Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Pertemuan dengan Sang Putri yang Dingin
Beberapa hari setelah sesi latihan bersama, suasana di Sekte Angin Hijau menjadi lebih hidup. Banyak murid yang mulai mengubah cara latihan mereka, dan kemajuan mereka terlihat jelas. Namun bagi Mu Chen, hari-harinya tetap berjalan seperti biasa — berlatih dengan santai, merawat kebunnya, dan sesekali membaca buku di perpustakaan.
Suatu sore, saat ia sedang membawa keranjang berisi sayuran segar dari kebunnya menuju dapur, ia melewati jalur di dekat area tempat tinggal para murid inti. Area ini biasanya jarang dikunjungi murid biasa, karena di sanalah tinggal murid-murid yang memiliki bakat luar biasa atau latar belakang istimewa.
Di ujung jalan, terlihat sosok seorang gadis berjalan sendirian. Ia mengenakan jubah sekte berwarna biru tua dengan sulaman benang perak yang halus. Rambut hitam panjangnya diikat rapi, dan wajahnya cantik namun terlihat dingin dan tanpa ekspresi. Matanya yang jernih menatap lurus ke depan, seolah tidak ada apa pun di sekitarnya yang menarik perhatiannya.
Ia adalah Putri Ling Yue, putri dari Raja Kerajaan Langit yang berdekatan. Di usianya yang baru tujuh belas tahun, ia telah mencapai Tingkat Transformasi Awal — pencapaian yang membuatnya dianggap sebagai salah satu jenius muda terbaik di seluruh wilayah. Namun, sifatnya yang dingin dan jarang berbicara membuat banyak murid merasa segan untuk mendekat.
Belum sempat Mu Chen berjalan lebih jauh, terdengar suara langkah kaki yang cepat dan riuh. Dari arah berlawanan datang sekelompok orang, dipimpin oleh seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun dengan wajah tampan namun penuh kesombongan. Ia mengenakan jubah yang lebih mewah daripada murid lain, dan di dadanya terpasang lencana khusus tanda murid langsung dari Tetua Agung lainnya.
Ia adalah Feng Hao, putra dari Perdana Menteri Kerajaan Langit. Ia juga merupakan murid inti yang sangat berbakat, telah mencapai Tingkat Transformasi Puncak, dan selalu merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Sejak pertama kali melihat Ling Yue, ia telah bertekad untuk menjadikannya sebagai pasangannya.
"Putri Ling Yue! Tunggu sebentar!" seru Feng Hao sambil mempercepat langkahnya.
Ling Yue berhenti sejenak, menoleh sedikit, dan berkata dengan nada datar:
"Ada apa?"
Feng Hao tersenyum lebar dan berusaha terlihat sopan meski masih ada nada sombong di suaranya:
"Saya kebetulan melewati sini. Besok akan ada kiriman buah-buahan langka dari daerah utara. Saya akan meminta sebagiannya dan mengantarkannya ke tempatmu. Buah itu bagus untuk memperhalus energi dan mempercepat latihan."
Ling Yue menggeleng pelan:
"Tidak perlu. Saya tidak membutuhkannya."
Ia hendak berjalan lagi, tapi Feng Hao menghalangi jalannya dengan gerakan halus.
"Putri, jangan menolak begitu saja. Ini bukan sekadar hadiah — saya juga ingin berbagi pemahaman tentang teknik kultivasi. Saya baru saja mendapatkan petunjuk dari Tetua Agung tentang cara menerobos ke Tingkat Inti. Kita bisa berlatih bersama dan saling membantu," katanya dengan nada yang semakin akrab.
Di belakangnya, para pengikutnya ikut bersuara:
"Benar sekali! Pangeran Feng Hao adalah murid kesayangan Tetua Agung. Banyak murid yang ingin mendapatkan bimbingannya saja tidak sempat!"
"Hanya Putri Ling Yue yang layak berlatih berdampingan dengan dia."
Ling Yue mengerutkan kening sedikit, merasa tidak nyaman. Ia tidak suka dipaksa atau dijadikan pusat perhatian seperti ini. Namun, karena latar belakang keluarga Feng Hao yang kuat dan posisinya sebagai murid tetua agung, ia tidak bisa berbicara terlalu kasar.
Saat suasana menjadi sedikit canggung, Mu Chen yang tadinya berdiri agak di pinggir jalan hendak berjalan melewati mereka. Ia tidak mau ikut campur urusan orang lain, jadi ia berusaha berjalan dengan tenang sambil tetap membawa keranjang sayurannya.
Namun, karena jalur itu agak sempit, ia secara tidak sengaja berjalan terlalu dekat dengan Feng Hao.
"Hei! Hati-hati kau! Tidak lihat ada orang yang sedang berbicara?!" bentak salah satu pengikut Feng Hao dengan kasar.
Mu Chen berhenti dan menoleh. Ia melihat sekilas, lalu berkata polos:
"Maaf, saya hanya lewat saja. Jalurnya agak sempit."
Feng Hao menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. Melihat jubah biasa yang dikenakannya dan keranjang berisi sayuran, ia segera mengira bahwa ini hanyalah murid biasa yang tidak berarti.
"Siapa kau? Apakah kau tidak tahu bahwa ini area khusus untuk murid inti? Orang biasa seperti sebaiknya tidak berkeliaran di sini dan menghalangi jalan!" katanya dengan nada dingin.
