NovelToon NovelToon
Oh! Mantan Kekasihku

Oh! Mantan Kekasihku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:191.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.

Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Mau?

Mendengar penjelasan Gavin, Hazel terdiam. Ia menatap lekat-lekat garis merah di peta yang menggambarkan aliran sungai pembatas desa, rasa khawatir langsung menyelimuti pikirannya.

Sebagai tenaga medis, ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib warga desa jika ada yang membutuhkan pertolongan darurat di saat alam sedang tidak bersahabat seperti sekarang.

​"Kalau ada kasus darurat lagi seperti Pak Joko kemarin, apa yang bisa dilakukan?" tanya Hazel.

"Tidak ada, mau menggunakan perahu juga percuma karena arus yang tidak memungkinkan. Satu-satunya yang bisa dilakukan ya menunggu," jawab Gavin.

"Kasihan," gumam Hazel.

Gavin yang mendengar gumaman Hazel perlahan menurunkan pandangannya, ia menatap wajah Hazel yang tampak sangat tulus dan penuh empati. Benteng pertahanan di dalam diri Gavin kembali terkikis melihat sisi lain dari Hazel, di mana sifat penyayang yang ia miliki itu sebenarnya sudah ada sejak wanita itu masih berseragam putih abu-abu.

​"Makanya, Hazel. Keberadaan kamu dan tim medis di sini itu sangat berarti untuk mereka. Meskipun fasilitas kita seadanya, setidaknya mereka tahu kalau mereka tidak benar-benar ditinggalkan," Suara Gavin memecah keheningan, kali ini terdengar sangat dekat di telinga Hazel.

Hazel menoleh dan sedetik kemudian ia menyesali keputusannya, karena jarak mereka ternyata begitu dekat hingga ia bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh Gavin.

Napas Hazel mendadak tertahan. Di dalam ruang komando yang hanya diterangi cahaya kuning keemasan dari lampu, sepasang mata elang Gavin menguncinya rapat-rapat.

​"Gavin, aku...," Hazel berbisik gugup, mencoba mencari kata-kata untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah menjadi sangat intim dan intens.

​Namun, Gavin tidak membiarkan Hazel menghindar lagi. Pria itu mengulurkan tangannya perlahan, sejajar dengan bahu Hazel lalu menyentuh dinding di belakang wanita itu, mengurung Hazel di antara tubuh tegapnya dan meja.

​"Empat belas tahun, Hazel. Empat belas tahun aku hidup dalam tanda tanya, kamu pergi tanpa pamit dan meninggalkan aku yang saat itu berpikir kalau aku adalah orang paling bahagia karena memilikimu. Setiap malam di barak pengungsian, di medan latihan, sampai di perbatasan ini... aku selalu meyakinkan diriku sendiri kalau aku membencimu. Tapi nyatanya, aku cuma membohongi diriku sendiri," bisik Gavin, suaranya terdengar serak dan sarat akan kerinduan yang selama ini ia pendam dalam-dalam di balik wajah tidak bersahabatnya.

​Air mata Hazel kembali mendesak keluar mendengar pengakuan jujur itu, dada pria di depannya naik-turun menahan emosi yang meluap. Hazel bisa melihat dengan jelas ada luka, amarah, sekaligus cinta yang begitu besar di dalam mata Gavin.

​"Gavin, maafkan aku... demi Tuhan, andai kamu tahu apa yang terjadi saat itu," ucap Hazel dengan suara yang bergetar hebat, isak tangisnya yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah juga.

"Yang lalu biaran berlalu, aku cuma berharap jangan buat aku menjadi orang bodoh lagi," ucap Gavin lembut, jemarinya bergerak naik untuk menangkup pipi Hazel yang basah dan menyeka air mata yang mengalir dengan ibu jarinya.

​Hazel memejamkan mata, menikmati kehangatan telapak tangan Gavin yang sangat ia rindukan. Di tengah suara badai dan hantaman hujan deras di luar, di dalam ruangan kecil itu, dua hati yang sempat terpisah oleh ego dan takdir akhirnya mulai saling membuka diri.

"Kamu mau menikah denganku?" tanya Gavin tiba-tiba.

Pertanyaan yang keluar dari bibir Gavin bak petir yang menyambar lebih keras daripada badai di luar sana. Hazel seketika membuka matanya lebar-lebar, menatap Gavin dengan pandangan tidak percaya, jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mau melompat keluar.

​Di bawah temaram lampu, wajah Gavin sama sekali tidak menunjukkan main-main. Tidak ada keraguan di matanya, yang ada hanyalah keseriusan dari seorang pria yang sudah selesai dengan masa lalunya dan tahu persis apa yang dia inginkan sekarang.

​"Ga-Gavin... kamu... kamu bicara apa?" bisik Hazel terbata-bata, suaranya mendadak habis dan tercekat di tenggorokan.

​Gavin tidak menjauhkan tangannya dari pipi Hazel, ia justru mengusap kulit lembut itu dengan ibu jarinya dan memberikan kehangatan yang membuat tubuh Hazel perlahan berhenti gemetar.

​"Aku tidak sedang bercanda, Hazel. Aku serius," balas Gavin, suaranya berat, dalam dan penuh penekanan.

"Empat belas tahun kita membuang waktu secara sia-sia hanya untuk saling merindu dalam balutan rasa benci. Aku tidak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya, jadi aku tanya sekali lagi... kamu mau menikah denganku?" tanya Gavin lagi.

