Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan yang Tertunda Dua Tahun
Waktu adalah penyihir yang kejam sekaligus penyembuh yang ajaib. Dua tahun terasa seperti dua detik ketika diukur dengan rindu, namun terasa seperti dua abad ketika diukur dengan penderitaan. Namun, akhirnya, kalender di dinding kamar sempit itu menunjukkan tanggal yang telah dinanti-nantikan Ratna selama tujuh ratus tiga puluh hari. Hari terakhir kontrak kerjanya.
Ratna berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, menatap pantulan dirinya. Wajahnya lebih tua dari usia sebenarnya. Garis-garis halus di sekitar mata dan mulutnya semakin dalam, kulitnya menghitam karena terik matahari gurun, dan tangannya kasar penuh kapalan. Namun, matanya... matanya bersinar dengan cahaya yang tidak pernah ia miliki saat pertama kali tiba di Jeddah. Cahaya kemenangan. Cahaya kebebasan.
Di tangannya, ia menggenggam paspor dan tiket pesawat satu arah menuju Jakarta. Di sampingnya, terdapat dua koper besar. Satu berisi pakaian bekas kerja yang sudah usang, dan satu lagi penuh oleh hadiah-hadiah untuk Lily dan Nenek Surti. Ada kalung emas sederhana untuk Nenek, dan sebuah boneka beruang besar serta set alat tulis lengkap untuk Lily. Hadiah-hadiah itu dibeli dengan menyisihkan setiap receh dari gajinya, menahan godaan untuk membeli barang mewah bagi dirinya sendiri.
Pintu kamar diketuk. Nyonya Amira masuk, wajahnya datar seperti biasa, namun ada sedikit perubahan dalam sikapnya. Mungkin karena tahu ini adalah hari perpisahan, atau mungkin karena rasa hormat terselubung terhadap ketahanan mental Ratna.
"Ratna," panggil Nyonya Amira. "Mobil sudah siap ke bandara. Pastikan kamu tidak meninggalkan apa-apa."
Ratna menunduk sopan. "Terima kasih, Nyonya. Saya sudah memeriksa semuanya. Kamar sudah bersih. Kunci cadangan ada di laci meja dapur."
Nyonya Amira mengangguk singkat. Ia tidak mengucapkan terima kasih. Ia tidak meminta maaf atas perlakuan keras selama dua tahun terakhir. Bagi wanita kaya itu, Ratna hanyalah aset yang masa gunanya telah habis. Namun, bagi Ratna, ketidakpedulian itu justru menjadi kekuatan. Ia tidak butuh validasi dari majikannya. Validasinya ada di Jakarta, menunggu kepulangannya.
"Saya permisi, Nyonya. Semoga Nyonya sehat selalu," ucap Ratna, membungkukkan badan sekali lagi sebagai tanda penghormatan terakhir. Bukan karena takut, tapi karena adab.
Ratna mengambil kopernya. Beratnya luar biasa, bukan hanya karena isi barang, tapi karena beban kenangan pahit yang ia tinggalkan di rumah itu. Ia melangkah keluar dari kamar kecil tanpa jendela itu untuk terakhir kalinya. Ia menyentuh dinding dingin, seolah mengucapkan selamat tinggal pada penjara yang pernah menjadi tempatnya bertumbuh.
Di mobil menuju bandara, Ratna menatap pemandangan Jeddah melalui jendela. Gedung-gedung tinggi, masjid-masjid megah, dan jalanan ramai berlalu begitu saja. Ia tidak merasa sedih meninggalkan kota ini. Ia hanya merasa lega. Seperti tahanan yang akhirnya dibebaskan setelah menjalani hukuman yang tidak adil.
***
Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Udara tropis yang lembap dan panas menyambut Ratna begitu ia keluar dari pintu kedatangan internasional. Aroma khas Indonesia—campuran asap rokok, makanan pedas, dan keringat manusia—menyerbu indra penciumannya. Bagi orang lain, aroma itu mungkin mengganggu. Bagi Ratna, itu adalah aroma surga. Aroma pulang.
Ia mengenakan hijab baru berwarna hijau mint, baju kurung sederhana, dan membawa kedua kopernya dengan erat. Matanya liar mencari-cari wajah-wajah di balik pagar pembatas area penjemputan. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang daripada saat ia menghadapi amarah Nyonya Amira.
"Lily... Nenek..." bisiknya, kakinya gemetar.
Ia memutuskan untuk tidak memberi kabar sebelumnya. Ia ingin memberikan kejutan. Ia ingin melihat reaksi murni mereka saat menyadari bahwa Ratna benar-benar pulang, utuh, dan selamat.
Ratna berjalan menyusuri kerumunan orang yang menunggu. Banyak keluarga yang berpelukan haru, banyak pasangan yang saling melempar senyum. Ratna tersenyum tipis, membayangkan dirinya beberapa menit lagi.
Tiba-tiba, ia mendengar suara yang sangat familiar. Suara yang sering ia dengar melalui panggilan video, namun kali ini terdengar langsung, jernih, dan nyata.
