NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Aldi Galau

Malam semakin larut menyelimuti wilayah komplek yang padat itu. Suasana di sekitar pos ronda terasa lebih dingin dari biasanya, menyisakan desau angin yang sesekali menggoyangkan bendera merah putih di tepi jalan. Di atas tikar pandan, sebuah termos berisi kopi hitam yang masih mengepul berjejer dengan sebungkus rokok dan asbak yang mulai terisi.

Aldi duduk bersila dengan aura yang tampak sangat benderang. Sisa-sisa kelegaan pasca-makan malam bersama keluarganya tadi masih membekas jelas di wajah tegapnya. Di depannya, Kenan dan Sendy sedang sibuk merapikan lembar-lembar tugas kuliah yang baru saja selesai dijilid rapi.

Merasakan momentum yang sangat tepat, Aldi memajukan badannya, menumpu kedua tangannya di atas lutut. "Nan, Sen. Gue punya kabar gede banget malam ini."

Sendy yang sedang memegang staples langsung mendongak, berusaha mengembalikan gaya banyulannya. "Apaan lagi, Dul? Lu beneran dapet wangsit?"

"Gue udah bilang ke Ayah sama Bunda pas makan malam tadi," ujar Aldi dengan senyuman lebar yang tak bisa disembunyikan. "Gue ceritain semuanya soal aslinya Bu Jasmine, soal Nadeo, dan soal niat gue buat nikahin dia. Dan lu tahu apa? Bapak sama Bunda ngerestuin gue, Met! Bapak bilang kalau Bu Jasmine-nya mau, mereka bakal bantu urus semuanya sampai sah!"

Aldi bersandar ke tiang pos ronda dengan perasaan bangga, siap menerima sorakan heboh atau pukulan selamat dari kedua sahabatnya seperti yang biasanya terjadi jika ada kabar bahagia.

Namun, reaksi yang didapat Aldi justru di luar perkiraan.

Suasana di pos ronda mendadak diselimuti keheningan yang janggal. Senyuman lebar di wajah Aldi perlahan memudar saat melihat Kenan dan Sendy tidak memberikan respons apa pun. Alih-alih bersorak, kedua pemuda itu justru saling tatap selama beberapa detik. Tatapan mereka tampak sangat canggung, berat, dan dipenuhi rasa tidak enak yang teramat sangat. Sendy yang biasanya paling heboh kini mendadak menunduk, pura-pura sibuk merapikan tumpukan kertas, sementara Kenan mengembuskan napas panjang dengan raut wajah yang tampak buntu.

Aldi yang menyadari perubahan drastis atmosfer di pos ronda itu langsung mengernyitkan alisnya tipis. "Kenapa, Met? Kok muka lu berdua mendadak kayak orang abis nemu dompet kosong gitu?"

Kenan menggeser duduknya, memperbaiki posisi kaos polonya yang terasa gerah meski angin malam berembus cukup kencang. Ia menatap Aldi dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bimbang yang luar biasa.

"Anu, Al..." Kenan membuka suara, nadanya terdengar sangat hati-hati dan canggung. "Ini... gue bukan mau ngerusak kebahagiaan lo, tapi..."

Kalimat Kenan mendadak terhenti di tengah jalan. Ia tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan menyenggol lengan Sendy dengan sikunya cukup keras, seolah melemparkan tongkat estafet pembicaraan yang terlalu berat untuk ia tanggung sendiri.

Sendy yang mendapat senggolan itu langsung melotot kecil ke arah Kenan, balik menyenggol bahu sahabatnya itu dengan ekspresi wajah yang tampak tersiksa. "Ah, elah, Nan! Kenapa jadi gue yang suruh ngomong babi!" bisik Sendy pelan, namun masih bisa terdengar oleh Aldi.

Melihat tingkah laku kedua sahabatnya yang saling lempar tanggung jawab dan bertingkah aneh, rasa bingung di kepala Aldi mendadak berubah menjadi sebuah firasat buruk yang tidak nyaman di dalam dada. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap tajam ke arah mereka berdua. "Kenapa sih, Met? Ada apa sebenarnya? Ngomong aja kali, kayak sama siapa aja lu berdua."

Setelah kembali saling dorong menggunakan bahu selama beberapa saat, akhirnya Sendy mengembuskan napas pasrah. Ia meletakkan staples di tangannya, lalu menatap Aldi dengan pandangan mata seorang kawan lama yang terpaksa harus menyampaikan kabar pahit.

"Eum... anu, Dul," kata Sendy terbata-bata, suaranya mengecil. "Lu... lu tahu Afrizal, kan? Itu lho, anak muda PNS yang rumahnya di Gang Melati, yang kerjanya di dinas daerah?"

