NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Empat Hari Sebelum Seleksi

Hari keempat belas dimulai tanpa teriakan.

Tidak ada sprint.

Tidak ada circuit.

Tidak ada barbel tujuh puluh kilogram yang menunggu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 seperti musuh lama.

Ketika 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memasuki ruang latihan keluarga Greyad, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sudah berdiri di tengah matras sambil memegang sebuah tablet.

“𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘴𝘢𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘱𝘰𝘳? 𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘵𝘢𝘣𝘭𝘦𝘵 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengangkat kepala.

“𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘱𝘰𝘳. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘦𝘷𝘢𝘭𝘶𝘢𝘴𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 meletakkan tas.

“𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯? 𝘗𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢.”

“𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶.” 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mematikan layar tablet. “𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘳𝘦𝘬𝘴𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memahami maksudnya.

Bukan kemampuan melakukan gerakan setelah baru saja dikoreksi.

Bukan teknik ketika tubuh masih segar.

Melainkan kebiasaan yang mulai tertanam.

Ia berjalan ke tengah matras.

“𝘖𝘬𝘦. 𝘔𝘢𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢?”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menunjuk lantai.

“𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪. 𝘉𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hampir tertawa.

Hari pertama mereka juga dimulai dengan perintah yang sama.

Kali ini ia tidak protes.

Kaki kiri maju.

Kaki kanan sedikit ke belakang.

Lutut tidak terkunci.

Pusat gravitasi turun secukupnya.

Dagu masuk.

Tangan naik.

Guard terbentuk.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 berjalan mengitarinya.

Tidak ada koreksi selama beberapa detik.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 akhirnya bertanya, “𝘒𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘤𝘶𝘳𝘪𝘨𝘢. 𝘚𝘦𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶?”

“𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘨𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶.”

“𝘞𝘢𝘩. 𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘯? 𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘬𝘶𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢.”

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mendorong bahunya.

Tubuh 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bergeser sedikit, tetapi kakinya tidak kehilangan posisi.

“𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘥𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘳𝘢𝘴.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersenyum. “𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?”

“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘫𝘦𝘭𝘦𝘬.”

“𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘦𝘭𝘦𝘬. 𝘗𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengabaikannya.

Selanjutnya mereka menguji guard.

Jab ringan datang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menahan.

Straight.

Ia melakukan parry sederhana.

Hook pelan.

Guard-nya kembali naik setelah menerima serangan.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sengaja mempercepat kombinasi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bertahan beberapa detik.

Lalu pukulan ringan menyentuh pipinya.

“𝘛𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵,” kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. “𝘗𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangguk.

Saat ritme meningkat, responsnya masih sering kalah cepat.

Namun tangannya tidak lagi jatuh begitu saja setelah menyerang.

Tubuhnya mulai tahu ke mana harus kembali.

---

Footwork menjadi bagian berikutnya.

Maju.

Mundur.

Lateral.

Pivot.

Perubahan sudut.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 beberapa kali menekan ruang geraknya agar 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terpaksa berpindah posisi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak lagi menyilangkan kaki seperti minggu pertama.

Langkahnya lebih pendek.

Lebih hemat.

Ketika 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 maju, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak langsung meloncat menjauh.

Ia bergerak secukupnya untuk menjaga jarak.

Namun setelah hampir dua menit tanpa jeda, napasnya mulai berat.

Langkah kanan terlambat.

Posisinya sedikit terbuka.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 langsung menghentikan latihan.

“𝘕𝘢𝘩, 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tahu apa maksudnya.

“𝘓𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘯? 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴, 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯.”

“𝘉𝘦𝘵𝘶𝘭. 𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘶 𝘳𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘢𝘱𝘦𝘬 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨.” 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mencatat sesuatu. “𝘍𝘰𝘯𝘥𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘢𝘥𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘰𝘵𝘰𝘮𝘢𝘵𝘪𝘴, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerima penilaian itu tanpa membantah.

Kalau dulu mungkin ia hanya akan melihat bagian mulai ada.

Sekarang bagian belum otomatis justru terasa lebih penting.

---

Defense dan offense diuji berikutnya.

Block.

Parry.

Slip.

Dodge pendek.

Lalu kombinasi pukulan sederhana.

Jab.

Straight.

Cross.

Basic hook.

Pukulannya jauh berbeda dibanding hari pertama.

Tidak lagi selalu dilempar dengan seluruh tenaga.

Rotasi pinggul mulai menyatu dengan gerakan.

Tangan kembali ke guard.

Tenaga tidak terlalu banyak bocor karena gerakan berlebihan.

Namun 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 masih beberapa kali mengetuk dahinya dengan target pad.

“𝘏𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘩𝘰𝘰𝘬, 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦 𝘨𝘶𝘢𝘳𝘥.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengulang.

