Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31: Jebakan menu sarapan dan hadang angkuh di gerbang kota
Keesokan paginya, cahaya matahari menerobos masuk melalui celah jendela Penginapan Anggrek Merah. Xie Yufei menggeliat malas di atas ranjang empuk kelambu sutra. Tidurnya semalam rasanya nyenyak banget, seolah semua beban hidup sebagai akuntan korporat di dunia modern dan pelarian di dunia kuno menguap begitu saja.
Begitu membuka mata, dia langsung melirik ke sudut kamar. Sofa kayu tempat Pangeran Mo Cheng berjaga semalam sudah kosong melompong dan rapi.
(Wah, Mas Jenderal sudah bangun duluan toh. Aman, aman, berarti semalam rahasia kesucian raga gue sebagai anak kosan tetap terjaga dengan syariah tanpa hambatan. Mari kita cuci muka dulu sebelum turun ke bawah demi menjaga aset glowing ini!)
Setelah merapikan diri bersama Xiao Mei, Yufei melangkah turun ke aula penginapan untuk sarapan. Di sana, Pangeran Mo Cheng sudah duduk tenang dengan jubah biru tua yang membuatnya terlihat sangat karismatik, ditemani Xie Jian yang sedang sibuk mengunyah roti mantau.
"Selamat pagi, Yang Mulia Jenderal," sapa Yufei dengan gaya anggun andalannya, lengkap dengan senyum manis yang sengaja disetel selembut mungkin.
Pangeran Mo Cheng mendongak. Sudut matanya berkedut geli saat melihat wajah Yufei yang tampak segar, sangat kontras dengan ingatan semalam saat gadis itu mengigau heboh.
"Duduklah, Nona Xie," ucap Mo Cheng dengan suara beratnya yang tenang. Dia mengisyaratkan pelayan penginapan untuk menyajikan makanan. "Bagaimana tidurmu semalam? Apakah kau... memimpikan sesuatu yang menarik?"
Yufei duduk di hadapan Mo Cheng sambil tersenyum kecil. "Tentu saja tidur hamba sangat nyenyak berkat penjagaan Yang Mulia yang luar biasa. Hamba hanya bermimpi berjalan-jalan di taman bunga yang indah."
Uhuk!
Pangeran Mo Cheng yang baru saja menyesap teh hangatnya langsung tersedak pelan. Dia meletakkan cangkirnya, lalu menatap Yufei dengan pandangan misterius yang sulit diartikan.
"Taman bunga?" tanya Mo Cheng dengan nada memancing. "Kira-kira... apakah di taman bunga itu ada dewa yang mengendarai 'ojek online' sambil membawakanmu mangkuk berisi 'seblak ceker mercon level lima'?"
KUK!
Yufei yang baru saja hendak menyuap sesendok bubur gandum langsung membeku di tempat. Sendok di tangannya bergetar, dan matanya membelalak kaku layaknya orang yang baru saja melihat penampakan hantu di siang bolong.
Di dalam kepalanya, jeritan batin Yufei langsung meledak dengan kekuatan setara bom atom:
(MAMAAAKKK!!! DEMI APA PUN INI KOK BISA?! Kenapa Mas Jenderal bisa tahu istilah ojek online sama seblak ceker mercon?! Perasaan itu makanan favorit gue di dunia modern dan semalam... BENTAR! Jangan-jangan semalam gue ngigau?! MAMPUS GUEEE!!! Hancur sudah citra nona bangsawan anggun nan rapuh yang gue bangun berhari-hari! Malu banget woy, mau pindah planet aja rasanya!)
Pangeran Mo Cheng mati-matian menahan tawanya agar tidak pecah di depan Xie Jian. Pemandangan batin Yufei yang sedang kelabakan panik dan ingin 'pindah planet' benar-benar menjadi hiburan terbaiknya pagi ini.
"Yang Mulia... Anda... Anda bicara apa? Istilah asing apa itu?" tanya Yufei di luar dengan tawa canggung yang dipaksakan, berusaha menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya. "Itu... itu adalah mantra kuno pengusir roh jahat dari desa leluhur hamba! Benar, itu mantra rahasia!"
