NovelToon NovelToon
DI BALIK SENYUM VARA

DI BALIK SENYUM VARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia restoran

"Dirga sudah pergi, Nak?"

Diana menghampiri menantunya yang masih terdiam di teras rumah.

Vara perlahan menoleh, lalu tersenyum lembut seperti biasa.

"Iya, Mah. Mama mau ke restoran?" tanyanya saat melihat penampilan mertuanya yang sudah rapi.

Diana mengangguk.

"Iya, Nak."

"Mama nggak repot, kan, mengurus restoranku?"

Diana langsung menggeleng.

"Tentu tidak, Nak. Malahan Mama suka."

Vara menggenggam lembut tangan mertuanya. "Makasih, ya, Mah. Mama sudah bantu mengurus restoranku."

Vara memiliki sebuah restoran. Beberapa waktu lalu, saat Vara sakit, Diana membantu mengurus restoran tersebut.

Namun, sampai sekarang Diana masih melarang Vara untuk ikut campur dalam pengelolaannya.

"Sudah, kamu nggak perlu berterima kasih, Nak," ujar Diana. "Kamu kayak sama siapa saja."

Vara tersenyum.

"Ya sudah, Mama pamit, ya."

"Iya, Mah. Hati-hati."

Diana mengangguk, lalu berjalan menuju mobilnya.

Tak lama kemudian, mobil Diana meninggalkan halaman rumah.

Senyum Vara perlahan luntur.

Tatapannya mengikuti mobil tersebut sampai menghilang dari pandangan. Setelah memastikan Diana sudah pergi, Vara meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Halo, Bu," ucap seseorang di seberang telepon setelah panggilan tersambung.

"Bagaimana keadaan restoran selama saya nggak masuk?"

"Eh, anu, Bu..."

Vara langsung mengernyitkan kening. "Jawab jujur, Azka!" ucap Vara penuh tekanan.

"Sebenarnya restoran mengalami perubahan, Bu..." jawab Azka pelan.

"Perubahan?"

"Iya, Bu."

"Perubahan apa maksud kamu?"

Azka terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab. "Pendapatan restoran menurun, Bu."

"Apa?"

Vara terdiam.

"Tapi kata mertua saya, pendapatan restoran justru meningkat."

"Mmm... sebenarnya..."

"Sudah." Vara memotong ucapan Azka. Entah kenapa, ia merasa tidak perlu mendengar penjelasan lebih panjang untuk memahami bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Vara menghembuskan napas panjang.

"Ada yang tidak beres."

Tangannya menggenggam ponsel semakin erat.

"Setelah kamu ganti shift, kita ketemu. Ajak Kania juga."

"Baik, Bu."

Panggilan pun berakhir.

Vara menatap layar ponselnya beberapa saat. Selama ini Diana selalu mengatakan bahwa restoran dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan, pemasukan restoran tersebut disebut meningkat. Lalu kenapa Azka justru mengatakan sebaliknya? Jika mereka memang sedang mengincar seluruh asetnya, restoran ini mungkin juga sudah menjadi incaran mereka.

°°

Malam pun tiba.

Di sebuah kafe, Vara duduk sendirian sambil mengaduk kopi yang sedari tadi ia pesan. Namun, minuman itu sama sekali tidak disentuhnya.

Pikirannya terus tertuju pada restoran.

Bagaimana bisa mertuanya membolak-balikkan fakta begitu mudah?

Tangannya perlahan mengepal erat. Mereka benar-benar berniat mengambil semua aset miliknya.

Vara menarik napas dalam-dalam. Jika benar demikian, ia harus mengetahui semuanya sebelum mengambil langkah.

Tak lama kemudian, Azka dan Kania datang. Keduanya merupakan orang kepercayaan Vara di restoran.

"Bu," sapa mereka berdua sopan.

Vara mengangguk pelan, lalu memberi isyarat agar mereka duduk.

"Kalian pesan dulu."

Keduanya mengangguk dan segera memesan minuman. Setelah pesanan selesai, suasana di antara mereka kembali hening.

Vara menatap Azka dan Kania bergantian.

"Jelaskan."

Suara Vara terdengar tenang, tetapi tatapannya menunjukkan bahwa ia sedang menunggu jawaban yang sebenarnya.

Azka dan Kania saling pandang.

Keduanya tampak ragu, seolah masih mempertimbangkan dari mana harus memulai. Hingga akhirnya, Azka menjelaskan.

"Bu," ucap Azka. "Selama Nyonya Diana yang menggantikan Ibu, restoran memang mengalami banyak perubahan."

"Perubahan bagaimana?" tanya Vara, suaranya mulai terdengar serius.

Azka menarik napas pelan.

"Pemasukan restoran menurun, Bu. Beberapa pelanggan bahkan mengeluh kalau rasa makanan sekarang berbeda dengan sebelumnya."

Vara mengerutkan kening.

"Berbeda?"

"Iya, Bu. Mereka bilang rasanya sudah tidak seenak dulu."

Vara terdiam.

