Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Keesokan harinya Carol bangun di atas ranjang yang lebih empuk dan dengan aroma yang berbeda. Ini bukan ranjangnya.
Matanya menyipit karena sinar matahari yang menembus tirai.
"Awwhhh." Gadis itu meringis sakit, kepalanya masih sedikit pusing.
Carol terdiam, dia meneliti seisi kamar ini. Namun ada satu wangi khas yang ia cium disini, yaitu wangi Andrew.
Gadis itu langsung berdiri dan keluar kamar, dia mencari Andrew yang ternyata sedang memasak di dapur.
Saat ingin menghampirinya Carol sebisa mungkin mengatur ekspresi lebih dulu. Barulah dia duduk di meja pantry.
"Kenapa aku ada disini?" tanyanya judes.
Andrew yang sedang fokus dengan masakannya pun menoleh, dan mendapati wajah bantal Carol sedang menatap kesal padanya.
"Akhirnya kau bangun juga." Andrew mematikan kompornya, kemudian mengambil piring. Dia menyajikan makanan yang dia masak ke depan Carol.
"Makan dulu."
Masih diam, Carol menatap makanan itu dengan gengsi, perutnya yang sedari malam tidak diisi pun akhirnya berbunyi seakan memberi peringatan untuk segera menelan makanan itu.
"Aku tahu kau lapar, jadi makanlah dulu. Setelah itu kita mengobrol."
Carol membuang muka saat Andrew membuka celemek yang ia pakai di badan berototnya, badan bagian atasnya kini terekspos jelas karena tidak menggunakan baju.
"Ini minumnya. Aku mandi dulu, makanlah dengan tenang."
Pria dewasa itu melenggang pergi setelah meninggalkan segelas susu strawberry di atas meja. Sekarang Carol tidak perlu merasa malu lagi, perutnya benar-benar sudah berisik minta diisi dan akhirnya Carolpun memakan makanannya.
Tanpa di sadari ternyata Andrew memperhatikannya dari balik dinding dan pria itu tersenyum tipis.
...----------------...
Selesai makan Carol disuruh untuk mandi dan berganti pakaian karena ternyata Andrew sudah menyiapkan pakaian ganti yang baru untuknya.
Dan anehnya semua pakaian yang disiapkan Andrew itu ukurannya sangat pas di tubuh Carol, termasuk dalaman.
Bukannya kesal Carol justru tersenyum lebar, "Dia mengenaliku sedetail itu."
Gadis itupun keluar dari kamar karena Andrew sudah menunggunya di ruang tv, pria itu nampaknya sedang sibuk dengan iPad di tangannya.
"Kita harus bekerja bukan?" tanya Carol.
Andrew menoleh, dia menatap Carol yang sekarang duduk di depannya.
"Tidak perlu."
"Tapi.."
"Perusahaan itu milikku, jadi ikuti saja perintahku."
Carol memutar bola matanya malas, "Baiklah, Presdir."
...----------------...
Setelah melihat keadaan Carol yang sudah baik-baik saja Andrew pun mengantar Carol pulang.
Di sepanjang perjalanan Andrew sama sekali tidak bersuara. Padahal tadi dia berjanji akan mengobrol.
"Kau bilang.."
"Aku hanya takut menyesal karena meninggalkanmu disana sendiri." potong Andrew dengan cepat.
Carol terdiam sambil membuang muka, "Aku pikir kau cemburu."
"Cemburu? Hal macam apa itu? Aku ini pria dewasa Carl."
"Aku tau."
"Dengar Carl, janjiku pada ibu dan kakakmu itu bukan omong kosong. Aku hanya memegang tanggung jawabku, itu saja."
"Fine. Sekarang rasanya aku sudah muak mendengar alasan itu. Apa kau tidak punya alasan lain?"
"Kalau kau memang ingin sekali mencari pasangan, akan aku bantu carikan yang pantas untukmu. Yang seumuran tentunya." ucap Andrew santai.
Mata Carol mulai berkaca-kaca mendengarnya, "Kau serius?"
Ckittt. Mobil mewah itu berhenti tepat di depan lobi apartemen.
Satu buliran bening jatuh di pipi Carol, dia menatap Andrew dengan penuh kekecewaan.
"Aku serius."
Wajah Carol jelas kaget, dia tidak menyangka dengan jawaban Andrew yang terdengar tenang dan yakin.
Andrew menatap Carol dengan berat, pipi gadis itu terlihat sudah basah oleh air mata. Pria itu mengangkat tangan dan mengusapnya lembut namun Carol menghempaskan tangannya.
"Tidak perlu!" Carol bergegas turun dia pergi dengan rasa sakit yang tidak pernah dia bayangkan.