NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 Bulan, Kenangan, dan Kebohongan

Lorong belakang kediaman Selir Ratih malam itu begitu sunyi. Hanya suara hujan rintik dan cahaya lampion redup yang menemani langkah Ravin dan Arum yang awalnya datang diam-diam untuk menemui Selir Ratih.

Namun saat melewati ruang dalam paviliun, keduanya tanpa sengaja mendengar suara percakapan dari balik pintu kayu yang sedikit terbuka.

Dan setelah itu…

Mereka tidak bisa pergi begitu saja.

Ravin berdiri membeku di balik dinding sementara Arum menahan napas pelan di sampingnya. Wajah mereka sama-sama tegang mendengar setiap kata yang keluar dari ruangan itu.

Tentang pernikahan putra mahkota.

Tentang ratu.

Tentang Aruna yang harus pergi lagi.

Dan yang paling membuat keduanya terpaku—

Tentang Arum yang akan dijadikan cenayang istana.

Arum perlahan menatap kosong ke depan.

Seolah pikirannya berhenti bekerja.

Sedangkan Ravin merasakan dadanya menegang keras saat mendengar ayah Arum mengatakan tidak rela putrinya menjadi boneka kerajaan.

Cenayang.

Dukun istana.

Hidup seumur hidup melayani kerajaan dan terikat pada istana.

Entah kenapa Ravin langsung membenci gagasan itu hanya dengan membayangkannya.

Ia membayangkan Arum hidup sendirian di ruangan gelap penuh ritual aneh, dipaksa mengikuti perintah kerajaan seperti cenayang tua tadi.

Tidak.

Arum tidak boleh hidup seperti itu.

Tiba-tiba suara kursi dari dalam ruangan bergeser pelan.

Ravin langsung tersadar.

Tanpa pikir panjang ia segera menggenggam tangan Arum lalu menariknya cepat menjauh dari paviliun sebelum orang-orang di dalam sadar ada yang menguping.

Langkah mereka terburu-buru melewati lorong belakang yang basah oleh hujan sampai akhirnya berhenti cukup jauh di bawah pohon besar dekat taman istana kecil.

Napas Arum sedikit tidak teratur.

Ravin juga masih menggenggam tangannya erat tanpa sadar.

Beberapa detik mereka hanya diam saling memandang dengan wajah sama-sama kacau.

Angin malam terasa dingin menusuk.

“Aku…” suara Arum akhirnya keluar pelan namun gemetar, “aku nggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi.”

Ravin mengusap wajahnya frustasi.

“Aku juga.”

Untuk pertama kalinya Ravin benar-benar merasa semua ini jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkannya.

Ini bukan sekadar soal cinta segitiga atau perebutan tahta.

Tapi soal hidup mereka sendiri.

Arum menundukkan pandangan perlahan. Wajahnya terlihat pucat setelah mendengar semuanya.

“Jadi… mereka ingin aku jadi cenayang?”

Kalimat itu terdengar begitu asing saat keluar dari mulutnya sendiri.

Ravin langsung menggeleng cepat dengan nada keras tanpa sadar.

“Nggak akan kubiarkan.”

Arum sedikit terkejut mendengar nada bicara Ravin.

Ravin mengepalkan tangannya kuat. Rahangnya menegang penuh emosi.

“Aku nggak bisa bayangin kamu harus hidup seperti itu.”

Ia menatap Arum lurus.

“Menjadi cenayang… terikat di istana… hidup sendirian demi keluarga kerajaan…”

Ravin menggeleng frustrasi.

“Itu nggak boleh terjadi.”

Arum hanya bisa diam.

Dadanya terasa penuh dan kacau.

Semua hal yang selama ini tidak ia mengerti tiba-tiba terasa semakin nyata dan menakutkan.

Sementara Ravin mulai sadar…

Semakin lama mereka berada di dunia ini, semakin besar kemungkinan mereka terseret dalam takdir asli Aruna dan Arum yang sebenarnya.

Suasana campus siang itu dipenuhi mahasiswa yang sibuk mengurus persiapan wisuda. Beberapa orang terlihat berfoto memakai toga, sementara yang lain sibuk bercanda di taman depan fakultas.

