“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Racun Manis untuk Sang Penguasa
Dua hari berlalu semenjak Alika rutin mengonsumsi pil selundupan dari dr. Raditya. Kortikosteroid tersebut bekerja tepat seperti yang dijanjikan—meredam gejolak antibodinya dengan paksa. Bengkak di persendian menyusut seketika, rasa ngilu yang sebelumnya menyiksa kini mereda menjadi pegal linu biasa, bahkan ruam kemerahan di wajahnya pun memudar hingga hanya menyisakan bayang tipis saja.
Namun, di balik kenyamanan fisik yang semu itu, Alika sadar betul bahwa obat ini tengah menguras habis energi organ dalamnya. Jantungnya kerap berdegup tidak keruan dan lambungnya terasa sangat perih. Meski begitu, ia tetap menyembunyikan rasa sakit tersebut serapat mungkin.
Pagi ini, Alika duduk di meja makan utama dengan balutan gaun rumah berbahan linen putih yang terlihat anggun. Rambutnya tersanggul rapi dengan hairpiece andalan, lengkap dengan riasan wajah yang sempurna. Ia memotong pancake-nya dengan gerakan luwes, suatu hal yang mustahil sanggup ia lakukan tiga hari yang lalu.
Di seberang meja, Narendra tampak sibuk membaca tablet sambil menyesap kopi hitam. Sesekali, tatapan tajam pria itu beralih ke arah sang istri, mengamati setiap gerak-gerik Alika. Sementara itu, Rasti berdiri di sudut ruang makan, mematung persis seperti patung lilin.
"Kamu terlihat jauh lebih segar pagi ini, Alika," Narendra memecah keheningan yang tadinya hanya diisi denting alat makan. Nada bicaranya kental akan kepuasan yang arogan. "Wajahmu tidak lagi sepucat mayat."
Alika meletakkan garpunya, lalu mengulas senyum lembut yang sudah ia latih berulang kali di depan cermin. Sebuah senyum yang menyiratkan kepatuhan mutlak.
"Kamu benar, Mas," sahut Alika dengan nada bicara yang diatur agar terdengar penurut sekaligus menyesal. "Ternyata aku memang hanya butuh istirahat. Vitamin dari dr. Hendrawan dan rehat total di rumah sangat membantu. Maaf kalau minggu lalu aku sempat bersikap defensif."
Kalimat itu bagaikan racun manis yang sengaja disuntikkan Alika tepat ke pusat ego suaminya. Seperti dugaannya, strategi itu langsung membuahkan hasil. Narendra meletakkan tablet-nya. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai bangga. Pria itu memang haus akan validasi, apalagi jika pengakuan itu membuktikan bahwa dirinya benar dan dr. Raditya salah.
"Sudah saya katakan, bukan?" Narendra bersandar santai di kursinya. "Dokter muda itu hanya mencari-cari alasan medis yang berlebihan demi menarik perhatianmu. Dia melihat celah pada kondisi fisikmu yang sedang lelah, lalu mencoba memanfaatkannya. Beruntung saya segera memutus aksesnya sebelum kamu benar-benar terhasut oleh omong kosong itu."
Alika menekan kuku ibu jarinya kuat-kuat ke arah telunjuk di bawah meja, mencoba meredam amarah yang meluap karena dr. Raditya dihina. Meski begitu, wajahnya tetap menunjukkan topeng istri yang setia.
"Mas," panggil Alika dengan nada ragu yang dibuat-buat. "Karena kondisiku sudah membaik, apakah aku boleh menemanimu ke acara Charity Gala Artha Group di Hotel Kempinski akhir pekan ini?"
Narendra menaikkan sebelah alisnya, memandang Alika dengan tatapan penuh selidik.
Alika segera menimpali, "Bukan sebagai Manajer Humas, Mas. Cukup sebagai istrimu saja. Aku tidak ingin dewan direksi dan investor beranggapan buruk tentang pernikahan kita jika aku terus-terusan disembunyikan. Aku ingin ada di sampingmu."
