Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Sore harinya, Hazel melangkah masuk ke dalam rumah. Rasa lelah akibat kehebohan di sekolah tadi pagi mendadak menguap begitu saja saat hidungnya menangkap aroma harum bumbu tumisan yang menyeruak dari arah dapur.
Gadis itu meletakkan tas sekolahnya di sofa ruang tamu, lalu melangkah pelan menuju area dapur. Di sana, Sagara sedang berdiri membelakanginya, sibuk di depan papan pemotong.
Hazel menghentikan langkahnya, menatap gerakan tangan Sagara dengan kening berkerut. Pria itu memegang sebuah pisau dapur berukuran besar, namun cara jemarinya memotong bahan makanan benar-benar di luar dugaan. Potongan daging dan sayuran terbagi dengan ketebalan yang sangat presisi dan dalam waktu yang amat cepat. Gerakan tangannya begitu cepat, cekatan, dan stabil seolah-olah jemarinya sudah memegang senjata tajam selama puluhan tahun.
Tidak ada sedikit pun keraguan atau kecanggokkan pada gaya memotongnya. Pemandangan itu tampak sangat kontras dengan kepribadian Sagara yang selama ini penakut dan serba salah.
Hazel menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu, menatap tangan Sagara yang masih sibuk memotong dengan lihai.
"Kamu pintar banget, Kak," celetuk Hazel tiba-tiba, memecah keheningan. "Gaya memotongmu telaten banget. Seperti orang yang sudah terlatih bertahun-tahun pakai pisau."
Sagara tersentak pelan. Gerakan tangannya terhenti seketika. Pria itu menoleh ke belakang, menatap Hazel dengan raut wajah yang amat polos dan bingung. Ia memiringkan kepalanya sedikit, memindai pisau di tangannya lalu menatap Hazel kembali.
"E-eh? Pintar?" tanya Sagara dengan nada polos tanpa dosa. "Apa... memangnya terlihat seperti itu, Hazel? Aku cuma memotong bahan makanan biasa..."
Sagara sendiri tampak tidak menyadari betapa lihainya refleks dan teknik jemarinya barusan. Bagi Sagara, gerakan itu mengalir begitu saja secara alami di luar ingatannya yang hilang.
Hazel menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman penuh arti. Rasa curiga di hatinya makin kuat. Pria ini jelas bukan orang sembarangan sebelum amnesia. Teknik memegang pisau yang sepresisi itu bukanlah kemampuan yang bisa didapatkan hanya dari belajar memasak dua tahun di rumah Cateline.
"Iya, kamu hebat kok, Kak," sahut Hazel lembut, menyimpan rasa penasarannya rapat-rapt.
TAP! TAP! TAP!
Suara langkah kaki bergaung nyaring dari arah tangga. Cateline turun dengan penampilan yang sangat mencolok dan glamor. Ia mengenakan gaun malam yang mewah, riasan wajah yang tebal memikat, serta perhiasan yang berkilauan. Bau parfum mahal yang menyengat langsung memenuhi area ruang tengah.
Cateline bahkan tidak sudi melirik ke arah dapur tempat Hazel dan Sagara berdiri. Ia berhenti sejenak di depan cermin besar dekat foyer untuk membetulkan tatanan rambutnya.
"Sagara," panggil Cateline dengan nada dingin dan penuh perintah, tanpa berbalik badan. "Malam ini aku ada acara gala dinner penting dengan para kolega bisnis papan atas. Aku tidak akan pulang malam ini, jadi tidak usah menungguku."
Tanpa menunggu jawaban dari Sagara atau memedulikan keberadaan Hazel, Cateline menyambar tas genggam mewahnya, lalu melangkah keluar mansion. Suara deru mesin mobil mewahnya terdengar menjauh, meninggalkan rumah besar itu kembali dalam keheningan.
Di dalam mobil mewah yang perlahan meluncur meninggalkan pekarangan mansion, Cateline menyandarkan tubuhnya pada jok kulit yang empuk. Perempuan itu melirik ke arah jendela luar, menatap bayangan rumah mewahnya yang kian menjauh.
