NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 20

Ketegangan di apartemen malam itu belum benar-benar mereda, namun sebuah benih keraguan mulai tumbuh di hati Arvin setelah membaca bait-bait doa dalam buku harian Zoya.

Namun, Nadia bukanlah lawan yang mudah. Video yang ia kirimkan menunjukkan Zoya dan Liam di sebuah sudut kafe yang gelap, tampak seolah-olah mereka sedang bertukar sesuatu secara rahasia.

Zoya, yang menyadari bahwa kejujurannya saja tidak cukup untuk melawan kelicikan Nadia, memutuskan untuk berhenti menjadi korban yang hanya bisa menangis.

Di balik kelembutannya, Zoya adalah mahasiswi cerdas dengan logika yang tajam. Ia tahu, satu-satunya cara menghentikan badai ini adalah dengan memancing sang badai keluar dari persembunyiannya.

Keesokan harinya, kantor pusat Dewangga Group tampak sibuk seperti biasa. Di lantai paling atas, di ruang kerja Arvin yang megah, Nadia datang dengan penuh percaya diri.

Ia mengenakan setelan kantor yang sangat berkelas, membawa kopi kesukaan Arvin, dan aroma kemenangan yang terpancar dari wajahnya.

"Arvin, sudahlah. Jangan biarkan dirimu terus memikirkan wanita itu," ucap Nadia sambil meletakkan kopi di meja Arvin. Ia melangkah mendekat, mencoba mengikis jarak di antara mereka. "Kau lihat sendiri kan videonya? Dia bukan wanita yang kau kira. Kembalilah padaku, Vin. Kita adalah pasangan yang sempurna. Kita bicara dalam bahasa yang sama, di level yang sama."

Arvin hanya menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan langit Jakarta. Pikirannya terbelah antara rasa sakit hati karena video itu dan rasa hangat yang ia rasakan saat membaca buku harian Zoya.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan.

Zoya melangkah masuk. Ia tidak lagi tampak lemah seperti semalam. Meskipun ia masih mengenakan cadar dan pakaian tertutup, langkah kakinya terdengar mantap.

"Berani-beraninya kau datang ke sini setelah apa yang terjadi?" bentak Nadia, matanya berkilat penuh kemarahan.

Zoya tidak menoleh ke arah Arvin. Ia menatap langsung ke arah Nadia. "Saya datang untuk menyelesaikan apa yang Anda mulai, Nona Nadia."

"Zoya, pergi dari sini," suara Arvin terdengar berat. "Aku tidak ingin ada keributan di kantorku."

"Hanya sebentar, Tuan. Setelah ini, jika kau ingin aku pergi selamanya, aku tidak akan menolak," jawab Zoya tenang. Ia kemudian menoleh ke Nadia. "Nona Nadia, mari bicara di ruangan sebelah. Saya tahu Anda yang menyewa orang untuk mengambil foto-foto itu di kampus."

Nadia tertawa meremehkan. "Oh, jadi sekarang kau beralih menjadi detektif? Lucu sekali."

"Mari bicara secara pribadi, Nona. Kecuali Anda takut rahasia Anda terbongkar di depan Tuan Arvin," tantang Zoya.

Nadia, yang merasa dirinya jauh di atas Zoya dan yakin Arvin sudah sepenuhnya berada di pihaknya, merasa tertantang. Ia ingin mengakhiri perlawanan Zoya sekali dan untuk selamanya.

"Baiklah. Arvin, biarkan aku mengurus wanita ini. Aku akan membuatnya sadar di mana tempatnya yang sebenarnya."

Nadia dan Zoya masuk ke ruang tunggu VIP yang dibatasi oleh pintu kayu ek tebal dengan ruang kerja Arvin.

Di dalam ruang tunggu tersebut, Nadia segera melepaskan topeng kepura-puraannya. Ia bersedekap, menatap Zoya dengan tatapan predator.

"Dengar, Zoya. Kau pikir dengan datang ke sini kau bisa merubah keadaan? Arvin sudah membencimu. Keluarganya menganggapmu jalang. Kau sudah kalah," desis Nadia.

