Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN YANG TAK DIHARAPKAN
Kesibukan di kantor Artha Design kembali menyeruak sejak pagi. Semua karyawan tampak fokus dengan kubikel dan layar komputer masing-masing, dikejar tenggat waktu proyek. Berbeda dengan situasi di kubikel staf, suasana di dalam ruangan CEO justru terasa sangat santai.
Haikal berdiri di balik kaca besar satu arah yang memisahkan ruang pribadinya dengan area kerja staf. Dari posisi ini, ia bisa melihat seluruh gerak-gerik Ardiah, wanita yang baru satu hari ia halalkan. Haikal menumpu dagunya dengan tangan, tak bosan-bosan memperhatikan sang istri yang sedang serius menggambar draf desain.
"Ron, antarkan ini ke meja Ardiah," perintah Haikal tanpa menoleh, menyerahkan segelas *strawberry juice* dingin dan sepiring kecil makaron berwarna-warni kepada asistennya.
Roni menghela napas pasrah. "Pak, ini sudah kelima kalinya dalam tiga jam. Tadi kopi, lalu camilan roti, sekarang jus lagi? Karyawan lain mulai curiga, Pak."
"Sudah, jangan banyak protes. Jalankan saja tugasmu. Bilang saja itu fasilitas dari perusahaan untuk staf berprestasi," sahut Haikal santai, matanya tetap melekat pada Ardiah.
Roni terpaksa keluar ruangan dan mengantarkan pesanan itu. Di kubikelnya, Ardiah memandangi gelas jus yang baru diletakkan Roni dengan tatapan yang mulai berapi-api. Ia menatap ke arah kaca gelap ruangan CEO dengan kepalan tangan yang meremas kuat.
"Aku pikir setelah menikah sifat tengilnya akan hilang? Ini malah makin parah!" batin Ardiah geram. Ingin rasanya ia mendobrak ruangan Haikal dan mengomeli pria itu habis-habisan. Namun, ketakutannya akan rahasia pernikahan mereka yang terbongkar menahan langkahnya.
"Diah," bisik Nina, rekan kerja yang duduk di seberang mejanya, sambil condong ke depan. "Kok Pak Roni dari tadi bolak-balik membawakanmu makanan dan minuman mewah sih? Jangan-jangan, kamu dan Pak Roni diam-diam berpacaran, ya?"
Ardiah tersentak, wajahnya mendadak gugup. "Eh? Engg-enggak kok, Nin! Sembarangan kalau menebak. Pak Roni itu... dia baik padaku karena aku dulu pernah menolongnya saat dompetnya ketinggalan di kantin. Hanya balas budi biasa."
Sebelum Nina sempat bertanya lebih lanjut, pintu ruangan CEO terbuka. Haikal melangkah keluar dengan setelan jas rapi, membawa sebuah file dokumen hitam di tangannya. Ia berjalan tegap, memasang wajah sedingin es dan sedatar mungkin demi menjaga wibawa di depan para staf.
Haikal berhenti tepat di depan kubikel Ardiah. "Ardiah, ambil catatanmu dan ikut saya sekarang. Ada klien besar yang harus kita temui di luar," ucapnya dengan suara bariton yang tegas.
"Baik, Pak," jawab Ardiah formal.
Para karyawan lain tidak menaruh curiga sedikit pun, karena Ardiah memang salah satu desainer interior senior yang sering diajak mendampingi atasan untuk urusan lapangan. Mereka berdua segera berjalan beriringan meninggalkan ruangan menuju lift.
Begitu mereka keluar dari pintu lobi, Roni sudah bersiap di dalam mobil mewah yang terparkir di depan. Ardiah langsung membuka pintu belakang dan naik dengan cepat, disusul oleh Haikal yang duduk tepat di sampingnya.
Begitu pintu mobil tertutup rapat dan kendaraan mulai melaju, topeng profesional Ardiah langsung runtuh. Ia menoleh ke arah Haikal dengan mata yang berkilat marah.
"Haikal! Apa-apaan kelakuanmu di kantor tadi?" semprot Ardiah dengan nada ketus yang tertahan. "Kamu sengaja membuatku jadi pusat perhatian? Semua orang di divisi mulai membicarakanku!"
Haikal mengerjapkan matanya, mencoba membela diri. "Aku kan cuma perhatian, Kak. Aku takut istriku dehidrasi dan kelaparan saat bekerja."
"Perhatian tidak perlu sekonyol itu! Dengarkan aku, kalau sampai besok kamu menyuruh Roni mengantarkan camilan atau minuman ke mejaku lagi, aku akan langsung mengajukan surat pengunduran diri saat itu juga!" ancam Ardiah serius.
Mendengar ancaman itu, nyali Haikal langsung menciut. Ia mengangkat kedua tangannya. "Jangan dong, Kak. Iya, aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi di kantor. Sumpah."
Setelah perdebatan singkat itu, suasana di dalam mobil langsung berubah hening. Ardiah yang masih dilingkupi rasa kesal memilih melipat kedua tangannya di dada. Pandangannya lurus menatap keluar jendela mobil, mengabaikan keberadaan Haikal.
Melihat istrinya masih merajuk, Haikal menggeser duduknya menjadi lebih dekat. Dengan gerakan perlahan, ia menarik-narik ujung lengan baju jas kerja yang dikenakan Ardiah.