Sudut bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala bertolak ke atas, membentuk senyuman sinis yang amat culas dan penuh niat jahat.
"Nikmati hadiahku untuk kalian berdua," bisik Cateline pelan pada keheningan di dalam mobil. Suaranya terdengar begitu beracun sebelum ia tertawa kecil, membiarkan pengawalnya mengemudikan mobil membelah kegelapan malam.
Sementara itu di dapur, suasana hangat mendadak berubah tegang. Sagara yang baru saja hendak melanjutkan aktivitas memasaknya tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya. Pisau dapur yang dipegangnya terlepas, membentur papan pemotong dengan suara keras.
Pria tinggi itu memegangi dadanya. Napasnya mendadak berembus cepat dan berat. Warna kemerahan samar perlahan merambat naik dari leher hingga membasahi paras tampannya dengan peluh dingin. Tubuhnya terasa begitu membara dari dalam, seolah-olah ada api misterius yang membakar aliran darahnya.
"Kak Sagara?" Hazel yang menyadari perubahan drastis itu melangkah mendekat dengan raut bingung. "Kamu kenapa?"
Sagara mencengkeram tepi meja konter dapur dengan erat, berusaha keras menjaga keseimbangan tubuhnya yang mendadak gemetar hebat. Pandangannya mulai memburam, dan kesadarannya serasa direnggut secara paksa oleh sensasi panas yang kian menyiksa.
"H-hazel..." aduh Sagara dengan suara serak yang bergetar menahan sakit. "Tubuhku... panas sekali..."
Pria itu menyapu keringat dingin di dahinya dengan canggung, napasnya makin memburu. "A-aku... aku mau ke kamar dulu," bisiknya lirih dan terbata-bata sebelum memaksakan kakinya yang lemas melangkah meninggalkan dapur.
Melihat cara berjalan Sagara yang sempoyongan dan begitu tidak stabil, rasa cemas langsung melingkupi dada Hazel. Tanpa membuang waktu, gadis 19 tahun itu bergegas menyusul langkah Sagara menaiki tangga menuju lantai atas.
Sagara berhasil mencapai kamarnya, namun ia tak sanggup lagi melangkah lebih jauh. Pria itu menabrak pinggiran tempat tidur dan jatuh terduduk di atas kasur, memegangi kepalanya yang terasa pening luar biasa. Baju kaos yang dikenakannya kini sudah basah kuyup oleh keringat.
Hazel menerobos masuk ke dalam kamar, berlari kecil menghampiri Sagara dengan raut wajah sangat panik. Ia berlutut di depan Sagara, menyentuh lengan pria itu dan meresapi betapa tingginya suhu tubuh sang kakak ipar.
"Kak, badanmu panas sekali! Ini tidak wajar!" seru Hazel dengan suara bergetar kecemasan. Ia panik melihat kondisi Sagara yang tampak begitu tersiksa. "Tunggu di sini, aku akan panggil dokter sekarang—"
Saat Hazel berniat bangkit dan meraih ponselnya, sebuah gerakan impulsif menahannya.
"P-panas..." gumam Sagara lirih.
Dengan refleks yang tak terkendali akibat kesadarannya yang kian terkikis, jemari panjang Sagara yang terasa membara mendadak meraih pergelangan tangan Hazel, menahannya dengan genggaman yang cukup kuat namun lembut.
Cengkeraman itu menarik tubuh Hazel kembali mendekat hingga jarak di antara mereka terkikis drastis. Hazel tersentak kaget, napasnya tertahan seketika.
Hazel mendongak, dan pada detik itu juga, manik mata cokelat jernih miliknya terkunci rapat dengan manik mata Sagara yang tampak redup, dalam, dan dipenuhi kabut gairah asing yang tak mampu dipahami oleh pria polos itu sendiri. Di bawah temaram lampu kamar, keduanya saling bertatapan dalam keheningan yang mencekam, hanya diiringi suara deru napas mereka yang beradu rapat.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...