NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Penebusan di Ujung Takdir

Suara decitan roda mobil yang bergesekan kasar dengan beton basah memecah keheningan malam yang gulita. Mobil SUV hitam milik Gavin menerobos gerbang seng tua gudang terbengkalai di kawasan pelabuhan terpencil. Di belakangnya, tiga unit mobil kepolisian yang dipimpin AKP Rian menyusul dengan sirene yang sengaja dimatikan demi mencegah kepanikan tersangka.

Detik digital pada peledak di sudut ruangan menunjukkan angka 02:14. Dua menit empat belas detik menuju kehancuran.

Pintu kayu gudang yang rapuh dihantam hingga hancur berkeping-keping. Gavin melompat masuk dengan kemeja putih yang telah basah kuyup oleh air hujan dan keringat dingin. Matanya menyapu sekeliling ruangan remang-remang itu hingga pandangannya bertabrakan dengan sosok Naya yang terikat rapuh di atas kursi kayu. Pipi sebelah kiri istrinya memar merah akibat tamparan keras, namun di dalam binar mata wanita muslimah itu, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada kedamaian murni dari jiwa yang telah menyerahkan seluruh takdirnya kepada Allah.

"NAYA!" jerit Gavin, suaranya parau menahan kepedihan yang amat sangat.

"Gavin, berhenti!" teriak Clara hysteris.

Wanita itu berdiri tepat di samping Naya, memegang sebuah remote kontrol rakitan dengan tombol merah yang siap ditekan kapan saja. Wajah Clara tampak sangat pucat, rambutnya yang acak-acakan menyiratkan kehancuran mental seorang wanita yang termakan oleh obsesi gilanya sendiri. Di sudut lain ruangan, tim penjinak bom bersama AKP Rian mulai mengepung secara perlahan.

"Satu langkah lagi kamu mendekat, Gavin, aku akan langsung meledakkan tempat ini!" ancam Clara dengan tangan yang bergetar hebat. "Kamu lihat timer itu? Dua menit! Dua menit untuk kamu membuat keputusan! Tinggalkan wanita sok suci ini dan ikut bersamaku ke luar negeri, atau kita semua mati bersama di sini!"

Gavin menghentikan langkahnya. Pria tegap itu mengangkat kedua tangannya ke udara, menatap Clara dengan pandangan yang tidak lagi memancarkan amarah, melainkan rasa iba yang mendalam.

"Clara..." buka Gavin dengan suara yang diusahakannya sehalus mungkin, meski dadanya bergemuruh hebat menyaksikan istrinya yang terluka. "Lihat aku. Ini aku, Gavin."

"Jangan panggil namaku dengan suara sok pedulimu itu!" jerit Clara, air mata kemarahan menetes di pipinya. "Kamu berjanji untuk mencintaiku selamanya, Gavin! Dulu, di Paris, kamu bilang aku adalah satu-satunya wanita di hidupmu! Kamu mengkhianatiku! Kamu mengabaikanku demi wanita yang baru kamu kenal ini!"

"Aku tidak mengkhianatimu, Clara," jawab Gavin pelan, melangkah satu cangkul kecil ke depan. "Masa lalu kita... jalinan cinta terlarang yang kita bangun di atas kebohongan dan rasa sakit orang lain itu bukanlah cinta. Itu adalah dosa, Clara. Itu adalah rasa bersalah yang membelenggu kita berdua."

"Bohong!"

"Aku tidak bohong," tegas Gavin, matanya mulai berkaca-kaca saat ia menoleh sekilas ke arah Naya. "Dulu, aku berpikir aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan karena dosa masa laluku. Aku lari ke luar negeri, mencoba mengubur rahasia itu, sampai Allah mempertemukanku dengan Naya."

Gavin menatap Naya dengan ketulusan yang sanggup meluluhkan kerasnya batu.

"Naya mengajariku bahwa Allah tidak pernah menutup pintu ampunan bagi hamba-Nya yang ingin bertobat. Dialah wanita yang membimbingku kembali bersujud, yang mengajariku arti ikhlas dan ketetapan iman. Cinta yang kurasakan pada Naya bukan pelarian, Clara... ini adalah jalan yang diberikan Tuhan untuk menyucikan hatiku."

Naya yang mendengarkan ucapan itu dari atas kursi penderitaannya hanya bisa menangis sesenggukan. Setiap kata yang keluar dari bibir Gavin meruntuhkan sisa-sisa keraguan di hatinya. Pria itu tidak pernah menjadikan Naya alat penyuci dosa, melainkan jawapan atas doa-doanya yang teraniaya.

