NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Raka terbangun oleh tetesan air dari atap yang bocor. Dingin. Menyadarkan.

Cahaya pagi menyusup lewat celah dinding kayu yang lapuk, menyorot debu yang beterbangan di udara pengap. Tikus-tikus sudah pergi—bahkan mereka tahu tempat ini terlalu menyedihkan untuk ditinggali.

Dia duduk. Ada yang berbeda. Aliran hangat di dalam dadanya, lancar, mengisi ruang kosong yang selama tiga bulan terakhir hanya diisi keputusasaan. Dia menatap telapak tangannya. Luka semalam masih ada, darah mengering jadi coklat pekat. Tapi di balik luka itu, ada kekuatan. Nyata.

"Tahap 3," gumamnya, suara serak.

Dulu, sebelum meridiannya rusak, dia hanya Tahap 2. Cukup untuk dihormati, tapi tidak istimewa. Sekarang, naik dua level dalam semalam. Bukan keajaiban. Ini hasil seribu pukulan dan satu botol jamu pahit.

[!] Selamat pagi, Host.

"Pagi, Sistem."

[!] Host tidur 6 jam 23 menit. Pola tidur efisien. Namun, mendengkur selama 17 menit. Volume: 52 desibel. Mengganggu proses defragmentasi memori sistem.

Sudut bibir Raka berkedut. "Aku tidak mendengkur."

[!] Data audio tersedia untuk verifikasi. Ingin diverifikasi?

"Tidak perlu."

[!] Baik. Disimpan untuk evaluasi karakter Host.

Raka menghela napas, lalu melangkah ke pintu. Dia menyibak kain lapuk yang menutupi lubang pintu.

Dan di sanalah mereka berdiri.

Dua orang laki-laki. Jubah hitam dengan bordir singa emas di dada — seragam pengawal inti Keluarga Pratama.

Joko dan Hendra.

Joko, badannya gempal seperti batu, wajahnya selalu dihiasi senyum sinis yang bikin anak kecil nangis. Hendra, kurus tinggi, matanya dingin seperti ular—algojo keluarga. Orang yang tugasnya membersihkan "sampah".

Punggung Raka langsung menegang. Telapak tangannya berkeringat. Ini bukan kunjungan ramah.

Joko bersiul pelan. "Wah, ternyata masih bernapas. Kami kira kamu sudah jadi makanan cacing di gubuk reyot ini, Ra."

Raka diam. Jari-jarinya meremas ujung baju kotornya.

"Bima yang mengutus kami," kata Hendra, suaranya datar seperti palu hakim. "Katanya, kamu harusnya sudah angkat kaki dari desa ini. Keberadaanmu bikin malu keluarga."

Urat di pelipis Raka berdenyut. "Bikin malu?"

"Iya," sahut Joko, tersenyum lebar. "Mantan tunangan cabut. Bakat hilang. Meridian rusak. Dan kamu masih nongkrong di sini? Lebih baik pergi. Jauh-jauh. Sampai semua orang lupa namamu."

"Dan jika aku menolak?" tanya Raka, suaranya rendah.

Joko dan Hendra saling bertukar pandang, lalu tertawa keras. Beberapa warga yang lewat di kejauhan buru-buru mempercepat langkah mereka.

"Tidak mau?" Hendra menggeleng. "Pilihannya cuma dua, Ra. Pergi dengan kakimu sendiri... atau pergi dengan cara lain."

"Cara lain?"

Joko mengeluarkan sebilah pisau dari balik jubahnya. Bilahnya berkilat tajam di bawah sinar matahari. "Kami cuma disuruh bikin kamu kapok. Biar ingat seumur hidup."

"Contohnya?"

"Potong satu jarimu. Misalnya."

Jari-jari Raka mengepal erat. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Sakit. Itu membantunya fokus.

Joko menusukkan pisaunya.

Gerakannya cepat, tapi Raka sudah siap. Dia memiringkan tubuhnya beberapa sentimeter ke kanan. Pisau itu melesat, hanya mengoyak udara.

Joko kehilangan keseimbangan. Matanya membelalak. "Apa..."

Raka tidak memberinya waktu. Satu pukulan lurus menghantam perut Joko.

BRAK!

Udara keluar dari paru-paru Joko. Mulutnya terbuka, air liur menetes. Lututnya melemah, dan tubuhnya roboh ke tanah lumpur. Pisau terlepas dari genggamannya.

Tangan Raka berdenyut sakit. Tulang-tulang di pergelangannya terasa seperti retak. Tapi dia tidak berhenti.

Dia mengayunkan tangan kirinya, membanting kepalan itu ke wajah Joko.

DUG!

Hidung Joko pecah. Darah segar memercik. Tubuhnya terguling, tidak bergerak lagi.

[!] Target Joko: Nonaktif. Statistik kematian Host turun dari 87% menjadi 79%. Sistem terkesan.

Raka mengabaikan suara di kepalanya. Matanya sudah tertuju pada Hendra.

"JOKO!" Hendra berteriak, suaranya penuh amarah. Dia langsung mengambil posisi bertarung—kaki ditekuk, tangan terbuka, siap menyerang.