“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮.”

Ulang.

“𝘑𝘢𝘨𝘢 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬𝘮𝘶.”

Ulang.

“𝘕𝘢𝘩. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti.

“𝘒𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘓𝘦𝘷𝘦𝘭 𝘈.”

“𝘚𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘶𝘩𝘦𝘮𝘢𝘵. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘫𝘪, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘬.”

“𝘈𝘱𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘬?”

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘳𝘪𝘴𝘪𝘬𝘰.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa kecil.

Dua minggu terakhir melelahkan.

Tetapi untuk pertama kalinya latihan tidak terasa seperti perlombaan melawan waktu.

Ia tidak lagi berusaha menjejalkan sepuluh tahun ke dalam beberapa hari.

Ia hanya mencoba memastikan setiap gerakan memiliki alasan.

---

Setelah istirahat singkat, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 meletakkan tablet.

“𝘛𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melihat sarung tangan sparring yang dilempar kepadanya.

“𝘚𝘱𝘢𝘳𝘳𝘪𝘯𝘨? 𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘩𝘢𝘵𝘪.”

“𝘐𝘯𝘪 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘦𝘷𝘢𝘭𝘶𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨. 𝘎𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘧𝘢𝘭, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭𝘮𝘶.”

Keduanya memakai perlengkapan.

Tidak ada Regalia.

Tidak ada teknik supernatural.

Tidak ada kemampuan khusus.

Hanya apa yang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pelajari selama empat belas hari.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengangkat tangan.

“𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak menyerang lebih dulu.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyadarinya.

Senyum tipis muncul.

Lalu jab datang.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 block.

Straight menyusul.

Ia bergerak keluar dari garis serangan.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 maju.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mundur satu langkah, tetapi tidak kehilangan stance.

Jab lain datang.

Feint.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hampir bereaksi.

Hampir.

Namun ia menahan.

Serangan sebenarnya datang dari kanan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terlambat melakukan parry.

Sarung tangan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyentuh bahunya.

“𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘨𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘤𝘢. 𝘛𝘪𝘱𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak menjawab.

Mereka kembali bergerak.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 meningkatkan tempo.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mulai kesulitan.

Satu pukulan masuk ke sisi tubuh.

Lalu satu lagi ke guard.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dipaksa mundur.

Dinding matras semakin dekat.

Hari pertama, ia mungkin terus mundur sampai tidak punya ruang.

Kali ini 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melihat posisi 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

Kaki depan.

Arah tubuh.

Sudut kosong di sisi kiri.

Ketika 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 maju—

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melakukan pivot.

Tubuhnya keluar dari garis tekanan.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 harus memutar posisi.

Untuk sesaat, jaraknya terbuka.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak membuang kesempatan.

Jab pendek.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menangkis.

Straight menyusul.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menghindar.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak mengejar membabi buta.

Ia kembali ke guard.

Mata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sedikit berubah.

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘉𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bahkan belum sempat menikmati pujian itu ketika serangan berikutnya datang.

Jab.

Cross.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 block pertama.

Menghindari kedua.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengubah sudut.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membaca bahunya terlambat—

Pak!

Sarung tangan mengenai pelindung dadanya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mundur.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 maju lagi.

Kali ini 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melihat perubahan berat badan.

Ia bergerak sedikit ke samping.

Serangan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 melewatinya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melepaskan counter.

Tap!

Sarung tangannya mengenai sisi torso 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 dengan cukup bersih.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik tangan kembali.

Tidak merayakan.

Tidak berhenti.

Guard tetap naik.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 justru tersenyum.

Beberapa detik kemudian—

Bruk!

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali terjatuh ke matras.

Ia menatap langit-langit.

“𝘒𝘦𝘫𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘤𝘰𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳, 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 melepas sarung tangan.

“𝘗𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘯𝘢 𝘤𝘰𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 duduk sambil terengah-engah.

“𝘑𝘢𝘥𝘪… 𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘺𝘢.”

“𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶.”

“𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengulurkan tangan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerimanya dan bangkit.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menatapnya dari atas ke bawah.

“𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬.”

“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘱𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯.”

“𝘛𝘢𝘱𝘪…”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menunggu.

“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa.

Entah kenapa, itu terasa seperti pujian terbaik yang ia terima selama dua minggu.

---

Setelah mereka duduk di pinggir matras, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 membuka kembali tablet.

“𝘒𝘶𝘣𝘢𝘤𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭𝘯𝘺𝘢, 𝘺𝘢. 𝘚𝘵𝘢𝘯𝘤𝘦 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘵𝘢𝘣𝘪𝘭. 𝘎𝘶𝘢𝘳𝘥 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘍𝘰𝘰𝘵𝘸𝘰𝘳𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢.”

