Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.
——Di dunia bernama Cardinal.
Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.
Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.
Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20—MALAM YANG RAMAI
Gedung pemerintahan Gracia telah diambil alih, seluruh ornamen yang berkaitan dengan Gracia dibuang dan digantikan dengan benda atau lambang yang khas kerajaan Asteria.
Rakyat yang memilih untuk terus berperang dan menentang kemenangan Asteria dihukum mati, beberapa tentara Gracia juga ada yang mengikuti kebijakan dan tetap hidup sementara beberapa memilih setia pada Gracia dan dihukum mati.
Pada malam ini, petinggi perang seperti jenderal, kapten, letnan, dan beberapa prajurit lain merayakan kemenangan bersama rakyatnya di Wistoria.
Dan... Keesokan paginya, pemulihan besar-besaran akan dimulai.
Kael, Veronica, Rui dan Victor berada di ruang yang lebih tertutup. Menikmati makanan dan minuman, namun mereka masih belum luput dengan politik.
Meskipun obrolan mereka terkesan santai pembahasan mereka masih mencakup kondisi politik dan masalah internal kerajaan.
Di tempat yang dipenuhi cahaya hangat dari lentera dan obor gantung, dari balik puing-puing bangunan. Beberapa tenda raksasa didirikan, beberapa prajurit dan warga menikmati malam itu, mengobrol, bercanda, bercerita dan makan minum bersama.
Di sisi Serena dan kelompoknya, mereka duduk santai menyantap minuman dan makanan ringan di meja.
"Eh, lu tau?" kata Lylian sambil menatap antusias kepada Serena. "Sekitar delapan hari yang lalu, ibu gw baru saja melahirkan anak ketiganya! Senang banget rasanya punya adik."
"Wah... Benarkah? Dan anak ketiga?? Kau punya adik dua?" Serena hampir tersedak minumannya ketika mendengar itu.
"Engga, engga," Lylian menggeleng beberapa kali. "Gw punya abang namanya Vallen, dan gw anak kedua jadi adek gw ini anak ketiga."
"Begitu, ya? Siapa namanya?"
"Arina! Terakhir kali gw liat itu bayi gemes banget asli, rasanya pengen gw cium terus seharian."
𝘈𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘳𝘪𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪𝘤𝘪𝘶𝘮𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘨𝘪𝘵𝘶? 𝘈𝘥𝘢-𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘫𝘢. Pikir Serena sambil menatap Lylian dengan mata setengah tertutup. Wajahnya datar, seolah sudah terlalu lelah untuk bereaksi terhadap apa pun yang baru saja terjadi.
"Asik banget, tuh kayaknya, boleh join?"
Dari belakang Serena Allwin berdiri dengan kondisi tangan kanan yang masih sama, namun kali ini ia mengenakan kaus hitam polos dengan celana abu-abu panjang tanpa motif.
"Silahkan." jawab Serena singkat.
"Oh, ya. Serena, setelah ini mau main ke asramaku?" ajak Allwin pada Serena dengan senyum tipis di wajahnya.
"Hah!? Kenapa tiba-tiba?" Serena terlihat sedikit terkejut tapi tetap tidak bisa menyembunyikan keinginannya untuk tidak menolak, setelah mengingat kembali Allwin selalu memiliki barang yang membuatnya tertarik.
"Jadi, intinya mau nggak?" tanya Allwin lagi.
Sementara Lylian hanya berbisik dengan senyum usilnya. "Ehh.... Kenapa, nih? Mau dilamar, kah?"
"BERISIK!"
"BACOT!"
Jawab Serena dan Allwin serempak.
Allwin berdeham, "jadi gini, lu ingat gim yang kita pernah mainkan dulu? Ya, gw dapet lanjutannya."
"Oh! Maksud lu? Gim Heroes Combat? Boleh, tuh!"
"Ya, kalau mau setelah ini."
"Sip, gw konfirmasi."
