NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Langkah kaki Clara Wijaya berderap tajam di atas lantai marmer lobi utama Rumah Sakit Medika Sentosa.

Tas tangan merk internasional seharga mobil mewah tergantung sempurna di lengannya yang mulus.

Wajah cantiknya tampak tertekuk masam, memancarkan aura ketidaksukaan yang begitu pekat terhadap tempat ini.

"Rumah sakit macam apa ini? Aromanya benar-benar membuatku mual," gerutu Clara dengan suara ketus.

Beberapa pengunjung dan resepsionis yang melihat kedatangannya langsung menunduk hormat karena tahu siapa identitas wanita itu.

Clara adalah cucu kesayangan dari pemilik grup konglomerat raksasa yang menjadi donatur terbesar di rumah sakit ini.

Namun, kedatangannya hari ini sama sekali bukan atas kemauannya sendiri.

Kakeknya memaksanya datang kemari untuk menemui seorang pria yang dipilih sebagai tunangannya.

"Pria bodoh itu benar-benar membuatku kehilangan harga diri di depan teman-teman sosialitaku," umpat Clara pelan.

Ia berjalan tergesa-gesa menuju lift VIP untuk segera menemui direktur utama rumah sakit.

Di saat yang bersamaan, dari arah koridor samping lobi, Arka sedang mendorong troli pembersihnya dengan santai.

Pakaian kerjanya tampak sederhana dengan topi kain penutup kepala yang sedikit miring.

Tatapan matanya tampak kosong, persis seperti orang linglung yang tidak tahu arah tujuan hidupnya.

"Eh, minggir! Jangan menghalangi jalan orang sibuk!" bentak seorang staf administrasi yang berlari terburu-buru.

Arka mengerjap-nerjap lambat lalu menggeser trolinya ke samping secara canggung.

"Maaf... maaf ya." Arka dengan suara pelan dan sedikit terbata-bata.

Staf itu mendengus sinis lalu berlalu begitu saja tanpa melirik Arka dua kali.

Arka kembali melanjutkan mendorong trolinya menyusuri pinggiran lobi menuju arah lift utama.

Tanpa disengaja, laju troli Arka berbelok tepat di depan pintu lift VIP yang baru saja terbuka.

Clara yang sedang asyik memainkan ponselnya langsung berjalan maju tanpa melihat ke depan.

Bruuk!

Tubuh Clara menabrak sisi samping troli pembersih Arka hingga tas mahalnya hampir terjatuh ke lantai.

"Aduh!" jerit Clara kaget sambil melompat ke belakang untuk menghindari cipratan air pel.

Beberapa tetesan air sabun yang bersih mengenai ujung sepatu hak tinggi miliknya yang mahal.

Suasana lobi yang tadinya agak bising mendadak menjadi senyap seketika.

Orang-orang di sekitar langsung menoleh kaget melihat ada seseorang yang berani menabrak nyonya muda keluarga konglomerat.

"Hei! Mata kamu ditaruh di mana, hah?!" bentak Clara dengan suara melengking penuh kemarahan.

Wajah cantiknya memerah padam menahan emosi yang meluap-luap akibat sepatunya yang kotor.

Arka segera menghentikan dorongan trolinya, lalu membungkukkan badannya dalam-dalam.

"Maaf... saya tidak lihat ada orang mau keluar lift," ucap Arka dengan suara gemetar pura-pura takut.

Clara mendengus keras sambil mengibaskan ujung sepatunya yang terkena air sabun dengan jijik.

"Kamu ini pegawai tidak becus ya! Tahu tidak berapa harga sepatu ini?!" seru Clara dengan nada tinggi.

"Kalau kamu disuruh bekerja itu pakai mata, jangan pakai dengkul!" lanjut Clara menunjuk-nunjuk wajah Arka.

Arka tetap menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum tipis yang hampir terukir di bibirnya.

"Iya, Nona... saya minta maaf. Nanti saya bersihkan sepatunya," jawab Arka polos.

"Tidak usah! Sepatu kotor ini tidak akan pernah bersih lagi kalau sudah tersentuh tangan kotor sepertimu!" maki Clara jijik.

Ia menatap Arka dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh penghinaan yang teramat sangat.

Pakaian lusuh, topi kusam, dan ekspresi wajah yang tampak dungu membuat Clara merasa mual seketika.

"Pantas saja kakek menyuruhku datang ke rumah sakit kumuh ini," batin Clara kesal.

"Ternyata isinya cuma sekumpulan orang tidak berguna seperti tukang pel jalanan ini."

Seorang petugas keamanan rumah sakit yang melihat kejadian itu langsung berlari menghampiri mereka dengan panik.

"Nona Clara! Ada apa ini? Apakah pesuruh ini mengganggu Anda?" tanya satpam itu dengan napas tersengal.

Clara melipat tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah Arka.

"Pecat pegawai bodoh ini sekarang juga!" perintah Clara dengan nada suara mutlak.

"Dia sudah merusak sepatuku dan jalannya tidak pakai mata!" lanjutnya penuh amarah.

Satpam itu menelan ludah ketakutan lalu menoleh galak ke arah Arka.

"Dengar kamu, Arka! Cepat minta maaf yang benar kepada Nona Clara!" bentak satpam tersebut.

Arka mendongakkan kepalanya perlahan, menatap Clara dengan tatapan mata sayu dan kosong.

"Maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja." Arka dengan suara lemah.

"Alasan! Sudahlah, aku tidak punya waktu meladeni sampah seperti dia," kata Clara membuang muka.