Ling Yue yang juga menoleh melihat Mu Chen. Sekilas, ia merasakan aura yang agak aneh dari pemuda ini — terasa sangat tenang dan tidak ada tekanan sama sekali, seolah ia tidak terpengaruh oleh kehadiran mereka. Namun, karena ia melihat Mu Chen hanya seorang murid biasa, ia tidak terlalu memikirkannya.
Mu Chen menggaruk kepalanya dan tersenyum kikuk:
"Saya tahu jalurnya umum kok, bukan milik siapa-siapa. Saya hanya mau mengantarkan sayuran segar ke dapur saja. Kalau kalian selesai bicara, saya lewat ya."
Ia berusaha berjalan lagi, tapi Feng Hao melambaikan tangannya sedikit dengan sengaja. Gelombang energi ringan mendorong udara — tidak cukup kuat untuk melukai, tapi cukup untuk membuat keseimbangan orang biasa terguncang.
"Beranikah kau berbicara dengan nada seperti itu padaku? Belajarlah sopan santun sebelum berjalan di jalan ini!" seru Feng Hao.
Namun, hal yang tidak terduga terjadi: begitu gelombang energi itu menyentuh tubuh Mu Chen, energi itu seolah terserap masuk tanpa jejak sama sekali! Tidak ada guncangan, tidak ada gerakan sedikit pun — Mu Chen tetap berdiri tegak seolah tidak ada apa-apa.
"Hah? Ada angin ya?" gumam Mu Chen polos.
Feng Hao tertegun sejenak. Ia yakin ia baru saja mengeluarkan sedikit energinya, tapi mengapa tidak ada efeknya sama sekali? Ia mengira ini hanyalah kebetulan, jadi ia berusaha menutupi kekagetannya dengan senyum dingin.
"Beruntung kau. Pergilah dari sini sebelum aku berubah pikiran!" bentaknya.
Mu Chen mengangkat bahu dan berjalan melewati mereka tanpa mempedulikan mereka lagi. Namun, saat ia berjalan melewati Ling Yue, sedikit aroma segar dari sayuran dan energi alami yang samar terbawa angin dan menyentuh hidung Ling Yue.
Tiba-tiba, ia merasakan aliran energinya yang tadinya agak tertekan karena suasana tidak nyaman itu menjadi segar dan lancar kembali! Bahkan ada sedikit perasaan ringan yang membuatnya merasa lebih baik.
Ia menatap punggung Mu Chen yang semakin menjauh dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. "Apa yang baru saja terjadi? Aura yang dia bawa... terasa sangat murni dan menenangkan, jauh berbeda dari energi orang lain yang sering terasa kasar atau dipaksakan," pikirnya dalam hati.
Feng Hao yang melihat Ling Yue masih menatap ke arah Mu Chen merasa tidak senang:
"Putri, tidak perlu mempedulikan murid rendahan seperti itu. Hanya keberuntungan saja dia bisa menghindari doronganku. Mari kita lanjutkan pembicaraan kita."
Ling Yue menarik pandangannya dan berkata dengan nada datar:
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Saya harus kembali berlatih."
Ia lalu berbalik dan berjalan pergi dengan cepat, meninggalkan Feng Hao yang berdiri di tempat dengan wajah kesal.
Setelah Ling Yue pergi, Feng Hao mengerutkan keningnya dan berbicara pada dirinya sendiri:
"Murid biasa? Tapi mengapa energiku tidak berpengaruh padanya? Mungkin dia memakai benda pelindung? Tidak apa-apa, hanyalah hal sepele. Tidak ada artinya dibandingkan pencapaianku."
Namun, di sisi lain, Ling Yue yang berjalan kembali ke tempat tinggalnya masih memikirkan pertemuan singkat tadi. Ia tidak bisa melupakan perasaan tenang yang ia rasakan saat berada di dekat pemuda itu.
Malam itu, saat ia duduk bersila berlatih, ia tiba-tiba teringat kata-kata sederhana yang pernah ia dengar dari murid lain — tentang seorang pemuda bernama Mu Chen yang menjelaskan cara latihan dengan perumpamaan menanak nasi dan menyimpan gula pasir, yang membuat banyak murid mendapatkan pencerahan.
"Apakah dia orang itu?" gumamnya pelan.
Di tempat lain, Mu Chen sudah sampai di dapur dan meletakkan keranjang sayurannya. Ia sudah melupakan kejadian tadi dan hanya berpikir:
"Orang itu sombong sekali, tapi tidak apa-apa. Sayurannya masih segar dan tidak rusak, itu yang terpenting. Sekarang saya bisa masak makan malam dengan tenang."
Di dalam benaknya, Kitab Jalan Bintang berkomentar:
"Ling Yue memiliki bakat yang sangat baik dan hati yang bersih. Sedangkan Feng Hao... terlalu sombong dan mengandalkan latar belakangnya. Hati-hati, dia tidak akan berhenti begitu saja jika merasa dirinya dipermalukan."
Mu Chen hanya tertawa pelan dalam hati:
"Tidak apa-apa. Selama dia tidak mengganggu kebun saya dan tidak membuat keributan yang besar, saya tidak akan mempedulikannya. Kalau dia berulah terlalu jauh, ya saya bisa membuatkan air dingin lagi untuknya agar kepalanya lebih jernih!"
Bersambung...