Zoya berdiri tenang, tangannya tersembunyi di balik saku gamisnya. "Kenapa Anda melakukan ini, Nona? Mengapa Anda begitu terobsesi menghancurkan saya? Padahal Anda yang meninggalkan Tuan Arvin dulu saat beliau tidak punya apa-apa."

Nadia tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat jahat di ruangan yang sunyi itu. "Karena kau tidak pantas! Kau hanya wanita kampung yang beruntung bisa masuk ke rumah Dewangga. Arvin itu milikku! Kekayaan dan kekuasaannya seharusnya menjadi milikku! Ya, memang benar aku yang menyewa fotografer itu. Aku yang menyuruh mereka mengambil foto dari sudut sedemikian rupa agar kau terlihat seperti sedang bermesraan dengan mahasiswa itu."

Nadia melangkah maju, memojokkan Zoya ke dinding. "Bahkan video itu... itu adalah video saat kau memberikan catatan kuliah pada temanmu, kan? Tapi dengan sedikit penyuntingan dan pencahayaan, aku membuatnya terlihat seperti transaksi rahasia yang kotor. Dan Arvin yang bodoh itu langsung percaya karena dia pria yang penuh ego. Sangat mudah menghancurkan kepercayaan di antara kalian karena kalian memang tidak pernah punya dasar yang kuat."

Zoya menatap Nadia dengan tenang. "Jadi, Anda mengakui bahwa semua itu adalah fitnah?"

"Tentu saja! Dan siapa yang akan percaya padamu? Kau tidak punya bukti. Aku punya dukungan Mama Rosa. Aku punya kelas. Sedangkan kau? Kau hanya rahasia yang memalukan bagi Arvin," Nadia menyeringai puas. "Sekarang, ambil tasmu, pergi dari apartemen itu, dan jangan pernah muncul lagi. Kalau tidak, aku akan membuat fitnah yang lebih buruk lagi, mungkin tentang kehamilan palsu atau apalah. Aku punya uang untuk membeli kebenaran, Zoya."

Zoya menghela napas panjang. "Anda benar, Nona. Uang bisa membeli banyak hal, tapi tidak bisa membeli hati yang tenang."

Zoya kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Di layarnya, terlihat aplikasi perekam suara yang sedang berjalan. Durasi perekaman sudah mencapai lima menit.

Wajah Nadia seketika memucat. "Kau... apa yang kau lakukan?!"

"Saya hanya mengumpulkan bukti yang Anda katakan tidak saya miliki," ucap Zoya tegas.

"Hapus itu! Berikan padaku!" Nadia menerjang Zoya, mencoba merebut ponsel tersebut. Terjadi pergulatan kecil di antara keduanya. Nadia yang kalap mulai kehilangan kendali diri dan berteriak-teriak kasar.

Tiba-tiba, pintu kayu ek itu terbuka dengan bantingan keras.

BRAK!

Arvin berdiri di ambang pintu. Wajahnya gelap, urat-urat di lehernya menegang, dan matanya memancarkan amarah yang belum pernah dilihat oleh siapapun sebelumnya. Ternyata, Arvin tidak hanya diam di ruangannya.

Sejak awal, ia berdiri di balik pintu yang sengaja tidak ia tutup rapat, mendengar setiap kata, setiap tawa jahat, dan setiap pengakuan busuk dari mulut wanita yang selama ini ia anggap sebagai kelas atas.

Nadia membeku. Tangannya yang masih mencoba menjambak kerudung Zoya seketika terkulai lemas. "Arvin... ini... ini tidak seperti yang kau dengar... Zoya memancingku, dia..."

"Diam!" bentak Arvin. Suaranya menggelegar hingga ke seluruh lantai kantor.

Arvin melangkah masuk, ia mengabaikan Nadia sepenuhnya dan langsung menarik Zoya ke belakang tubuhnya, melindunginya seperti seorang ksatria yang melindungi hartanya yang paling berharga.

"Arvin, sayang, dengarkan aku..." Nadia mencoba meraih lengan Arvin dengan air mata buaya.