Selama ini Diana selalu mengatakan restoran baik-baik saja. Bahkan beberapa kali mertuanya mengatakan pemasukan restoran justru meningkat.

"Lalu kenapa bisa berubah?" tanya Vara.

Azka dan Kania kembali saling pandang.

Azka akhirnya memberanikan diri menjawab. "Karena bahan makanan yang digunakan, Bu."

"Bahan makanan?"

"Iya. Biasanya Ibu selalu membeli bahan-bahan premium untuk menjaga kualitas masakan. Tapi sejak Nyonya Diana yang mengurus, bahan-bahan diganti dengan yang lebih murah."

Vara mengepalkan tangannya di atas meja.

"Kenapa?"

"Saya juga kurang tahu, Bu. Tapi chef pernah menyampaikan keberatannya."

"Apa kata chef?"

"Chef bilang kualitas bahan makanan akan mengurangi rasa. Beliau juga pernah minta Nyonya Diana mengembalikan bahan-bahan seperti sebelumnya."

"Lalu?"

Azka menelan ludah. "Nyonya Diana marah."

Vara menatap Azka tajam. "Marah?"

"Iya, Bu. Bahkan setelah itu, gaji chef dipotong."

Vara terdiam beberapa sesaat.

Dadanya mulai terasa sesak.

Mertuanya bukan hanya mengambil alih restoran miliknya, dia juga sengaja menurunkan kualitas restoran yang selama ini Vara terapkan.

"Lalu kenapa kalian diam saja?" tanya Vara.

Kali ini Kania yang menjawab.

"Kami juga sebenarnya ingin menyampaikan kepada Ibu, tapi kami takut."

"Takut?"

Kania mengangguk.

"Sejak Nyonya Diana yang memegang restoran, semua karyawan bekerja dalam tekanan. Masalah kecil saja bisa membuat beliau marah."

Azka menyambung. "Bahkan ada beberapa karyawan yang diancam akan dipecat hanya karena melakukan kesalahan kecil."

Vara menatap keduanya tanpa berkedip.

"Contohnya?"

"Beberapa waktu lalu ada pelayan yang salah mengantarkan pesanan ke meja langganan. Pesanannya tertukar satu meja. Nyonya Diana langsung memarahinya di depan karyawan dan pelanggan."

Kania menghela napas.

"Padahal pelanggan tersebut tidak sampai komplain besar. Tapi Nyonya Diana tetap mengatakan kalau karyawan itu tidak becus bekerja."

"Terus?"

"Dia hampir dipecat, Bu. Untung kami meminta agar diberi kesempatan sekali lagi."

Vara semakin mengepalkan tangannya. Jadi selama ini Diana bukan sedang membantu mengurus restorannya. Ia sedang menghancurkannya secara perlahan.

"Bagaimana dengan karyawan lain?" tanya Vara.

"Semua jadi takut, Bu," jawab Azka. "Mereka bahkan takut menyampaikan pendapat. Kalau ada yang berani mengkritik kebijakan Nyonya Diana, biasanya langsung dimarahi."

Kania mengangguk.

"Beberapa karyawan juga mulai kehilangan semangat kerja. Mereka bilang suasana restoran sudah tidak seperti dulu lagi."

"Itulah mengapa kami tidak ada yang berani menyampaikan pada Ibu."

Vara menunduk.

Ia teringat ucapan Diana beberapa jam lalu.

Mama suka mengurus restoranmu.

Ternyata selama ini semua itu hanya kebohongan.

"Mama bilang pemasukan restoran meningkat," gumam Vara.

Azka langsung menggeleng.

"Justru sebaliknya, Bu."

Vara mengangkat wajah. "Seberapa besar penurunannya?"

Azka membuka ponsel, lalu menunjukkan beberapa catatan kepada Vara.

"Ini laporan yang kami punya, Bu. Pemasukan mulai turun sejak beberapa bulan terakhir."

Vara mengambil ponsel tersebut dan memperhatikan angka-angka di layar.

Keningnya berkerut.

"Kenapa saya tidak pernah menerima laporan ini?"

Azka terdiam.

Kania melirik Azka sebelum akhirnya berkata pelan. "Karena Nyonya Diana yang mengurus laporan keuangan sejak menggantikan Ibu."

"Jadi selama ini hanya Diana yang memegang laporan?"

"Iya, Bu."

Vara meletakkan ponsel Azka di atas meja. Potongan-potongan kejadian yang selama ini terasa tidak masuk akal mulai tersusun di kepalanya.

Diana mengatakan restoran baik-baik saja dan pemasukan meningkat.

Namun, para karyawan mengatakan hal yang berbeda. Dan sekarang Dirga mengaku sedang berusaha memindahkan seluruh aset Vara menjadi miliknya.

Vara menarik napas panjang.

Mereka memang benar mengincar asetku.

"Azka."

"Iya, Bu?"

"Mulai sekarang, jangan beri tahu siapa pun kalau kalian bertemu denganku malam ini."

Azka dan Kania mengangguk.

"Baik, Bu."

"Dan satu lagi."