"Nenek, yakin Mama mendarat jam segini? Pesawatnya nggak delay kan?"
Ratna membeku. Ia menoleh ke arah sumber suara. Di sana, berdiri seorang gadis remaja dengan rambut diikat kuda-kuda, mengenakan kemeja putih sekolah dan rok abu-abu. Di sampingnya, seorang wanita tua dengan tongkat kayu, wajahnya penuh kerutan namun matanya tajam.
Lily. Dan Nenek Surti.
Mereka datang! Mereka menjemputnya! Ratna tidak menyangka mereka akan datang ke bandara. Ia mengira mereka hanya menunggu di rumah. Air mata Ratna langsung meloncat, membasahi pipinya seketika. Ia ingin berlari, namun kakinya terasa berat karena emosi yang membanjir.
"Lily!" teriak Ratna, suaranya pecah, menembus kebisingan bandara.
Lily dan Nenek Surti menoleh. Mata Lily membelalak. Mulutnya terbuka lebar, tidak percaya. Ponsel yang dipegangnya hampir jatuh.
"Mama?" bisik Lily, suaranya bergetar hebat.
Ratna tidak bisa menahan diri lagi. Ia melepaskan pegangan pada kopernya dan berlari, menerobos kerumunan orang. Lily juga berlari, meninggalkan Nenek Surti yang terpaku sesaat sebelum ikut berjalan cepat dengan bantuan tongkatnya.
Pertemuan itu terjadi di tengah lorong bandara. Lily menabrak tubuh ibunya dengan kekuatan penuh, memeluknya erat seolah takut Ratna akan menghilang lagi jika dilepaskan. Ratna terjatuh lututnya karena benturan itu, namun ia tidak peduli. Ia membalas pelukan putrinya, membenamkan wajahnya di leher Lily, menghirup aroma sabun sampo putri kesayangannya.
"Mama... Mama beneran pulang..." isak Lily, menangis tersedu-sedu di bahu ibunya. "Aku kira ini mimpi. Aku kira Mama bohong lagi di telepon."
"Bukan mimpi, Sayang. Bukan bohong," jawab Ratna, sambil menangis dan tertawa sekaligus. Ia mencium kepala Lily berulang-ulang. "Mama pulang. Mama sudah selesai. Mama selamat."
Nenek Surti akhirnya sampai di sisi mereka. Wanita tua itu menangis diam-diam, mengusap air matanya dengan ujung kerudungnya. "Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah. Kamu pulang, Ratna. Kamu pulang dengan selamat."
Ratna melepaskan pelukan dari Lily sebentar, lalu merangkak mendekati Nenek dan memeluk kaki wanita tua itu. "Maafin anak Ibu, Ma. Ibu udah bikin Mama nunggu lama. Ibu udah bikin Mama khawatir."
Nenek mengelus kepala Ratna. "Sudah, Nak. Yang penting kamu sehat. Yang penting kamu kembali. Bangun, Ratna. Kita pulang. Rumah sudah siap. Nasi goreng kesukaanmu sudah Nenek siapkan, meski mungkin sudah dingin karena kita terlalu lama menunggu."
Mereka bertiga tertawa di antara isakan. Tawa yang lepas, tawa yang menyembuhkan, tawa yang menandai akhir dari babak penderitaan dan awal dari babak pemulihan.
Lily membantu Ratna berdiri, lalu mengambil alih salah satu kopernya. "Berat banget, Ma. Isinya apa? Batu?" canda Lily, mencoba mencairkan suasana haru yang masih pekat.
Ratna tersenyum, mengelus pipi putrinya. "Isinya cinta, Lil. Cinta untuk kamu dan Nenek. Dan sedikit oleh-oleh. Ada boneka buat kamu."
Mata Lily berbinar. "Boneka? Aku kan udah gede, Ma."
"Tetap anak kecil di mata Mama," jawab Ratna lembut.
Mereka berjalan keluar dari bandara, bergandengan tangan. Tiga sosok yang pernah terpisah oleh jarak, ego, dan kemiskinan, kini bersatu kembali. Matahari sore Jakarta menyinari mereka, hangat dan menjanjikan.
Ratna menatap langit biru di atas gedung terminal. Ia tahu, tantangan baru akan menanti di depan. Membangun kembali kehidupan dari nol, menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada Lily selama dua tahun, dan menemukan pekerjaan baru di tanah air. Namun, kali ini, ia tidak sendirian. Ia memiliki Lily yang telah tumbuh menjadi gadis kuat. Ia memiliki Nenek yang selalu menjadi sandaran. Dan yang paling penting, ia memiliki kedamaian hati yang telah ia pertaruhkan nyawanya untuk dapatkan.
"Ayo pulang, Ma," ajak Lily, menggandeng tangan ibunya erat.
"Iya, Sayang. Ayo pulang," jawab Ratna.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kata "pulang" bukan lagi sekadar harapan di dalam doa, melainkan kenyataan yang bisa ia rasakan dalam setiap langkah kakinya.