NovelToon NovelToon
Sistem Mancing Mania Mantap

Sistem Mancing Mania Mantap

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.

Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.

Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Arga tidak bisa memejamkan mata sedikit pun malam itu.

Dia duduk bersila di atas sampannya sambil terus menatap kotak kayu di pangkuannya.

Cahaya matahari pagi mulai menyinari kawasan pelabuhan Muara Angke.

Arga mengambil satu keping koin emas dari dalam kotak itu.

Dia membawa koin itu ke mulutnya lalu menggigit ujungnya pelan.

'Keras dan rasanya benar-benar seperti logam murni,' batin Arga.

Arga memasukkan kotak kayu itu ke dalam tas ranselnya yang sudah usang.

Dia mengikat sampannya kuat-kuat di tiang dermaga pelabuhan.

Hari ini Arga memutuskan untuk pergi ke pasar barang antik di kawasan Glodok.

Dia naik angkutan kota dengan perasaan campur aduk antara takut dan penuh harap.

Satu jam kemudian Arga sampai di depan sebuah toko barang antik yang cukup besar.

Papan nama toko itu bertuliskan Toko Antik Makmur Jaya.

Kring.

Suara lonceng kecil berbunyi saat Arga mendorong pintu kaca toko tersebut.

Seorang pegawai muda berseragam rapi menatap Arga dari balik etalase kaca.

Pegawai itu melihat kemeja flanel Arga yang kusam dengan tatapan curiga.

"Maaf Mas, toko kita belum buka sepenuhnya," kata pegawai itu dengan nada datar.

"Kalau mau cari barang bekas atau loak, mending ke pasar bawah aja."

Arga menghela napas panjang mendengar ucapan pegawai itu.

Dia sudah terlalu sering mendapat tatapan merendahkan seperti ini.

"Gue bukan mau beli barang, Mas," jawab Arga tenang.

"Gue mau jual barang antik, apa bos lo ada di tempat?"

Pegawai itu tertawa kecil mendengar ucapan Arga.

"Barang antik apa yang mau lo jual?" tanya pegawai itu meremehkan.

"Paling juga piring tua bekas nenek lo."

"Tolong panggilin bos lo aja, Mas," kata Arga sedikit mendesak.

"Gue jamin barang ini bukan barang sembarangan."

Sebelum pegawai itu sempat membalas, seorang pria paruh baya keluar dari ruangan belakang.

Pria itu memakai kacamata baca dan terlihat sangat berwibawa.

"Ada keributan apa ini pagi-pagi, Anton?" tanya pria paruh baya itu.

"Ini Pak Darma, ada orang aneh ngaku mau jual barang antik," lapor pegawai bernama Anton.

Pak Darma menatap Arga dari atas sampai bawah.

"Kamu bawa barang apa anak muda?" tanya Pak Darma dengan nada ramah.

"Sini coba saya lihat dulu."

Arga berjalan mendekati meja etalase kaca itu.

Dia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan kotak kayu basah tersebut.

Arga meletakkan kotak itu di atas meja kaca.

Pak Darma awalnya terlihat tidak terlalu peduli.

Namun matanya langsung membelalak saat Arga membuka tutup kotak kayu itu.

"Astaga," ucap Pak Darma dengan suara tertahan.

Pak Darma mengambil kaca pembesar kecil dari laci mejanya dengan tangan gemetar.

Dia mengambil satu keping koin emas itu dan mengamatinya di bawah cahaya lampu.

Anton yang berdiri di sebelah Pak Darma ikut menatap koin itu dengan bingung.

"Itu koin mainan ya, Pak?" tanya Anton penasaran.

Pak Darma tidak menjawab dan terus meneliti setiap ukiran di permukaan koin tersebut.

"Ini koin emas asli dari era Dinasti Ming pertengahan," kata Pak Darma setelah beberapa menit.

"Kadar emasnya sangat murni dan ukirannya masih sangat utuh."

Pak Darma menatap Arga dengan pandangan serius.

"Kamu dapat dari mana barang seberharga ini anak muda?" tanya Pak Darma tajam.

"Itu warisan turun temurun dari keluarga saya, Pak," jawab Arga berbohong.

"Saya lagi butuh uang cepat buat modal usaha."

Pak Darma mengangguk pelan mendengar alasan Arga.

Di dunia barang antik, menanyakan asal usul barang secara detail kadang dianggap tidak sopan.

"Ada dua belas keping di dalam kotak ini," kata Pak Darma sambil menghitung koin.

"Saya bisa ambil semuanya, tapi saya harus panggil ahli sejarah rekan saya dulu."

"Berapa lama Pak?" tanya Arga cemas.

"Sekitar setengah jam, kamu tunggu saja di sini," jawab Pak Darma.

Pak Darma menyuruh Anton membuatkan teh hangat untuk Arga.

Anton menunduk malu dan segera pergi ke dapur toko.

Setengah jam kemudian, seorang pria tua keturunan Tionghoa datang dan memeriksa koin itu.

Pria tua itu mengangguk yakin kepada Pak Darma setelah memeriksa semuanya.

"Ini asli seratus persen, Darma," kata pria tua itu.

"Sangat langka bisa menemukan satu set koin kondisi sempurna begini di Jakarta."

Pak Darma duduk berhadapan dengan Arga di meja tamu.

"Anak muda, saya akan bicara jujur sama kamu," buka Pak Darma.

"Harga pasaran satu koin ini di pelelangan bisa mencapai lima puluh juta rupiah."

