NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Waktu laksana air yang mengalir tenang, perlahan membasuh sisa-sisa ketegangan yang sempat mengendap di ruang putih rumah sakit kota. Setelah hampir satu minggu menjalani perawatan intensif, Bu Aminah akhirnya diperbolehkan pulang oleh tim dokter. Kepulangan mereka sore itu disambut oleh semilir angin Desa Sukamaju yang terasa jauh lebih sejuk dan ramah, seolah ikut merayakan kembalinya kehangatan di atas rumah keluarga Pak Rahman.

Namun, kejutan sesungguhnya baru dimulai justru setelah mereka kembali menginjakkan kaki di rumah.

Perubahan yang paling mencolok dan di luar nalar seisi rumah datang dari sosok Fandi. Pemuda yang biasanya dikenal sebagai pengangguran bebal yang gemar keluyuran malam, kini mendadak berbalik arah seratus delapan puluh derajat. Sejak hari pertama ibunya kembali ke rumah, sikap Fandi berubah total secara drastis.

Ketika azan subuh berkumandang dari pengeras suara surau desa, Fandi sudah tampak rapi dengan sarung tumpal dan kopiah hitamnya, melangkah mantap menuju masjid. Ia tidak lagi begadang hingga larut malam bersama pemuda pangkalan, dan yang paling membuat Pak Rahman terharu adalah ketika Fandi secara sukarela menawarkan diri untuk ikut ke ladang. Tanpa diminta, ia memanggul cangkul dan membantu menyiangi rumput liar di sekitar pohon-pohon cokelat yang mulai meranggas, menggantikan sebagian besar pekerjaan berat yang biasanya dipikul oleh pundak tua ayahnya.

Pagi berikutnya, matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan saat Tina dan Lisa berjalan kaki bersama menyusuri jalanan tanah desa. Udara pagi yang bersih menemani langkah kaki mereka menuju tempat aktivitas masing-masing; Tina menuju sekolah PAUD, sementara Lisa bersiap menghadapi hari terakhir pekan ujiannya di sekolah menengah.

Sepanjang jalan, mata kedua bersaudara itu tidak henti-hentinya menunjukkan binar keheranan. Sikap aneh saudara mereka menjadi topik utama yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

"Kak..." Lisa menyenggol lengan Tina pelan, memecah kesunyian jalan setapak yang dikelilingi rimbunnya pohon. "Kakak perhatikan tidak, sih... perubahan sikap Kak Fandi beberapa hari ini?"

Tina menoleh, lalu mengembuskan napas pendek sembari membenarkan letak tas rajutnya. "Iya, Lis. Kakak juga lihat. Bahkan kemarin sore, dia yang membersihkan bak mandi tanpa disuruh sama sekali."

"Aneh sekali kan, Kak?" Lisa menimpali, matanya membelalak heboh. "Aneh tapi nyata! Maksudku, yang habis sakit parah sampai masuk rumah sakit kan Mama, tapi kenapa malah Kak Fandi yang mendadak dapat hidayah dan tobat begitu?"

Tina terkekeh kecil mendengar analisis adiknya. "Mungkin dia sadar kalau selama ini perbuatannya sudah banyak menyusahkan Abah dan Mama, Lis. Baguslah kalau dia mulai berubah."

Lisa menyeringai jahil, menghentikan langkahnya sejenak lalu berbisik dengan nada misterius. "Jangan-jangan... pas Mama sedang kritis di kamar kemarin, Kak Fandi sempat berpapasan dengan Malaikat Pencabut Nyawa di lorong rumah sakit, Kak! Makanya dia langsung ketakutan setengah mati dan mendadak rajin sholat tepat waktu, hahaha!"

"Hush! Lisa, bercandanya jangan keterlaluan begitu ah, ngeri tahu!" tegur Tina, meskipun sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan rasa geli. Ia mencubit pelan lengan adiknya. "Tidak boleh bicara begitu tentang malaikat."

Lisa tertawa renyah, tawanya yang lepas seolah menghapus sisa-sisa beban dan rasa kelam yang sempat menggelayuti pundak mereka seminggu lalu. "Iya, iya, Kak, maaf. Habisnya aku masih tidak percaya saja melihat dia bangun subuh tanpa perlu diteriaki Mama sampai tenggorokan putus. Tapi... semoga saja perubahannya itu permanen ya, Kak. Bukan cuma hangat-hangat tahi ayam karena masih merasa bersalah."

Tina menghentikan langkahnya tepat di sebuah persimpangan jalan desa yang dinaungi pohon beringin besar. Di sinilah jalur mereka harus berpisah. Ia menatap wajah adiknya dengan pandangan penuh harap. "Iya, Lis. Amin, Ya Rabbal 'Alamin. Kita doakan saja semoga dia betul-betul insaf dan bisa jadi pelindung untuk kita semua."

"Amin! Ya sudah, Kak, aku duluan ya. Nanti aku terlambat," pamit Lisa sambil menyalami tangan Tina dengan takzim sebelum akhirnya berlari kecil menuju arah berlawanan.

