"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Di dalam kabin mobil sedan hitam yang melaju membelah jalanan kota, Vexana menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin.
Deru napasnya terdengar patah-patah, sementara air matanya mengalir tanpa suara, membasahi blus putih yang dikenakannya.
Di dalam keheningan yang mencekam itu, otaknya yang semula buntu mulai menyatukan kepingan-kepingan kenyataan secara paksa. Matematika waktu yang kejam menghantam kesadarannya tanpa ampun.
Jika Landon mengatakan dia tidak pernah membawa mobil sendiri selama empat tahun terakhir sejak kembali ke kampus, dan jika kecelakaan maut itu terjadi enam tahun lalu...
Vexana memejamkan matanya erat-erat, ia menarik kesimpulan yang luar biasa pahit.
Itu artinya... aku tidak pingsan selama beberapa hari seperti yang Daddy katakan. Aku... aku lupa kapan adikku AJ dilahirkan. Itu artinya, dua tahun dalam hidupku habis menguap di atas ranjang rumah sakit. Aku koma selama dua tahun penuh!
Tenggorokannya terasa tercekat. Dan rumor tentang dirinya yang pindah ke luar negeri untuk melanjutkan studi? Itu bohong.
Sebuah kebohongan besar yang dirancang rapi oleh keluarganya untuk menutupi kondisi tragisnya dari dunia luar, termasuk dari Landon.
Dia tidak pernah menginjakkan kakinya di luar negeri selama ini. Dia menghabiskan seluruh waktunya di dalam rumah, terkurung di balik dinding mansion mewah Bel-Air, memulihkan tubuhnya yang sempat mati.
Tiba-tiba, kepalanya terasa pusing. Pusing sekali, seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk tengkoraknya secara bersamaan. Vexana memegangi pelipisnya, merintih pelan hingga membuat sang sopir melirik cemas melalui spion tengah.
Rasa sakit yang luar biasa di kepalanya justru bertindak sebagai pendobrak pintu memori yang selama ini terkunci rapat oleh trauma. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, sebuah ingatan masa lalu mendadak berputar laksana kaset rusak yang dipaksa berputar.
Ingatan itu membawanya kembali ke sebuah kamar mandi yang sunyi, enam tahun lalu.
Vexana melihat dirinya sendiri yang berusia dua puluh tahun sedang berdiri dengan tubuh bergetar, menatap sebatang alat tes kehamilan mandiri di tangannya.
Dua garis merah terpampang jelas di sana. Garis yang mengubah seluruh jalannya takdir.
Dia mengingat betapa paniknya dia malam itu. Dengan air mata yang berderai, dia menuntut kekasihnya, Landon Desmon, untuk bertemu malam itu juga.
Dia ingin memberitahukan kehamilannya, ingin mencari perlindungan di pelukan pria itu. Namun, yang terjadi justru pertengkaran hebat di apartemen Landon. Pertengkaran malam itu... malam di mana ego remaja menghancurkan segalanya.
DUAAARRRR!!!
Kesadaran Vexana laksana disambar petir yang menggelegar di tengah siang bolong. Seluruh tubuhnya menegang kaku, matanya membelalak lebar menatap kekosongan di dalam mobil.
AJ... nama itu menggema di dalam benaknya, memicu detak jantung yang begitu cepat hingga terasa menyakitkan.
Bocah laki-laki berusia enam tahun itu sudah ada di dalam dekapan Mommy Amieyara saat dia pertama kali membuka mata dari empat tahun lalu.
AJ, anak laki-laki yang memiliki sepasang mata bulat legam yang sangat mirip dengan wajahnya sendiri versi anak laki-laki. Vexana teringat bagaimana sang ayah, Maximilian, selalu melarang keras siapa pun untuk memposting foto AJ di media sosial dengan alasan privasi dan keamanan keluarga Valerio.
Bukan... itu bukan karena keamanan, batin Vexana menjerit histeris, air matanya menetes semakin deras. Daddy melarangnya karena jika dunia melihat wajah AJ, semua orang akan tahu... terutama Landon Desmon. AJ bukan adikku. AJ adalah anakku! Anak kandungku yang lahir saat aku sedang tertidur dalam koma!
