*Sinopsis*
Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.
Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*
Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.
Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Yang Tak Di Inginkan
Hari ke-48.
Matthias udah balik kerja full, tapi dokter masih larang dia angkat beban berat dan begadang.
Evelyn jadi tukang ngingetin.
"Jam 9, Matthias. Laptop tutup."
"5 menit lagi."
"MATTHIAS."
Dia selalu ngalah.
Karena kalau Evelyn udah pakai nada itu, artinya nggak ada tawar-menawar.
Malam itu mereka baru selesai makan malam di taman.
Nyonya Alina baru aja masuk, bawa nampan dessert.
Tiba-tiba Om Dimas datang buru-buru dari ruang kerja, muka serius.
"Ada surat," katanya sambil nyodorin amplop beludru hitam.
"Dari siapa?" tanya Matthias, ngelap mulut pakai serbet.
Om Dimas nggak langsung jawab.
Dia lirik Evelyn sekilas, baru bilang pelan, "Dari keluarga Hendrawan."
Ruangan langsung hening.
Evelyn ngerasa tangan Matthias yang lagi genggam tangannya mengeras.
Keluarga Hendrawan.
Mantan mertua Evelyn.
Orang yang 3 tahun lalu nyalahin dia atas kematian anak mereka, dan bikin hidupnya hancur.
Evelyn buka amplop itu pelan.
Di dalamnya ada kartu undangan emas.
Tulisan melengkung, sombong.
_Dengan hormat kami mengundang Bapak Matthias Virel dan Ibu Evelyn Virel
untuk menghadiri acara pernikahan putri kami,
Clarissa Hendrawan dengan Tuan Adrian Wijaya.
Sabtu, 20 September 2026. Hotel Meridian Ballroom._
Evelyn diem.
Nggak marah. Nggak kaget.
Cuma kosong.
Clarissa.
Adik almarhum suaminya dulu.
Perempuan yang dulu paling benci sama dia, dan bilang "kamu pembunuh kakakku" di depan wartawan.
Matthias ngambil undangan itu dari tangannya.
Dia baca sekali, lalu sobek jadi dua.
"Gue nggak akan datang."
Suaranya datar. Tapi ada marah di bawahnya.
Om Dimas ngelus jenggot.
"Mereka sengaja ngirim. Ini undangan publik. Wartawan udah tahu. Kalau kalian nggak datang, besok berita: 'Matthias Virel takut ketemu keluarga Hendrawan'."
Evelyn ketawa kecil.
"Jadi gue harus datang biar mereka nggak nulis gitu?"
"Gue nggak peduli apa kata mereka," kata Matthias.
"Tapi gue peduli sama kamu."
Evelyn ngeliat dia.
Dia tahu Matthias nggak takut Clarissa.
Dia takut Evelyn harus ngadepin masa lalu yang nyakitin dia sendirian.
"Nggak usah sobek," kata Evelyn pelan.
Matthias ngernyit.
"Kenapa?"
"Karena gue mau datang."
Semua orang di meja diem.
Nyonya Alina langsung narik napas.
"Na, kamu yakin?"
Evelyn mengangguk.
"Udah 3 tahun. Gue capek lari. Kalau mereka mau lempar kata-kata, gue dengerin. Gue udah nggak takut lagi."
Matthias nggak setuju.
Dia berdiri.
"Kalau kamu pergi, aku ikut."
Evelyn senyum tipis.
"Gue tahu. Makanya gue bilang sekarang."
---
Dua hari kemudian, Sabtu malam.
Hotel Meridian Ballroom penuh lampu kristal dan wartawan.
Evelyn pakai gaun hitam sederhana, nggak berlebihan. Rambut disanggul rendah.
Matthias pakai jas hitam, berdiri di sampingnya. Tangan mereka saling genggam di bawah jas.
Begitu mereka masuk, kamera langsung nyala.
Flash. Flash. Flash.
"Pak Matthias! Bu Evelyn! Komentar soal undangan ini?"
"Apa benar kalian datang untuk klarifikasi kasus 3 tahun lalu?"
Evelyn nggak jawab.
Dia cuma senyum tipis, jalan masuk bareng Matthias.
Punggung tegak.
Nggak ada gemetar.
Keluarga Hendrawan udah di depan.
Bapak Hendrawan dingin. Ibu Hendrawan pura-pura ramah.
Clarissa pakai gaun putih, senyum manis. Tapi matanya nggak nyampe senyum.