Tina memandangi punggung adiknya yang menjauh dengan segumpal rasa syukur di dada. Setidaknya, tawa Lisa telah kembali, dan itu adalah berkah terbesar setelah badai yang hampir menghancurkan rumah mereka.

Siang harinya, setelah jam mengajar di PAUD selesai, Tina berjalan pulang dengan langkah yang jauh lebih ringan. Namun, begitu kakinya melangkah memasuki pekarangan rumah, sepasang matanya menangkap sepasang sandal selop wanita yang sangat ia kenal berada di lantai dasar teras rumah.

"Assalamu’alaikum..." ucap Tina perlahan, mendorong pintu depan yang sedikit terbuka.

"Wa’alaikumussalam..." sahut tiga suara secara serentak dari dalam ruang tamu.

Saat melangkah masuk melewati tirai, Tina mendapati Ibu Yuna sedang duduk di atas tikar pandan, berdampingan dengan Bu Aminah yang kondisinya sudah jauh lebih segar, serta Pak Rahman yang duduk bersila di sudut meja. Suasana di ruangan itu tampak begitu khidmat dan sedikit canggung. Rupanya, Ibu Yuna sudah berada di sana sejak tadii, sengaja menunggu kepulangan Tina untuk menuntaskan sebuah urusan yang sempat mengganjal di dalam hatinya. Wanita paruh baya itu ternyata telah menceritakan seluruh kebenaran tanpa ada yang dikurangi—termasuk tentang seluruh niat buruk dan rencana terselubung keponakannya, Andry.

"Eh, ada Tante Yuna..." sapa Tina santun, sebuah ulasan senyum tulus mengembang di wajah manisnya.

Mendengar sapaan akrab itu, sepasang mata Ibu Yuna seketika berbinar cerah. Rasa lega yang luar biasa tampak jelas menyelimuti wajah tuanya yang sempat diselimuti kecemasan. Ia merasa sangat bersyukur karena panggilan "Tante" itu menandakan bahwa Tina tidak menaruh dendam pribadi kepadanya, meskipun rasa was-was di dalam hatinya belum sepenuhnya sirna.

"Tina, duduklah di sini dekat Mama," panggil Bu Aminah lembut, menepuk ruang kosong di sebelahnya.

Tina mengangguk patuh, meletakkan tas rajutnya di sudut ruangan lalu mengambil posisi duduk di samping ibunya. "Iya, Ma. Ada apa?"

Bu Aminah menatap anak perempuannya dengan pandangan mata yang berkaca-kaca, penuh rasa haru sekaligus bersalah. "Jadi begini, Tina... ibu Yuna dari tadi sudah di sini. Beliau sudah menceritakan semuanya kepada Mama dan Abah. Tentang Andry.

Ibu Yuna menggeser duduknya, meraih jemari tangan Tina lalu menggenggamnya dengan sangat erat. Air mata penyesalan mulai menggenang di pelupuk mata wanita paruh baya itu.

"Tina... Tante benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya, Nak," tutur Ibu Yuna dengan suara yang bergetar hebat. "Tante sungguh tidak tahu kalau Andry punya pikiran sepicik itu sampai tega memanfaatkan kesulitan keluargamu. Tante merasa sangat bersalah karena sudah menjadi perantara yang hampir saja menjerumuskanmu ke dalam kesulitan yang lebih besar. Tante mohon, maafkan kesalahan Tante dan keponakan Tante ya, Nak..."

Tina menatap wajah Ibu Yuna yang sarat akan ketulusan. Di dalam benaknya, bayangan Andry yang berlutut pasrah di lantai rumah sakit kembali melintas, menghapus seluruh sisa amarah yang sempat membakar dadanya.

"Tidak apa-apa, Tan. Tina sudah memaafkan semuanya kok," jawab Tina lembut, membalas genggaman tangan Ibu Yuna dengan kehangatan yang menenangkan. "Kita sebagai manusia memang tempatnya salah dan khilaf, tidak ada satu pun dari kita yang luput dari dosa. Jadi, Tante tidak usah terlalu memikirkan masalah itu lagi sampai membebani pikiran."

Tina jeda sejenak, melirik ke arah abahnya yang mengangguk setuju. "Lagipula, di balik semua kejadian kemarin, Pak Andry jugalah yang sudah menolong keluarga saya tepat waktu. Kalau bukan karena bantuan beliau hari itu, mungkin keadaan Mama sekarang tidak akan sebaik ini. Jadi, Tina justru merasa berutang budi atas pertolongan Pak Andry."

Mendengar untaian kalimat bijak yang keluar dari bibir Tina, Ibu Yuna tidak mampu lagi menahan bendungan air matanya. Ia langsung menarik tubuh Tina ke dalam pelukannya, menangis haru atas kelapangan hati gadis desa yang memiliki jiwa sekokoh karang itu. Di dalam ruangan utama rumah panggung yang sederhana itu, benang-benang kesalahpahaman yang sempat membelit kini telah terurai sepenuhnya, meninggalkan rasa damai yang baru di bawah atap yang sempat diterjang badai.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!