"Wah, udah makin akrab aja, nih? Sejak kapan, ya... Perasaan dulu rival banget, deh... " Michael akhirnya angkat bicara dengan nada dan ekspresi yang sama seperti Lylian. Jelas hal itu membuat Allwin dan Serena semakin jengkel.
"Jadi, Celia. Benarkah Allen akan baik-baik saja? Kelihatannya dia kayak orang tanpa jiwa, asli." Natsuki angkat bicara pada Celia menanyakan kondisi Allen yang mungkin sudah mulai sedikit membaik.
"O-oh... Itu, ya... Aku nggak bisa mastiin sepenuhnya, tapi... Allen pasti baik-baik saja." ucapan itu terdengar ragu, mungkin karena memang gaya bicara Celia yang sedikit ambigu dan pemalu sehingga jawaban tersebut tidak membuat Natsuki tenang. Meskipun begitu ia tetap mempercayainya.
"Allwin, ada apa dengan tanganmu? Kulihat dari tadi masih kayak gitu? Apa itu kutukan?" Michael menyilangkan tangannya sambil memiringkan kepala.
"Tidak, mungkin aja... Ini efek samping dari otoritas eskalasi atau apalah itu, gw juga ngga ngerti, sih... " jawab Allwin sambil memandang tangan kanannya di meja.
"Ngga ngerti, tapi ok."
"Sialan, gunanya nanya apa lu kampret!"
"Lah, salah sendiri jelasinnya kaga bener."
Allwin menyilangkan tangannya sambil memalingkan wajahnya.
"Terserah lu, dah." Allwin menengok ke semua orang di meja, "jadi? Kalian mau apa? Gw traktir di sini, cemilan? Minuman atau apa? Gw kasih kalian sesuatu dari Gate gw."
"Beneran, nih?" Serena melirik Allwin. "Kalau gitu... Gw terserah aja, deh... "
𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪, 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴, 𝘬𝘢𝘩 𝘨𝘸 𝘦𝘬𝘴𝘦𝘬𝘶𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨? 𝘉𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢𝘵. Pikir Allwin menanggapi ucapan Serena barusan sementara wajahnya terlihat sedang menyembunyikan amarah dengan terpaksa.
"Aku mau es krim segalon!" Lylian seketika berdiri dan mengangkat tinggi tangan kanannya.
Tak lama kemudian, Sebuah Gate termanifestasi di atas meja dan menjatuhkan satu ember es krim coklat yang masih beku.
"Terkabul."
Setelah itu, beberapa anggota yang lain juga berdiskusi dan mengajukan keinginannya pada Allwin, walaupun ada beberapa yang mintanya ngawur, tapi seluruhnya tetap terbagi rata dengan keinginannya masing-masing.
Lylian dengan es krim, Michael tiga bungkus roti panggang, Natsuki mendapatkan satu ekor ayam panggang, Celia mendapat beberapa botol parfum yang... Terkesan mahal... Sedangkan Serena ia mendapatkan...
"Oh, ya? Kau bilang terserah, kan?" Allwin menatap tajam Serena.
"Iya?"
Dug...
Tiga porsi burger yang penuh dengan topping daging dan keju tersaji di hadapan Serena.
"W-wha.... " Serena ternganga melihat tiga burger, yang besarnya bahkan melebihi telapak tangannya sendiri.
"Banyak amat!? Segini gw nggak bakal abis woi!"
Dengan santai, Allwin mengambil salah satu burger itu dan langsung memakannya. "Kalau begitu, salah satunya buat gw."
Serena yang menahan rasa kesal juga tidak bisa menahan dirinya dari nafsu makan, ditambah aroma daging panggang yang semerbak itu terhirup olehnya.
"Makan aja, tenang ini ngga ada racunnya." ucap Allwin dengan meyakinkan Serena.
Serena mengambil burger itu dengan kedua tangannya, ya setelah dilihat lagi, ternyata ukurannya memang melebihi telapak tangannya, mungkin saja itu tidak muat di mulutnya.
"Gila, sih... Seberapa banyak kolesterolnya ini?" setelah mengucapkan itu, Serena langsung melahap dengan suapan besar pada Burger itu.