Hazel menelan ludahnya dengan susah payah, air mata yang baru saja diseka kini kembali menggenang di sudut matanya, ia bahagia dengan ajakan Gavin. Namun disisi lain, kenyataan pahit langsung menghantam kepalanya seperti godam besar, bayangan wajah ketat dan dingin Mama Vivian, seketika melintas di benaknya.

​"Gavin, ini terlalu cepat... dan kamu tahu sendiri bagaimana Mamaku," ucap Hazel lirih, kepalanya tertunduk layu dan tidak berani menatap mata Gavin lagi.

"Asalkan kamu setuju, aku akan berjuang," ucap Gavin.

"Tapi, aku nggak yakin Mamaku akan merestui kita," ucap Hazel.

"Kita akan tahu setelah kita mencobanya," ucap Gavin.

"Tapi...," Belum sempat Hazel menyelesaikan perkataannya, Gavin sudah kembali bersuara.

"Kamu mau?" tanya Gavin.

"Kita coba ya," jawab Hazel dengan ragu menganggukkan kepalanya.

"Terima kasih," ucap Gavin dan menarik tubuh Hazel kedalam dekapannya.

​"Kamu... beneran mau berjuang buat kita?" tanya Hazel memastikan.

​Gavin tersenyum tipis, senyuman langka yang sangat tulus, yang hanya ia perlihatkan khusus untuk Hazel. "Menurut kamu, untuk apa aku menahan diri tidak mencari wanita lain selama empat belas tahun ini kalau bukan karena menunggu kamu, hah?" goda Gavin dengan nada santai dan mencoba mencairkan suasana.

​Hazel refleks mencubit pelan pinggang Gavin, membuat pria itu terkekeh pelan. "Ih, gombal! Terus yang namanya Tika kemarin itu apa?" tanya Hazel dengan dahi berkerut, pura-pura ketus padahal hatinya sudah sangat lega.

​"Kan sudah dibilang, dia yang menggangguku. Akunya sama sekali nggak peduli," jawab Gavin sambil mencolek hidung Hazel gemas.

"Btw, kamu beneran nggak punya pacar selama empat belas tahun ini?" tanya Hazel.

"Nggak, pacar pertama dan terakhirku itu kamu," ucap Gavin, yang semakin mengeratkan pelukannya.

"Tapi, aku dengar banyak yang mau jadi pacar kamu. Tapi, kenapa kamu malah nggak punya pacar?" tanya Hazel.

"Aku nungguin kamu," jawab Gavin.

"Ish, katanya kamu sempat benci sama aku," ucap Hazel.

"Ya, gimana dong. Aku udah cinta mati sama kamu, mau sebenci apapun itu. Aku nyari perempuan yang kayak kamu dan sayangnya aku nggak dapat," ucap Gavin.

"Ternyata boleh juga ya aku," ucap Hazel.

"Tunggu aku kembali ya, nanti setelah tugasku selesai. Aku pasti akan menemui Mama kamu," ucap Gavin.

"Kurang berapa lama memangnya?" tanya Hazel.

"Dua tahun lagi," jawab Gavin.

"Aku akan menunggu kamu," balas Hazel.

.

.

.

Bersambung.....

1
merry yuliana
jd inget jaman sma wkt kemping anggota osis sm pelatihan menwa kuliah dl euy...
Mini Amora
brati Gavin n Hazel blum pernah ada kata putus dong yaaaa...

🤭🤭🤭
elaretaa: Belum Kak🤭
total 1 replies
Mini Amora
malahan 6 bulan bisa lepas tekanan dari seseorang yg katanya mama mu hazel...

aneh + kaget aja sih.. ada yaaa seorg ibu tp sikapnya bgtu...
May Maya
bagus ceritanya thor
May Maya
bagus ceritanya
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
May Maya
emak nya hazel gila hormat , kekuasaan merasa ingin paling wahhhh paling hebat selain itu GK ada yg penting bagi nya termasuk kebahagiaan anaknya sendiri
May Maya
baru mampir
Reni Setia
selamat udah tamat karyanya ya
Aidil Kenzie Zie
makasih tor akhir yang manis 🥰🥰🥰
Syifa Fauziah
ahh suka bgt sama cerita nya Thor. 😍🙏
elaretaa: Terima kasih Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
welcome baby Papa Gavin dan Mama Hazel 🥰🥰
Icka R
waktu tugas g konsisten kak.. skrg 2thun, awalnya 6bln..itu aja kak..
selebihnya bagus..👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Kukun Sabarno
semoga kedua mempelai samawa penuh keberkahan
Kukun Sabarno
suatu penghinaan dan penderitaan akan membekas selamanya. kasihan
Kukun Sabarno
orang yang sama untuk diperkenalkan sang jendral dan hazel
Aidil Kenzie Zie
selamat buat calon orang tua 💪💪
Syifa Fauziah
hazel hamil yeayyy.. bntr lg ada Gavin junior😄
Aidil Kenzie Zie
crazy up donk tor
Raisha
kok menantu sih Thor? hazel kan anaknya mama Vivian & apa Darius kan,tp di 2 paragraf ini kok jadi menantunya?🤔🤔...salah ketok ya Thor?
Raisha: 😂😂 gpp kak
total 2 replies
falea sezi
manja amat jalan gt doank aja ngeluh nona kaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!