"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
"Paksu, kalau nanti pas jalan di bawah pedang pora Ismut tiba-tiba kepentok tiang dekorasi karena matanya kelilipan rontokan bunga, Paksu bakal gendong Ismut ala bridal style di depan para jenderal atau pura-pura nggak kenal?"
Pertanyaan bernada cemas sekaligus manja dari seberang telepon genggam itu membuat Alaric menghentikan langkah tegapnya tepat di tengah-tengah aula besar pangkalan militer. Pria berpangkat Perwira Menengah itu menempelkan ponselnya ke telinga kanan, sementara tangan kirinya masih memegang map berisi rundown final acara resepsi pernikahan yang tinggal dua hari lagi.
Di sekeliling Alaric, puluhan prajurit panitia sedang sibuk lalu lalang memasang dekorasi bunga, menata karpet merah, hingga mengecek sistem pencahayaan panggung utama.
Alaric menghela napas panjang, sebuah helaan napas lambat yang sarat akan kehangatan yang mendalam. "Fokus pada langkahmu saja, Calla. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak akan terjadi. Saya pasti akan memegangi tanganmu sepanjang acara."
"Ih, Paksu mah nggak seru, nggak menjawab skenario terburuk Ismut!" gerutu Calla di seberang sana, terdengar suara helaan napas halus yang disusul oleh suara desiran air yang tenang. "Tapi janji ya, jangan dilepas tangannya. Ismut beneran deg-degan banget ini, jantung Ismut berasa lagi ikutan latihan terjun payung."
"Iya, saya janji, Ismut," jawab Alaric dengan suara baritonnya yang sangat lembut dan tenang, kontras dengan ketegasan wajah militernya saat menatap dekorator yang sedang memasang papan nama pengantin di atas panggung. "Sekarang kamu di mana? Suaranya bergaung."
"Ismut lagi luluran sama spa pijat dong, Paksu!" sahut Calla riang, kecentilannya seketika kembali 100%. "Ini sama Michelle juga di salon khusus VIP dekat pangkalan. Biar pas hari-H nanti kulit Ismut selembut sutra, terus pas malam pertama Paksu makin betah meluknya—"
"Callanta, jaga ucapanmu," potong Alaric cepat, berdehem kaku untuk menyembunyikan semburat merah yang mendadak merayap di telinganya. Beberapa prajurit ajudan di dekatnya mulai melirik dengan senyum-senyum tertahan. "Sudah dulu. Saya harus melanjutkan pengecekan gedung dan koordinasi dengan satuan musik. Kamu nikmati saja spanya agar tidak stres."
"Siap, laksanakan, Komandan kaku kesayangan Ismut! Muah!"
Klik.
Alaric menurunkan ponselnya dengan helaan napas pasrah, menggelengkan kepalanya perlahan melihat tingkah ajaib istri kecilnya yang sama sekali tidak punya urat malu. Pria itu kembali memasang wajah sangar militernya, berbalik menatap Kopral Bagas yang berdiri siaga di belakangnya. "Bagas, pastikan sound system untuk lagu pengiring upacara tidak ada kendala. Saya tidak mau ada interupsi saat barisan pedang pora mulai bergerak."
"Siap, laksanakan, Komandan! Semua sudah dicek ulang dan dalam kondisi aman," jawab Bagas tegas.
Sementara itu, di sebuah ruangan spa privat yang beraroma terapi lavender yang menenangkan, Calla dan Michelle sedang berbaring telungkup di atas kasur pijat masing-masing. Tubuh mereka tertutup kain batik sebatas dada, sementara dua terapis wanita sedang telaten memijat punggung mereka dengan ritme yang lambat dan rileks.
"Aduh, gila... ini punggung aku rasanya kayak baru habis digebukin sepasukan tentara tahu, Kak," keluh Michelle, mendesah lega saat minyak esensial hangat diusapkan ke kulit pundaknya. "Gara-gara gladi resik kemarin, semua otot aku ikutan tegang."
Calla yang berada di kasur sebelah menolehkan kepalanya, meringis pelan saat punggung tangannya dipijat. "Kamu baru gladi resik sekali aja udah encok, Michelle. Gimana Ismut yang tiap hari harus menghadapi ketegangan batin gara-gara digoda ke-seksian-an Kakakmu yang kaku itu?"
Michelle langsung terkekeh renyah, mengubah posisi kepalanya menghadap Calla. "Hahaha! Tapi serius deh, Kak Calla, aku masih nggak habis pikir. Kok Kak Alaric di telepon tadi suaranya bisa selembut itu ya? Seumur hidup aku jadi adiknya, dia kalau ngomong sama aku tuh nadanya selalu kayak komandan barak ngebentak tawanan perang."
