Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.
Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Mulai Mengenalmu
Sudah seminggu sejak Luna resmi menjadi istri Alex.
Dan selama seminggu itu, Luna mulai menyadari satu hal.
Alex Lucas Dimitri adalah pria paling membingungkan yang pernah ia temui.
Kadang dingin.
Kadang cuek.
Kadang menghilang seharian tanpa kabar.
Tapi di saat yang sama, pria itu selalu memastikan dirinya baik-baik saja.
Seperti pagi ini.
Luna baru saja bangun ketika melihat secangkir cokelat hangat di atas meja samping tempat tidur.
Tidak ada catatan.
Tidak ada pesan.
Tapi ia tahu siapa yang menaruhnya.
Karena hanya ada dua orang yang bisa masuk kamar itu.
Dirinya dan Alex.
Luna tersenyum kecil.
"Aneh banget."
---
Siang harinya.
Luna sedang duduk di taman belakang sambil membaca buku.
Rumah kaca milik mendiang ibu Alex perlahan menjadi tempat favoritnya.
Suasananya tenang.
Tidak terlalu ramai.
Dan entah kenapa membuatnya nyaman.
"Luna."
Suara seseorang membuatnya menoleh.
Ryan.
Pria itu berjalan mendekat sambil membawa dua gelas kopi.
"Aku boleh duduk?"
"Tentu."
Ryan menyerahkan satu gelas padanya.
"Makasih."
Mereka duduk berdampingan.
Beberapa detik hanya diisi keheningan.
Sampai Ryan tiba-tiba tertawa.
"Aku masih nggak nyangka Alex beneran nikah."
Luna ikut tertawa kecil.
"Aku juga."
"Percaya nggak, dulu waktu kuliah banyak cewek yang ngejar dia."
Luna melirik Ryan.
"Terus?"
"Nggak ada yang berhasil."
"Kenapa?"
Ryan mengangkat bahu.
"Karena dia batu."
Luna langsung tertawa.
"Batu?"
"Iya. Cantik kayak model? Nggak ngaruh. Anak konglomerat? Nggak ngaruh. Artis? Sama aja."
Luna mulai penasaran.
"Dia nggak pernah pacaran?"
"Pernah."
Luna langsung menoleh.
Ryan terlihat salah tingkah.
"Eh..."
"Kok diem?"
"Aku kayaknya kebanyakan ngomong."
Luna langsung menyipitkan mata.
"Ryan."
"Iya?"
"Cerita."
Ryan menghela napas pasrah.
"Ya udah."
---
Ternyata saat kuliah dulu Alex pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Namanya Michelle.
Hubungan mereka berjalan hampir dua tahun.
Dan menurut Ryan, itu satu-satunya wanita yang pernah benar-benar dekat dengan Alex.
"Terus kenapa putus?"
Ryan terdiam sesaat.
"Karena Michelle milih orang lain."
Luna terkejut.
"Serius?"
Ryan mengangguk.
"Dia ninggalin Alex buat cowok yang lebih kaya."
Untuk pertama kalinya Luna mengerti kenapa Alex begitu sulit membuka hati.
Bukan cuma kehilangan ibu.
Tapi juga pernah dikhianati oleh orang yang dicintainya.
Pantas saja pria itu selalu menjaga jarak.
Pantas saja tatapannya sering terlihat kosong.
"Sejak itu dia berubah."
Ryan menatap kolam kecil di depan mereka.
"Alex jadi nggak percaya sama cinta."
---
Sore harinya.
Luna masih memikirkan cerita Ryan.
Sampai akhirnya sebuah mobil memasuki halaman rumah.
Alex pulang.
Pria itu turun sambil melepas jasnya.
Wajahnya terlihat lelah.
Luna yang berdiri di balkon tanpa sadar memperhatikannya.
Entah kenapa.
Belakangan ini ia sering memperhatikan Alex.
Bukan karena pria itu tampan.
Oke.
Mungkin sedikit karena itu.
Tapi lebih karena ia penasaran.
Penasaran dengan isi kepala pria yang kini menjadi suaminya.
---
Malam hari.
Mereka makan malam berdua.
Seperti biasa.
Sunyi.
Sampai Luna memutuskan memulai percakapan.
"Kerjaan banyak?"
Alex mengangkat kepala.
"Lumayan."
"Lelah?"
"Sedikit."
Luna mengangguk.
Lalu kembali diam.
Alex memperhatikannya.
"Kamu mau ngomong sesuatu?"
Luna langsung ketahuan.
"Nggak."
"Bohong."
Luna mendesah.
"Aku ketemu Ryan tadi."
"Oh."
"Oh doang?"
"Mau jawab apa?"
Luna memutar bola matanya.
Kadang Alex benar-benar menyebalkan.
"Dia cerita soal Michelle."
Sendok di tangan Alex berhenti bergerak.
Luna langsung menyesal.
Harusnya ia tidak membahasnya.
Namun sudah terlambat.
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa detik.
Lalu Alex kembali makan.
"Itu masa lalu."
Jawabannya datar.
Tapi Luna bisa melihat rahangnya sedikit menegang.
"Kamu masih marah sama dia?"
"Tidak."
"Tapi masih sakit?"
Alex terdiam.
Untuk waktu yang cukup lama.
Kemudian ia meletakkan sendoknya.
"Bukan soal sakit."
"Lalu?"
"Kadang seseorang yang paling kamu percaya justru jadi orang yang paling menyakitimu."
Luna membeku.
Kalimat itu terdengar sangat tulus.
Sangat jujur.
Dan mungkin pertama kalinya Alex benar-benar membuka sedikit isi hatinya.
---
Malam semakin larut.
Luna berdiri di balkon kamar.
Angin malam berhembus pelan.
Tak lama kemudian Alex muncul membawa dua cangkir teh hangat.
"Ini."
Luna menerimanya.
"Makasih."
Mereka berdiri berdampingan.
Menatap lampu kota dari kejauhan.
"Aku juga pernah disakitin."
Alex menoleh.
Luna tersenyum kecil.
"Pas SMA."
"Kamu punya pacar?"
"Pernah."
Alex terlihat sedikit terkejut.
Luna malah tertawa.
"Ekspresimu kayak nggak percaya."
"Aku memang nggak percaya."
"Kenapa?"
"Kamu terlalu baik."
Luna langsung melotot.
"Itu pujian atau hinaan?"
Untuk pertama kalinya.
Alex tertawa.
Pelan.
Sangat pelan.
Tapi cukup membuat Luna terpaku.
Karena selama ini ia hampir tidak pernah melihat pria itu tersenyum.
Dan ternyata...
Saat tersenyum Alex terlihat jauh lebih tampan.
Jauh lebih hangat.
Jauh lebih manusiawi.
Alex sendiri tampak tidak sadar sudah tertawa.
Sampai akhirnya tatapan mereka bertemu.
Dan entah kenapa.
Jantung Luna tiba-tiba berdebar.
Cepat.
Sangat cepat.
Ia langsung memalingkan wajah.
Berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.
Sementara Alex masih menatapnya beberapa detik lebih lama.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi.
Ada sesuatu yang berubah di antara mereka.
Sesuatu yang belum bisa diberi nama.
Tapi perlahan mulai tumbuh.
Tanpa mereka sadari.
Dan mungkin...
Akan mengubah hubungan mereka selamanya.