Suara berdenging melengking berisik di dalam kepalanya, memekakkan telinga dan mengacaukan seluruh fungsi kognitifnya.
Tangisannya di malam itu, suara bentakan Landon, suara gesekan ban mobil di atas aspal yang basah oleh badai, hingga jeritan Amara... semua ingatan itu berputar kacau, bertabrakan laksana kaset rusak yang siap meledak di dalam otaknya.
"Berhenti!!!!" ucap Vexana setengah berteriak pada sopir keluarganya.
Sopir paruh baya itu terkejut, langsung menginjak pedal rem hingga ban mobil berdecit di atas aspal jalanan yang tidak jauh dari gerbang kampus. "Ada apa, Nona Vexa? Ada yang tertinggal?"
"Putar balik," ucap Vexana kemudian. Nada suaranya mendadak berubah drastis, tidak lagi rapuh, melainkan sarat akan kemarahan, keputusasaan, dan keberanian gila khas seorang Valerio yang sedang menuntut balas pada takdir. "Putar balik ke kampus sekarang juga!"
Sopir itu tidak berani membantah melihat kilat kegilaan di sepasang mata nona mudanya. Dengan cepat, dia memutar kemudi, membawa sedan hitam itu kembali melesat memasuki gerbang UCLA, menuju ke area parkir Fakultas Teknik.
......................
Sementara itu, di sudut area parkir yang mulai lengang, mobil sport hitam milik Landon Desmon ternyata belum meninggalkan halaman kampus.
Landon masih berdiri diam di samping pintu kemudinya yang terbuka, menatap kosong ke arah jalan setapak tempat Vexana pergi tadi. Pikirannya masih dipenuhi oleh rasa sesak yang tidak kunjung reda.
Ckititttt!
Suara rem mobil yang memekik keras membuat Landon tersentak dari lamunannya.
Dia mendongak dan menatap terkejut saat melihat mobil sedan hitam keluarga Valerio yang baru saja pergi, kini kembali dan berhenti dengan kasar tepat di depan mobil sportnya.
Pintu belakang terbuka, dan Vexana melangkah keluar. Penampilan gadis itu tampak hancur sehancurnya; rambutnya sedikit berantakan, blus putihnya kusut, dan wajah cantiknya basah kuyup oleh air mata dengan tatapan mata yang kosong namun menghujam tajam.
Melihat Vexana yang tampak begitu hancur dan tidak stabil, ego Landon runtuh dalam sekejap.
Naluri pelindungnya bangkit. Pria itu langsung melangkah lebar menghampirinya dengan tatapan khawatir tingkat tinggi.
"Vexa? Kenapa kau kembali? Ada apa denganmu—"
PLAK!!!
Sebuah tamparan yang begitu keras, sangat-sangat keras, mendarat tepat di pipi kiri Landon Desmon sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga membuat wajah Landon terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulit rahangnya yang tegas.
Suara hantaman kulit itu bergaung kencang di area parkir yang sunyi.
Deg.
Landon terpaku di tempatnya, memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut nyeri.
Dia menatap Vexana dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh ketidakmengertian dan keterkejutan yang luar biasa. Dia tidak mengerti mengapa wanita ini kembali hanya untuk memberinya sebuah kekerasan fisik setelah kalimat perpisahan yang manis tadi.
"Beraninya kau memutuskanku?!" jerit Vexana, suaranya parau, pecah oleh seluruh rasa sakit yang dia pendam selama enam tahun yang berputar di kepalanya.
Dia melangkah maju, memukul dada tegap Landon dengan kedua tangannya yang gemetar. "Beraninya kau melepaskan tanganku malam itu, Landon?!"
Landon tidak mengerti. Dia menangkap kedua pergelangan tangan Vexana yang terus memukul dadanya secara histeris. "Vexa, tenang! Apa yang kau bicarakan? Kita sudah membahas ini bertahun-tahun lalu! Kau yang pergi meninggalkan—"
"Malam itu... malam itu aku sedang hamil!" teriak Vexana, memotong kalimat Landon dengan sebuah kebenaran yang sanggup menghentikan detak jantung di seluruh dunia.
