Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Tebasan Amarah sang Penyihir Agung dan Gugurnya Kesetiaan
"Kenapa kau sudah kembali? Bukankah kau bilang akan pergi ke perbatasan bersama Seo Jun?"
Di sisi lain, Jin So Hwa yang batinnya dipenuhi desakan moral setelah melihat kepanikan anak buah Soi tadi, akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa yang ia ketahui kepada Han Seol. Ia melangkah mendekat, duduk di hadapan suaminya dengan tatapan mata yang teramat serius.
Bahkan, ia pun akhirnya memberanikan diri untuk berterus terang terkait sebuah rahasia besar mengenai Baek Seo Jun yang tanpa sengaja sudah ia ketahui dari pengamatan mata spiritualnya belakangan ini.
"Han Seol, perjalanan kami dibatalkan karena ada bahaya besar yang menimpa wanita bernama Soi," ucap Jin So Hwa dengan nada suara yang bergetar.
"Dan ada hal penting yang harus kau ketahui tentang sahabatmu. Selama ini, aku bisa melihat dengan sangat jelas adanya penyakit parah yang teramat mengerikan, yang ditimbulkan oleh aliran energi misterius berwarna hitam pekat di dalam pusat energi spiritual tubuh Baek Seo Jun."
Han Seol menyipitkan matanya, fokusnya terkunci sepenuhnya pada kalimat So Hwa. "Energi misterius? Apa maksudmu?"
So Hwa menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam manik mata Han Seol untuk meyakinkannya. "Energi hitam itu terus mengikis kekuatannya dari dalam. Dan menurut seluruh dugaanku berdasarkan buku kuno Jinyowon yang pernah kubaca... energi misterius yang sedang bersarang di dalam tubuh Baek Seo Jun itulah yang biasa disebut oleh para penyihir sebagai parasit cacing darah terkutuk. Sahabatmu sedang berada di ambang kematian, Han Seol!"
Mendengar pengakuan jujur dan frontal dari mulut Jin So Hwa mengenai kondisi sekarat Baek Seo Jun yang selama ini disembunyikan rapat-rapat dari dunia, Han Seol seketika mematung di kursinya. Dadanya bergemuruh hebat, menyadari bahwa kabut konspirasi Jin Wu kini telah meracuni orang-orang terdekatnya jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan.
****
Derap langkah kaki kuda yang dipacu kencang membelah kesunyian malam Desa Gaima. Baek Seo Jun akhirnya sampai di depan rumah judi terselubung milik Soi. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia menendang pintu kayu hingga hancur berkeping-keping.
BRAKK!
Pandangan mata Seo Jun seketika menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Di tengah ruangan yang berantakan, Soi tampak terduduk lemas di lantai dengan tubuh yang sudah tidak berdaya, berselimutkan luka memar akibat siksaan keji.
Jiwa Seo Jun seketika bergemuruh hebat. Rasa amarah yang membakar dada membuatnya langsung mengamuk tanpa kendali. Dengan gerakan pedang yang cepat dan ganas, ia menerjang maju, menghajar Jung Min dan kawan-kawan pengawal Cheonbugwan secara membabi buta.
Namun, takdir berkata lain malam itu. Tepat ketika ia berhasil mendesak dua pengawal mundur, sebuah rasa sakit yang luar biasa dahsyat mendadak menghantam ulu hatinya.
Efek dari parasit cacing darah yang selama tiga tahun ini bersarang di pusat energinya kini telah mencapai puncaknya. Denyut sihir hitam itu sontak membuat seluruh persendian Seo Jun melemah seketika. Pedangnya terlepas dari genggaman, dan ia ambruk berlutut di atas tanah batu dengan napas terengah-engah.
Melihat fenomena janggal tersebut, mata Jung Min seketika berbinar licik. Sebagai tangan kanan Jin Wu, ia langsung tanggap dan tahu secara mutlak dari gejala fisik tersebut bahwa cacing darah yang mereka cari selama ini ternyata telah berpindah ke dalam tubuh Baek Seo Jun.
"Jadi... kau yang menampung parasit itu, Tuan Muda Baek?" seringai Jung Min melebar penuh kemenangan.