Vara menatap keduanya bergantian.

"Mulai besok, catat semua pemasukan dan pengeluaran restoran. Jangan ada satu pun transaksi terlewat."

"Baik, Bu."

"Mulai sekarang, beli bahan-bahan seperti sebelumnya. Ikuti pesanan yang biasa saya berikan."

"Baik, Bu."

Vara menyandarkan di kursinya.

"Jangan khawatir. Saya tidak akan membiarkan restoran yang kubangun dengan susah payah dihancurkan begitu saja."

Azka dan Kania saling pandang.

Vara mengambil cangkir kopinya, lalu menyesap sedikit.

"Pantas saja pendapatan restoran tidak pernah masuk ke rekeningku," gumam Vara.

Selama ini ia begitu percaya kepada mertuanya. Ia bahkan tidak pernah mengecek secara langsung hasil pendapatan restoran yang masuk ke rekeningnya. Sebegitu percayanya Vara kepada Diana sampai ia tidak pernah merasa perlu mempertanyakan semuanya.

Kini, kepercayaan itu justru menjadi celah yang dimanfaatkan mertunya.

Vara menghembuskan napas kasar.

"Kalian terus pantau mertuaku."

"Baik, Bu," jawab Azka dan Kania hampir bersamaan.

Vara terdiam sejenak.

Jika Diana memang berniat mengambil alih aset restoran miliknya, bukan tidak mungkin Dirga juga sudah mulai menyusun rencana untuk mengambil alih perusahaan.

Pikiran itu membuat dada Vara kembali sesak.

Tidak.

Ini tidak bisa dibiarkan.

Ia tidak boleh menunggu sampai semuanya terlambat.

"Saya pergi dulu. Ingat apa yang saya katakan tadi."

Vara beranjak dari kursinya.

"Baik, Bu."

Vara kemudian meninggalkan restoran.

Setelah melihat Vara pergi, Azka dan Kania saling pandang.

"Syukurlah, Az. Bu Vara sudah tahu kelakuan mertuanya," ucap Kania lega.

"Iya, Nia. Gue juga lega." Azka menghela napas. "Semoga Bu Vara cepat kembali. Jujur, gue juga nggak tahan. Karyawan lain juga kasihan. Mereka cuma bekerja untuk mencari nafkah, tapi harus terus bekerja dalam tekanan."

Kania mengangguk pelan.

"Untung sekarang Bu Vara sudah tahu."

°°

Di dalam mobil, Vara mengepalkan tangannya. Mertuanya benar-benar keterlaluan. Bukan hanya sekadar berusaha menguasai asetnya, Diana bahkan memperlakukan para karyawannya dengan semena-mena. Vara meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Halo," ucap seseorang setelah panggilan tersambung.

"Pantau setiap langkah mertua dan suamiku!" tegas Vara.

"Baik, Bu," jawab orang di seberang sana tanpa bertanya.

Tut!

Panggilan berakhir.

Vara menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum meletakkan kembali.

Kali ini, ia tidak membiarkan siapa pun bergerak diam-diam di belakangnya.

Sementara itu, seseorang yang baru saja berbicara dengan Vara menatap ponselnya.

Senyum tipis perlahan terbit di bibirnya.

"Akhirnya, Nona Vara sadar juga."

1
Ayudya
Dirga tidur mu terlalu nyenyak hingga lupa bangun🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Sabar, Vara ada kejutan🫰🫰😁😁
Meee
vara mending keluarga toxik begitu di lebas secepatnya😡😡
Ayudya
gimana sadar orang matanya Uda ketutup ma batu kerikil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
siapa pun akan berubah ibu diana.apa lagi masalah yg menyangkut pekerja 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
lah Bu Diana menghancurkan Vara yg ada kamu akan hancur di buat ma Vara Bu diana🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ok Dirga nikmati aja dulu masa senang mu kan ntar lagi kamu bakalan kembali kesetalan pabrik🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Karma Be Like: Tunggu aku Monica😁🫰
Ayudya
lah hasil ngerebut songong Lo monika.ntar yg ada kamu nyesel dan malu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
saat rencana kamu berhasil yg ada dirga stres banget🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Kak Dirga, bukan Arga😭🤭😁😂
Ayudya
hadeh monica kamu bilang Arga ga tergoda ma Vara kamu salah Arga sudah tergoda habis oleh vara🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
Bu Diana kalau mimpi jangan siang hari ntar yg ada sakit
Nona Jmn: Wkwkwhhh
total 1 replies
Ayudya
vara kamu jangan kelihatan lemah di depan Dirga dan monika.kamu harus lebih badas lagi biar tau tu si Dirga dan Monika kalau kamu ga gampang di tindas🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn: Kita lihat kejutan Vara, ya🤭
total 1 replies
Nona Jmn
/Sob/
Ayudya
mampir kak
Nona Jmn: Terima kasih🤭
total 1 replies
Ayudya
niat banget Bu Diana dan Dirga buat merebut harta vara
Ayudya
Daras Dirga mokondo tapi banyak tingkah🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!