Mulutnya tidak bisa berhenti mengunyah, walaupun saus dan lelehan keju sudah mengotori sekitar mulutnya.
"Ah, iya juga,ya! Lu dapet artefak Gate ini dari mana?" tanya Lylian sambil mengelap mulutnya yang blepotan.
"Sejujurnya... Gw lupa, sih." jawab Allwin dengan sebuah gelas minuman emas di lengan kirinya. "Beberapa tahun lalu... Tiba-tiba aja gw dapet koneksi ama Gate ini."
"Penjelasan jenis apa itu, njirr?" ucap Lylian dengan tatapan kosong sementara mulutnya sedikit terbuka, mendengar jawaban Allwin yang tidak ada isinya sama sekali Lylian kembali menyantap es krim miliknya.
◆◆◆
Sementara di ruangan yang dipenuhi cahaya hangat dari lentera magi, Kael, Veronica, Victor dan Rui duduk saling berhadapan di meja bundar.
Hanya ada beberapa gelas dan botol wine di meja dan beberapa berkas.
Jadi, setelah pembahasan panjang, sekarang rencana mereka untuk kerajaan saat ini adalah merenovasi bangunan dan meningkatkan kualitas pembangunan kerajaan, dengan menggunakan arsitektur dan pekerja lapangan yang ahli, mereka membagi beberapa tugas untuk beberapa hal itu.
Pertama, pembangunan kembali rumah warga yang rusak akibat perang. Kedua pembangunan dan peningkatan dinding pertahanan di ibu kota. Ketiga peningkatan jalan, dengan menggunakan semen dan beberapa kerikil mereka mencoba untuk membangun jalan raya yang menghubungkan setiap kota, hal ini ditujukan untuk mempermudah perjalanan dagang.
Kemudian, di wilayah selatan bagian barat yaitu jalur perdagangan dunia yang melewati Asteria juga akan dibangun jalan raya dan pos pajak yang dijaga ketat agar tindakan kriminal seperti bandit berkurang dan itu juga berguna untuk mempersulit pedagang yang curang untuk tidak membayar pajak jalan.
"Ini bagus, karena tidak hanya mencakup perbaikan, tapi juga pengembangan. Masalahnya apakah kas kerajaan cukup?" Kael melihat beberapa dokumen keuangan negara, dari kertas-kertas itu beberapa catatan tentang mata uang, ekonomi dan yang lainnya terlihat merah, menandakan bahwa ekonomi Asteria hampir atau bahkan sudah anjlok cukup jauh dari sebelum perang, Victor tetap diam sembari mengusap dagunya.
Akhirnya Victor mengangkat kepalanya dan menatap Kael. "Kita gunakan semua yang kita miliki, kalo kurang kita ngutang, lagi pula... Kita punya gandum dan tambang emas yang banyak, kita bakal ngejual itu kepada negara lain." jelas Victor. "Dan juga, tentang teknologi listrik. Serena baru saja berhasil menyempurnakan teknologi ini, dengan begitu kita bisa menciptakan barang seperti, lampu, mesin reaktor dan tentu alat komunikasi baru seperti Aether Vox ini." Victor mengeluarkan sebuah perangkat kecil dengan antena di atasnya,
Beberapa anggota menganggap itu hanya radio magi atau semacamnya. Tapi Victor mengatakan: "ini tidak seperti yang kalian bayangkan, beberapa waktu lalu sebelum dia ikut perang, Serena memberikan alat ini kepadaku, dia bilang ini adalah alat komunikasi tanpa Magi." Victor meletakkan perangkat tersebut ke tengah meja.
Sebuah perangkat kecil berbentuk persegi panjang dengan panel datar di bagian atas dan deretan angka di bawahnya. Di tengah perangkat tertera nomor identitas 1.
Setiap perangkat memiliki nomor berbeda, memungkinkan penggunanya menghubungi Vox lain secara langsung melalui jaringan listrik dan sinyal.