Kesempatan emas itu tidak ia sia-siakan begitu saja. Demi membungkam saksi dan melenyapkan ancaman, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap membiarkan mata pisau itu menebas leher Seo Jun yang sudah tak berdaya.
Tepat pada detik-detik kritis saat pedang Jung Min hendak menebas ke arah kepala Seo Jun, sebuah pergerakan nekat terjadi. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang ia miliki, Soi bangkit berdiri dan melompat maju menghalangi pergerakan Jung Min.
JLEB!
Soi berhasil menusukkan sebilah belati kecil tepat ke arah pundak Jung Min, membuat tebasan pedang pria itu meleset. Namun, harga yang harus dibayar teramat mahal. Jung Min yang murka seketika memutar sikunya dan menghantam dada Soi dengan pukulan bertenaga sihir gichul yang telak.
DUAKK! BRUKK!
Tubuh ramping Soi terhempas hebat ke udara, melayang beberapa meter hingga menabrak tumpukan meja judi kayu di sudut ruangan hingga hancur berkeping-keping.
Hantaman keras itu berhasil membuat nyawa Seo Jun terselamatkan dari tebasan maut. Meski begitu, benturan dahsyat tersebut juga menjadi titik akhir dari perjalanan hidup Soi di dunia.
Wanita itu terkulai diam di antara puing-puing kayu dengan senyuman samar di bibirnya, gugur demi melindungi pria yang teramat dicintainya.
"SOOII!" jerit Baek Seo Jun dengan suara serak, air mata kemarahan menetes di pipinya.
Melihat wanita itu telah mengorbankan nyawanya demi keselamatannya, Seo Jun menolak untuk menyerah. Ia mengerahkan seluruh sisa energi kehidupan yang tersisa di dalam nadinya untuk kembali bangkit berdiri, bersiap melawan Jung Min dan sisa pasukan yang ada.
Namun tetap saja sia-sia. Parasit cacing darah di dalam dadanya benar-benar tidak memberinya ampun sedikit pun; makhluk gaib itu terus menggerogoti dan menghisap habis sisa energi spiritualnya dari dalam, membuat tubuh Seo Jun kembali limbung dan batuk darah.
Melihat kondisi mangsanya yang sudah di ujung tanduk, Jung Min yang menahan sakit di pundaknya melangkah mendekat dengan pedang terhunus kembali. Ia berniat memanfaatkan momen lemah tersebut untuk benar-benar mengakhiri hidup Baek Seo Jun saat itu juga.
WUSSSHHH! BLAMMM!
Tiba-tiba, seluruh dinding depan rumah judi itu hancur berantakan diledakkan oleh gelombang energi berwarna biru pekat yang teramat dahsyat. Hawa dingin yang luar biasa mencekam seketika menyerbu masuk, membekukan genangan darah di lantai dalam sekejap.
Dari balik kepulan abu kehancuran, sesosok pria berjubah hitam pekat melangkah masuk dengan aura membunuh (dark gichul) yang membubung tinggi hingga ke langit-langit. Han Seol telah sampai.
"Tak seorang pun di sini... yang bisa keluar dari ruangan ini hidup-hidup," ucap Han Seol dengan suara yang bergetar hebat, menahan gelombang emosi dan amarah yang meledak melihat tubuh sahabat karibnya terluka parah bersimbah darah.
Sring! Sring!
Tanpa segan-segan dan tanpa memberikan kesempatan sepatah kata pun bagi musuh untuk membela diri, Han Seol langsung menghunuskan pedang pembunuh bayangannya.
Langkah kakinya bergerak secepat kilat. Dengan gerakan tebasan yang presisi dan dipenuhi murka mutlak, ia menebas seluruh pasukan elite Cheonbugwan satu demi satu. Suara jeritan kematian bergema memecah malam, membuat seluruh anak buah Jin Wu ambruk tewas berserakan di atas lantai tempat judi dalam hitungan detik.
Namun, di antara tumpukan mayat tersebut, Han Seol sengaja menyisakan Jung Min sebagai orang terakhir yang akan ia bunuh.
Han Seol melangkah maju dengan tatapan mata sedingin es kutub. Ia mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram dan mencekik leher Jung Min dengan kekuatan raksasa, lalu mengangkat tubuh pria itu hingga kakinya tergantung di udara. Jung Min yang sudah tak berdaya hanya bisa megap-megap kehabisan napas.
