NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Bu Ratna menghabiskan tehnya dulu sebelum bicara. Itu hal pertama yang Reyhan perhatikan.

Mereka duduk berhadapan di ruang kerja yang terlalu sempit untuk percakapan sebesar ini. Perempuan itu meletakkan tas anyamannya di pangkuan, merapikan lipatan blus batiknya, dan menatap Reyhan dengan mata yang jernih dan hati-hati, seperti seseorang yang sudah berkali-kali menyusun kalimat di kepala dan masih belum puas.

"Ibu minta maaf kalau lancang, Mas."

"Tidak apa-apa, Bu. Silakan."

"Ibu ini orang yang nggak suka ikut campur. Dua tahun makan di sini, nggak pernah sekali pun Ibu komentar soal urusan dapur." Bu Ratna menarik napas. "Tapi Ibu dengar sesuatu di arisan RT minggu lalu, dan Ibu pikir Mas harus tahu."

Reyhan tidak bergerak.

"Katanya di Waroeng Sederhana ada pegawai yang diistimewakan sama pemiliknya. Pegawai dapur belakang. Yang bagian cuci piring." Suara Bu Ratna merendah. "Katanya gajinya dilebihin, diantar pulang tiap sore, dikasih libur tapi dibayar. Ada yang bilang dia sengaja deketin Mas supaya naik jabatan."

Hening. Di luar, suara piring beradu terdengar jauh.

"Dan ada yang bilang," lanjut Bu Ratna, lebih pelan, "bukan cuma itu."

Rahang Reyhan mengeras. "Siapa yang bilang, Bu?"

"Ibu juga nanya itu. Katanya dari orang dalam." Bu Ratna menatapnya lurus. "Ibu nggak percaya, Mas. Ibu tahu Mas orangnya bagaimana. Dan Ibu sempat lihat anak itu kerja, tangannya merah, tapi nggak pernah ngeluh. Tapi ibu-ibu itu, kalau sudah senang bercerita, susah dihentikan."

"Terima kasih sudah memberi tahu, Bu."

"Ibu nggak akan berhenti makan di sini." Bu Ratna tersenyum tipis. "Tapi nggak semua orang seperti Ibu, Mas. Nama baik itu mahal."

Kalimat yang sama, nyaris persis, dengan pesan yang pernah masuk ke ponselnya. Reyhan mengangguk pelan dan mengantar Bu Ratna sampai pintu depan, dengan sopan yang terasa asing di mulutnya sendiri.

Setelah perempuan itu pergi, ia berdiri lama di depan papan hijau bertuliskan *Waroeng Sederhana* yang baru dipasang. Huruf-hurufnya putih dan bersih. Ia mengganti nama pemilik agar orang berhenti membicarakan dirinya, dan sekarang yang dibicarakan justru warungnya.

Dan di dalam, di balik dinding yang tipis, ada seorang perempuan yang sedang mencuci piring tanpa tahu bahwa seluruh kota sedang membicarakan dirinya.

---

Malam pertama, ia menghitung kas sampai lewat jam sebelas.

Angka-angka itu tidak berbohong. Penjualan turun sekitar seperlima dalam satu minggu, dan dua reservasi untuk akhir pekan dibatalkan tanpa alasan. Mbak Sari melaporkannya tadi sore dengan suara datar yang sama seperti biasa.

"Turun, Mas. Ada yang batal."

"Karena apa?"

"Saya nggak tahu."

Jawaban itu jujur dan sekaligus tidak jujur, dan Reyhan terlalu lelah untuk membedakannya.

Di rumah, ia duduk di meja makan yang terlalu besar untuk satu orang. Lampu dapur menyala redup, dan kulkas berdengung pelan seperti makhluk tua yang terjaga. Ia membuka laci tempat ayahnya dulu menyimpan buku catatan warung, dan menemukan di antara kertas-kertas kuning itu satu halaman dengan tulisan tangan yang kaku dan tegas.