"Kak Diah... apa aku tidak mendapatkan maaf?" tanya Haikal dengan suara yang dibuat selembut dan semelas mungkin. "Maaf ya? Jangan marah lagi. Nanti aura cantikmu hilang."
Ardiah hanya meliriknya sekilas dari sudut mata. "Hmm!" jawabnya ketus, tetap enggan berbalik.
Tak lama berselang, mobil Roni berhenti tepat di depan pelataran sebuah restoran mewah bergaya Eropa. Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju pintu masuk utama. Namun, baru saja mereka hendak melangkah melewati pintu kaca, sebuah suara melengking memanggil nama Ardiah dari arah samping.
"Ardiah? Kau Ardiah, kan?"
Ardiah menghentikan langkahnya secara spontan. Ia menoleh ke sumber suara dan seketika tubuhnya menegang. Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian bermerek yang mencolok dan gaya yang sedikit norak, ditemani oleh seorang wanita muda yang mengenakan baju hamil, meski perutnya masih terlihat rata.
"Mama?" sebut Ardiah refleks dari bibirnya. Namun, sedetik kemudian ia tersadar dan langsung meralat ucapannya. "Eh... maksud saya, Tante Nurul. Ada apa Tante memanggil saya?"
Wanita paruh baya yang di panggil Nurul itu, yang tidak lain adalah mantan ibu mertua Ardiah, berjalan mendekat dengan dagu yang terangkat tinggi. Tatapan matanya menyapu penampilan Ardiah dari atas sampai bawah dengan pandangan sinis yang sangat merendahkan.
"Ah, aku tadi hanya ingin memastikan saja. Ternyata dugaanku benar, rupanya ini mantan menantuku yang mandul itu," ucap Nurul dengan nada mengejek yang sengaja dikeras-keraskan.
Ardiah mengepalkan tangannya di balik saku, mencoba menahan emosi yang mulai mengocok dadanya.
"Tapi ngomong-ngomong, mengapa penampilanmu sekarang berubah begini? Apakah kau mendadak memakai hijab hanya untuk menutupi semua keburukanmu yang pembawa sial itu?" lanjut Nurul dengan senyum mencemooh yang menyakitkan.
Haikal yang sejak tadi berdiri di belakang Ardiah mendengarkan setiap kalimat makian itu langsung naik pitam. Rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam wanita paruh baya di depannya.
"Heis! Ibu sombong, jaga bicaramu! Jangan berkata sembarangan pada..." Kalimat Haikal langsung terputus saat Ardiah memegang lengannya dengan erat, memberikan isyarat untuk berhenti.
"Diamlah, Haikal. Kita tidak perlu membuang energi untuk meladeni orang yang merasa dirinya paling sempurna. Sebaiknya kita masuk saja," potong Ardiah dengan suara bergetar namun mencoba tetap tenang. Ia bermaksud mengabaikan mantan mertuanya itu.
Namun, sikap acuh Ardiah justru membuat Nurul merasa terhina. Wajah tua itu langsung memerah karena emosi yang tersulut. "Eh, dasar anak kurang ajar! Beraninya kau mengabaikan aku, ya? Untung saja anakku Ferdi cepat-cepat menceraikan wanita seperti mu, jadi keluarga kami tidak perlu tertular kesialanmu lagi!"
Ardiah memilih memejamkan mata, menguatkan hatinya yang kembali tergores luka lama.
"Tapi sudahlah, sekarang aku sudah tidak peduli lagi dengan wanita mandul sepertimu," lanjut Nurul, merangkul wanita muda di sampingnya dengan bangga. "Sekarang Ferdi sudah mulai sadar. Apalagi sekarang Siska, istri baru Ferdi, sudah mengandung anak mereka. Tidak seperti kau, menikah lima tahun tapi sama sekali tidak ada hasilnya!"
Mendengar pameran dari mantan mertuanya, Ardiah menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Nurul dengan senyum formal yang hambar. "Baguslah kalau begitu. Selamat untuk pernikahan dan kehamilannya Semoga kehidupan kalian selalu diliputi kebahagiaan."
Tanpa menunggu jawaban, Ardiah langsung merangkul lengan Haikal dengan erat. "Yuk, Haikal. Kita kembali ke parkiran saja. Aku mendadak kehilangan selera makan di sini."
Namun, baru beberapa langkah mereka membalikkan badan untuk berjalan menjauh, sebuah suara bariton yang sangat familiar bagi Ardiah terdengar berteriak dari dalam restoran, memanggil namanya dengan nada putus asa.
"Diah! Ardiah, tunggu!"
🍃🍃🍃
Hai guys, jangan lupa terus dukung Author ya, karena karya ini sudah mendekati Bab 20 jadi tolong jangan timbun Bab ya, langsung baca begitu Author update, agar retensi tetap stabil dan Author akan terus update hingga tamat. Tapi kalau retensi hancur, mungkin kejadian novel ' Kala CEO Lapuk Jatuh cinta. Akan terulang lagi. jadi please tetap konsisten membacanya hingga Bab 20 ya guys terimakasih 🙏🏻
udah tak kasih kopi buat temen begadang...