"Ya beda dong, Michelle," sahut Calla centil, mengedipkan sebelah matanya dengan gaya paling segar. "Sama adiknya kan emang harus tegas biar nggak kabur ke Korea lagi. Tapi kalau sama istri tercinta, singa pangkalannya harus berubah jadi kucing anggora yang penurut."
"Dih, penurut dari mananya?" cibir Michelle tertawa geli. "Mama Diah aja cerita ke aku, Kak Alaric itu dari kecil keras kepala banget. Makanya pas dia mutusin mau nikahin Kakak gara-gara amanah almarhum Om, kita semua sempat mikir... ini Kak Alaric bakal bisa romantis nggak ya? Jangan-jangan pas malam pertama nanti Kak Calla malah disuruh push-up seratus kali."
"Wah, kalau disuruh push-up sih Ismut nggak menolak ya, asalkan push-up-nya di atas tubuh Paksu," celetuk Calla frontal tanpa menyaring ucapannya.
Pfft!
Dua terapis wanita yang sedang memijat mereka seketika batuk tertahan, berusaha keras menjaga profesionalitas mereka agar tidak ikut tertawa mendengar keblak-blakan pengantin baru yang terlampau cegil ini.
"Kak Calla! Mulutnya bener-bener ya, nggak ada filternya banget!" Michelle memekik heboh, melemparkan bantal kecil di dekat kepalanya ke arah kasur Calla. "Untung nggak ada Kak Alaric di sini. Kalau dia denger, mukanya pasti langsung merah padam terus pura-pura batuk kaku kayak biasanya."
Calla hanya tertawa puas, membiarkan terapis mulai melulur lengan mulusnya dengan bubuk rempah tradisional. "Biarin aja, kan emang kenyataan. Michelle, kamu di Korea sana nggak ada kepikiran mau nyari pacar oppa-oppa idol gitu? Kulit kamu udah bening begini, masa kalah sama cewek-cewek Seoul."
Michelle menghela napas panjang, ekspresi wajah modisnya mendadak berubah menjadi lesu. "Boro-boro nyari pacar, Kak. Kuliah di sana tuh tugasnya numpuk banget kayak tumpukan baju kotor. Lagian, setiap kali ada cowok Korea yang mau deketin aku, Kak Alaric pasti langsung nyuruh intel pangkalan buat nyelidiki latar belakang itu cowok sampai ke akar-akarnya. Kan aku jadi ngeri sendiri."
"Hahaha! Protektif banget ya suami kesayangan Ismut," cengenges Calla. "Tapi itu tandanya dia sayang banget sama kamu, Michelle. Dia nggak mau adik perempuan satu-satunya dapet cowok yang salah."
"Iya sih, aku tahu," gumam Michelle, mulai menikmati pijatan di area kepalanya. "Makanya aku bersyukur banget Kak Alaric dapetnya Kak Calla. Rumah dinas yang tadinya suram dan dingin kayak kulkas dua pintu, sekarang jadi berasa hidup dan penuh warna. Makasih ya, Kak, udah mau sabar ngadepin Kakakku yang kaku itu."
Calla tersenyum manis, sebuah senyuman yang teramat tulus terpancar dari wajah cantiknya. Ia menatap langit-langit ruang spa yang remang-remang, membayangkan wajah tegas suaminya yang saat ini pasti sedang mandi keringat di dalam aula pangkalan demi mempersiapkan hari bahagia mereka.
"Ismut yang harusnya makasih, Michelle," bisik Calla lambat, suaranya melembut penuh emosional. "Kakakmu itu... meskipun kaku kayak kanebo kering, tapi dia selalu memperlakukan Ismut kayak barang paling berharga di dunia ini. Ismut yang manja dan nggak bisa apa-apa ini... dirawat banget sama dia. Jadi, nggak ada alasan buat Ismut nggak bucin setengah mati sama Mayor Alaric Vance."
Michelle menoleh, menatap kakak iparnya dengan pandangan haru yang hangat. "Duh, sweet banget sih. Aku jadi pengen cepet-cepet lihat Kak Alaric nangis terharu pas masangin cincin di jari Kakak dua hari lagi."
"Nangis terharu atau nangis karena pusing mikirin cicilan gedung?" canda Calla, langsung merusak suasana puitis mereka dalam sekejap.
"Kak Calla!! Bener-bener perusak suasana ya!" seru Michelle kesal, yang langsung disambut oleh suara tawa renyah Calla yang menggema riang, mengusir segala ketegangan dan stres menjelang hari pernikahan agung mereka yang kian mendekat.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