*Nama baik itu seperti telur, Rey. Jatuh sekali, bisa ditempel, tapi retaknya tetap kelihatan.*

Ayahnya menulis itu dua puluh tahun lalu, ketika warung mereka di kampung nyaris ditutup karena fitnah seorang tetangga. Reyhan masih ingat wajahnya waktu itu, laki-laki pendiam yang tidak pernah membela diri, hanya bekerja lebih keras, sampai orang-orang kembali datang satu per satu dan tidak pernah mengungkit lagi.

Tapi ia juga ingat satu hal yang tidak tertulis di halaman itu: ayahnya tidak pernah berhenti menunduk di depan orang-orang itu, bahkan sesudahnya. Dan ia tidak pernah bertanya kenapa, karena ia sudah tahu jawabannya. Karena ia tumbuh menjadi anak yang meniru.

Reyhan menutup buku itu, memadamkan lampu, dan duduk lama dalam gelap. Ia tidak ingin menjadi ayahnya. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia takut bahwa ia sudah menjadi persis seperti dia.

---

Malam kedua dimulai sejak pagi.

Ia berusaha mengamati Anindya tanpa terlihat mengamati. Perempuan itu bekerja seperti biasa, dengan punggung tegak dan tangan terbalut kuning, menggosok piring satu per satu dengan konsentrasi yang tidak memberi ruang bagi siapa pun. Tidak ada tanda-tanda ia tahu apa yang diceritakan di luar sana. Atau mungkin ia tahu, dan memilih tidak membiarkannya terlihat.

Siang, ketika dapur sedang sepi, Reyhan mencari alasan lewat bak cuci.

"Anin."

"Iya, Mas?"

"Kamu... baik-baik saja?"

Anindya menoleh. Tangannya tidak berhenti bekerja. "Kalau Mas tanya sebagai bos, saya baik."

"Dan kalau bukan sebagai bos?"

"Kalau bukan sebagai bos," katanya pelan, "Mas nggak perlu tanya."

Tidak ada kemarahan dalam suaranya. Tidak ada air mata, tidak ada sindiran, hanya batas yang ditarik dengan rapi dan tenang. Reyhan membuka mulut, menutupnya lagi, dan akhirnya hanya mengangguk.

"Baik."

Ia berjalan menjauh dengan perasaan aneh bahwa ia baru saja ditolak dengan cara yang paling sopan yang pernah ia terima. Dan di balik punggung Anindya yang tegak itu, ia tidak bisa melihat betapa kuatnya perempuan itu menahan sesuatu agar tidak runtuh. Karena Anindya sudah pernah belajar: orang yang menangis di depan orang yang akan menyakitinya hanya memberi senjata.

Sore harinya, di ruang makan, dua perempuan duduk di meja dekat jendela dengan piring yang nyaris tidak tersentuh. Rafi mengantarkan teh, dan salah satunya bertanya dengan suara yang tidak serendah yang ia kira.

"Dek, yang katanya itu yang mana ya? Yang dekat sama bosnya?"

Rafi membeku dengan nampan di tangan. "Maaf, Bu... maksudnya apa?"

"Itu loh. Yang katanya..." Perempuan itu melirik ke arah dapur, penuh arti.

Dan di sana, di ambang pintu dapur, Teh Lilis berdiri membawa panci kecil. Matanya bertemu mata dua perempuan itu sebentar, hanya sebentar, dan dalam sepersekian detik ia menggerakkan kepalanya sedikit ke arah bak cuci. Bukan isyarat yang disengaja. Hanya refleks seseorang yang terlalu lama menyimpan sesuatu, dan hari ini tidak sanggup menahannya.

Bukan hanya Rafi yang melihatnya. Reyhan, yang berdiri di dekat meja kasir, juga melihat. Begitu pula Anindya, yang kebetulan keluar membawa keranjang gelas.

Tidak ada yang bicara. Dua perempuan itu berdiri, meninggalkan uang di meja tanpa menghabiskan makanannya, dan pergi.