Aldi mengangguk perlahan, dadanya mendadak terasa sedikit sesak. "Iya, tahu. Kenapa emangnya sama si Afrizal?"

Sendy menelan ludah, melirik Kenan sejenak sebelum akhirnya menuntaskan kalimatnya dengan cepat seolah ingin segera lepas dari beban. "Eumm... kita berdua tadi sore pas balik dari kampus lewat area pasar kuliner dekat taman kota, Dul. Kita... kita berdua liat Bu Jasmine sama si Afrizal sore-sore pas lagi jajan di warung bareng. Posisi jalannya... ya gitu, deketan banget kek orang lagi pacaran, Dul."

Deg.

Jantung Aldi rasanya seperti dijatuhkan dari ketinggian lantai tiga gedung fakultasnya ke atas lantai semen yang keras. Kabar itu menghantam telak di tengah-tengah rasa bahagianya yang baru saja membubung tinggi. Ingatannya langsung melayang pada kejadian sore tadi, saat Jasmine meminta waktu untuk berpikir dengan wajah yang merona merah. Apakah waktu berpikir itu karena ada sosok pria lain yang sedang mendekatinya?

Kenan yang melihat perubahan raut wajah Aldi yang mendadak mengeras langsung ikut menyambung dengan cepat, berusaha meredam guncangan mental yang dialami sahabatnya. "Tapi kita gak tahu pasti yak, Al. Ini mereka sebenarnya ada hubungan apa. Bisa aja kan mereka cuma gak sengaja ketemu, atau si Afrizal lagi ada urusan dinas kelurahan yang musti diomongin sama Bu Jasmine selaku jalurnya Bu RT. Lu jangan langsung ambil kesimpulan buruk dulu."

"Iya, Dul! Bener kata si Kenan!" sahut Sendy panik, merasa bersalah melihat mata ketuanya yang mendadak meredup. "Bisa aja si Afrizal cuma mau minta tanda tangan berkas PNS atau apa lah gitu. Gak usah dipikirin beneran, Dul!"

Suasana di bawah lampu pos ronda itu kembali senyap selama hampir dua menit. Aldi terdiam, menatap ujung jempol kakinya yang terbungkus sarung. Sebuah rasa sesak, cemburu dan kecewa yang amat sangat bergolak hebat di dalam dadanya. Kalimat lamarannya sore tadi yang begitu berani kini rasanya seperti bumerang yang berbalik menghantam harga dirinya sebagai seorang pria.

Namun, Aldi adalah Ketua Karang Taruna yang sudah terlatih untuk menyembunyikan badai di dalam hatinya di depan orang banyak. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menekan sesak di dada, sebuah senyuman kecil—sebuah senyuman kecut yang dipaksakan—perlahan terukir di sudut bibirnya. Ia mendongak, menatap Kenan dan Sendy dengan binar mata yang dipaksakan terlihat santai.

"Ah, elah... Males ah galau-galau," cetus Aldi tiba-tiba, suaranya sengaja dikeraskan untuk mencairkan atmosfer canggung di antara mereka. Ia langsung bangkit berdiri, menggulung tikar pandan di sudut pos dengan gerakan yang cepat. "Ke empang yuk mancing! Daripada otak gue panas mikirinnya, mending kita nyari lele jumbo. Besok kan kita gak ada kelas pagi juga di kampus."

Kenan dan Sendy sempat tertegun melihat reaksi Aldi yang mendadak berbelok arah 180 derajat. Namun, sebagai sahabat yang sudah sangat memahami tabiat Aldi, mereka tahu bahwa memancing di empang malam-malam adalah cara terbaik bagi pemuda itu untuk melarikan diri sejenak dari rekreasi pikirannya yang sedang kacau balau.

"Nah! Gitu dong, itu baru Ketua Karang Taruna andalan gue!" seru Sendy bersemangat, langsung melompat turun dari pos ronda untuk mengambil kunci motornya. "Bentar, gue balik ke rumah dulu buat ngambil joran sama cacing tanah di belakang kandang ayam!"

Kenan tersenyum tipis, menepuk pundak Aldi dengan hangat saat mereka bersiap melangkah meninggalkan pos ronda. "Yuk, Al. Kita habisin malam ini di empang Pak Joko. Biar pening di kepala lu luruh bareng umpan yang ditarik ikan."

Aldi hanya mengangguk pelan, berjalan beriringan bersama kedua sahabatnya membelah kegelapan malam komplek menuju empang pemancingan di ujung desa. Meskipun langkah kakinya terlihat tegap dan tawanya terdengar lepas bersama Sendy di sepanjang jalan, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, bayangan wajah Jasmine yang bersanding dengan pria lain malam itu terus menjadi duri kecil yang mulai menggores rasa percayanya.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!