NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Hujan belum reda saat suara keras menggema dari atas gedung tua di tengah kawasan apartemen yang telah lama ditinggalkan sebagian penghuninya. Angin berembus kencang, menggoyang daun-daun kering yang tersisa di pepohonan gundul. Di lantai empat, jendela yang menganga tiba-tiba menjadi saksi dari sosok yang melompat turun dengan nekat.

Seseorang terjun.

Itu adalah pria sekitar usia empat puluh, rambutnya awut-awutan seolah tak pernah menyentuh sisir selama berminggu-minggu. Janggutnya liar, matanya cekung dalam, dikelilingi lingkaran hitam pekat yang mencerminkan malam-malam tanpa tidur. Tubuhnya kurus, lebih mirip bayangan daripada manusia hidup. Ia mengenakan kemeja putih lusuh, tapi hampir seluruh bagian depannya ternoda oleh bercak-bercak darah yang sudah mengering dan sebagian masih segar, menetes di sepanjang lengan hingga ujung jari.

Tubuhnya menghantam tanah keras dengan suara berdebum nyaring. Ia berguling sekali, dua kali, lalu meringis saat berusaha berdiri. Lututnya gemetar, tapi ia memaksa melangkah. Tertatih-tatih, terseok, seakan tulangnya retak tapi nyawanya memaksa untuk terus bergerak.

Dia menoleh ke belakang.

Tatapannya penuh teror. Seperti sedang dikejar sesuatu yang tak terlihat.

Orang-orang yang lalu-lalang di trotoar melihatnya dengan ekspresi campur aduk. Kebingungan, ketakutan, dan rasa iba yang belum sempat mereka pahami. Tak seorang pun cukup berani untuk mendekat, tapi mereka tahu, ada yang tidak beres. Ada sesuatu yang salah.

Di lantai empat, bayangan hitam berdiri diam di balik jendela yang terbuka. Sosoknya tak jelas, tapi aura yang terpancar dari kehadirannya menggetarkan udara. Matanya menatap ke bawah, ke arah pria yang melarikan diri, bukan dengan rasa iba. Melainkan seperti pemangsa yang sedang menikmati kepanikan mangsanya.

🥀🥀🥀

Tiga jam kemudian.

Kantor polisi distrik Blossom menerima laporan dari seorang warga sipil. Laporan itu datang dari bagian selatan jalan, dari sebuah kompleks komunitas perumahan yang biasanya tenang dan sepi di sore hari. Tapi sore ini tidak biasa.

Seorang siswa sekolah menengah, baru pulang dari sekolah melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Cairan merah kental merembes keluar dari bawah pintu besi ruang keamanan gedung tua. Baunya menyengat. Anyir. Bau kematian. Anak itu memanggil satpam, dan satpam langsung menelepon polisi.

Ketika unit polisi tiba, suasana sudah dipenuhi kerumunan warga. Garis polisi dibentangkan. Mayat tergeletak begitu saja, bersandar di dinding seperti boneka yang kehabisan baterai. Tapi wajahnya....

Wajah itu hancur. Tak lagi bisa dikenali. Kulitnya robek, penuh luka sayatan seperti bekas pisau cukur yang digores berkali-kali secara acak dan penuh kebencian. Bola matanya telah dicabut keluar... dan di tempat matanya seharusnya berada, tertancap dua bunga mawar merah yang seolah sengaja diletakkan di sana, dengan presisi yang mengerikan.

Darah menggenang di lantai. Tubuh korban pucat seperti lilin, nyaris tanpa warna. Bau logam menusuk hidung, membuat polisi muda yang baru enam bulan bertugas memalingkan wajah dan hampir muntah.

Polisi muda itu menatap rekan seniornya, pria berusia lima puluhan dengan mata yang lelah dan garis-garis keriput yang terbentuk bukan karena usia, tapi karena terlalu sering melihat kematian.

"Pak..." suara si muda bergetar, "Ini... ada apa ini?"

Polisi tua itu diam cukup lama. Ia mengamati tubuh korban, lalu menghela napas panjang. "Ini jelas pembunuhan," jawabnya pelan tapi tegas. "Dan bukan pembunuhan biasa."

"Kenapa bisa sekejam ini? Siapa yang tega?"

Polisi tua itu menggaruk kepalanya, mencoba menyusun fakta yang berantakan di benaknya. "Belum jelas. Tapi informan pertama adalah anak remaja tadi. Dia melihat cairan merah dari pintu ruang keamanan. Bau darah yang menusuk membuatnya panik dan dia langsung memanggil petugas penjaga. Dari sanalah semua dimulai."

Mereka berjalan menjauh. Memberikan ruang untuk tim forensik yang mulai bekerja mengambil sampel darah, mencatat posisi tubuh, dan memotret setiap detail adegan yang menyerupai film horor itu.

Polisi tua itu memandangi langit yang mulai gelap. "Akhir-akhir ini kota ini tidak pernah benar-benar tidur. Tapi kali ini... ada sesuatu yang berbeda. Pelaku ini tidak hanya ingin membunuh. Dia ingin... menyampaikan pesan."

"Pesan?" tanya polisi muda bingung.

"Ya," gumamnya lirih. "Tidak ada usaha untuk menyembunyikan mayat. Tidak ditutup, tidak dikubur. Bahkan matanya diganti bunga. Kau tahu artinya?"

"Simbol?"

"Simbol. Atau... tanda tangan." Polisi tua itu menatap ke arah mayat dengan ekspresi muram. "Pelaku ingin ditemukan. Tapi dengan caranya sendiri."

Di kejauhan, kilat menyambar. Hujan kembali turun. Dan di antara suara hujan yang menimpa aspal, samar-samar terdengar suara tawa. Tawa lirih. Tak berasal dari kerumunan. Tak berasal dari siapa pun yang terlihat.