Anindya meletakkan keranjang gelas dengan sangat hati-hati di atas meja, lalu berjalan kembali ke dapur tanpa menoleh. Ketika ia lewat di depan Teh Lilis, perempuan itu menunduk begitu dalam sampai rambutnya menutupi wajah. Dan Anindya, yang paham bahwa itu bukan jawaban melainkan permohonan maaf yang tidak berani diucapkan, hanya menepuk lengannya sekali, pelan, tanpa berkata apa-apa.

Malam itu, Reyhan tidak menghitung kas. Ia duduk di mobil di halaman belakang selama hampir satu jam tanpa menyalakan mesin. Di kaca depan, ia melihat pantulan wajahnya sendiri, dan tidak mengenalinya.

---

Malam ketiga datang dengan sebuah pesan.

Pesan itu masuk jam sembilan pagi, dari ibu pemimpin arisan yang bulan lalu memesan empat puluh porsi. Sopan, rapi, dan dingin seperti es yang sengaja dipotong halus.

*Mohon maaf, Mas Reyhan. Setelah dipertimbangkan, ibu-ibu lebih nyaman mencari tempat lain untuk acara bulan ini. Terima kasih atas kerja samanya selama ini.*

Reyhan membacanya berdiri di dapur. Teh Lilis, yang kebetulan ada di dekatnya, melihat wajahnya berubah dan langsung menunduk. Dan di sudut dapur, Mbak Sari berhenti memotong bawang, hanya sebentar, lalu melanjutkannya dengan gerakan yang terlalu halus.

Siang itu Bayu menemuinya di koridor.

"Mas."

"Bayu, saya lagi..."

"Mas lebih percaya omongan orang daripada Anin?"

Pertanyaan itu jatuh tanpa basa-basi. Reyhan berhenti melangkah.

"Saya nggak bilang saya percaya."

"Tapi Mas mikir mau mecat dia."

"Saya belum bilang begitu."

"Belum." Bayu mengulang kata itu pelan. "Ini bukan soal Mas percaya atau nggak, Mas. Ini soal Mas mau milih siapa."

"Ini soal warung."

"Itu juga pilihan."

Reyhan menatapnya lama. Lalu ia menjawab, dengan suara yang ia sendiri tidak kenali, "Saya punya delapan orang yang bergantung pada tempat ini."

"Tujuh," kata Bayu. "Dan satu orang yang nggak salah apa-apa."

Ia pergi, meninggalkan Reyhan sendirian di koridor sempit dengan kalimat itu yang berdengung di telinganya seperti lalat di kaca jendela.

---

Sore itu, setelah semua orang pulang, Reyhan duduk di depan laptop di ruang kerja yang gelap.

Ia mengetik dengan dua jari, lambat, satu huruf demi satu huruf, seperti seseorang yang menulis wasiat. Kop surat. Tanggal. Nama. *Anindya.* Kolom jabatan. Kolom alasan.

Jarinya berhenti di kolom itu.

Ada begitu banyak yang ingin ia tulis. *Karena saya tidak cukup berani.* *Karena saya takut kehilangan warung ini.* *Karena saya takut kehilangan kamu, dan saya tidak tahu cara membedakan keduanya.*

Tidak ada yang ia tulis. Ia mengetik: *Penyesuaian operasional.* Lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi. Akhirnya ia membiarkan kolom itu kosong.

Surat itu ia cetak, ia lipat dengan hati-hati, dan ia tandatangani dengan tangan yang gemetar sedikit. Ia memasukkannya ke dalam amplop putih, menuliskan satu nama di depannya, dan meletakkannya terbalik di atas meja.

Lampu ia padamkan.

Di dapur yang kosong, di leher keran bengkok yang basah oleh sisa air, sebuah sarung tangan kuning tergantung diam, menunggu pagi.

Dan di kamar kos di Gang Mawar, Anindya duduk di pinggir kasur dengan buku tulis di pangkuan, menghitung angka tabungan yang ia hafal. Ia tidak tahu kenapa malam itu ia menghitungnya tiga kali. Tubuhnya tahu sesuatu yang belum diketahui pikirannya. Dan di sudut kamar, di dalam tas kecilnya, sebuah buku resep lusuh menunggu dibuka.

Bersambung ke Bab 16...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!