Arga menahan napas mendengar angka tersebut.

"Karena kamu butuh uang cepat, saya berani beli semuanya seharga lima ratus juta rupiah," tawar Pak Darma.

"Uangnya bisa saya transfer langsung ke rekening kamu sekarang juga, bagaimana?"

Arga merasa jantungnya berdebar sangat kencang.

Angka lima ratus juta rupiah adalah jumlah yang tidak pernah dia bayangkan seumur hidupnya.

"Saya setuju, Pak," jawab Arga dengan suara sedikit bergetar.

"Ini nomor rekening saya."

Arga memberikan buku tabungan lamanya kepada Pak Darma.

Pak Darma mengambil ponselnya dan melakukan transaksi melalui mobile banking.

Ting.

Ponsel Arga berbunyi memberikan notifikasi pesan masuk.

Arga membuka pesan dari pihak bank di layar ponselnya.

Saldo rekeningnya kini bertambah menjadi lima ratus juta seratus ribu rupiah.

Arga mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Beban hidup yang selama ini menghimpit dadanya seolah hilang begitu saja.

"Terima kasih banyak, Pak Darma," ucap Arga sambil menjabat tangan pria itu.

"Sama-sama anak muda, kalau kamu punya barang bagus lagi silakan datang ke mari," balas Pak Darma.

Arga keluar dari toko antik itu dengan langkah ringan.

Anton sang pegawai hanya bisa menunduk tidak berani menatap Arga saat dia lewat.

Arga berjalan menyusuri trotoar kawasan Glodok sambil melihat lalu lalang kendaraan.

Perutnya tiba-tiba berbunyi keras meminta jatah makan siang.

Arga berjalan menuju sebuah restoran Padang besar yang ada di seberang jalan.

Biasanya dia hanya berani makan nasi bungkus di warung pinggir jalan.

Hari ini dia memesan rendang, ayam pop, dan gulai otak sekaligus.

Arga makan dengan sangat lahap sampai keringat bercucuran di keningnya.

'Gue akhirnya bisa makan enak tanpa mikirin besok harus makan apa,' batin Arga bahagia.

Setelah selesai makan, Arga duduk menyandarkan punggungnya di kursi.

Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat kembali nominal saldo di layarnya.

Tiba-tiba suara mekanis yang dingin kembali terdengar di kepalanya.

Ding.

"Penjualan barang gaib pertama berhasil," ucap sistem.

"Host mendapatkan tambahan seratus Poin Sistem."

Arga melihat ke sekeliling restoran untuk memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya.

Layar biru transparan kembali muncul di depan mata Arga.

"Fungsi Toko Sistem berhasil dibuka," lanjut suara itu.

"Misi harian baru telah tersedia untuk Host."

Arga membaca tulisan yang tertera di layar biru tersebut.

Misi Harian: Pancing satu benda berharga dari selokan Kompleks Perumahan Pondok Indah.

Hadiah: Peningkatan Fisik Tingkat Dasar dan Umpan Emosi Acak.

Arga hampir tersedak ludahnya sendiri saat membaca lokasi misi tersebut.

'Selokan Pondok Indah?' batin Arga kebingungan.

'Ini sistem beneran nyuruh gue mancing di selokan perumahan orang kaya?'

Arga menggelengkan kepalanya pelan menahan tawa.

Dia tahu Kompleks Pondok Indah adalah tempat Dimas dan keluarganya tinggal.

"Menarik," gumam Arga sambil tersenyum kecil.

Arga berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kasir untuk membayar makanan.

Dia akan membeli pakaian baru dan joran pancing yang lebih bagus hari ini.

Nasibnya telah berubah, dan dia siap menghadapi misi aneh apa pun dari sistem ini.

1
Kasma Wati
💪💪💪💪💪
Kasma Wati
lanjut👍👍👍
Kasma Wati
👍👍👍👍👍
Marthen
preman pasar kelas kampungan yg nyasar 😄😄😄
cynth
Mancing lele di selokan aja malunya nembus layar, apa lagi ini. Astaga...
Gege
nasahhh... ceritanya enteng..ngalir.. menyajikan hiburan bacaan yang bikin candu...
Momen'to
mimpi basah author 😹
Magane
menunggu sistem kurir mbg
Yofu
kok bisa kepikiran sih/Sweat/
Yofu
mancing mania mantap🗿
Dhewa Shaied
crazy up thorr.. imajinasinya gak ngotak 💪💪💪 😍😍😍😍
Yuliana Tunru
syuuuka bgt hari.ini crezy up thorrr 💪💪 up ..arga waktu x cari wanita special ya jgn sampe dpt tipe rina 😄😄😄
dhani satria
tomatkah?
dhani satria: owhhhhh.....,crazy up...,mantap ceritanya
total 2 replies
dhani satria
taline panjang bgt ya 3000 meter
Gege
berat bener cerita sistem bertema mancing ini..pikir ceritanya ringan, Nemu ikan dikembangkan hasilin duit milyaran, hidup enak wanita banyak.. sampe ratusan episode...🤣🤭
Yui: makasih idenya, habis konflik ini lah bisa diterapin /Smile/
total 1 replies
dhani satria
aquamen....
dhani satria
tongkat zeus
Yui: Poseidon lebih tepatnya/Facepalm/
total 1 replies
dhani satria
CEO WIJAYA ni
Yuliana Tunru
nalasan yg setimpal 😄😄
dhani satria
hahahhahhaha.....,lha gemblung yak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!