"Jadi... Ini yang katanya cikal bakal kemajuan teknologi komunikasi? Bagaimana cara kerjanya? Bukankah dibutuhkan aliran Magi untuk menyampaikan suara? Seperti... Telepati gitu?" kata Veronica, meskipun begitu, ia masih tidak percaya bahwa seseorang seperti Serena memiliki bakat teknologi yang begitu maju, seolah Serena baru saja mengalahkan ilmuwan jenius mana pun.
"Barang ini? Diciptakan oleh seorang bocah akademi? Sulit dipercaya, tapi... Tidakkah kita harus membedahnya dan mencari ilmu tentangnya terlebih dahulu pada Serena?" Rui mengajukan pendapatnya pada Victor yang terlihat begitu percaya diri pada penemuan Serena.
"Benar, besok kita akan memulainya, menteri pembangunan akan mengurus pembangunan jalan dan rumah sementara ilmuwan dan menteri teknologi Asteria akan mempelajari lalu mengembangkannya lebih jauh." Victor melipat jari-jarinya, senyum percaya dirinya terukir semakin jelas hingga memperlihatkan giginya.
"Tak kusangka, ternyata gadis itu jauh lebih jenius dari apa yang kubayangkan, sekian lama tidak mengajar, tahu-tahu udah bikin penemuan aja itu anak." Kael tersenyum bangga pada gadis itu, walaupun tipis dan hampir tidak terlihat, setidaknya perasaannya tidak salah. "Kalau begitu kita akhiri rapatnya di sini, selebihnya akan kita bahas besok."
◆◆◆
Beberapa menit berlalu, malam sudah semakin larut. Kelompok Serena memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, sementara Serena mengikuti Allwin menuju asramanya. Tidak di rumah Kael karena colokan listrik hanya terpasang pada rumah Allwin untuk menyalakan PS miliknya.
Sesampainya di pintu asrama, Cklek... Pintu terbuka, Allwin melangkah masuk terlebih dahulu sambil memegang gagang pintu dan membiarkan Serena masuk.
"Cepat, lama gw kunciin lu." ucap Allwin dengan nada ketus.
"Ya, ya, ya... " sahut Serena dengan nada malas sedangkan kakinya terus melangkah masuk mendekati sebuah perangkat televisi dan konsol. Setelahnya Serena melepaskan dan menggantung jaketnya menyisakan pakaian putih tanpa lengan yang terpakai olehnya sebelum duduk.
Lentera kecil dinyalakan, televisi diaktifkan, kabel dicolokkan kepada saklarnya, dan disc telah dimasukkan pada PS.
Lampu televisi menerangi ruangan yang mulai gelap. Sebuah layar berwarna menampilkan logo besar HEROES COMBAT sebelum perlahan masuk ke menu utama.
Allwin duduk di lantai sambil memegang kontroler. "Lu pilih karakter dulu."
Serena duduk di sampingnya, matanya langsung tertuju pada daftar karakter yang memenuhi layar.
"Yang ini siapa?"
"Gw saranin jangan pilih dia."
"Kenapa?"
"Lu bakal kalah gampang."
Serena langsung menoleh.
"...Sombong banget."
"Faktanya gitu."
Serena memilih karakter yang tadi dilarang Allwin.
Allwin hanya menghela napas panjang.
"Yaudah."
Beberapa detik kemudian, pertandingan dimulai.
FIGHT!
Serena langsung menekan berbagai tombol secara acak.
"Eh! Kok nggak keluar?"
"Lu harus pakai kombinasi tombol."
"Mana gw tau!?"
Allwin mulai tertawa kecil.
"Lihat, gini."
Karakter miliknya bergerak cepat dan langsung melancarkan serangkaian serangan.
Serena menatap layar dengan wajah datar.
"...Lu ngajak gw main cuma buat pamer?"
"Enggak."
Allwin tersenyum tipis.
"Gw ngajak lu main karena gw pengen menang."
"Dasar bajingan."
Pertandingan pun berlanjut.
Satu jam, dua jam, tiga jam mereka bermain. Hingga keduanya ketiduran di hadapan layar yang masih menyala.