NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 (KASUS 1) TEKANAN DARI PARA PETINGGI

Suasana di lantai dua gedung Satuan Reserse Kriminal Polres mendadak berubah menjadi sangat tegang.

Dering telepon di atas meja para penyidik berbunyi tanpa henti, menciptakan suara hiruk-pikuk yang melelahkan telinga.

Beberapa perwira pertama tampak berjalan terburu-buru membawa map berkas, sementara bisik-bisik kasak-kusuk merebak di setiap sudut ruangan.

Ipda Harumi baru saja menarik kursi kerja di kubikelnya ketika Aipda Rudi melangkah mendekat dengan wajah pias. Langkah kaki penyidik senior itu terlihat kaku, mencerminkan kecemasan yang sedang melingkupi lantai markas tersebut.

"Bu Kanit..." panggil Rudi setengah berbisik.

Harumi menengadah, menghentikan jemarinya yang hendak menyalakan layar komputer. "Ada apa, Rudi? Kenapa wajahmu tegang begitu?"

"Komandan Kasat Reskrim minta Ibu segera menghadap ke ruang rapat utama sekarang juga," ujar Rudi pelan. Ia melirik ke sekeliling sebelum melanjutkan, "Di dalam sudah ada Kombes dari Polda, Wakapolres, sama... pengacara Budiarto dan dua orang direksi PT Cipta Buana Investco." lanjut Rudi dengan sedikit berbisik.

Harumi menaikkan satu alisnya. "Lengkap sekali. Ada acara apa sampai petinggi Polda dan pimpinan perusahaan berkumpul semua?"

"Gara-gara berita kematian Jonathan Nasution sudah bocor ke media ekonomi, Bu," jawab Rudi cemas. "Saham anak perusahaan mereka merosot hampir 18% dalam waktu dua jam. Para petinggi di dalam kelihatan marah sekali. Ibu sebaiknya hati-hati."

Harumi menghela napas pendek. Ia berdiri dari kursinya, merapikan letak lencana kepolisian dan kancing seragam cokelatnya.

Tidak ada sedikit pun keraguan atau rasa gentar di wajah cantiknya.

"Terima kasih informasinya, Rudi. Kamu tetap pantau perkembangan berkas saksi lain," kata Harumi tenang.

"Siap, Bu Kanit. Semoga sukses di dalam," bisik Rudi prihatin.

Harumi langsung melangkah menyusuri lorong berlantai keramik putih menuju ruang rapat utama.

Setiap langkah kakinya berbunyi kencang dan teratur, memancarkan percaya diri seorang perwira muda yang bersih dan berintegritas.

Tok tok tok tok...

Harumi mengetuk pintu kayu tebal ruang rapat empat kali, lalu mendorongnya terbuka.

"Izin melapor, Ipda Harumi menghadap," ucapnya tegas sembari memberi hormat sempurna.

Pemandangan di dalam ruang rapat berpendingin udara itu tampak memikul beban berat.

Di ujung meja lonjong berbahan kayu jati, duduk Kombes Polisi Supriyadi—perwakilan dari Polda—bersama Wakapolres.

Di sisi kanan meja, Kasat Reskrim menatap Harumi dengan pandangan mata yang sulit diartikan.

Sementara di sisi kiri, Budiarto sang kuasa hukum duduk berdampingan dengan seorang pria paruh baya berjas mahal yang tampak sangat gusar.

"Silakan duduk, Ipda Harumi," ujar Kombes Supriyadi dengan suara berat dan berwibawa.

Harumi melangkah mendekat dan duduk di kursi kosong di hadapan mereka. Posisinya tegap, pandangannya lurus menatap para petinggi tanpa mengedip.

Kombes Supriyadi mendeham pelan, mengetuk-ngetuk dokumen di atas meja. "Langsung saja, Inspektur Harumi. Kita berada dalam situasi yang sangat krusial. Kematian Saudara Jonathan Nasution di Penthouse Cempaka Putih telah memicu guncangan hebat di bursa saham."

"Izin, Komandan. Saya memahami dampak ekonominya," potong Harumi dengan bahasa yang sangat sopan dan profesional. "Namun tim kami sedang menjalankan prosedur penyidikan standar sesuai undang-undang."

