NovelToon NovelToon
PENGANTIN YANG DITUKAR

PENGANTIN YANG DITUKAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:82.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.

​Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.

​Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGANTIN YANG DITUKAR

​

​Langit sore di atas Kota Bandung perlahan berubah warna menjadi gradasi jingga dan keunguan yang memukau, memantulkan keindahan senja di balik deretan pohon pinus kawasan Dago Atas. Mobil SUV hitam legam yang dikemudikan oleh Reagan Baskara melaju dengan tenang, memasuki pekarangan halaman rumah dinas privat yang ditempati oleh Kalea Mahika.

​Di kursi belakang, Bu Aura tampak bersandar santai sambil merapikan tas tangannya. Perjalanan silaturahmi sehari penuh ke kediaman utama keluarga besar Baskara benar-benar meninggalkan kesan yang sangat mendalam, terutama bagi Mahika yang duduk di kursi penumpang depan di sebelah Reagan.

​Begitu mobil berhenti sempurna di depan teras, Reagan mematikan mesin kendaraannya. Sebelum Mahika sempat membuka pintu mobil, Bu Aura lebih dulu menepuk pundak gadis itu dari belakang dengan senyuml ebar.

​"Wah, hari ini bener-bener menyenangkan ya, Mahika," ujar Bu Aura antusias. "Bunda Martha keliatan seneng banget kedatangan kamu tadi siang."

​Mahika menoleh ke belakang, tersenyum sopan sambil merapikan ujung pashmina pastelnya. "Alhamdulillah, Bu... Jujur awalnya saya sempat grogi banget takut salah ngomong atau bikin keluarga besar Pak Reagan nggak nyaman. Tapi Tante Martha ternyata baik dan hangat banget orangnya, sama sekali nggak seperti yang saya bayangkan."

​Di kursi pengemudi, Reagan yang sejak tadi diam mendadak melirik sekilas lewat kaca spion tengah. Pria berwajah kaku itu mendengus pelan, melontarkan komentar dingin khas andalannya.

​"Makanya, jangan suka berburuk sangka duluan," sindir Reagan datar tanpa menoleh. "Bundaku bukan tipe orang yang suka menggigit orang asing, kecuali kalau orang itu hobi cari gara-gara seperti kamu."

​Mendengar kalimat usil itu, Mahika langsung memutar bola matanya malas. Ia membalikkan badan menghadap ke depan, menatap tajam ke arah profil samping Reagan.

​"Ih, bapak ini ya, hobi banget cari celah buat meledek saya!" protes Mahika setengah merajuk, pipinya merona sebal. "Tadi siang itu wajar dong kalau saya canggung! Baru pertama kali diantar ke rumah bos besar tanpa persiapan mental, tahu-tahu dibilang perempuan pertama yang dibawa ke rumah. Siapa yang nggak kaget?."

​Reagan hanya mengangkat sebelah alisnya acuh tak acuh, menyembunyikan senyum tipis yang terukir di sudut bibirnya. "Fakta kok ditolak," balas Reagan singkat, membuat Mahika semakin gemas ingin melempar tas tangannya ke muka pria itu.

​Bu Aura yang duduk di tengah tertawa renyah menyaksikan perdebatan kecil yang sudah menjadi makanan sehari-hari di antara keponakan dan anak didiknya itu.

​"Udah, udah, kalian ini kalau nggak adu mulut sehari rasanya kayak ada yang kurang, ya," lerai Bu Aura gemas. "Udah malam, ayo kita turun. Reagan, kamu mau langsung balik atau mampir dulu minum kopi di dalam?."

​Reagan menggeleng pelan, membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar lebih dulu untuk membukakan pintu bagi Bu Aura dan Mahika. "Nggak usah, Tante. Jadwal laporan investasi luar negeri masih banyak yang harus saya periksa malam ini. Saya langsung pulang ke apartemen saja."

​Mereka bertiga akhirnya berdiri di teras depan rumah dinas Mahika. Suasana malam di Dago Atas terasa begitu syahdu, ditemani angin pegunungan yang sejuk dan deburan suara daun pinus yang bergesekan pelan.

​Sebelum berpamitan, Bu Aura mendekati Mahika, merapikan sedikit kerah blazer gadis itu penuh kasih sayang.

​"Mahika sayang, istirahat yang cukup ya malam ini," pesan Bu Aura lembut. "Besok kita mulai persiapan akhir untuk grand opening butik. Pastikan semua konsep gaun perpaduan batik peranggok dan modern siap dipajang dengan sempurna."

​"Siap, Bu! Semuanya sudah saya cek ulang sama tim produksi. Dijamin nggak bakal ada yang mengecewakan," jawab Mahika penuh percaya diri.

​Tiba-tiba, sebuah kenangan terlintas di benak Mahika. Ia teringat betapa hangatnya sambutan Martha Baskara ibunda Reagan tadi siang di rumah utama. Wanita paruh baya itu bahkan sempat berpesan secara khusus sebelum mereka pamit pulang.

"Mahika, kalau nanti butiknya sudah buka, jangan lupa undang Tante ya. Tante penasaran pengen lihat langsung karya-karya hebat kamu," ucap Martha waktu itu sambil menggenggam tangan Mahika erat-erat.

​Tanpa menunggu ragu, Mahika langsung menatap ke arah Reagan yang berdiri tegak di samping mobilnya, bersiap masuk ke dalam kendaraan.