Suasana di ruang makan mendadak hening. Otak Narendra berputar cepat. Membawa Alika yang kembali cantik dan sehat ke hadapan publik merupakan sebuah power statement. Hal itu akan membungkam rumor miring mengenai keretakan rumah tangga mereka, sekaligus menunjukkan pada dunia bahwa Narendra Pradipta memegang kendali penuh atas segalanya.
"Ide yang cukup masuk akal," gumam Narendra pelan sambil menatap lekat bibir Alika yang tersenyum tipis. "Saya izinkan kamu ikut. Rasti akan menemanimu di ruang rias selama acara berlangsung. Dan ingat, Alika..."
Narendra mencondongkan tubuh ke depan dengan aura yang seketika berubah mengancam. "...jangan sampai ada kesalahan. Jangan ada adegan pingsan. Jika saya melihat dr. Raditya atau siapa pun dari rumah sakit itu berada dalam radius sepuluh meter darimu, saya tidak akan segan-segan menghancurkan mereka saat itu juga."
"Tentu, Mas. Aku mengerti," jawab Alika mantap.
Narendra berdiri, mengancingkan jasnya, lalu menghampiri Alika. Ia mengecup dahi istrinya sekilas—sebuah kecupan posesif yang membuat perut Alika terasa mual. "Sampai jumpa nanti malam, Sayang."
Begitu mobil Narendra melaju meninggalkan pelataran rumah, Alika mengembuskan napas panjang yang sedari tadi menyesak di dada. Ia berhasil mendapatkan tiket untuk keluar dari sangkar ini. Kesempatan satu-satunya hanyalah di Kempinski nanti. Ia teringat pesan Raditya di dalam botol obat itu. Ia harus menjalani tes darah spesifik, yaitu ANA dan Anti-dsDNA, agar Raditya bisa memberikan pengobatan jangka panjang sebelum organ dalamnya benar-benar rusak.
Jika ia bisa lepas dari pengawasan Rasti selama sepuluh menit saja di hotel nanti, ia mungkin punya kesempatan untuk menemui sang dokter. Namun, bagaimana cara memberi tahu Raditya soal rencana ini? Rasti masih menyita ponselnya. Alika sama sekali tidak punya akses komunikasi.
Alika beranjak menuju kamarnya, lalu matanya tidak sengaja tertuju pada keranjang berisi majalah bisnis dan gaya hidup yang baru saja sampai pagi ini di meja ruang tengah. Ia ingat bahwa majalah The Executive edisi terbaru memuat profil Narendra, dan pasti akan dikirim ke berbagai rumah sakit rekanan Artha Group, termasuk Medika Utama.
Sebuah ide gila yang sangat berisiko muncul di benaknya. Ia memang tidak bisa mengirim pesan digital, tetapi ia bisa meninggalkan jejak yang hanya bisa dibaca oleh satu orang saja.
"Rasti," panggil Alika sambil menoleh ke arah asisten pribadinya yang dingin itu. "Tolong bantu aku menghubungi agensi PR yang mengirimkan krim L'Aura Botanica kemarin. Aku ingin mengirim paket balasan berisi majalah ini dan beberapa hampers Artha Group sebagai bentuk terima kasih. Dan oh, masukkan Rumah Sakit Medika Utama ke dalam daftar penerima. Mas Narendra tentu ingin dr. Hendrawan dan direksi rumah sakit melihat profilnya di majalah ini."
Rasti mengangguk tanpa rasa curiga, karena menyebarkan majalah berisi profil atasan adalah prosedur kehumasan yang sangat lumrah. "Baik, Nyonya."
Alika tersenyum tipis. Di dalam majalah yang akan dikirim ke Medika Utama tersebut, tepat pada halaman profil Narendra, ia akan menyelipkan pesan rahasia menggunakan pena tak kasat mata—alat kecil milik keponakannya yang tidak sengaja tertinggal di kotak perkakas miliknya. Kini, ini bukan lagi sekadar upaya bertahan hidup. Alika mulai melancarkan serangan balik.