Sebelum Kombes Supriyadi sempat membalas, pria berjas mahal di samping Budiarto langsung menggebrak meja dengan wajah merah padam.

"Prosedur standar apa yang Anda maksud, Inspektur?!" seru pria itu dengan nada tinggi. "Pintu penthouse itu terkunci dari dalam! Tidak ada pencurian, tidak ada perkelahian! Jonathan tewas karena gagal jantung akibat kelelahan kerja! Kenapa Anda harus menahan jasadnya dan memaksa melakukan pembedahan utuh?!"

"Tenang, Pak Direktur," sela Budiarto memenangkan kliennya, lalu berbalik menatap Harumi dengan senyuman dingin. "Bu Inspektur Harumi yang terhormat... seperti yang sudah saya sampaikan di lokasi tadi, pihak keluarga dan direksi secara resmi menolak proses otopsi. Kami mendesak agar Surat Keterangan Kematian akibat penyakit alami segera diterbitkan hari ini juga."

Harumi menatap Budiarto dengan pandangan dingin. "Pak Budiarto, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, jika penyidik menemukan kejanggalan pada kematian seorang warga negara, wewenang pemeriksaan otopsi ada di tangan penyidik demi kepentingan peradilan, bukan ditentukan oleh persetujuan pengacara."

"Tapi tidak ada kejanggalan di sana, Harumi!" sela Kasat Reskrim membuka suara, mencoba menengahi. Suaranya terdengar cemas. "Laporan awal tim olah TKP menyatakan tidak ada bekas luka luar. Pihak pimpinan di Mabes dan Polda juga mendapat tekanan dari Kementerian Investigasi Bisnis. Jika kasus ini menggantung tanpa kepastian dan menjadi isu pembunuhan liar, kerugian investasi bisa mencapai triliunan rupiah!"

Kombes Supriyadi mengangguk setuju. "Betul. Oleh karena itu, Ipda Harumi... sebagai perwakilan pimpinan, saya memerintahkan Anda untuk menyelesaikan berkas perkara ini sebagai kematian alami akibat kegagalan fungsi organ tanpa tindak pidana. Hentikan pembedahan di laboratorium forensik sekarang juga, dan serahkan jasad korban kepada keluarga."

Ruangan rapat itu seketika menjadi hening.

Tekanan yang luar biasa besar bagaikan dinding batu raksasa meremukkan pundak Harumi.

Seorang Inspektur Dua muda dikepung oleh perintah Kombes, perintah Kasat, gertakan pengacara kaya, dan ancaman stabilitas ekonomi nasional.

Untuk sejenak, Harumi merasakan desakan itu mengimpit dadanya.

Ada dorongan naluri manusiawi yang membisikkan betapa mudahnya ia mengangguk, menuruti perintah atasan, mengamankan karirnya yang masih panjang, dan keluar dari ruangan ini tanpa masalah.

Namun, di detik berikutnya... bayangan jasad Jonathan Nasution yang tewas melotot dengan ekspresi ketakutan luar biasa kembali melintas di benaknya. Bayangan gumpalan aura hitam berbentuk telapak tangan raksasa di atas plafon kamar menari-nari di mata batinya. Lebih dari itu, ingatan akan sumpah jabatannya di bawah kitab suci Al-Qur'an bergema nyaring di dalam jiwanya.

Jika ia menyerah hari ini... maka kejahatan sihir pencuri usia ini akan terus berkeliaran, memangsa tumbal-tumbal berikutnya di bawah lindungan uang dan kekuasaan.

Harumi menarik napas dalam-dalam.

Keberanian yang bersumber dari kebenaran murni meledak di dalam dadanya.

Rasa tertekan itu menguap sepenuhnya, berganti menjadi ketegaran yang tak tergoyahkan seperti gunung batu.

Harumi menggeser duduknya sedikit ke depan. Ia menatap Kombes Supriyadi, lalu beralih menatap Budiarto dan para petinggi di ruangan itu satu per satu dengan tatapan mata yang tajam, dingin, dan menusuk.

"Izin bicara, Komandan," ucap Harumi. Suaranya tidak keras, tetapi intonasinya begitu berbobot, tenang, dan bergetar penuh wibawa.