"Kamu berani melawan algojo keluarga?" tantang Hendra, suaranya bergetar marah.

"Tidak peduli," jawab Raka pendek.

Hendra menyerang. Sebuah tendangan keras mengarah ke kepala Raka.

Raka mengangkat lengan kanannya untuk memblok.

DUG!

Tendangan itu mendarat penuh. Rasa sakit menjalar dari lengan ke bahu. Tulangnya terasa seperti akan patah, tapi tidak. Raka terhuyung mundur selangkah.

[!] Statistik kematian Host turun menjadi 78%. Selamat.

Raka menurunkan tangannya yang gemetar. Dia melangkah maju, menutup jarak.

Hendra mundur, waspada. "Keras kepala sekali."

Sebelum Raka bisa menyerang, Hendra lebih dulu melepaskan pukulan ke perutnya.

BRAK!

Pukulan itu mendarat. Rasa sakit hebat menjalar ke dada. Napas Raka tertahan. Air liur hampir keluar dari mulutnya.

Tapi dia tidak jatuh.

Dia menggigit bibir bawahnya sampai terasa logam darah. Dengan sisa tenaga, dia mendorong tubuhnya ke depan dan membalas dengan pukulan ke perut Hendra.

BRAK!

Hendra terhuyung. Mundur dua langkah.

Raka tidak memberi jeda. Pukulan kedua ke wajah. BRAK! Pukulan ketiga ke ulu hati. BRAK!

Hendra jatuh tersungkur, mulutnya mengeluarkan darah. Matanya terpejam, tapi dadanya masih naik turun.

Raka berdiri di atasnya, dadanya naik turun cepat. Tangannya gemetar hebat. Bukan karena takut, tapi karena setiap tulang di jarinya terasa seperti terbakar.

[!] Pertarungan selesai. Host menang. Kesimpulan: Host terlalu keras kepala untuk mati. Catatan penting.

Raka menatap kedua tubuh yang tergeletak. Dia berjongkok, suaranya serak dan parau. "Ini pesan untuk Bima. Bilang ke majikan kalian... Raka yang dulu sudah mati. Sekarang, ada yang baru."

Dia berdiri, berjalan kembali ke gubuknya. Sebelum masuk, dia menoleh. "Oh iya. Bawa teman-temanmu. Jangan kotori halamanku."

DUG!

Pintu kayu ditutup dengan keras.

Di dalam, Raka duduk di lantai tanah. Tangannya masih gemetar. Rasa sakit mulai menjalar dari pergelangan ke siku.

"Hanya turun satu persen?" tanyanya, nada suara datar.

[!] Sistem tidak ingin Host terlalu percaya diri. Statistik adalah fakta.

"Kalau Bima Tahap 5, aku pasti kalah?"

[!] Benar. Simulasi: Pertarungan berlangsung rata-rata 12 detik. Host kalah.

"Berapa lama untuk menyamainya?"

[!] Selesaikan misi. Naik level. Sistem murahan. Tidak ada jalan pintas.

Raka tersenyum tipis. Dia mengambil kain lapuk dan mengusap darah dari tangannya. Setiap sentuhan membuatnya meringis.

"Sistem. Beri misi berikutnya."

Layar biru muncul di udara.

[!] MISI BARU TERSEDIA

NAMA: MASUK HUTAN TERLARANG

DESKRIPSI: Ambil 5 Akar Berduri Emas dari Hutan Utara.

HADIAH: Jamu Penguat Tulang Grade 2.

RISIKO: TINGGI. Probabilitas kematian: 73%.

"Bisa mati dimakan monster," ulang Raka. Dia menggigit bibirnya lagi. "Bagus."

[!] Ada misi alternatif: Kumpulkan 500 batang kayu bakar. Risiko: 2%.

"Tidak."

[!] Alasan?

Raka menatap dinding gubuk yang penuh bekas luka. "Aku sudah tiga bulan jadi sampah. Aku tidak mau jadi sampah lagi. Jika harus mati untuk bangkit... ya sudah."

[!] ...Host aneh. Sistem suka.

Raka berdiri. Dia tidak membawa senjata. Tidak membawa bekal. Hanya tekad dan tubuh yang masih perih.

Dia melangkah keluar. Desa terlihat sepi. Warga yang melihatnya dari kejauhan buru-buru memalingkan muka.

Raka tidak peduli.

Dia berjalan ke utara, melewati sawah dan sungai kecil, hingga akhirnya berdiri di tepi Hutan Terlarang. Pohon-pohonnya tinggi dan gelap. Dari dalam, terdengar lolongan binatang buas yang membuat bulu kuduk berdiri.

Raka berhenti sejenak. Napasnya tertahan. Dadanya masih perih dari pukulan Hendra.

"Aku masuk."

[!] Hati-hati, Host. Sistem tidak ingin memindai Host dalam keadaan tidak bernapas.

"Iya."

Raka melangkah masuk. Daun-daun kering bergeser di bawah kakinya.

Di belakangnya, desa tempat dia dibesarkan semakin kecil, semakin jauh.

Raka tidak menoleh.

Bima. Tunggu saja. Aku akan kembali. Dan kamu akan meminta maaf di lututmu sendiri.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!