Vexana menatap lurus ke dalam sepasang mata legam Landon dengan air mata yang mengalir deras laksana air bah. "Kau melepasku saat aku sedang hamil, Landon! Kau mengusirku dari apartemenmu dalam kondisi ada darah dagingmu di dalam perutku! Brengsek kau, Don!!! Kau bajingan!!!"
BYARRRR!!!
Kata-kata Vexana menghantam kesadaran Landon Desmon laksana bongkaran batu besar yang runtuh dari atas tebing, menghancurkan seluruh logika, kewarasan, dan fondasi hidupnya dalam satu detik yang mematikan.
Landon terdiam seribu bahasa. Tubuhnya mendadak kaku seperti patung marmer. Sepasang matanya membelalak lebar, menatap Vexana dengan kengerian dan ketidakpercayaan yang amat sangat.
Otaknya yang genius seolah mengalami error massal, menolak untuk memproses informasi gila yang baru saja meluncur dari bibir wanita yang dicintainya.
Hamil...? Batin Landon menjerit di dalam keheningan otaknya. Vexana hamil? Kapan? Kapan Vexana hamil? Kenapa aku tidak pernah tahu apa-apa tentang ini?!
Logika Landon berputar cepat dengan liar, mencoba mencocokkan ingatan malam pertengkaran mereka dengan hilangnya Vexana selama dua tahun setelah kecelakaan itu.
Di dalam otaknya yang belum mengetahui keberadaan AJ yang sebenarnya, sebuah kesimpulan mengerikan dan salah sasaran mendadak terbentuk.
Landon mencengkeram kedua bahu Vexana dengan kuat, menatapnya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa frustrasi, luka, dan kengerian yang mendalam.
"Hamil? Kau bilang kau hamil malam itu, Vexa?! Lalu... lalu di mana anak itu sekarang?! Itu artinya... kau menghilang selama dua tahun ini karena kau pergi keluar negeri untuk menggugurkan bayi kita, Vexana?! Jawab aku, Vexa!!! Kau membunuh anakku?!"
Mendengar tuduhan kejam yang keluar dari mulut Landon, Vexana mendadak menghentikan tangisannya.
Dia menatap wajah Landon yang dipenuhi oleh amarah dan kesakitan atas kesalahpahaman tersebut.
Sebuah senyuman pahit yang sarat akan ironi perlahan muncul di sudut bibir Vexana yang bergetar.
Kesadaran batinnya berbisik dengan cepat. Syukurlah... syukurlah kalau Landon tidak mengerti dengan apa yang kukatakan barusan. Dia mengira bayinya sudah tiada. Dia mengira aku menggugurkannya.
Di tengah kehancuran hidupnya, insting Vexana sebagai seorang ibu kandung mendadak bangkit sepenuhnya.
Jika Landon tahu AJ hidup, keluarga Valerio akan terlibat perang besar dengan Desmon Group. Dan yang paling penting, Vexana egois; AJ adalah putranya. Hanya putranya.
Bocah kecil yang menemaninya terbangun dari kegelapan koma itu adalah miliknya sendiri, bukan putra Desmon. Dia tidak akan pernah membiarkan Landon merebut AJ darinya.
Vexana menarik napasnya dalam-dalam, menatap Landon dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi sedingin es, sedingin kematian yang memisahkan mereka.
"Bukankah kau sudah memutuskanku dan mengusirku malam itu, Landon?" tanya Vexana dengan nada suara yang berbisik namun terdengar begitu kejam di telinga Landon.
Dia menyentakkan tubuhnya, melepaskan cengkeraman tangan Landon dari bahunya. "Jadi, lebih baik bayi itu tiada, bukan? Dia tidak memiliki alasan untuk lahir ke dunia jika ayahnya sendiri adalah seorang bajingan sepertimu."
BRAK!!!!!
Sebuah tinju mentah penuh amarah dan frustrasi yang luar biasa besar dihantamkan Landon Desmon pada kap mobil sport hitamnya sendiri, meninggalkan bekas penyok kecil di atas permukaan besi metalik tersebut.
Landon membalikkan badannya, mencengkeram rambutnya sendiri dengan kedua tangan sembari mengeluarkan raungan frustrasi yang tertahan di dalam tenggorokannya.
Dunia mereka telah resmi hancur, dan di atas puing-puing kebohongan itu, takdir baru yang jauh lebih berdarah siap mengintai kehidupan mereka.