"Silakan, Harumi," sahut Kombes Supriyadi, agak terkejut melihat ketenangan polwan muda di depannya.

"Di kamar penthouse itu, jam tangan korban mati terkunci di angka 03 lewat 13 menit. Cangkir kopi korban menyisakan hangat anomali yang tidak wajar. Dan yang paling utama... ekspresi jasad korban menunjukkan ia mati dalam keadaan teror yang luar biasa," papar Harumi dengan analisis hukum yang sangat presisi.

Harumi melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Kombes Supriyadi lurus-lurus.

"Jika saya menandatangani surat kematian alami hari ini hanya karena takut pada penurunan harga saham atau gertakan pengacara, maka saya telah mengkhianati seragam kepolisian ini," lanjut Harumi tanpa ragu sedikit pun.

"Harumi! Jaga bicaramu!" tegur Kasat Reskrim dengan wajah tegang.

"Tidak, Komandan. Biarkan saya selesaikan," potong Harumi tegas namun tetap santun. Ia menjangkau lencana penyidik berbahan logam di dada kirinya, memegangnya sebentar, lalu menatap seluruh petinggi di ruangan itu.

"Jika Komandan sekalian, pihak Polda, atau pihak PT. Cipta Buana Investco tetap memaksa saya untuk menutup kasus pembunuhan ini dan mengubur kebenaran..." Harumi jeda sejenak, tatapannya berkilat-kilat memancarkan kekuatan batin yang absolut. "...maka hari ini juga, detik ini juga, silakan terbitkan surat pencopotan jabatan saya sebagai Kanit Jatanras. Saya siap menanggalkan pangkat dan seragam kepolisian ini sekarang juga di depan Anda semua."

Deg!!!

Suasana di dalam ruang rapat seketika membeku total.

Pengacara Budiarto melongo dengan mulut sedikit terbuka. Direktur perusahaan di sebelahnya tertegun kaku. Bahkan Kombes Supriyadi dan Wakapolres tampak terperanjat luar biasa mendengar ucapan polwan muda di hadapan mereka.

Harumi tidak sedang menggertak.

Dari sorot matanya yang jernih dan tenang, mereka semua tahu bahwa polwan ini benar-benar bersedia kehilangan karir cemerlangnya demi mempertahankan sebuah kebenaran. Ketegasannya tidak lahir dari kesombongan atau rasa lemah, melainkan dari jiwa yang merasa sangat benar dan sangat kuat.

Kombes Supriyadi menatap Harumi lama sekali.

Sebagai perwira senior, ia bisa mengenali sosok penegak hukum sejati yang tidak bisa dibeli dengan uang atau ditundukkan dengan gertakan jabatan.

Kombes Supriyadi menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di kursi. "Anda sangat berani, Inspektur Harumi."

"Saya hanya menjalankan kewajiban hukum dan janji saya pada Tuhan, Komandan," jawab Harumi datar.

Kombes Supriyadi menoleh ke arah pengacara Budiarto dan Kasat Reskrim. "Pembedahan forensik akan tetap dilanjutkan."

"Tapi Pak Kombes...!" protes Budiarto panik.

"Cukup, Pak Budiarto!" potong Kombes Supriyadi dengan suara tegas tak terbantahkan. "Kepolisian tidak bisa mendikte hasil penyidikan di bawah ancaman pencopotan perwira berintegritas seperti Ipda Harumi. Namun..."

Kombes Supriyadi berbalik menatap Harumi kembali. "...saya berikan Anda waktu dua puluh empat jam, Harumi. Jika dalam dua puluh empat jam tim forensik tidak menemukan bukti medis tindak pidana pada jasad Jonathan Nasution, kasus ini akan resmi ditutup demi hukum."

Harumi berdiri dari kursinya, merapikan seragamnya, lalu memberi hormat sempurna. "Siap! Dua puluh empat jam cukup untuk membuktikan kebenaran. Terima kasih, Komandan!"

...........

...........

10 menit kemudian...

Harumi berjalan melangkah keluar dari gedung Satreskrim menuju ke area taman samping yang sepi. Angin siang berhembus menyejukkan wajahnya yang agak hangat.