Arvin menepis tangan Nadia seolah-olah tangan itu adalah kotoran yang menjijikkan. "Aku sudah mendengar semuanya, Nadia. Setiap kata. Setiap pengakuanmu tentang menyewa fotografer, tentang memanipulasi video, dan tentang caramu meremehkan istriku."

Arvin menatap Nadia dengan tatapan penuh rasa jijik. "Kau bilang aku bodoh karena memercayaimu? Ya, kau benar. Aku bodoh karena sempat meragukan ketulusan wanita yang mendoakanku saat aku sekarat, demi wanita ular sepertimu. Aku bodoh karena membiarkan sampah masa lalu sepertimu masuk kembali ke dalam hidupku."

"Vin, aku melakukan ini karena aku mencintaimu!" teriak Nadia histeris.

"Cinta tidak menghancurkan, Nadia. Cinta itu membangun. Dan apa yang kau lakukan adalah murni kejahatan," Arvin menunjuk ke arah pintu keluar. "Keluar dari kantorku. Sekarang. Sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar secara paksa di depan semua karyawan."

"Arvin, Mama Rosa tidak akan tinggal diam..."

"Mama juga akan segera tahu siapa dirimu yang sebenarnya setelah beliau mendengar rekaman ini," Arvin mengambil ponsel dari tangan Zoya dengan lembut. "Sekarang, PERGI!"

Nadia gemetar hebat. Ia menyadari bahwa permainannya benar-benar sudah berakhir. Dengan wajah yang hancur dan penuh malu, ia berlari keluar dari ruangan itu, melewati para staf yang mulai berbisik-bisik di luar.

Keheningan yang luar biasa menyelimuti ruangan itu setelah kepergian Nadia. Arvin masih berdiri membelakangi Zoya, bahunya naik turun mengatur napas yang memburu.

Zoya hanya menunduk, air matanya kini benar-benar tumpah, namun kali ini adalah air mata kelegaan.

Arvin perlahan berbalik. Ia menatap Zoya yang tampak sangat kecil di depan kemegahan ruangannya. Rasa bersalah yang amat sangat menghantam Arvin lebih keras dari sebelumnya.

Ia teringat bagaimana ia menyeret Zoya semalam, bagaimana ia membiarkan ibunya menarik cadar Zoya, dan bagaimana ia hampir saja membuangnya.

"Zoya..." bisik Arvin, suaranya parau dan penuh luka.

Zoya tidak menjawab. Ia hanya terus menunduk.

Arvin melangkah mendekat, lalu tanpa peringatan, ia menarik Zoya ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya dengan sangat erat, membenamkan wajahnya di pundak Zoya.

"Maafkan aku... maafkan aku karena telah menjadi suami yang sangat bodoh. Maafkan aku karena tidak mempercayaimu."

Zoya terisak di dalam dekapan Arvin. Untuk pertama kalinya, ia merasakan pelukan yang murni, pelukan yang bukan karena nafsu atau kepemilikan, melainkan pelukan permohonan ampun dan perlindungan.

"Tuan..."

"Jangan panggil aku Tuan," sela Arvin lembut. "Panggil namaku. Aku tidak layak dipanggil Tuan setelah apa yang kulakukan padamu."

Arvin melepaskan pelukannya, namun tetap memegang kedua bahu Zoya. Ia menatap mata Zoya lekat-lekat.

"Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu. Tidak Nadia, tidak Mama, bahkan tidak juga egoku sendiri. Aku akan mengumumkan pernikahan kita secara resmi kepada dunia. Kau bukan lagi rahasiaku yang memalukan, Zoya. Kau adalah kebanggaanku."

Zoya menatap mata Arvin dan melihat dinding es itu benar-benar telah runtuh, menyisakan aliran air yang jernih dan hangat. "Apakah kau benar-benar mempercayai aku sekarang?"

Arvin mengangguk mantap. Ia mengambil tangan Zoya dan menciumnya dengan penuh khidmat. "Aku mempercayaimu lebih dari aku mempercayai diriku sendiri."

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
ρυтяσ kang'typo✨
sabar Zoya.... karna lama" es itu akan mencair dengan sendiri'y🤭
ρυтяσ kang'typo✨
apah masih sangat kokoh benteng di hati mu tuan🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!