"Cepat suruh dia pergi dari hadapanku sekarang juga sebelum aku laporkan langsung ke direktur!"

Satpam itu langsung mendorong bahu Arka pelan agar segera menjauh dari hadapan Clara.

"Sana, pergi! Jangan bikin Nona Clara semakin marah!" usir satpam itu.

Arka mengangguk-angguk penurut sambil menarik trolinya mundur perlahan-lahan.

"Baik, Pak. Saya permisi dulu mau ngepel di koridor belakang," ujar Arka dengan nada polos.

Clara mendengus kesal lalu melangkah masuk ke dalam lift VIP tanpa menoleh lagi ke belakang.

"Dasar pria dungu yang menyusahkan," gumam Clara ketus saat pintu lift tertutup rapat.

Arka mendorong trolinya menyusuri koridor menjauhi lobi utama dengan langkah yang santai.

Di balik punggungnya yang sedikit membungkuk, Arka terkekeh pelan di dalam hatinya.

"Tunangan galak yang punya temperamen tinggi," batin Arka sambil tersenyum misterius.

"Sepertinya hari-hari pernikahanku nanti tidak akan pernah terasa membosankan."

[Sistem Mendeteksi Pertemuan Pertama Karakter Utama Dengan Tunangan: Clara Wijaya]

[Tingkat Kesan Awal Target: Negatif 100 Persen]

[Peluang Membalikkan Keadaan Melalui Drama Medis: 95 Persen]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.

Ia terus mendorong trolinya menuju area poliklinik lantai dua tanpa memperdulikan kejadian barusan.

Sementara itu, di lantai atas ruang kerja direktur, Clara duduk dengan wajah masam di sofa empuk.

Direktur rumah sakit berdiri di depannya sambil membungkuk hormat menyambut kedatangan sang pewaris.

"Selamat datang di Rumah Sakit Medika Sentosa, Nona Clara," sapa direktur dengan senyum ramah.

"Simpan basa-basimu itu," potong Clara cepat dengan nada tidak sabar.

"Kakekku memaksaku datang kemari bukan untuk mendengarkan laporan keuangan rumah sakit ini."

Direktur itu tersenyum canggung mendengar ketus nya jawaban Clara.

"Lalu, apa yang membuat Nona muda berkenan datang langsung hari ini?" tanya direktur hati-hati.

Clara mendengus pelan lalu menyilangkan kakinya dengan elegan di atas sofa.

"Aku mau membicarakan soal perjodohan konyol yang diatur kakekku dengan dokter muda bernama Arka itu," jawab Clara tajam.

Direktur rumah sakit langsung tertegun mendengar nama tersebut disebut.

Wajah direktur itu berubah pucat pasi seketika dalam hitungan detik.

"Dokter... Dokter Arka maksud Anda?" tanya direktur memastikan dengan suara bergetar.

"Iya, siapa lagi kalau bukan dia!" jawab Clara dengan nada kesal.

"Kakek bilang dia adalah dokter muda yang hebat dan berbakat, tapi kenyataannya dia cuma seorang pesuruh rendahan yang kerjaannya ngepel lantai rumah sakit!"

Direktur rumah sakit menelan ludah susah payah, ia tidak berani membocorkan rahasia besar tentang siapa sebenarnya Arka kepada Clara.

Sebab, perintah dari Prof. Gunawan dan para pemegang saham utama melarang keras siapa pun membongkar sertifikat internasional Arka sebelum waktu yang tepat.

"Ah... itu... soal itu..." kata direktur terbata-bata mencari alasan.

"Dokter Arka memang sedang menjalani masa orientasi lapangan di berbagai divisi rumah sakit ini, Nona."

Clara mendengus keras mendengar penjelasan yang dianggapnya sebagai omong kosong belaka.

"Orientasi lapangan jadi tukang pel lantai?!" protes Clara dengan suara melengking.

"Kakek benar-benar sudah pikun kalau memilih pria tidak berguna seperti itu untuk menjadi suamiku!"

Direktur hanya bisa tersenyum kecut tanpa berani membela diri di hadapan sang pewaris konglomerat.

"Tolong sampaikan ke kakekku nanti, aku menolak keras perjodohan ini!" tegas Clara sambil berdiri dari duduknya.

"Aku mau pulang, tempat ini benar-benar membuat kepalaku pusing."

Clara menyambar tas tangannya lalu melangkah keluar dari ruang direktur dengan penuh amarah.

Direktur rumah sakit menghela napas panjang begitu pintu ruangan tertutup rapat kembali.

"Ampunilah aku, Nona muda," gumam direktur seorang diri.

"Kalau saja kau tahu siapa sebenarnya pria yang baru saja kau bentak di lobi tadi, kau pasti tidak akan bisa tidur semalaman."

Di waktu yang sama, Arka sedang membersihkan tumpukan debu di dekat jendela kaca koridor lantai tiga.

Ia melihat mobil mewah Clara perlahan meninggalkan halaman parkir rumah sakit dari balik kaca jendela.

"Penolakan yang sangat bersemangat dari seorang nona manja," gumam Arka pelan dengan senyum tipis.

"Tapi sayang sekali, takdir kita berdua sudah dikunci rapat oleh sang kakek."

Arka kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tenang, mengabaikan semua kebisingan dunia luar yang terus berputar di sekitarnya.

Hari-hari berikutnya di rumah sakit dipastikan akan menjadi panggung sandiwara yang jauh lebih seru.

Dan Arka adalah sutradara utama yang memegang kendali penuh atas jalannya seluruh cerita.

1
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!