Harumi merogoh ponsel pintarnya dari saku celana, menggeser layar dan menekan ikon panggil di nomor kakak sulungnya.

Hanya dalam dua kali nada panggil, suara dr. Haruma terdengar menyapa dari balik telepon.

"Halo, Dek? Gimana situasi di kantor? Kakak baru selesai pasang masker steril nih," panggil Haruma dengan bahasa sehari-hari yang renyah dan hangat.

Harumi terkekeh pelan, menyandarkan bahunya di bawah naungan pohon kamboja taman. "Aduh, Kak Ruma... baru aja aku lolos dari 'sidang pembantaian' di ruang rapat utama, hahaha!"

"Serius, Dek?! Dijegal sama petinggi Polda sama pengacara itu ya?" tanya Haruma penasaran, intonasi suaranya memelan.

"Iya, Kak. Tadi Kombes, Kasat, sama pengacara borjuis itu ngumpul semua. Minta kasusnya ditutup jam ini juga gara-gara saham perusahaan mereka anjlok," cerita Harumi santai sambil mengusap keringat tipis di keningnya.

"Terus kamu lawan gimana, Rumi?"

"Ya aku tantang balik aja, Kak, hehehe..." jawab Harumi terkekeh puas.

"Aku bilang, kalo Bapak-Bapak tetep maksa nutup kasus pembunuhan ini, copot aja pangkat sama jabatanku sekarang juga. Aku siap copot seragam hari ini. Langsung kicep semua orang di ruangan itu, Kak! Wajah pengacaranya sampai pucat kayak kertas, hahaha!"

Di seberang telepon, Haruma tertawa renyah membayangkan keberanian adiknya. "Wajarlah mereka kicep, Dek! Muka polwan cantik tapi berani nolak Kombes gitu siapa yang nggak syok? Kamu emang adek Kakak yang paling top!"

"Tapi kita cuma punya waktu 24 jam, Kak," ujar Harumi kembali serius. "Kombes ngasih batas waktu 24 jam buat ngebuktiin ada indikasi tindak pidana di tubuh Jonathan. Kalau nggak ada bukti medisnya, kasus bakal resmi ditutup."

"24 jam ya..." gumam Haruma di balik telepon. Suaranya mendadak berubah menjadi sangat fokus dan profesional. "24 jam itu lebih dari cukup, Rumi. Kamu udah bertarung luar biasa di meja penyidikan, sekarang giliran Kakak yang tuntasin di atas meja bedah."

"Sip! Semangat ya, Kak Ruma! Aku mau lanjut bongkar riwayat telepon Jonathan dulu," pamit Harumi hangat.

"Siap, bawel... Dahhh Rumi!"

"Dahhh Kakak!"

Klik.

Sambungan telepon terputus.

Harumi menarik napas dalam-dalam, merasakan ketenangan batin yang luar biasa setelah menuntaskan tugasnya di markas.

Sementara itu, ratusan meter dari taman tersebut—di dalam kedapnya ruangan Dokpol Bhayangkara—roda takdir penyidikan kini berpindah sepenuhnya ke tangan dr. Harum Sekar Putri Purnamasari, sang Kakak dari Ipda Harum Intan Purnamasari.

...........

...........

Pintu besi ganda bersimbol Biohazard berderit pelan saat terbuka otomatis.

Di tengah ruangan berlantai keramik steril berudara dingin menusuk tulang, sebuah meja cold-storage berbahan stainless steel mengkilap telah disiapkan di bawah pendaran cahaya lampu operasi yang menyilaukan.

Jasad Jonathan Nasution yang telah dikeluarkan dari kantong jenazah hitam kini terbaring kaku di atas permukaan meja dingin tersebut.

Di samping meja, dr. Haruma berdiri tegap dengan apron hijau dan set pisau bedah steril nomor 10 di tangannya.

Dengan panduan doa tauhid serta kehangatan "energi" perewangannya, Sekar Arum, yang mengalir di dadanya, Haruma perlahan-lahan mengarahkan mata pisau stainless steel yang tajam itu tepat di atas kulit dada korban.

Haruma siap menggoreskan sayatan awal berbentuk huruf Y untuk membongkar misteri kelam yang tersembunyi di balik rongga dada sang Direktur Keuangan muda di depannya.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!