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘳𝘢𝘩? 𝘐𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘩𝘪𝘯𝘢𝘢𝘯?”

“𝘋𝘶𝘢-𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘩.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 diam.

“𝘋𝘦𝘧𝘦𝘯𝘴𝘦-𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳, 𝘰𝘧𝘧𝘦𝘯𝘴𝘦 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢. 𝘛𝘪𝘮𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘰𝘯𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯. 𝘒𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴, 𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘣𝘢𝘬.” 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menggulir catatannya. “𝘉𝘢𝘵𝘵𝘭𝘦 𝘐𝘘?”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sudah tahu jawabannya.

“𝘉𝘶𝘳𝘶𝘬.”

“𝘙𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩,” koreksi 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘶𝘱𝘰𝘫𝘰𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘷𝘰𝘵, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴. 𝘈𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangguk.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mematikan tablet.

“𝘔𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬.”

“𝘔𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪? 𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴.”

“𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatapnya.

“𝘙𝘦𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳𝘺-𝘮𝘶. 𝘈𝘥𝘢𝘱𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬𝘮𝘶. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘰𝘳𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳𝘮𝘶.” 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 bersandar. “𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘴𝘰𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘣𝘢𝘬. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak menyela.

“𝘋𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶.”

Nada 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menjadi serius.

“𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪, 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘶𝘮𝘶𝘳 𝘭𝘪𝘮𝘢, 𝘦𝘯𝘢𝘮, 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘬𝘶𝘳𝘪𝘬𝘶𝘭𝘶𝘮 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭. 𝘚𝘱𝘢𝘳𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯. 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢.”

Ia menunjuk 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

“𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘰𝘵𝘦𝘯𝘴𝘪, 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘶𝘪.”

Kemudian jari itu turun.

“𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘰𝘵𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯.”

Dulu, kalimat seperti itu mungkin terasa mengecilkan.

Sekarang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 justru menyimpannya.

“𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪, 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘯𝘢𝘱𝘢𝘴𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢.”

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengangkat alis.

“𝘛𝘶𝘮𝘣𝘦𝘯. 𝘒𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘩𝘶.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melihat matras tempat dirinya berkali-kali jatuh selama dua minggu.

Sebelum bertemu BETA, ia berpikir menjadi lebih kuat adalah jawabannya.

Setelah nyaris mati, ia merasa harus belajar bertarung.

Sekarang ia memahami sesuatu yang lebih luas.

Hunter bukan seseorang yang hanya mampu memukul lebih keras.

Hunter harus tahu kapan menyerang.

Kapan mundur.

Bagaimana membaca situasi.

Bagaimana menjaga dirinya tetap hidup cukup lama untuk melindungi orang lain.

Semangatnya tidak berkurang.

Sekarang semangat itu hanya memiliki arah.

---

Malam hari, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berdiri di depan cermin kamarnya.

Bekas gigitan BETA masih terlihat samar di bahu kiri.

Tangannya menyentuh bekas itu.

Tidak sakit.

Tetapi ingatannya masih jelas.

Di meja terdapat jurnal latihan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membuka halaman berikutnya.

Ia tidak menulis program brutal.

Tidak ada target ratusan repetisi.

Empat hari terakhir sebelum seleksi sudah ia susun sederhana.

Recovery.

Stretching.

Latihan ringan.

Review Basic Combat.

Membaca ulang teori seleksi.

Tidur cukup.

Menjaga tubuh dalam kondisi terbaik.

Beberapa minggu lalu, dirinya mungkin akan menganggap empat hari tanpa latihan keras sebagai pemborosan.

Sekarang ia tahu—

datang ke seleksi dalam keadaan kelelahan hanya demi merasa sudah berusaha lebih keras adalah kebodohan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menutup jurnal.

Di sampingnya terdapat dokumen pendaftaran Seleksi Hunter.

Ia mengambilnya.

Tanggal pelaksanaan tercetak jelas di bagian atas.

Empat hari lagi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap bayangannya sendiri di cermin.

Dulu, nama 𝗭𝗲𝗿𝗼 adalah pengingat bahwa CORE-nya tidak pernah bergerak dari nol persen.

Besok lusa, mungkin masih banyak orang yang akan memanggilnya dengan nama itu.

Tidak masalah.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggenggam dokumen tersebut.

“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘶𝘩.”

Ia mengembuskan napas perlahan.

“𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪…”

Tatapannya jatuh pada bekas luka di bahunya.

Kemudian kembali ke dokumen seleksi.

“…𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪.”

Empat hari lagi, gerbang yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia pandangi dari kejauhan akan terbuka.

Dan untuk pertama kalinya—

𝗭𝗲𝗿𝗼 akan mencoba masuk melaluinya.

---

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!