NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Tamparan kebenaran

Suasana di lorong rumah sakit itu terasa dingin, hening, namun sarat akan ketegangan yang hampir bisa disentuh. Langkah kaki Ferdi terdengar berat saat ia berjalan mondar-mandir di depan ruang rawat inap tempat Kiara dirawat. Wajahnya pucat, keringat dingin menetes di pelipisnya, dan rasa bersalah yang luar biasa mencengkeram jantungnya dengan kuat.

Sejak kejadian di pinggir kolam tadi malam, kesadaran Ferdi perlahan kembali, dan ia baru menyadari betapa besar kesalahan yang telah ia perbuat. Di saat itu, di bawah sorotan lampu dan pandangan banyak orang, ia telah membuat pilihan yang tak terbayangkan dampaknya. Tanpa ragu sedikit pun, ia memilih menyelamatkan Emily, wanita yang dicintainya dan mengandung anaknya, sementara membiarkan Kiara istri sahnya, wanita yang memberinya segalanya, pewaris kekayaan Wijaya berjuang sendiri di dalam air dingin hingga hampir tenggelam dan pingsan.

Ferdi sadar betul betapa fatalnya kesalahan itu. Ia tahu semua orang melihatnya. Ia tahu bisik-bisik dan pandangan penuh tanya serta kekecewaan dari para tamu undangan masih terngiang di telinganya. Ia tahu rencananya untuk menjadi Direktur Utama, untuk menguasai kekayaan keluarga Wijaya, kini berada di ujung tanduk. Semua itu hampir hancur hanya karena refleks hatinya yang tak mampu menyembunyikan perasaannya pada Emily.

Pintu ruangan terbuka perlahan. Ferdi melangkah masuk dengan hati-hati. Di sana, di atas ranjang empuk yang dikelilingi alat medis, terbaring Kiara. Wajah wanita itu tampak pucat pasi, bibirnya kebiruan, dan matanya terpejam rapat dalam ketidaksadaran yang panjang. Napasnya naik turun pelan dan lemah, membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba.

Di sisi lain ranjang, duduk seorang pria dengan sikap tenang namun memancarkan aura ancaman yang begitu kuat. Itu adalah Baskara. Pria itu duduk tegak, matanya tak lepas dari wajah Kiara, tangannya sesekali menyentuh lembut punggung tangan wanita itu yang terasa dingin. Sejak tadi malam, sejak mereka tiba di rumah sakit ini, Baskara tidak pernah beranjak sedikit pun. Ia menolak pulang, menolak digantikan siapa pun, dan bersikeras menjaga Kiara sendirian.

Ferdi berdiri diam di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu siapa Baskara. Ia tahu pria itu adalah sahabat masa kecil Kiara, anak dari rekan bisnis ayah mertuanya, dan sosok yang sangat dihormati serta dipercaya oleh Pak Edward. Namun, melihat keberadaan Baskara yang masih bertahan di sana, duduk begitu dekat, dan terlihat begitu khawatir pada istrinya, menimbulkan rasa cemburu sekaligus rasa tidak nyaman di hati Ferdi.

Dengan langkah ragu, Ferdi mendekat. Ia berniat duduk di sisi ranjang lainnya, berniat memegang tangan Kiara dan membisikkan permintaan maafnya—meski ia tahu kata-kata itu tidak akan cukup untuk menebus dosanya.

"Baskara..." panggil Ferdi pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar dan tidak enak hati. "Kamu... masih di sini? Sudah larut malam, sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Lagipula aku suaminya, aku yang akan menjaga Kiara dari sini. Kamu kan hanya teman masa kecilnya, tidak perlu repot-repot begini."

Baskara perlahan menoleh. Tatapannya jatuh tepat ke manik mata Ferdi. Tatapan itu dingin, tajam, dan penuh penghinaan yang tersembunyi. Tidak ada senyum ramah, tidak ada sopan santun berlebihan. Baskara menatap Ferdi seolah menatap serangga kecil yang tidak berharga.

"Memang aku hanya teman masa kecilnya, Ferdi," jawab Baskara pelan namun tegas, suaranya rendah namun cukup jelas terdengar di ruangan sunyi itu.

"Tapi setidaknya, aku teman yang tahu siapa yang harus didahulukan saat bahaya datang. Aku teman yang tahu siapa wanita yang berhak mendapatkan perlindungan dan kesetiaan."

Baskara berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke arah Ferdi, seolah menembus semua kepalsuan yang ada di dada pria itu.

"Aku melihat semuanya, Ferdi. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kamu melompat menyelamatkan wanita lain, sementara istrimu sendiri kau biarkan tenggelam kedinginan. Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir semua orang buta? Kau menomor-duakan Kiara di depan umum. Kau mempermalukan nama besar keluarga Wijaya, dan kau menghancurkan hati wanita yang sudah memberikan seluruh hidupnya untukmu."

Ucapan Baskara terasa seperti cambuk yang memecah keheningan. Ferdi terdiam, tak mampu membalas sepatah kata pun. Ia tahu ia salah. Ia tahu ia tidak punya alasan apa pun untuk membela diri. Ia hanya bisa menunduk, menahan rasa malu dan marah yang bercampur menjadi satu. Baskara tidak peduli dengan keberadaannya, Baskara sudah menilai siapa dirinya yang sebenarnya: seorang suami yang gagal, seorang pengkhianat yang tidak tahu diri.

Belum sempat suasana yang penuh ketegangan itu mereda, terdengar suara langkah kaki yang cepat dan berat mendekat ke arah ruangan. Pintu terbuka lebar, dan muncul sosok Pak Edward dengan wajah yang merah padam menahan amarah yang meluap-luap. Di belakangnya, Bu Silvia berjalan dengan langkah gemetar, wajahnya basah oleh air mata, matanya menatap penuh kekhawatiran ke arah putri tunggalnya yang terbaring lemah.

Berita tentang kejadian di pesta Grup Angkasa tadi malam telah sampai ke telinga mereka. Berita itu menyebar cepat seperti api kering. Dari mulut ke mulut, para tamu, rekan bisnis, hingga orang-orang penting di kota ini mulai membicarakan sikap Ferdi. Mereka berbisik, mereka bertanya-tanya, mereka mengerutkan kening kecewa. Bagaimana mungkin seorang suami meninggalkan istrinya sendiri yang sedang tenggelam demi wanita lain? Apakah hubungan mereka baik-baik saja? Apakah ada masalah besar yang tidak diketahui orang banyak?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi aib besar bagi nama baik keluarga Wijaya. Dan bagi Pak Edward, itu adalah penghinaan terbesar yang pernah diterimanya.

Tanpa kata-kata pendahuluan, Pak Edward berjalan mendekati Ferdi yang masih berdiri terpaku di dekat ranjang. Dengan gerakan cepat dan penuh kekuatan, tangan kanan Pak Edward terayun keras.

PLAK

1
Yeni Astriani
yuuukk lanjut Author
Yeni Astriani
good job Kiara kamu kuat, kamu punya banyak bukti perceraian pasti bakalan terjadi.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi
Yeni Astriani
lanjut Author
Asyura
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!