(Aduh alasan gue gembel banget! Seblak sejak kapan jadi mantra pengusir setan woy! Tolong dong alihkan pembicaraan sebelum gue jantungan massal di sini!)
"Oh, jadi itu mantra pengusir roh jahat. Unik sekali," sahut Mo Cheng dengan nada datar yang sengaja dibuat percaya, meski sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalau begitu, habiskan mantramu... maksudku buburmu. Kita harus segera berangkat."
Setelah momen sarapan yang penuh ketegangan batin bagi Yufei selesai, rombongan pasukan khusus kembali bergerak. Kereta kuda mewah itu melaju membelah jalanan utama menuju ibu kota. Sepanjang sisa jalan, Yufei memilih untuk memalingkan wajahnya ke jendela, benar-benar tidak berani menatap mata Mas Jenderal karena sisa malu yang luar biasa.
Hingga beberapa jam kemudian, kereta kuda melambat dan akhirnya berhenti total. Suasana di luar terdengar sangat bising dengan suara riuh rendah ratusan warga yang mengantre. Mereka telah tiba di depan gerbang utama Ibu Kota Kekaisaran yang megah dengan dinding batu setinggi belasan meter.
Namun, tidak seperti biasanya di mana jalur kereta pangeran langsung dibuka, kereta mereka justru dihadang secara sepihak.
SRAAAKKK! Tirai kereta disingkap dari luar oleh Xie Jian dengan wajah yang tampak sangat masygul dan menahan amarah.
"Melapor, Jenderal. Gerbang kota diblokade total oleh Pasukan Penjaga Ibu Kota," ucap Xie Jian dengan gigi teretuk geram. "Mereka dipimpin oleh Wakil Panglima Liu, kaki tangan langsung dari Perdana Menteri. Mereka bersikeras ingin menggeledah seluruh isi kereta kita, termasuk kereta tahanan besi di belakang, dengan alasan... mencari penyelundup barang terlarang."
Mendengar laporan itu, hawa dingin yang luar biasa pekat langsung menguar dari tubuh Pangeran Mo Cheng. Dia membuka matanya, dan kilatan tajam mematikan langsung terpancar dari manik matanya.
Perdana Menteri tampaknya sudah tahu bahwa pembunuh bayaran yang mereka sewa gagal total, dan sekarang mereka mencoba menggunakan otoritas gerbang kota untuk membungkam saksi kunci sebelum si tahanan berwajah arang bisa dibawa masuk ke dalam istana.
Yufei yang duduk di pojok kereta langsung ikut menegakkan punggungnya. Jiwa detektif dan insting bertahannya kembali menyala:
(Waduh... baru juga nyampe gerbang depan, musuh sudah langsung pasang barikade angkuh! Ini namanya penyalahgunaan wewenang jalur orang dalam kementerian! Wakil Panglima Liu itu fiks mau ngerebut si pembunuh berwajah arang biar konspirasi mereka gak terbongkar! Mas Jenderal, jangan kasih kendor! Tunjukkan pesona panglima perangmu yang sesungguhnya!)
Pangeran Mo Cheng berdiri dari tempat duduknya, menyambar gagang pedang panjangnya dengan mantap. Dia melirik sekilas ke arah Yufei, memberikan tatapan menenangkan yang sangat dalam.
"Tetaplah di dalam kereta, Yufei," ucap Pangeran Mo Cheng dengan suara rendah yang penuh wibawa. "Mari kita lihat... seberapa besar keberanian anjing-anjing Perdana Menteri ini saat berhadapan langsung denganku."
DEG!
Panggilan nama langsung tanpa embel-embel itu lagi-lagi membuat hati Yufei bergetar, tetapi kali ini bercampur dengan rasa kagum yang membubung tinggi melihat kegagahan sang pangeran yang bersiap maju ke medan diplomasi politik yang panas.
Pangeran Mo Cheng melangkah keluar dari kereta, siap menghadapi hadangan angkuh di depan gerbang kota.