Lia yang baru keluar dari gedung latihan tidak sengaja melihat Juna berjalan sambil membawa beberapa berkas. Penampilannya rapi seperti biasa, namun kali ini wajahnya terlihat sedikit lebih santai.

Mata Lia langsung membesar semangat.

“Juna!”

Juna menoleh lalu tersenyum kecil saat melihat gadis itu berlari menghampirinya.

“Kak, selamat ya!” Lia langsung menepuk lengannya senang. “Katanya bakal wisuda dan kerja di rumah sakit besar?”

Juna tertawa pelan. “Beritanya cepat sekali menyebar.”

“Ya jelas dong.” Lia menyilangkan tangan pura-pura bangga. “Teman kita ada yang sukses begini.”

“Teman kita?”

“Iya… aku numpang bangga.”

Juna hanya menggeleng geli melihat tingkah Lia. Namun beberapa detik kemudian ia seperti memikirkan sesuatu.

“Kalau begitu…” tatapannya berubah lebih santai, “aku traktir makan.”

Lia langsung membelalak semangat.

“Serius?!”

Juna mengangguk kecil sambil pura-pura berpikir.

“Mungkin seafood?”

Lia langsung hampir bersorak.

“Wah dewi pasti senang banget!”

Kalimat itu membuat Juna diam sesaat sebelum tersenyum tipis samar.

Memang itu tujuannya.

“Kalau begitu ajak saja dia,” ucap Juna tenang seolah tidak terlalu peduli.

Padahal sebenarnya sejak awal ia sengaja memilih restoran seafood karena tahu Dewi sangat menyukainya.

Lia langsung sibuk mengambil ponsel.

“Fix! Aku bakal paksa dia ikut.” Lia tertawa kecil. “Dia akhir-akhir ini stres latihan terus.”

Juna memperhatikan Lia yang sibuk mengetik pesan dengan tatapan tenang namun diam-diam berharap.

Entah kenapa sejak beberapa waktu terakhir, bertemu Dewi terasa semakin sulit.

Padahal dulu gadis itu selalu datang sendiri tanpa perlu dicari.

Beberapa saat kemudian Lia mengangkat wajah dengan ekspresi puas.

“Udah. Tinggal nunggu dia balas.”

“Kalau dia menolak?”

Lia langsung mendecakkan lidah yakin. “Kalau dengar kata seafood pasti datang.”

Juna tertawa kecil mendengar itu.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, suasana hatinya terasa sedikit lebih ringan hanya karena membayangkan bisa makan malam bersama Dewi nanti.

Malam yang tenang menyelimuti istana kerajaan. Cahaya bulan menggantung indah di langit gelap sementara halaman depan kediaman putra mahkota tampak sunyi tanpa suara selain desir angin malam.

Yudra berdiri sendiri di depan kamarnya sambil menatap bulan cukup lama. Wajahnya tenang seperti biasa, namun sorot matanya dipenuhi kenangan yang tidak bisa ia lupakan.

Dulu… Arum sering berada di istana.

Karena ayahnya adalah penasihat utama dan orang kepercayaan raja, Arum kecil sering ikut belajar di lingkungan kerajaan bersama dirinya.

Yudra masih ingat jelas gadis kecil itu selalu mengeluh bosan saat pelajaran sejarah kerajaan dimulai.

“Yang Mulia belajar terus,” keluh Arum kecil sambil menaruh kepala di meja. “Nanti otaknya jadi batu.”

Yudra kecil waktu itu hanya menatapnya dingin. “Kau sendiri yang malas.”

“Tapi aku lebih bahagia.”

Mengingat itu, sudut bibir Yudra perlahan terangkat tipis lalu kembali menghilang.

Semua terasa begitu dekat waktu itu.

Sampai akhirnya mereka tumbuh dewasa… dan kerajaan mulai menentukan jalan hidup mereka masing-masing.

Tak jauh dari sana, Ajeng berdiri di lorong istana sambil memperhatikan punggung putra mahkota dari kejauhan. Ia sebenarnya ingin menghampiri Yudra sebentar, sekadar berbicara atau menemaninya.

