NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Kabar tentang dua anak buah Bram yang dipermalukan di pasar menyebar lebih cepat daripada suara azan siang.

Tidak ada yang berani membicarakannya terlalu keras, tetapi hampir setiap sudut pasar mulai berbisik.

Raka Pratama.

Nama itu yang sejak dulu tidak pernah berarti apa-apa, hari itu mulai disebut dengan nada berbeda.

Di dekat lapak sayur, beberapa pedagang saling mendekat sambil pura-pura merapikan dagangan.

“Kau lihat sendiri tadi?”

“Lihat. Pisau itu patah cuma disentuh.”

“Jangan keras-keras. Kalau orang Bram dengar, kita bisa kena masalah.”

“Tapi Raka tadi… beda.”

“Beda bagaimana?”

Orang yang ditanya menelan ludah. Matanya tanpa sadar menoleh ke arah jalan yang tadi dilewati Raka.

“Seperti bukan anak yang biasa duduk diam di warung Pak Harun.”

Di sisi lain pasar, Bu Lestari masih memegang dadanya. Ia menatap lapaknya yang sudah kembali rapi, tetapi pikirannya belum sepenuhnya tenang. Raka sudah pergi beberapa saat lalu, namun udara di sekitar tempat itu masih terasa berat, seperti ada sesuatu yang belum benar-benar menghilang.

Dua preman yang biasa membuat pedagang kecil menunduk tadi memunguti sayurnya dengan tangan gemetar.

Bukan karena dipukul.

Bukan karena diancam dengan senjata.

Hanya karena Raka menyuruh mereka.

Bu Lestari menarik napas panjang.

“Anak itu…” gumamnya pelan. “Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Ka?”

Tidak ada yang bisa menjawab.

Sementara itu, Raka berjalan menjauh dari pasar dengan langkah tenang.

Ia tidak merasa bangga.

Ia tidak merasa puas.

Namun ada sesuatu di dalam dadanya yang berubah.

Dulu, setiap kali melihat orang kecil ditindas, Raka hanya bisa mengepalkan tangan dalam diam. Ia tahu bagaimana rasanya tidak punya kekuatan. Ia tahu bagaimana rasanya ingin melawan, tapi tubuh dan keadaan tidak memberi izin.

Sekarang, keadaan berbeda.

Ia punya kekuatan.

Dan justru itu yang membuat pikirannya lebih berat.

Raka berhenti di bawah pohon tua di sisi jalan. Di depannya, kendaraan melintas. Orang-orang bergerak seperti biasa. Pontianak di siang hari tetap terlihat hidup, panas, dan ramai.

Namun di matanya, kota ini seperti mulai membuka lapisan lain.

Di antara orang-orang biasa, ada aura yang bergerak pelan. Ada putih yang lembut, abu-abu yang lelah, merah gelap yang kotor, dan beberapa bayangan samar yang tidak sepenuhnya manusiawi.

Raka menatap semua itu dengan tenang.

“Sistem.”

[Aku mendengar.]

“Kalau aku membiarkan mereka pergi, apakah mereka akan berhenti?”

Sistem tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum suara wanita agung itu terdengar dingin.

[Manusia yang hidup dari menindas tidak berhenti hanya karena dipermalukan.]

[Mereka berhenti ketika rasa takut menjadi lebih besar daripada keserakahan.]

Raka menunduk.

“Jadi menurutmu aku harus membuat mereka takut?”

[Tuan tidak perlu membuat semua orang takut.]

[Cukup buat musuh memahami akibat menyentuh wilayah Tuan.]

Raka mengangkat wajah sedikit.

“Wilayahku?”

[Pontianak adalah titik kebangkitan.]

[Orang-orang yang Tuan pilih untuk lindungi berada di bawah bayangan takhta.]

[Siapa pun yang menyentuh mereka untuk memancing Tuan, berarti menantang Tuan secara langsung.]

Raka diam.

Dulu ia tidak punya wilayah.

Tidak punya rumah yang benar-benar terasa seperti rumah.

Tidak punya keluarga.

Tidak punya siapa-siapa.

Namun sekarang, sistem bicara seolah seluruh kota ini perlahan menjadi sesuatu yang terhubung dengannya.

Raka menatap jalanan Pontianak.

Ia melihat pedagang kecil, tukang parkir, ibu-ibu membawa belanjaan, anak sekolah yang tertawa, dan pengendara motor yang berhenti di lampu merah.

Orang-orang biasa.

Rapuh.

Lelah.

Tidak tahu apa-apa tentang Dunia Immortal, dewa, takhta, atau makhluk asing.

Jika benar medan perang akan datang ke Pontianak, maka merekalah yang paling mudah menjadi korban.

Raka mengepalkan tangan perlahan.

“Aku tidak akan menyentuh orang biasa.”

Sistem diam.

Raka melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Tapi kalau ada yang menggunakan mereka untuk melawanku…”

Udara di sekitar pohon tua itu tiba-tiba menjadi berat.

Daun-daun yang tadi bergerak oleh angin berhenti sejenak.

Mata Raka memantulkan cahaya emas tipis.

“…maka aku tidak akan menjadi orang baik.”

Sistem terdengar pelan, tetapi nadanya seperti menyetujui.

[Itu lebih sesuai dengan takhta Tuan.]

Raka tidak menjawab.

Ia kembali berjalan.

Namun kali ini, langkahnya berbeda.

Bukan lagi langkah pemuda yang hanya ingin menghindari masalah.

Melainkan langkah seseorang yang mulai menentukan batas.

Di tempat lain, suasana markas kecil Bram Gunawan berubah kacau.

Markas itu sebenarnya hanya sebuah ruko tua di dekat jalan sepi, tempat Bram dan anak buahnya biasa berkumpul. Di dalamnya ada meja kayu panjang, beberapa kursi plastik, kipas angin tua, dan bau rokok yang menempel kuat di dinding.

Dua preman yang tadi dipermalukan Raka berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat.

Di depan mereka, Bram duduk dengan ekspresi gelap.

Beberapa anak buah lain berdiri di sekeliling, saling pandang dengan wajah bingung dan marah.

Salah satu preman yang tadi di pasar menunduk dalam.

“Bang, kami benar-benar tidak bisa bergerak.”

Bram mengerutkan kening.

“Dia menyentuh kalian?”

“Tidak, Bang.”

“Dia pakai senjata?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kalian berlutut dan memunguti sayur seperti orang bodoh?”

Preman itu gemetar.

“Tubuh kami gerak sendiri, Bang.”

Ruangan menjadi sunyi.

Beberapa anak buah Bram yang belum melihat langsung kejadian Raka mulai tertawa pelan, tapi tawa itu terdengar tidak yakin.

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!