Clara menggelengkan kepalanya dengan histeris. "Tidak... Tidak! Kamu hanya bicara seperti ini karena kamu sudah dicuci otak olehnya! Kamu milikku, Gavin! Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada wanita lain yang boleh memilikimu!"

Detik digital menyusut cepat: 00:47.

"Clara, hentikan!" jerit AKP Rian seraya mengarahkan senjata. "Gedung ini sudah dikepung! Kamu tidak punya jalan keluar!"

"Aku tidak butuh jalan keluar!" teriak Clara seraya mengacungkan pemicu bom.

Di tengah situasi yang teramat kritis, di mana kematian hanya berjarak hitungan detik, Naya mendongakkan kepalanya. Ia menatap Clara tanpa ada rasa benci sedikit pun di matanya.

"Mbak Clara..." panggil Naya dengan suara yang teramat lembut, menembus histeria yang menguasai ruangan.

Clara tersentak, menoleh tajam ke arah Naya. "Tutup mulutmu! Jangan panggil aku dengan sebutan itu!"

"Mbak Clara..." ulang Naya, matanya yang bersinar penuh kasih menatap lurus ke dalam iris mata Clara yang kacau. "Aku tahu rasa sakit yang Mbak rasakan. Aku tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang hingga rasanya ingin menguasai seluruh jalannya, karena aku pun pernah terjebak dalam ketakutan dan kebohongan yang membakar jiwaku."

Naya menarik napas panjang, menahan rasa sakit di pergelangan tangannya yang terikat.

"Pernikahanku dengan Gavin diawali oleh kebohongan besar yang kubuat karena aku takut menghadapi ketidakpastian dunia. Aku berpura-pura menjadi wanita lain hanya agar mendapat perlindungan darinya. Tapi tahu apa yang kupelajari, Mbak? Memaksa takdir dan memegang obsesi hanya akan menyiksa diri kita sendiri. Mbak Clara tidak sedang memperjuangkan cinta... Mbak sedang menyiksa jiwa Mbak sendiri dengan rasa sakit masa lalu."

Clara mematung. Jemarinya yang memegang pemicu bom mulai bergetar makin hebat. Kata-kata Naya yang disampaikan tanpa amarah, melainkan dengan empati murni seorang wanita muslimah, menghantam dinding keangkuhan Clara yang paling dalam.

"Lepaskan rasa sakit itu, Mbak..." bisik Naya lembut, air mata kedamaian menetes dari pelupuk matanya. "Kembalilah kepada Tuhan. Ambil kembali jiwamu yang berharga. Jangan biarkan dosa masa lalu menghancurkan masa depanmu."

00:18.

"Naya!" jerit Gavin yang menggunakan kesempatan itu untuk menerjang ke depan.

Dalam hitungan detik yang amat menegangkan, Gavin berhasil menjatuhkan tubuh Clara ke samping tepat sebelum wanita itu sempat memencet tombol pemicu. Remote kontrol itu terlempar ke lantai beton. AKP Rian dan petugas kepolisian bertindak cepat melumpuhkan Clara dan mengamankannya.

"Lepaskan aku! Lepaskan!" jerit Clara yang menangis histeris saat tangannya diborgol, seluruh benteng kegilaannya runtuh dalam genangan air mata penyesalan.

Gavin tidak peduli lagi pada hal lain. Ia langsung berlari ke arah peledak. Tim penjinak bom melompat ke depan, dengan tangkas memotong kabel hijau tepat di angka 00:04.

Suara bip berhenti. Timer mati.

Keheningan yang luar biasa menyergap ruangan itu.

Gavin jatuh berlutut di hadapan Naya. Tangannya yang gemetaran dengan cepat membuka ikatan tali di pergelangan tangan dan kaki istrinya. Begitu tali itu terlepas, Gavin langsung merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukannya yang sangat erat. Pria tegap itu menangis terisak-isak seperti seorang anak kecil di dada istrinya.

"Maafkan aku... Maafkan aku, Naya..." bisik Gavin parau, dadanya naik turun oleh tangis keharuan yang tak membendung. "Aku hampir kehilanganmu... Aku hampir membunuhmu dengan masa laluku..."

Naya melingkarkan kedua tangannya yang bebas di leher Gavin, menyandarkan wajahnya di bahu suaminya yang hangat. Bau hujan, keringat, dan ketulusan Gavin menyergap indra penciumannya.

"Tidak, Gavin..." bisik Naya lembut di telinga suaminya. "Allah menyelamatkan kita. Allah menyatukan kita kembali tanpa ada lagi kebohongan di antara kita."

Dua bulan kemudian.