Namun baru melangkah sedikit, pelayan pribadinya langsung menahan dengan sopan.

“Nona Ajeng.”

Ajeng menoleh pelan.

“Belum waktunya bagi nona menemui Yang Mulia sendirian.” Pelayan itu menunduk hormat. “Nona belum resmi menjadi putri mahkota.”

Ajeng menurunkan pandangannya perlahan.

“Tapi aku hanya ingin menyapa.”

“Etika istana tetap harus dijaga.”

Pelayan itu lalu melirik kain sulaman yang dibawa Ajeng.

“Tugas sulam calon putri mahkota juga belum selesai. Mohon kembali ke kamar.”

Ajeng menggenggam kain sulamnya pelan sambil kembali melihat Yudra dari kejauhan.

Namun pada akhirnya ia memilih pergi perlahan.

Entah kenapa meski dirinya adalah calon istri putra mahkota… jarak di antara mereka justru terasa sangat jauh.

Sementara itu di rumah keluarga Arum, suasana terasa jauh lebih hangat meski sederhana.

Arum pulang dengan wajah biasa seolah tidak terjadi apa-apa malam ini. Ia menyimpan semua kekacauan pikirannya sendiri setelah mendengar rahasia tentang cenayang dan kerajaan.

Tak lama kemudian ayahnya juga pulang.

Begitu masuk halaman rumah, Arum langsung melihat wajah ayahnya tampak lelah dan kehilangan semangat. Namun pria itu langsung tersenyum hangat begitu melihat putrinya.

“Belum tidur?” tanyanya lembut.

Arum menggeleng kecil lalu duduk di samping ayahnya di halaman depan rumah yang diterangi cahaya lampion.

Beberapa saat mereka hanya diam menikmati suasana malam.

“Ayah…” suara Arum terdengar pelan. “Aku masih rindu ayah yang dulu sering punya waktu buat aku.”

Ayahnya tertawa kecil mendengar itu.

“Sekarang ayah sibuk jadi penasihat tua kerajaan.”

Arum ikut tertawa pelan lalu menatap ayahnya cukup lama.

“Aku juga masih ingin melihat ayah bangga sama aku.”

Kalimat itu membuat ayahnya langsung menoleh.

“Arum…”

“Aku nggak ingin jadi anak yang merepotkan.”

Ayahnya akhirnya tertawa lebih lepas lalu mengusap rambut putrinya penuh sayang.

“Kau sudah membuat ayah bangga sejak lama.”

Arum tersenyum kecil sebelum akhirnya berkata pelan,

“Aku juga baik-baik saja kalau Ajeng menikah dengan putra mahkota.”

Meski tersenyum, matanya terlihat sedikit sedih.

Namun ayahnya justru tampak lega mendengar itu. Setidaknya putrinya terlihat menerima keadaan meski mungkin tidak sepenuhnya ikhlas.

Tak jauh dari rumah itu, cenayang kerajaan berdiri diam di balik bayangan pohon sambil memperhatikan mereka.

Tatapan wanita tua itu dipenuhi rasa rumit yang sulit dijelaskan.

“Aku akan melindungimu, Arum…” bisiknya lirih.

Itulah alasan sebenarnya ia terus meyakinkan ayah Arum agar gadis itu menjadi cenayang istana, bukan putri mahkota.

Karena cenayang tahu…

Istana akan menghancurkan Arum perlahan jika gadis itu masuk terlalu dalam ke dalam keluarga kerajaan.

Dan sebenarnya ada rahasia lain yang tidak diketahui siapa pun.

Dulu saat pemilihan calon pendamping putra mahkota dilakukan, cenayang sendirilah yang merekomendasikan Ajeng pada ratu.

Ia mengatakan bahwa Ajeng memiliki energi yang cerah dan baik untuk putra mahkota serta kerajaan.

Karena itulah ratu akhirnya memilih Ajeng dibanding Arum.

Padahal jauh di dalam hatinya, cenayang tahu…

Yang paling pantas berdiri di sisi putra mahkota sebenarnya adalah Arum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!