NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KERAGUAN HATI ARUM

Beberapa hari berlalu begitu cepat. Berkat perawatan yang telaten dari keluarga Pak Bimo dan perhatian Arum, kondisi Angkasa pulih sepenuhnya. Demamnya sudah hilang, luka di lengannya sudah mulai kering d, begitu juga dengan lebam di bibirnya yang sudah memudar dan hampir tak terlihat lagi.

Setelah yakin dirinya sudah benar-benar pulih, Angkasa pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya sendiri. Meski berat hati meninggalkan kehangatan rumah Pak Bimo, ia sadar ia tidak bisa selamanya menumpang dan merepotkan mereka.

Sebelum berangkat, Angkasa berterima kasih pada Pak Bimo dan Bu Saras, dan sempat bertatapan lama dengan Arum,tatapan yang penuh pesan terima kasih dan rasa sayang yang tak terucapkan.

Hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Angkasa kembali sibuk mengurus usahanya, sesekali datang berkunjung dengan alasan-alasan manisnya yang dulu, atau sekadar menyapa dan mengajak Arum jalan-jalan berdua seperti kebiasaan mereka belakangan ini.

Dan bagi Arum, ada sesuatu yang berubah di hatinya. Perasaan yang tadinya samar, yang berupa rasa aman dan nyaman, kini perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dan dalam. Arum sadar betul... dia mulai jatuh cinta pada Angkasa. Jatuh cinta bukan hanya karena ketampanannya, tapi karena segala hal yang ada pada di diri laki-laki itu.

Siang ini, Arum sedang ada di rumah Intan, sahabat sekaligus tetangga sebelah rumahnya. Di ruang tamu Intan, meja panjang penuh oleh bungkus-bungkus plastik, kardus, pita, dan barang-barang pesanan.

Jualan online milik Intan ternyata makin hari makin ramai peminatnya, sampai Intan kewalahan sendiri mengurus semuanya. Arum yang memang sedang tidak ada pekerjaan lain dan inspirasi menulisnya sedang macet, pun bermaksud membantu sahabatnya itu mengepak barang-barang pesanan.

Di sela-sela kesibukan tangan mereka yang sibuk melipat kardus dan menempel alamat pengiriman, obrolan pun mengalir santai. Sampai akhirnya Intan membahas tentang Angkasa, topik yang paling sering dibicarakan kalau mereka berdua sedang mengobrol.

"Gimana kabar Mas Angkasa, Rum? Katanya udah sembuh ya? Udah pulang ke rumahnya lagi kan?" tanya Intan sambil menempelkan stiker pengiriman, matanya tetap fokus ke tangannya tapi telinganya siap mendengar.

Arum yang sedang memasukkan barang ke dalam plastik kemasan, tersenyum sendiri tanpa sadar. Wajahnya sedikit merona merah saat menyebut nama itu.

"Udah, Tan. Udah sehat. Kemarin sore sempat mampir ke rumah, cuma buat nyapa sebentar," jawab Arum pelan, nadanya berubah lembut.

Intan menghentikan kegiatannya sejenak, menatap sahabatnya dengan senyum jahil tapi mengerti. Ia sudah tahu betul isi hati Arum, meski gadis itu belum pernah mengakuinya secara gamblang.

"Kamu tuh... mukanya kalau bahas dia gak bisa bohong loh, Rum. Kayak es batu kena panas, meleleh banget," goda Intan sambil tertawa kecil.

"Kamu sebenernya ada rasa ya sama Mas Angkasa? Gak usah dijawab, aku udah tau jawabannya sih."

Arum menghela napas panjang, meletakkan barang yang dipegangnya. Ia menatap Intan, matanya berubah sendu namun penuh perasaan. Akhirnya, apa yang selama ini dipendamnya, apa yang terus berputar di kepalanya, meluncur juga lewat kata-kata. Ia butuh tempat curhat, dan Intan adalah orang yang paling tepat.