Pagi di Jakarta menyambut hangat dengan sinar matahari jingga yang membiaskan keindahan di taman belakang kediaman Ardiansyah. Bunga-bunga melati yang ditanam Naya beberapa minggu lalu kini bermekaran indah, menyebarkan aroma harum yang menenangkan jiwa.

Di sudut saung kayu yang asri, Naya duduk anggun mengenakan gamis putih bersih dengan hijab syar'i berwarna merah muda lembut. Di pangkuannya, tergeletak sebuah kitab Al-Qur'an kecil berkulit sintetis warna emas.

Langkah kaki terdengar dari arah dalam rumah. Gavin berjalan mendekat membawa dua cangkir teh chamomile hangat. Pria itu tampak begitu tampan dan segar, mengenakan koko putih dan peci hitam. Tidak ada lagi raut ketegangan, kecemasan, atau beban masa lalu di wajahnya. Yang tersisa hanyalah kedamaian seorang suami yang telah menemukan muara hatinya.

"Sedang membaca surah apa, Habibati?" tanya Gavin seraya meletakkan cangkir teh di meja kecil dan duduk di samping Naya.

Naya mendongak, menyambut suaminya dengan senyuman paling manis yang sanggup melelehkan seluruh duka masa lalu. "Surah Ar-Rahman, Gavin. Aku sedang merenungkan ayat 'Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukazziban'... Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Gavin merengkuh jemari Naya, menggenggamnya dengan penuh kehangatan, lalu mengecupnya penuh takzim.

"Setiap detik bersamamu adalah nikmat terindah yang tidak akan pernah sanggup kudustakan, Naya," ucap Gavin tulus.

Pernikahan mereka kini telah melewati badai besar yang paling mengerikan. Eleanor telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas pembunuhan berencana terhadap Ibu Rahmi dan berbagai tindak kejahatan finansial lainnya. Sementara Clara, atas permintaan khusus dari Gavin dan Naya, dirawat di fasilitas rehabilitasi kejiwaan khusus untuk menyembuhkan trauma dan obsesi toksiknya di bawah pengawasan hukum.

Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi ketakutan akan identitas atau masa lalu yang kelam.

Naya telah mengubur dalam-dalam rasa penyesalannya atas kebohongan masa lalu. Ia menyadari bahwa Allah tidak melihat bagaimana sebuah kisah dimulai, melainkan bagaimana hamba-Nya berjuang untuk memperbaiki akhir dari kisah tersebut. Melalui pernikahan yang diawali ketakutan ini, Naya telah menemukan kebenaran sejati—mencintai agama dan keyakinan suaminya bukan lagi karena paksaan atau kepura-puraan, melainkan karena cintanya yang murni kepada Sang Pencipta.

"Gavin," panggil Naya pelan, menatap mata suaminya yang bening.

"Iya, sayang?"

Naya mengarahkan tangan Gavin yang berada di jemarinya turun ke arah perutnya yang masih rata.

Gavin tertegun. Pria itu mematung selama beberapa detik, menatap Naya dengan mata yang membelalak tak percaya.

"Naya... Apakah ini...?" suara Gavin bergetar, napasnya tercekat di tenggorokan.

Naya mengangguk pelan, air mata kebahagiaan menetes membasahi pipinya yang kemerahan. "Dokter menyatakan pagi ini... ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di sini. Hadiah dari Allah untuk pernikahan kita yang baru."

Seketika, Gavin bersujud di atas lantai kayu saung tersebut. Pria tegap itu menangis sejadi-jadinya dalam sujud syukur yang amat panjang. Ia meratapi betapa besarnya kasih sayang Allah yang telah mengampuni dosa masa lalunya dan memberikannya Anugerah yang begitu sempurna melalui wanita muslimah di hadapannya.

Setelah bangkit dari sujudnya, Gavin merengkuh tubuh Naya ke dalam dekapannya. Ia mengecup kening istrinya dengan rasa cinta yang teramat dalam dan suci.

"Terima kasih, Naya..." bisik Gavin terisak pelan dalam kebahagiaan. "Terima kasih karena telah menjadi kepercayaanku yang paling berharga. Terima kasih karena tidak pernah menyerah pada cinta kita."

Naya menyandarkan kepalanya di dada Gavin, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama tenang. Di bawah naungan langit pagi yang cerah, dua jiwa yang pernah terluka oleh selingkuh, obsesi, cinta terlarang, dan trauma masa lalu kini telah berhasil mengubah takdir mereka.

Air mata yang dulu menetes karena penderitaan dan kepalsuan, kini telah berganti menjadi air mata kesyukuran atas kehidupan manis setelah patah hati. Sebuah kisah cinta pernikahan murni yang diridhai oleh Allah SWT—sebuah Kepercayaan yang Berharga yang akan mereka jaga hingga akhir hayat.

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!