Mungkin hanya angin. Tapi entah kenapa, semua orang yang berada di tempat kejadian merasa merinding bersamaan.

Dan malam pun resmi dimulai.

🥀🥀🥀

Klik.

Suara tajam gunting tanaman menggema pelan di ruang tamu yang luas dan sejuk. Cahaya matahari pagi menembus kaca jendela besar, menyoroti butiran debu yang menari di udara, seakan ikut menikmati ketenangan rumah itu. Di tengah ruangan, Alma berdiri tenang, memotong ujung tangkai mawar terakhir yang semalam baru saja mekar sempurna.

Tangkai itu jatuh ringan ke atas meja marmer, bersanding dengan kelopak-kelopak lain yang telah lebih dulu dipotong. Dengan gerakan halus dan penuh perhitungan, Alma mulai menyusun bunga-bunga itu ke dalam vas kristal. Jemarinya yang ramping merapikan satu per satu kelopak, menyusunnya agar membentuk pola simetris yang memanjakan mata. Tak ada yang terburu-buru. Semua dilakukan dengan ketenangan yang nyaris membeku.

Di sisi lain ruangan, duduklah seorang wanita berambut cokelat kemerahan yang telah menua dengan anggun. Isabella, ibunya. Mengenakan gaun rumah berwarna krem lembut, ia menyandarkan tubuh pada sofa empuk, seraya menyesap teh herbal dari cangkir porselen bergambar burung bangau. Aroma serai dan mint menguar dari cangkirnya, menyatu dengan wangi mawar segar yang baru dipotong Alma.

Televisi layar datar yang menggantung di dinding menampilkan berita pagi. Suara pembawa acara terdengar datar dan profesional, namun apa yang ia sampaikan justru menyesakkan. Sebuah kasus pembunuhan brutal baru saja terjadi semalam di kawasan perumahan tua pinggiran kota. Gambar lokasi kejadian sesekali muncul. Garis polisi, darah di lantai, serta wajah-wajah warga yang dipenuhi rasa takut dan penasaran.

Isabella mendengus pelan, menurunkan cangkirnya ke atas tatakan.

"Ck, ck, ck..." gumamnya lirih, suaranya mengandung nada sinis yang khas. "Kriminalitas makin marak saja akhir-akhir ini. Dunia ini semakin gila."

Alma tak langsung merespon. Ia hanya menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada mawar-mawar yang sedang ia tata. Hening sejenak menguasai ruangan, hanya diisi suara samar berita dari televisi dan desah napas pagi yang mengalir dari celah jendela.

"Orang-orang sekarang terlalu mudah hilang akal hanya karena hal sepele," lanjut Isabella, kini matanya menyipit menatap layar, seolah bisa membaca niat buruk pelaku dari sekadar foto buram yang ditampilkan. "Dendam, uang, cinta, atau... mungkin semuanya sekaligus. Semuanya bisa menjadi alasan untuk menghabisi nyawa orang lain."

Kali ini Alma mengangkat kepalanya, menatap mamahnya dari balik buket mawar.

"Kalau begitu, mana yang paling mamah takutkan? Dendam, uang, atau cinta?" tanyanya tenang, namun sorot matanya sedikit menggelap, seolah menyiratkan sesuatu yang tak sepenuhnya basa-basi.

Isabella diam sesaat, seolah pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang ia harapkan. Kemudian, ia mengangkat bahu ringan.

"Tidak ada yang lebih menakutkan dari cinta yang salah arah," jawabnya. "Karena cinta, orang bisa menjadi sangat bodoh, atau sangat kejam."

Alma tak memberi komentar. Ia kembali pada mawarnya, namun sudut bibirnya terangkat sedikit.

Setelah beberapa saat perbincangan tadi, Isabella mendadak terdiam. Ekspresi wajahnya berubah, seolah baru teringat akan sesuatu.

Tatapannya berpindah pelan ke arah putrinya yang masih sibuk merangkai tangkai-tangkai mawar ke dalam vas kristal.

Dengan sedikit ragu, Isabella membuka suara. "Sayang, apa kau memiliki jadwal keluar hari ini?"

Alma menghentikan gerakannya sesaat. Tangan yang tadi menggenggam batang mawar kini diam di udara, sebelum ia meletakkannya perlahan ke dalam susunan bunga yang mulai terbentuk rapi. Ia berpikir sejenak, mencoba mengingat apakah ada agenda yang sempat ia rencanakan. Namun kemudian, ia menggeleng pelan.

"Sepertinya tidak. Memangnya kenapa, Mah?"

Di dalam hatinya, Isabella hampir bersorak girang. Wajahnya yang semula biasa saja kini berubah cerah, namun ia tetap berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang saat menjawab. "Kau tahu, teman SMA Mamah saat di UK? Tante Caterina yang sering Mamah ceritakan padamu..."

Alma mengangguk kecil. Ia masih ingat nama itu, wanita yang kerap disebut Mamahnya dengan nada penuh nostalgia dan kekaguman. Teman dekat masa muda yang kini jarang bahkan hampir tidak bertemu, namun tetap menjalin komunikasi secara berkala.

Melihat anggukan itu, Isabella langsung melanjutkan, suaranya terdengar penuh harap. "Alma mau, kan, menemani Mamah bertemu dengannya?"

Alma terdiam lagi. Namun kali ini, diamnya bukan karena lupa, melainkan ada perhitungan singkat yang melintas di kepalanya. Lalu bibirnya melengkungkan senyum lembut. "Tidak masalah. Alma bisa menemani Mamah."

Wajah Isabella pun langsung berbinar. "Terima kasih, Sayang. Mamah yakin Tante Caterina pasti senang bertemu denganmu."

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!