"Selamat datang, Kak Evelyn," kata Clarissa. Suaranya manis. Tapi ada racun di dalamnya.
"Selamat menikah, Clarissa," jawab Evelyn singkat.
"Terima kasih sudah datang. Aku kira kamu masih takut ketemu kami."
Matthias mau maju, tapi Evelyn pegang lengannya pelan.
Diam.
"Gue nggak takut, Clarissa," kata Evelyn pelan.
"Gue cuma capek ngadepin orang yang nggak mau denger kebenaran."
Ibu Hendrawan langsung berubah muka.
"Jaga mulutmu, Evelyn! Kamu sudah merusak keluarga kami!"
Evelyn ngangguk.
"Iya. Dan 3 tahun gue diam. Gue dipenjara gosip kalian. Tapi sekarang gue nggak diam lagi."
Suasana langsung tegang.
Wartawan di belakang udah mulai rekam.
Matthias maju selangkah.
"Cukup. Kalau mau berantem, di luar. Jangan rusak hari bahagia anak kalian."
Clarissa ketawa kecil.
"Lihat tuh, Kak. Suami baru kamu belain kamu mati-matian. Padahal kamu..."
"Stop," potong Evelyn.
Dia tatap Clarissa lurus.
"Gue nggak bunuh kakak lo. Gue udah bilang itu di pengadilan. Gue udah bilang itu ke wartawan. Gue udah bilang itu ke diri gue sendiri tiap malam.
Kalau lo masih nggak percaya, itu masalah lo. Bukan masalah gue."
Ballroom hening.
Clarissa muka merah.
Bapak Hendrawan mau ngomong, tapi Adrian, suaminya, narik lengannya pelan.
"Sudah, Pa. Hari ini hari kami."
Evelyn ngangguk ke Adrian.
"Selamat ya. Jaga Clarissa baik-baik. Dia butuh orang yang sabar."
Dia putar badan.
Genggam tangan Matthias lebih erat.
Mereka jalan keluar bareng.
Nggak lari. Nggak nangis.
Tegak.
Di luar, wartawan masih nanya.
Evelyn berhenti.
Dia lihat kamera langsung.
"Gue Evelyn Virel. Dulu gue didiemin. Sekarang gue nggak.
Gue nggak bunuh siapa-siapa. Dan gue bahagia.
Tulis itu."
Flash meledak.
Tapi Evelyn udah jalan lagi.
Matthias di sampingnya, nggak lepasin genggaman.
---
Mobil jalan pulang.
Nggak ada yang ngomong 10 menit.
Sampai Matthias tiba-tiba ketawa pelan.
"Kenapa?" tanya Evelyn.
"Kamu keren banget tadi."
Evelyn melot.
"Lo nggak marah gue bikin ribut?"
"Marah? Aku bangga. Akhirnya kamu ngomong apa yang harusnya kamu omong 3 tahun lalu."
Evelyn diem.
Lalu dia sandar ke bahu Matthias.
"Takut nggak sih, besok berita gue jadi-jadian lagi?"
"Biarkan. Besok gue beli semua koran. Gue bungkus buat alas kandang anjing."
Evelyn ketawa.
"Nggak ada anjing di rumah ini."
"Besok ada."
Mereka sampai rumah jam 11 malam.
Nyonya Alina udah nunggu, cemas.
Begitu lihat mereka masuk bareng, selamat, dia langsung peluk Evelyn.
"Sudah selesai, Na. Sudah selesai."
Evelyn mengangguk.
Iya. Selesai.
Masa lalu nggak bisa ngubah dia lagi.
Malam itu, sebelum tidur, Evelyn buka ponsel.
Berita udah naik.
Judulnya: _“Evelyn Virel Muncul di Pernikahan Mantan Ipar, Sindir Keluarga Hendrawan di Depan Publik.”_
Dia baca komentarnya.
Dulu, 90% hujatan.
Sekarang, 70% dukung.
_“Akhirnya dia berani speak up.”_
_“Lihat cara Matthias jagain dia. Goals banget.”_
_“3 tahun diam itu berat, gue nangis baca pernyataan dia.”_
Evelyn taruh ponsel.
Dia lihat Matthias yang udah tidur.
Dia pelan-pelan naik ke ranjang, peluk dari belakang.
"Matthias..."
"Hmm?"
"Gue nggak takut lagi."
Matthias nggak jawab.
Dia cuma genggam tangan Evelyn erat dalam tidur.
---
Bersambung....