​"Eh, tunggu sebentar, Pak Reagan!" panggil Mahika cepat, menghentikan langkah sang bos besar.

​Reagan menoleh dengan kening berkerut tipis. "Apa lagi? Ada revisi dokumen yang ketinggalan di mobil?."

​"Bukan dokumen," jawab Mahika menggeleng, lalu menyunggingkan senyuman ramah. "Saya cuma mau nitip pesan sekaligus menyampaikan undangan resmi. Tadi siang, sebelum kita pulang dari rumah utama, Tante Martha sempat berpesan dan berharap banget bisa datang ke acara grand opening Mahika Atelier minggu depan."

​Mahika melangkah mendekat satu langkah, menatap lurus ke mata tajam Reagan.

​"Jadi... secara pribadi dan mewakili butik, saya ingin mengundang secara langsung Tante Martha Baskara untuk hadir di acara pembukaan kami minggu depan," ucap Mahika tulus. "Tolong sampaikan undangan ini ke beliau ya, Pak Reagan."

​Reagan terdiam sejenak. Sorot mata dinginnya yang biasa mendadak melunak, menatap gadis berhijab di hadapannya yang memancarkan ketulusan luar biasa. Pria itu mengangguk pelan.

​"Tanpa kamu suruh pun, beliau pasti bakal datang," jawab Reagan datar namun terdengar serius. "Bahkan sejak kami dalam perjalanan pulang tadi, Bundaku tidak berhenti-hentinya memuji kamu. Beliau bilang beliau sangat menyukai kepribadianmu, dan berharap kalau ada waktu luang, kamu bisa sering-sering main lagi ke rumah utama."

​Mendengar pengakuan itu, dada Mahika membuncah hangat. Senyuman lebar terkembang di bibirnya. "Wah, beneran? Puji Tuhan... Syukurlah kalau Tante Martha senang. Sampaikan salam dan terima kasih saya ya untuk beliau."

​Bu Aura yang mendengarkan percakapan itu tersenyum puas, merasa bahwa rencana kecilnya mendekatkan Mahika dengan keluarga besarnya membuahkan hasil yang sangat manis.

​"Nah, dengar itu, Re! Jangan cuma sibuk kerja melulu, sesekali ajak Mahika makan malam keluarga lagi kalau butiknya sudah resmi dibuka," goda Bu Aura terang-terangan.

​Reagan berdehem pelan, mengalihkan pandangannya canggung ke arah lain untuk menyembunyikan rona merah tipis di pipinya. "Sudah malam, Tante. Waktunya istirahat. Saya pamit pulang dulu."

​Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Reagan segera masuk ke dalam mobil SUV hitamnya, menyalakan mesin, dan memutar balik kendaraannya meninggalkan halaman rumah dinas Mahika. Lampu belakang mobil itu perlahan mengecil di tikungan jalan Dago Atas, menghilang di tengah kepekatan malam.

​Mahika dan Bu Aura berdiri sejenak di teras, menikmati sisa angin malam yang menenangkan.

​Bagi Mahika, malam ini adalah bukti nyata bahwa roda kehidupan benar-benar berputar. Di saat keluarganya di Jakarta hancur lebur akibat keserakahan dan pengkhianatan, semesta justru membawanya ke pelukan orang-orang tulus di Bandung membangun impian besar di atas fondasi harga diri yang utuh, dan bersiap menyambut hari kemenangan yang sudah di depan mata.

1
Heni Setiyaningsih
bapak dan ibunya apa gk bisa kerja ya,,,,kok kayak pasrah gitu
Aidil Kenzie Zie
telpon pengawal atau Reagan Mahika
Aidil Kenzie Zie
lah si Mokondo bukannya sadar diri 🤣🤣🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
kok mantan suami sih Re mereka kan belum nikah 😓😓
untuk makan aja mereka susah ini malah mau neror Mahika 😝😝😝😝
Aidil Kenzie Zie
penasaran suami Bu Aura sama Martha mana y kok nggak nongol 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
masa nggak ada uang sepersen pun dikantong mereka 🤔🤔🤔
Lucy
huhuyyy bentar lagi kulkas 7pintu akan mencair 😀
Zhafran Althaf
ahhhh so sweet 😍😍😍
Ariany Sudjana
wah selamat menikmati makan siang Mahika and Reagan
Aidil Kenzie Zie
bukannya Mahika berhijab 🤔🤔🤔
kok "tatanan rambut di gulung longgar"🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
penasaran ortunya kerja apa y🤔🤔
posisi Ratu apa yang kamu janjikan Reno 😡😡😡😡toh semuanya Mahika yang biayanya
Aidil Kenzie Zie
Jakarta - Bandung naik pesawat 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
napa masih 30 hari tor🤫🤫🤫🤫
Aidil Kenzie Zie
mampir
Dokkan Battle
AWOKAWOK MAU MATI LU YA
fatmiatun sahono
koq pada bingung ya. kan Gisela kerja juga bukan. pasti adalah uang nya. pesta nikahan kan sdh di byr kan sama mahika toh....ayo berbagi lah ma orang tua ya....🙏
fatmiatun sahono
datang paket mmg sudah lunas dibayarkan sama Malika ya...😆
Dew666
🍎
sutiasih kasih
lucu sekali... siapa yg berulah... siapa yg hianat.... tpi sll mahika yg km salahkn reno🤣🤣
Triana Destiani
good job mahika
kesuksesan mu sedang menunggu di depan 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!