah mengelus kepala si kecil dengan sayang.
"Kakak kenapa tidak berobat ke dokter?"
"Kakak? Sudah lama aku tidak dipanggil begitu. Nak, kakek ini sudah berumur tiga ratus lima puluh enam tahun. Soal dokter, siapa di dunia ini yang lebih pandai dariku? Kalau aku saja tidak bisa menyembuhkannya, siapa lagi?"
"Oh, tiga ratus tahun lebih tapi masih semuda Ayahku. Ayahku sendiri sudah lima ratus delapan puluh tahun lebih," kata Xinxin ringan, tanpa terkejut sedikit pun.
Hening beberapa detik, lalu semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Nak, tahukah kau, orang yang hidup lima ratus tahun itu sudah melampaui Tingkat Surga? Dia tak terkalahkan di bawah langit! Masa ada monster setua itu? Masih kecil sudah pandai membual!"
Xinxin cemberut. "Ayahku memang berumur lebih dari lima ratus tahun, dan dulu dia orang terkuat di dunia! Dia juga dokter, bisa menyembuhkan penyakit apa saja. Tahun lalu kaki Ah Niu pincang seperti kaki Kakak, dan Ayah menyembuhkannya. Mau Xinxin ajak Kakak menemui Ayah?"
Sejak kecil Xinxin memang berhati lembut. Melihat kaki Qiu Xuanfeng, ia teringat Ah Niu dan jadi iba.
"Ah Niu? Siapa itu?" Qiu Xuanfeng mulai penasaran.
"Sapi jantan milik Paman Wang di kaki gunung. Ayah menyembuhkannya hanya dengan beberapa papan kayu dan sedikit ramuan. Ada juga Ah Huang, Da Hei, dan Da E dari keluarga lain. Semuanya sembuh!" Xinxin menepuk dada dengan bangga.
Wajah Qiu Xuanfeng memerah. Ia, tabib terhebat yang dihormati seluruh dunia persilatan, disamakan dengan seekor sapi?
"Jadi ayahmu dokter hewan di desamu?"
Melihat tabib itu melotot, Su Wanqing buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Senior, ucapan anak kecil jangan dianggap serius. Kedatangan kami membawa urusan penting."
Qiu Xuanfeng memutar mata. "Dia cuma anak kecil, buat apa aku berdebat? Lagi pula dia tulus. Sudah lama tidak ada yang peduli pada orang tua ini, rasanya menyenangkan. Sudahlah, bawa masuk si tua itu. Membiarkan teman lama berjemur di luar rasanya kurang pantas."
Mu Qingyu segera menyuruh orang membawa Lei Zhentian masuk. Melihat temannya hampir tak bernyawa, Qiu Xuanfeng malah tertawa.
"Oh! Orang yang dulu suka menodongkan pedang ke leherku dan merebut paha ayam dari meja arak, sekarang tidak segarang dulu, ya? Sepertinya kau akan terkubur lebih dulu dariku. Kalau begitu, aku sendiri yang akan menggali kuburanmu."
Lei Zhentian mendengus dingin dan membuang muka. "Hmph! Aku datang untuk berobat, bukan untuk kau ejek. Mau mengobati atau tidak, satu kata saja!"
"Membosankan. Kau keras kepala sampai mati."
Dua ahli Tingkat Surga bertengkar seperti remaja. Su Wanqing dan Mu Qingyu hanya tersenyum. Laki-laki memang tetap kekanak-kanakan sampai tua.
Meski begitu, Qiu Xuanfeng tidak main-main. Ia menjentikkan pergelangan tangan, dan seutas benang emas melesat melilit pergelangan Lei Zhentian. Tiga jarinya bertumpu pada benang itu untuk memeriksa denyut. Pondok mendadak sunyi sampai detak jantung terdengar. Wajah sang tabib perlahan muram.
Beberapa menit kemudian ia menarik benangnya.
"Apakah masih ada harapan?" tanya Lei Zhentian lemah.
"Racunnya sudah masuk ke lima organ dalam dan menjalar sampai jantung. Ini sulit."
Su Wanqing mengerutkan kening. Di masa genting begini, Dewa Pedang tidak boleh tumbang. "Senior, sulit berarti masih ada peluang. Kalau Guru bisa sembuh, apa pun yang Anda butuhkan akan saya sediakan."
"Dia tidak sakit biasa. Dia diracuni," kata Qiu Xuanfeng dengan suara berat.
"Diracuni?!" seru Mu Qingyu.
Semua tertegun. Hanya mata Xinxin yang bergerak ke sana kemari, bolak-balik antara Su Wanqing dan Lei Zhentian. Kakak cantik ini jelas sangat menyayangi kakek tua itu, dan dia baik sekali pada Xinxin, bahkan mengizinkannya menunggang kuda. Ayah juga pernah bilang, anak perempuan harus suka menolong. Xinxin pun merogoh karungnya, hendak mengeluarkan pil penawar segala racun peninggalan ayahnya.
Su Wanqing menariknya kembali. "Xinxin, jangan main-main sekarang."
Ia lalu menatap Qiu Xuanfeng. "Senior, Guru berada di puncak Tingkat Surga. Racun apa yang sanggup mencelakainya?"
Xinxin cemberut dan berdiri patuh di sampingnya.
"Satu jenis racun memang tidak akan sanggup. Tapi bagaimana kalau seratus jenis racun dicampur dan diberikan sedikit demi sedikit dalam waktu lama?"
Semua orang terkejut. Para ahli Tingkat Bumi sampai menahan napas. "Siapa yang berani meracuni Guru?"
"Aku belum tahu. Tapi pelakunya pasti orang yang sangat dekat dengan Lei Zhentian."
Su Wanqing terdiam. Matanya melirik Lei Zhentian yang terkulai, benaknya terus bertanya-tanya siapa pengkhianat itu. Tak menemukan jawaban, ia menghela napas. "Racun jenis apa ini, Senior? Bagaimana cara mengobatinya?"
Qiu Xuanfeng menusuk jari Lei Zhentian dengan jarum perak dan memeras setetes darah hitam. Jarum itu langsung berubah hitam pekat. Ia mengendus darah yang berbau busuk itu, lalu wajahnya mengeras.
"Aku tidak mungkin salah. Ini 'Raja Yama Jahat' milik Luo Jinhai!"
Semua orang tersentak. Lei Zhentian pun diliputi keputusasaan.
"Raja Yama Jahat? Racun pusaka klan Luo yang dibuat dari seratus delapan serangga berbisa dan tujuh puluh dua tanaman beracun? Yang seribu kali lebih mematikan daripada darah Bangau Mahkota Merah dan dijuluki penyakit tak tersembuhkan?"
"Kalau begitu, Guru..."