"Katakan padaku," desis Han Seol dengan suara rendah yang menekan dada. "Dari mana parasit cacing darah yang bersarang di tubuh Seo Jun itu berasal?"
Dalam cengkeraman maut yang mengerikan itu, Jung Min yang ketakutan setengah mati akhirnya terpaksa membuka mulutnya. Dari jawaban terbata-bata yang keluar dari bibir Jung Min, Han Seol akhirnya menemukan fakta mutlak yang mengonfirmasi seluruh kecurigaannya selama ini—bahwa parasit cacing darah tersebut memang murni berasal dari pasokan rahasia milik Jin Wu untuk mengendalikan orang-orang di kota.
Setelah selesai mendapatkan informasi yang ia butuhkan, Han Seol tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Dengan satu sentakan tangan yang kuat, ia melempar tubuh Jung Min dengan keras ke sudut dinding batu hingga tulang lehernya patah, membuat pria itu tewas seketika tak bernyawa.
Usai membersihkan seluruh musuh di ruangan tersebut, Han Seol segera menyarungkan pedangnya dan berlutut di samping tubuh Baek Seo Jun yang sudah berada dalam kondisi kritis di ambang kematian.
Tanpa membuang waktu lagi, Han Seol segera membopong tubuh sahabatnya itu, melesat secepat angin keluar dari Desa Gaima. Malam itu juga, Seo Jun yang sedang sekarat akhirnya dibawa masuk ke dalam kompleks medis Seojukwon untuk segera mendapatkan perawatan intensif dan diobati secara langsung oleh tabib agung terpercaya mereka, Master Baek Si On.
****
Hawa dingin malam kian menusuk ke dalam dinding-dinding kayu Seojukwon. Di dalam ruang perawatan utama yang berpenerangan temaram, aroma minyak herbal dan ramuan penenang menguar pekat di udara.
Suasana begitu sunyi, hanya diinterupsi oleh deru napas pendek dan berat dari Baek Seo Jun yang terbaring lemah di atas ranjang. Wajah pemuda tampan itu kini seputih kain kafan, dengan urat-urat hitam yang mulai menjalar samar dari area dada hingga ke lehernya—sebuah pertanda visual bahwa parasit sihir hitam di dalam tubuhnya telah menguasai pusat aliran darah.
Master Baek Si On berdiri mematung di sisi ranjang. Pria sepuh yang dikenal sebagai salah satu penyihir paling senior sekaligus tabib spiritual teragung di Negeri Niskala itu menatap kondisi cucunya dengan pandangan yang teramat prihatin.
Jemarinya yang keriput perlahan menyentuh pergelangan tangan Seo Jun, mencoba mengalirkan energi gichul pelindung untuk memeriksa bagian dalam tubuh sang pemuda.
Namun, baru beberapa jengkal energi itu masuk, Master Baek Si On langsung menarik kembali tangannya dengan napas tercekat. Matanya membelalak, menyembunyikan rasa syok dan duka yang teramat mendalam di balik gurat keriput wajahnya.
Sebagai seorang penyihir senior yang telah melewati ratusan pertempuran mistis dan memahami anatomi sihir terlarang, ia menyadari sebuah kenyataan yang teramat pahit. Struktur parasit cacing darah tersebut tidak lagi menempel di permukaan daging.
Makhluk gaib itu telah bergerak terlalu jauh selama tiga tahun ini, menggali hingga ke bagian terdalam dan kini telah menyatu seutuhnya dengan inti sumber energi kehidupan (gichul) milik Baek Seo Jun.
"Bagaimana keadaannya, Master?" suara Han Seol memecah keheningan dari sudut ruangan.
Pria berjubah hitam itu berdiri tegak dengan tatapan mata yang tak beralih dari tubuh sahabatnya. Di balik wajah datarnya yang sedingin es, tersimpan kecemasan yang luar biasa besar.
Master Baek Si On perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Han Seol. Bahu pria sepuh itu tampak merosot lemas, seolah seluruh wibawa dan kekuatannya telah luntur ditelan malam. Ia menggelengkan kepalanya dengan gurat keputusasaan yang mutlak.
"Aku... aku tidak bisa membantu banyak, Han Seol,"