"Jujur ya, Tan... aku sendiri juga bingung sama perasaanku," mulai Arum pelan, menatap kosong ke arah jendela.

"Aku ngerasa... aku makin nyaman aja kalau deket sama Mas Angkasa. Rasanya tenang, aman, kayak gak bakal ada hal jahat yang bisa nyakitin aku selama dia ada di sebelahku."

Arum berhenti sejenak, tersenyum malu tapi tatapannya penuh kekaguman.

"Aku juga selalu terpesona sama semua hal yang ada di diri dia, Tan. Mulai dari cara dia ngomong yang selalu lembut dan nggak pernah kasar, cara dia bersikap sopan sama Ayah sama bunda, sampai cara dia jagain aku. Ingat nggak pas aku diganggu orang dulu? Pas aku sakit? Pas aku jatoh? Dia selalu ada, Tan. Dia selalu berusaha lindungin aku sekuat tenaganya. Terus kita juga sering banget jalan berdua sekarang... rasanya waktu berjalan cepet banget kalau sama dia."

Intan menyimak sambil mengangguk pelan, membiarkan Arum meluapkan semuanya. Arum melanjutkan lagi, kali ini suaranya sedikit melemah dan terdengar ragu.

"Kayaknya... aku beneran jatuh cinta deh sama dia, Tan. Cuma..."

"Cuma apa?" tanya Intan penasaran.

Arum menghela napas berat, tangannya meremas ujung bajunya pelan. Keraguan yang selama ini mengganjal di hatinya akhirnya terungkap juga.

"Cuma aku ragu, Tan. Aku takut banget kalau perasaanku ini cuma bertepuk sebelah tangan," jawab Arum pelan, matanya berkaca-kaca sedikit.

"Selama ini dia emang baik banget,perhatian, sering ngajak jalan. Tapi... sampai sekarang dia belum pernah ngasih kejelasan apa pun soal hubungan kita. Kita ini apa? Cuma temen dekat? Atau apa? Aku nggak tau, Tan."

Arum menatap Intan dengan tatapan sedih dan bingung.

"Aku takut cuma aku yang terlalu berharap. Aku takut cuma aku yang merasa spesial, padahal di mata dia aku cuma sama aja kayak orang lain. Dia belum pernah ngomong kalau dia sayang, belum pernah ngomong kalau aku siapa buat dia.Aku bingung, Tan. Aku nggak mau nanti aku jatuh terlalu dalem, eh ternyata dia cuma anggep aku adik atau temen aja."

Intan tersenyum lembut melihat kegalauan sahabatnya. Ia mengusap bahu Arum pelan, berusaha menenangkan.

"Rum... coba kamu pikir lagi deh. Mas Angkasa itu orangnya pendiam, nggak banyak omong, dan gengsinya tinggi banget. Tapi lihat sikap dia... tiap hari ada aja alasan buat ke rumah kamu, tiap ada bahaya dia yang paling panik, tiap kamu sakit dia yang paling repot. Menurutku sih, orang yang perasaannya biasa aja nggak bakal ngelakuin itu."

Intan berhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi dengan nada lebih ceria.

"Mungkin dia cuma belum ada waktu yang tepat buat ngomong, atau dia tipe yang nunjukin lewat tindakan bukan lewat kata-kata. Sabar aja ya. Kalau emang dia jodoh kamu, seberapa lama pun dia diam, nanti pasti dia ngomong juga. Lagian... siapa tau dia juga lagi galau mikirin kamu,kayak kamu gini."

Arum tersenyum tipis mendengar penuturan sahabatnya, rasa galau di dadanya sedikit berkurang meski belum hilang sepenuhnya. Ia berharap sekali apa yang dikatakan Intan itu benar. Ia berharap perasaannya tidak salah tempat, dan Angkasa pun menyimpan rasa yang sama besarnya.

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!